Minar Gadis Tukang Ojek

cerita tragis tersangka pembunuhan

Minar adalah cerita tragis tersangka pembunuhan namun hanya untuk melindungi pelaku sebenarnya adalah orang lain yang tidak pernah disangka-sangka. Namun ketika kasus terungkap, justru dirinya menjadi korban. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak cerpen tragis berikut.

Cerita Tragis Tersangka Pembunuhan – Minar Gadis Tukang Ojek

Aku penasaran, penasaran karena tadi naik ojek dan tukang ojeknya cewek, badannya tidak terlalu besar malah termasuk mungil, wajahnya manis dan kelihatan imut-imut banget. Dia pasti berumur kurang lebih 25 tahun. Memang sih sekarang tukang ojek perempuan banyak, tapi cewek satu ini beda dan bikin penasaran.  Pertama kali naik ojeknya, saat pulang dari kantor dan mobilku mogok. Tahulah kalau perempuan, tahunya kalau mobil rusak yah dibawa ke bengkel, service selesai deh. Giliran mogok tiba-tiba karena gak tahu mesin ya kebingungan.

Kuputuskan untuk naik ojek karena harus buru-buru pulang rumah. Waktu itu banyak ojek melintas menawarkan jasa, sampai pada tukang ojek satu ini. Dengan senyum manis dia menawarkan jasa untuk mengantarkanku. Dari balik maskernya ku tahu dia wanita, maka tanpa ragu diriku langsung naik sambil menyebutkan alamat. Lumayan jauh sih kalau diantar sampai kekomplek perumahan, harus mengeluarkan 20.000 rupiah untuk membayarnya.

Caranya membawa motor matic memang hati-hati sekali, terlihat sekali dirinya sangat mengutamakan keselamatan penumpang, dirinya juga tidak banyak bicara hanya bertanya alamat sekedar saja. Pada hari-hari selanjutnya entah karena kebetulan diriku selalu naik ojekan  motor gadis tersebut. Ku coba untuk mengakrabkan diri maklumlah dirikukan sudah berkali-kali naik ojekan motornya. Tapi pembicaraan hanya seputar ojekan atau basa-basi biasa. Akhirnya karena penasaran ku coba menelusuri gadis ojek tersebut.

Ternyata dia mangkal pada salah satu pangkalan ojek tak jauh dari pasar tradisional. Agak kaget juga sih melihat rata-rata di pangkalan ojek itu mayoritas tukang ojeknya lelaki, jarang sekali kulihat wanita. Ada sih satu, dua tapi jarang juga mangkal. Beda denganya jika tak ada penumpang, dia mangkal saja dipangkalan ojek itu. Hatiku makin penasaran, tahulah kalau di tempat mangkal ojekan gitu rata-rata lelaki dan kalau kurang kerjaan pasti tukang ojek cewek bakal jadi sasaran godaan atau candaan apalagi wajah tukang ojek cewek tersebut manis. Aku bahkan berpikir dia tidak cocok jadi tukang ojek. Cocoknya jadi PSG cantik penjaga konter alat-alat kosmetik atau kerja disalon. Tapi ku pikir setiap orang berhak untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan keinginan mereka. Yang penting halal kan ?.

Rasa heranku bertambah saat melihat para tukang ojek sepertinya sangat segan juga hati-hati bicara dengan gadis tersebut, bahkan terkesan mereka takut mendekati atau sekedar bercanda dengannya. Rasa ingin tahuku semakin besar. Hatiku jadi penasaran untuk mengetahui latar belakang gadis tukang ojek tersebut. Akhirnya diriku mulai bertanya-tanya, iseng saja sih sebenarnya duduk dipangkalan ojekan yang memang ada tempat duduknya untuk menunggu. Sang gadis ojekan sedang tidak ada hanya beberapa bapak-bapak sedang mangkal menunggu penumpang.

“Tukang ojek cewek kemana yah Pak ?” tanyaku iseng. Bapak-bapak sedang main kartu domino serempak menoleh kearahku.

“Memang kenapa Bu ?” tanya seorang Bapak berkumis.

“Saya biasa naik ojeknya, tapi beberapa hari gak keliatan. Kemana yah ?”

“Oh kalo hari gini biasanya gak muncul karena harus melapor seminggu sekali di kantor polisi Bu.” Tambah Bapak satunya lagi. Dahiku berkernyit, melapor ? kantor polisi ?.

