Cermin @ Cerita Kekerasan Dalam Rumah Tangga

cerita mistis seram kekerasan dalam rumah tangga

Cermin adalah cerita mistis kekerasan dalam rumah tangga diawali oleh kegalauan hati seorang gadis akan jati dirinya serta siapa ibunya. Dia mengalami mimpi buruk terus menerus hingga kemudian mendorongnya untuk menyelidiki mencari tahu. Bagaimana kisah lengkap cerita misteri pendek KDRT ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Mistis Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Mimpi itu lagi. Mimpi yang sama datang berulang-ulang kali. Seorang wanita muda dengan pakaian robek, badan penuh memar juga luka, kaki serta tangan terikat rantai, berteriak minta tolong. Siapa wanita itu ? Wajahnya asing, tapi ntah kenapa hatiku merasa memiliki hubungan dengannya. Ya, pasti terdapat hubungan diantara kami, kalau tidak, bagaimana mungkin dirinya datang ke mimpiku hampir setiap malam ? Diriku harus tahu siapa wanita tersebut sebenarnya, tak bisa terus-terusan membiarkannya mengganggu tidurku.

Fyuh… kubangunkan tubuhku lalu turun dari tempat tidur kemudian berjalan perlahan menuju cermin besar menempel pada tembok kamar. Wajah terlihat di cermin tersebut sangat sayu, keringat membanjiri kulit pucatnya. Ah.. tak seharusnya gadis 15 tahun berpenampilan seperti ini.

“Sukreni, ayo sarapan.” Terdengar suara nenek memanggilku. Langkahku bergegas mencuci muka lalu menghampiri nenekku di dapur. Nenek adalah orang aneh. Kalau di rumah hanya ada kami berdua, nenek bersikap sangat baik padaku, tapi kalau ada kakek, sikapnya berubah 180°. Nenek menjadi dingin kepadaku juga terlihat sangat ketakutan. Hatiku juga takut pada kakek. Wajahnya galak bahkan beliau sama sekali tak pernah menganggapku ada. Seakan diriku makhluk tak terlihat tak berarti apa-apa. Kakek tidak pernah berbicara sepatah katapun padaku. Kurasa karena diriku adalah penyebab kematian kedua orang tuaku.

Nenek bilang ibu meninggal sesaat setelah melahirkanku lalu ayah bunuh diri beberapa hari kemudian. Diriku anak pembawa sial, jadi wajar saja kakek membenciku. Tapi bukankah diriku tak pernah minta dilahirkan. Akan kupilih untuk tiada pernah lahir ke dunia seandai saja tahu kalau kelahiranku hanya akan menjadi malapetaka bagi keluarga (baca juga cerita misteri santet lada hitam).

Kalau kakek tidak di rumah, nenek sangat baik padaku

“Kenapa bengong ? Ayo makan”, tegurnya ramah. Berarti kakek sedang keluar, “Nenek masak makanan kesukaanmu”. Diambilnya beberapa sendok nasi goreng kemudian menaruhnya di piringku.

“Nek ?”.

“Ya ?”.

“Ibuku seperti apa ?”.

Nenek tampak terkejut mendengar pertanyaanku, “Kamu kan punya fotonya”, ucapnya setelah terdiam beberapa saat.

“Iya, tapi maksudku …”

“Sudah-sudah. Jangan banyak nanya. Cepat makan !”

Begitulah, setiap kali kubertanya tentang ibu atau ayahku, nenekku selalu menghindar. Tak banyak ku ketahui tentang orang tuaku, hanya foto serta nama. Foto mereka hanya ada satu, saat pernikahan.

Kutatap wajah nenekku. Kesedihan menyelimuti wajah mulai berkeriputnya. Kusendok nasi goreng kemudian memasukkannya kedalam mulutku, “Nasi gorengnya enak, Nek.” kusungging senyum terpaksa pada bibirku. Bibirnya juga ikut tersenyum lalu kamipun makan dengan lahap. Hm.. betapa damainya rumah tanpa kakek.

Nenek melihat perubahan sikapku

Kami duduk berdua pada ruang keluarga menonton acara musik. Tidak begitu kunikmati acara tersbeut karena diriku kurang suka musik. Hidupku gelap lagi sunyi, tak ada warna, tak ada musik, hanya kegelapan, hanya kesunyian. Tiba tiba pikiranku kembali pada wanita dalam mimpi semalam. Siapa dirinya sebenarnya ? Apa harus kutanyakan padanya ?.