“Memangnya ada masalah apa yah pak ? ”

“Ibu pernah baca koran kasus pembunuhan 3 tahun lalu gak ?  Suami istri dibunuh oleh anaknya. Bapaknya ditusuk 6 kali diperut, ibunya ditusuk 10 kali. Nah, tersangkanya perempuan itu Bu. Anaknye”

Ups… tersangka ? pembunuhan ? koq bisa ?.

“Iya Bu, baru beberapa bulan keluar bebas bersyarat wajib lapor, katanya kasusnya lemah, senjata dipake membunuh gak ditemukan”.

“Ibu hati-hati aja sama perempuan itu, peringatan aja sih Bu. Kita-kita aja disini takut sama dia”, tambah tukang ojek berjaket lama. Ucapannya memancing reaksi teman-temannya menganguk-angguk setuju pada perkataannya.

Hmmm… kepalaku jadi manggut-manggut mendengar celotehan para tukang ojek, tak ada rasa takut di hatiku, malah sebaliknya, merasa sangat kasihan padanya ? apa saja bisa terjadikan ? lagian belum tentu juga dirinya seorang pembunuh. Mungkin hanya menjadi korban fitnah atau terjebak pada keadaan serta situasi salah. Pantas saja para tukang ojek disini takut serta sok dekat padanya. Ternyata begitu yah ceritanya. Rasa penasaranku tak berhenti sampai disitu. Malamnya ku browsing diinternet mencari tahu tentang kasus pembunuhan tersebut.

Benar ternyata, beritanya sempat heboh juga fotonya ada dimana-mana. Namanya Minar. Dirinya sendirian tanpa dibantu seorangpun. Terlihat jelas sekali gambar-gambarnya, ah media terkadang begitu mendramatisir berita hingga gadis tersebut terlihat seperti seorang pembunuh sadis.

Aku menarik nafas, bisa ku bayangkan bagaimana sulitnya menghadapi hidupnya hingga harus menjadi tukang ojek. Jika memang dirinya melakukan pembunuhan, pasti ada alasan kuat. Tapi toh sampai saat ini kasusnya lemah hingga akhirnya dibebaskan bersyarat. Berarti bukan pembunuh kan ? hanya tersangka. Setelah melewati beberapa tahun di penjara pasti hidup menjadi sangat sulit dijalani gadis semuda dirinya. Ah… gadis sebatang kara, dengan kedua orang tua mati terbunuh. Akan tetapi belum tentu juga dirinya bukan pembunuh, mungkin dia terlalu cerdik sehingga mampu menghilangkan serta menutupi semua bukti, bantahku dalam hati mencoba untuk berpikir terbuka. Bukankah setiap tahanan, jika telah menjalani 3/4 masa hukuman, memiliki hak mengajukan bebas bersyarat jika berkelakuan baik. Bukankah membenarkan apalagi membela seorang tersangka sama saja menganggap semua petugas bersalah. Kuyakin para petugas juga tidak sembarangan memenjarakan orang tak bersalah tanpa hati nurani.

Berbagai pikiran serta pertimbangan terus bergayut dalam benakku, hingga akhirnya aku mengesampingkan segala kemungkinan buruk untuk mengambil prasangka baik bahwa gadis tersebut tidak bersalah. Sekalipun memang melakukan pembunuhan, tentu keadaan memaksanya.

Sekarang gadis tersebut sudah yatim piatu, dirinya harus memulai kehidupannya. Ku bayangkan bagaimana mantan narapidana pembunuhan memulai kehidupannya, bohong jika masyarakat bisa menerima mereka dengan kehidupan normal. Kadang mereka berpindah-pindah tempat, hidup terpencil untuk menyembunyikan kenyataan bahwa mereka adalah mantan narapidana.

Mereka sudah di blacklist dalam kehidupan bersosial. Padahal mungkin sebagian dari mereka mungkin tidak bersalah, hanya terjebak pada situasi serta kondisi salah sehingga membuat mereka tak punya banyak pilihan. Tapi hatiku kagum pada gadis tersebut, dirinya berani memilih untuk kembali kekehidupan sosialnya tanpa peduli pada sekitarnya. Hal demikian semakin menguatkan dugaanku kalau dirinya memang tak bersalah.

Hari ini diriku berniat mencari tahu alamatnya tanpa berniat mengikuti tapi dengan mencoba menggunakan akses berbeda.

“Ini alamatnya Di, tapi jangan heboh yah. Kasihan Minar, dirinya sudah banyak melewati kesulitan.” Ginand menyodorkan secarik kertas langsung kuterima dengan gembira. Sebuah alamat jelas tertera diatasnya.

“Tanks yah Gi gak tahu harus bilang apa ni …”

“Alamatnya juga kudapat dari Pembinanya langsung. Jadi jangan heboh.”

“Iya iya kamukan tahu siapa aku. ”

“Kamu tuh kalau lagi ada perlu kaya gini baru inget,  coba kalau enggak, mana ingat”, cibir Ginand menyindir. Bibirku tersenyum kecil ” sesama mantan jangan saling mengatakan kata sindiran lah”.

“Untung aja kita putus baik-baik kalau gak bakalan masuk daftar blacklist kamunya,” tambah Ginand lagi, aku terbahak,” blacklist bibirmu… oh yah gimana kabar Donna ? “.

“Biasalah da masuk 4 bulan perutnya, pusing, ngidamnya aneh-aneh.” Keluh Ginand. Aku terkekeh, “kata orang tua dulu kalo ngidamnya aneh-aneh, babynya pasti cantik kalo perempuan atau kalo laki ganteng.”

“Yeee… adanya juga ganteng kaya bapaknya.”

“Iya saking gantengnya makanya playboy, kudoain deh anaknya cewek biar mati kutu kamunya”.

“Aduh kejam banget sih kamu Di, aku maunya anak cowok.”

Kami tertawa, sejenak terbawa dalam suasana obrolan disela makan siang. Aku dan Ginand memang dulu pernah pacaran, tapi karena merasa kurang cocok kami putus baik-baik lalu menjadi teman. Sekarang dirinya sudah menjadi kepala penyidik di kepolisian resort di kotaku dan sudah menikah dengan adik tingkat dikampusku dulu. Sementara diriku masih saja betah dengan kesendirian. Karena itulah ku minta bantuannya, ternyata masih mau membantuku.

Minar ! ternyata tinggal pada sebuah kompleks perumahan sederhana di pinggiran kota. Ternyata juga, dirinya tak tinggal sendirian, melainkan bersama kedua adik kembarnya perempuan juga laki-laki masih remaja. Tak tahu kenapa hatiku begitu kagum padanya sejak pertama kali melihat. Hatiku sudah menyukai sosoknya sebagai pekerja keras. Ku rasa keputusannya untuk menjadi tukang ojek adalah unik juga luar biasa diluar keadaan tak punya pilihan. Jauh dalam hatiku ingin memberikan sesuatu untuk membantunya.

Pulang kantor hari ini sengaja diriku tak membawa mobil. Niatku sore nanti ke pasar untuk membeli beberapa keperluan sekaligus ingin bertemu Minar. Pangkalan ojek sore ini memang agak sepi ketika kulihat Minar sedang menghitung uangnya. Ada semburat kelelahan pada wajahnya saat selesai menghitung uang. Saat tatapannya melihat kearahku, kulambaikan tangan, tak sampai beberapa detik dirinya sudah menghampiriku dengan motornya.

“Pulang kantor Bu ?”.

“Iya, alamat biasa yah.”

“Iya Bu…” dengan cekatan Minar membantuku menaikkan belanjaan, setelah selesai kamipun beranjak pergi. Saat tiba dirumah kusuruh dirinya masuk kedalam rumah untuk membawa sisa belanjaan. Saat sudah menerima pembayaran dariku.

“Tunggu Minar.” tahanku. Gadis tersebut seperti kaget saat tahu diriku memanggil namanya. Dia terlihat serba salah.

“Ibu tahu namaku ? tahu dari …”

“Ayo duduk dulu, jangan berprasangka macam-macam. Tidak ada maksud untuk mengorek masa lalumu. Ini minum dulu.” Kusodori sekaleng minuman ringan langsung diterimanya dengan ragu tanpa diminumnya.

“Biasanya setelah tahu siapa aku orang-orang akan menjauh tapi Ibu kenapa berbeda ?”.
Aku tertawa kecil, “setiap orang memiliki pandangan berbeda, begitu juga diriku. Jujur saja hatiku malah kagum dengan kepribadianmu, kamu masih mudah tapi telah mengalami masa-masa sulit. Bahkan semakin kagum melihatmu tetap semangat, tidak putus asa.”

Minar tertunduk terlihat jelas gurat kesedihan d wajahnya.”seandainya semua orang berpikiran seperti ibu betapa senangnya”.

“Oh yah Minar kamu tamatan apa ? ”

“SMA Bu .”

“Adik-adikmu juga sekolah ?”

Minar lagi-lagi menatapku kaget, lalu akhirnya menggeleng pelan. Ku mengerti kenapa kedua adiknya tidak sekolah. Itu karena beban sosial menimpa mereka.