“Sukreni.” Suaranya mengejutkanku.

“Iya Nek ?”.

“Akhir-akhir ini kulihat kau sering bengong. Ada apa ? Ada masalah di sekolah ?”.

“Nggak Nek, aku…”, hatiku ragu, haruskah kuceritakan ?.

“Kamu kenapa ?. Cerita sama nenek.” Dia merapatkan duduknya ke arahku.

“Aku takut Nek”. Kubenamkan wajahku pada pangkuannya sambil kupeluk pinggangnya erat. Air mata selama ini kutahan dengan sekuat tenaga berhamburan keluar membasahi rok panjangnya. Hatiku benar-benar takut. Bayangan wajah wanita malam tadi berkelebat memenuhi kepalaku. ”Tolong… Tolong.. !!!” jeritannya memekakkan gendang telingaku. Hatiku sudah tak kuat. Aku harus melakukan apa ? (Selesai membaca cerpen cerita mistis kdrt, baca juga cerita cinta).

“Kamu kenapa Sukreni ? Ayo cerita”. Nenek membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Mulutku ingin cerita, tapi hatiku takut.

“Sri..” terdengar suara menggelegar dalam ruangan, suara kakekku. Segera diriku duduk kembali sambil mengusap air mata dengan punggung tangan. “Buatkan kopi, cepat”, perintahnya. Nenek beranjak menuju dapur sementara kakek duduk pada kursi yang letaknya paling jauh dariku. Tak berani mataku melihat kearahnya. Tapi hatiku juga enggan masuk kekamarku karena merasa tak nyaman disana. Perasaanku seakaan ada sepasang mata selalu mengawasiku. Sepasang mata penuh ketakutan. Sampai kapan diriku harus menderita seperti ini ?

Melihat album foto lama

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, ku lihat nenek duduk di ruang keluarga sambil membuka lembaran-lembaran sebuah buku, sepertinya merupakan album foto usang, “Nek..” kataku sambil duduk di sampingnya. Beliau sangat terkejut melihatku tiba-tiba sudah duduk disana. Beliau langsung menyembunyikan album foto itu.

“Apa itu, Nek ?”

“Bukan apa-apa. Cepat ganti baju. Sudah kusiapkan makan siang untukmu.”

Biasanya diriku adalah gadis penurut, namun sekali ini untuk pertama kalinya kugelengkan kepalaku, “Apa yang nenek sembunyikan? Tolong Nek, diriku ingin tahu. Apa sebenarnya nenek lihat ?”.

“Ini bukan urusanmu. Cepat ganti baju.” Kini beliau menaikkan suaranya beberapa oktaf.

“Ini pasti urusanku Nek !. Apa nenek tau hampir setiap malam diriku sulit tidur karena terus dihantui mimpi buruk ?. Dalam mimpiku kulihat seorang wanita berteriak minta tolong. Apa nenek tahu arti mimpi tentang hal ini ? Aku udah capek Nek.” Air mataku menitik lagi seperti kemarin, tapi kali ini diriku tak memeluk nenekku.

Beliau mengusap kepalaku. Tapi kutepis tangannya, “Apa sebenarnya kakek juga nenek sembunyikan ? Diriku berhak tau Nek, udah dewasa. Kalian nggak bisa terus-terusan berbohong padaku.”

“Sukreni..” ucap nenekku pelan.

Hanya tangisku menjawab ucapannya.

“Mungkin sudah saatnya kamu tau kenyataannya. Sebenarnya ibumu…”, beliau menyeka air mata membasahi bagian bawah matanya.

Mulutku ingin bertanya, tapi lidahku kelu. Hatiku bingung. Aku bahagia karena akan mengetahui sejarah hidupku, tapi ntah kenapa diriku juga merasa takut, “Ibumu adalah seorang wanita sangat baik. Dia adalah anak nenek satu-satunya. Nenek sangat menyayanginya karena sikapnya begitu ramah, penurut, rajin, manis, lagi ceria, tapi suatu hari terjadi malapetaka. Dia…” air matanya merembes lagi.

Hampir saja nenek bercerita, namun tiba-tiba kakek datang

“Ibuku kenapa Nek ?” tanyaku tak sabar.

“Hentikan Sri !”, terdengar suara kakek berteriak marah dibelakangku. Kepalaku menoleh, benar saja, kakek berdiri dengan tegapnya. Wajahnya menunjukkan kebengisan. “Masuk ke kamar, Sukreni !” teriaknya.