“Hanya Abdi kembaran Arini sekolah, tapi setelah tahu kalau kakaknya seorang pembunuh dia jadi sering ditekan serta diejek hingga akhirnya memilih untuk berhenti sekolah.” Getir suara Minar. Ku tarik nafas panjang, sungguh sangat kasihan.

“Apa tidak ada keinginan sekolah lagi ? Lantas kenapa cuma Abdi ? kenapa Arini tak sekolah ?”. Sejenak Minar terdiam, seolah-olah ada sesuatu disembunyikannya.

“Aku sangat menginginkan mereka bisa sekolah lagi Bu, tapi ibu bisa lihat keadaanku. Kadang hasil ojekan tak cukup. Untuk makan saja kami harus irit .”

“Home schooling, kalau mau biar Ibu bayar gurunya. Adik-adikmu bisa sekolah lalu ikut ujian paket. Bagaimana ? “.

“Aku gak ngerti Bu sekolah apa itu ? tapi terima kasih atas niat baik Ibu. Ibu baik sekali.”

“Bagaimana denganmu Minar apa tidak capek jadi tukang ojek, kalau mau Ibu bisa carikan pekerjaan lebih baik untukmu. Apalagi kamu lulusan SMA…”

Senyum merekah diwajah Minar, tapi tiba-tiba senyum Minar hilang dia cepat-cepat permisi lalu pergi. Diriku termangu sendirian, pikiranku sibuk bertanya-tanya pada sikap Minar seolah-olah takut berbicara lebih denganku, tapi ku mengerti perasaannya, diirmya mungkin masih merasa tidak nyaman berbicara denganku.

Hampir 3 hari Minar tak muncul, hatiku bertanya-tanya ada apakah gerangan ? sampai dirinya tidak ngojek. Apakah sakit ? atau ?.  Maka ini kuputuskan untuk ke rumahnya, jujur hatiku mengkawatirkan keadaannya. Apalagi diriku tahu dia hanya menggantungkan hidupnya dari hasil ojekan motor. Kalau sakit siapa akan memberi makan kedua adiknya. Diriku menyempatkan mampir pada sebuah supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan untuk kuberikan pada Minar.

Hari sudah agak sore ketika tiba dirumahnya yang letaknya agak jauh dari rumah-rumah lain. Rumah terlihat sepi seperti tak ada penghuninya. Tapi samar-samar telingaku seperti mendengar ada suara erangan kesakitan. Ku longok ke dalam melalui jendela kaca nako tertutup kain asal saja. Samar-samar bisa kulihat ruangan kosong hanya ada beberapa kursi plastik juga meja dengan beberapa barang berserakan.

Tiba-tiba pandanganku melihat  sesuatu, seperti bayangan tubuh Minar duduk tersandar di dinding. Tangannya seperti sedang memegang sesuatu diperutnya. Wajahnya terlihat pucat. Aku terperanjat ! apalagi saat melihat kaus putih dikenakannya berwarna merah darah. Tak jauh di depannya, Abdi, adik laki-lakinya tergeletak dengan posisi terlentang. Bisa kulihat juga keadaannya mengkawatirkan, darah terlihat berceceran dimana-mana. Pada sudut ruangan, sesosok tubuh duduk memegang belati sambil mengoceh tak karuan. Jantungku berdegub kencang. Kuraih ponselku, lalu dalam beberapa menit saja sekelompok polisi tiba disusul mobil ambulans, dengan sigap mereka masuk ke dalam rumah.

Dari dalam rumah terdengar sedikit keributan hingga akhirnya mereka membawa Arini adik perempuan Minar keluar rumah. Gadis itu memekik keras sambil berteriak-teriak dengan tatapan mata liar. Tubuhnya merontah-rontah ingin melepaskan diri.  Suasana di sekitar rumah Minar langsung ramai oleh para tetangga. Mereka penasaran akan kejadian tragis tersebut. Aku berlari kearah tubuh Minar saat diangkat oleh tim dokter disusul tubuh adiknya, mereka terlihat melakukan pertolongan pertama pada Minar juga Abdi.  Minar sempat menatapku nanar, diriku tak tahu apa arti tatapannya tapi ku yakin cerita tentang dirinya akan berbeda. Dia hanyalah seorang kakak ingin melindungi adiknya.

Tanganku masih menggengam tangan Minar erat saat berada dalam mobil ambulans bersamanya. Mataku terpejam, beribu kalimat berisi permohonan serta doa memenuhi hatiku berharap keadaannya juga adik laki-lakinya akan baik-baik saja. Syukurlah tindakanku menelpon petugas kepolisian serta ambulans cepat dilakukan hingga mereka bisa diselamatkan walau harus melewati proses operasi.