Kakek.. Kakek bicara padaku ? Walaupun hanya empat kata kata kasar diucapkan, setidaknya mulutnya bicara padaku.

“Cepat masuk kamar !” bentaknya lagi, sekarang lebih keras.

Tanpa berkata apa-apa, langsung kulangkahkan kaki berlari ke, tunggu dulu, diriku harus mendengarkan pembicaraan mereka. Diriku harus tahu apa disembunyikan selama ini. Akupun memutuskan untuk mengintip mereka melalui sebuah lubang ditembok penyekat antara ruang keluarga dengan dapur terbuat dari anyaman bambu.

Rumah kami memang sangat luas, kamarku terletak paling jauh di belakang. Aku tidak tahu kenapa ditempatkan dalam kamar tersebut, padahal terdapat dua kamar kosong lain letaknya lebih dekat dengan ruang keluarga.

Kulihat kakek berdiri sambil berkacak pinggang sementara nenek sesenggukan diatas sofa. Kupasang kedua telingaku dengan baik. Tak ingin kelewatan satu katapun.

Kakek menoleh ke kiri kanan. Setelah yakin tiada siapapun dalam ruangan selain mereka berdua, beliau melangkah ke dekat nenekku kemudian menarik rambutnya, “Apa kamu sadar, apa yang baru saja hampir kau lakukan ?”. Nenek meringis kesakitan, tapi beliau tak mengatakan apapun (Setelah cerita misteri pendek kdrt cerpen misteri, bacalah cerita sedih keluarga pendek Pelindung Hatiku).

“Ini peringatan pertama sekaligus terakhir untukmu, Sri ! Jangan sampai kulihat lagi kau melakukan hal sama, atau kau takkan pernah melihat anak itu lagi”.

Siapa yang dimaksud kakek ?

Hatiku terkesiap, apa yang kakek bicarakan ? Anak itu ? Maksudnya aku ?.

“Tapi ya, Sukreni sudah cukup umur untuk mengetahui semuanya”. Nenekku menatap ke arah kakek.

Plaaakkk.. sebuah tamparan mendarat pada pipi nenekku. Keras sekali. Darahku mendidih melihat semuanya.

“Aku tidak main-main Sri ! Sekali lagi kau lakukan, tidak akan ragu-ragu untuk menyingkirkannya”. Kakek menarik rambut nenekku sekali lagi, “Cam kan itu !” beliau lalu keluar rumah kemudian menutup pintu depan sangat keras.

Tubuhku lunglai. Rasa penasaranku semakin besar.

Beberapa menit kemudian, kuhampiri nenekku, pura-pura baru keluar dari kamar.

“Nek ! Nenek kenapa ?”.

“Tidak apa-apa, sayang. Cepat makan lalu kembali ke dalam kamar, sebelum kakek pulang”.

Hatiku ingin bertanya terus, mendesaknya hingga mau menceritakan semuanya, tapi tidak tega saat melihat bekas tamparan pada pipi kiri nenekku, “Maafkan Sukreni ya, Nek.”

“Ini bukan salahmu. Cepat makan”.

“Perutku nggak laper, Nek”.

“Kamu harus tetap makan, ayo, nenek temenin”. Kamipun beranjak ke dapur kemudian makan dalam diam (ini cerita mistis, simak cerita CLBK Sang jodoh).

Peristiwa mistis terjadi saat melihat-lihat foto

Selesai makan nenek langsung kembali masuk kamarnya, diriku juga ingin masuk ke kamarku, tapi saat melintasi ruang keluarga, mataku tertuju pada album foto tergeletak diatas sofa. Kurasa kakekku tak melihatnya sementara nenek lupa kalau tadi beliau melihat-lihat album foto tersebut. Akupun mengambilnya kemudian berlari kedalam kamar. Sampai disana kamar segera kukunci pintu.

Tiba-tiba tubuhku gemetaran. Keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori kulitku. Angin mendesir perlahan. Bagaimana bisa ada angin ?. Padahal pintu serta jendela sudah kututup semua ! Tengukku bergidik ketakutan, tapi segera kutepis rasa takut tak beralasan. Akupun langsung membuka halaman pertama album foto.

“Keluarga Wijaya Kusuma 1975-1985”.

Terlihat tulisan tangan sangat rapi, bukan tulisan tangan nenekku, Hatiku yakin juga bukan tulisan tangan kakekku. Kubuka halaman berikutnya. Terdapat dua buah foto. Satu terdiri dari tiga orang, kakek, nenek, serta seorang bayi mungil. Foto satunya lagi seorang gadis kecil sedang tersenyum. “Saatku berumur 6 tahun” begitu bunyi tulisan terdapat dibagian bawah foto, foto ibuku.

Kubalik halaman demi halaman, semakin banyak foto lama kulihat. Hanya ada wajah kakek, nenek, juga ibuku, tapi ada sesuatu terlihat janggal. Wajah ibu waktu kecil sama sekali tak mirip dengan wajahnya pada foto pernikahan.

Cermin besar berguncang hebat, udara dingin menyeruak

Angin mendesir lagi, terdengar bunyi “tek tek tek”. Kulihat sekeliling kamar dan betapa terkejutnya hatiku saat melihat cermin besar pada tembok kamarku berguncang cepat. Semakin lama guncangannya semakin cepat. Hawa dingin menyusup kedalam tubuhku sampai sumsum tulang. Tubuhku seakan terpaku, tak bisa bergerak. Mulutku menganga diikuti tubuhku bergetar hebat.

Ntah berapa lama diriku berada dalam situasi mencekam hingga cermin berhenti berguncang. Kukumpulkan segenap keberanian lalu kakiku melangkah perlahan mendekati cermin.

Tak terlihat bayangan wajahku dalam cermin. Yang kulihat adalah sebuah ruangan asing yang rasanya kukenal. Kamarku!. Ya kamarku, tapi dekorasinya sangat berbeda. Lebih aneh lagi adalah warnanya hitam putih !. Bukan warna tembok !. Tapi semuanya berwarna Hitam dan putih !. Kulihat tanganku, warnanya masih cokelat. Kulihat baju serta rokku, warnanya putih abu-abu. Diriku masih berwarna, tapi lainnya hanya hitam putih !. Tak bisa kupalingkan wajahku dari cermin. Jiwaku seakan terhipnotis, tersihir. Tubuhku tak bisa bergerak. Oh Tuhan.. Ini pasti mimpi. Rasanya sangat mengerikan. Hatiku ketakutan. Rasanya ingin menjerit. Ingin berteriak. Oh nenek, tolong !!.

Kucoba memejamkan mataku, tapi tak bisa. Seseorang, atau sesuatu ingin mataku menyaksikan semua hal terjadi melalui cermin besar dihadapanku. Apa terlihat benar-benar mengerikan. Kamar sangat berantakan. Tak ada tempat tidur, hanya sehelai tikar pandan, tanpa bantal, tanpa selimut.

Aku menyaksikan peristiwa mistis

“Ayah..”, tiba-tiba kudengar sebuah suara. Tengukku kembali bergidik membayangkan ada orang dalam kamar pengap tersebut. Ku sesuaikan posisi badanku supaya bisa melihat sudut lain ruangan. Ya Tuhan !. Wanita itu !. Wanita yang selalu muncul dalam mimpiku !. Pakaiannya sobek. Wajahnya penuh memar juga luka. Kaki serta tangan terikat rantai.

“Ayah, lepaskan diriku”. Wanita tersebut berteriak.

“Diam !”, suara kakekku !. Kucoba berusaha sekuat tenaga untuk menoleh, tapi usahaku sia-sia. Tubuhku kaku. Cermin memaksaku untuk tak mengalihkan pandangan darinya. Jiwaku benar-benar tersiksa. Tolong… Siapa saja.. tolong bangunkan ku dari mimpi buruk ini.

“Ayah… Kenapa ayah tega melakukan padaku ? Diriku anakmu, Yah.”

Anak ? Anak kakek ? Nenek bilang mereka cuma punya satu anak, ibuku, lalu siapa wanita tersebut ?.

“Ayah yang seharusnya bertanya, kenapa kau tega melakukannya padaku ?. Kamu tahu perbuatanmu sudah mencoreng nama baik keluarga !”.

“Tapi hatiku mencintainya, Yah.”

“Cinta ?!. Tau apa kau tentang cinta ?. Sekarang lihat sendiri kan. Ke mana laki-laki jahanam pacarmu ?. Kenapa tidak kesini menolongmu hah ? Mengapa tak membebaskanmu dari ikatanku ?. Kenapa kabur ?”, kakekku meludah di samping wanita mengaku anaknya.

Dia menangis. Air mata tampak mengalir pada pipinya yang kotor serta penuh memar bekas tamparan juga pukulan, “Itu karena..” mulutnya tersendat. Kuyakin dirinya akan mengusap pipi basahnya andai saja tangannya tak