Tusukan di beberapa bagian tubuh adik laki-laki Minar untunglah tidak mengenai organ vital, tapi tusukan pada perut Minar merobek ususnya hingga harus menjalani operasi darurat, dia juga kehilangan banyak darah. Untungnya lagi, darahnya segolongan dengan diriku hingga bisa mendonorkan darah untuknya.

Akhirnya terungkap cerita sebenarnya

“Kasusnya sekarang sudah jelas Di, ternyata pembunuh kedua orang tua mereka adalah adik kembar perempuannya. Dia mengalami gangguan jiwa akibat pelecehan seksual sejak umur 7 tahun oleh laki-laki yang sudah dianggap ayah oleh mereka. Aku juga baru tahu kalau ternyata wanita tersebut bukan ibu kandung mereka. Wanita tersebut adalah adik dari ibu mereka yang menjadi TKI namun sampai sekarang jejaknya menghilang serta tak ada kabar sama sekali.

Minar merasa bersalah, dia menyalahkan dirinya atas kejadian menimpa adiknya hingga adiknya mengalami gangguan jiwa karena tak sanggup menahan trauma atas kejadian menimpanya. Hingga puncaknya saat adiknya membunuh kedua orang tersebut. Puncak dari rasa depresi juga trauma dialami membuat dendam serta kebencian semakin dalam sangat  mempengaruhi jiwa seseorang. Luka yang membuat gangguan dalam jiwa inilah dinamakan penyakit jiwa. Pasien pengidap gangguan jiwa karena trauma jarang bisa sembuh total, biasanya sering terjadi pada orang dengan jiwa lemah.

Akan tetapi kondisi adik Minar lebih pada ketidak mampuannya karena usianya masih terlalu muda. Dirinya tak mampu menanggung penderitaan batin. Hal tersebut membuat Minar merasa dirinya punya andil atas kejadian pada adiknya. Karena itulah kemudian dia menghukum dirinya dengan mengaku sebagai pembunuh. Selain ingin melindungi adiknya, dia juga tak ingin orang menganggap adiknya gila. Akan tetapi langkah diambilnya salah, dia malah melindungi Arini yang setiap saat bisa mengancam keselamatan mereka karena tanpa disadari Arini mengidap skizofrenia, penyakit gangguan jiwa berat.

“Semua hal dilakukannya mungkin karena dorongan kasih sayangnya pada adiknya. Hingga puncaknya adalah kejadian ini. Beruntung  kamu bisa menolong mereka pada saat tepat. Telat beberapa jam saja mungkin mereka tak tertolong lagi Di”, jelas Ginand duduk di sampingku pada ruang tunggu pasien. Aku hanya bisa memejamkan mata lalu mengusap wajahku. Yang ada dalam benakku adalah bagaimana caraku untuk bisa membantu Minar melewati semuanya.

“Tenang saja Di, Arini tidak akan dihukum seperti orang normal lainnya, dia akan dirawat dirumah sakit jiwa. Kamu tahu sendirikan tindakan hukum tidak akan menimpa orang yang tidak waraskan ?” ujar Ginand. Lagi-lagi kepalaku menganguk mengiyakan kata-kata Ginand lalu akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kuat.

Minar sudah dipindahkan ke ruang recovery menunggu sadar dari pengaruh anestesi karena operasi. Kenyataan ini mungkin akan membalikkan cerita dari kasus beberapa tahun lalu. Dan tanpa bisa dicegah, kasusnya akan kembali terpampang pada halaman depan koran pagi atau berita kriminal. Tapi kita hanya bisa mengambil sisi positif bahwa setidaknya walau orang tak peduli siapa Minar maupun keluarganya, perlahan-lahan berita akan hilang kemudian berganti berita lain lagi.

Begitu juga dengan kehidupan Minar, dirinya tidak bisa mencegah kejadian tragis ini karena dia juga korban dari keadaan serta situasi membuatnya tidak punya pilihan. Kasih sayangnya pada adik-adiknya membuatnya melakukan hal paling tidak masuk akal sekalipun. Kejadian begini banyak terjadi, bisa menimpa siapapun entah dibelahan dunia mana. Tapi kisah ini tetaplah menjadi satu pelajaran bagi kita untuk jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang dijalani dalam diri orang lain. Sering-seringlah berkaca dan bertanya pada hati kita, apakah kita sudah menjadi orang yang baik ?, itulah makna dari berpikir terbuka. (PW)


Terima kasih telah membaca cerita tragis tersangka pembunuhan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat dalam kehidupan, serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi pecinta laman Bisfren sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments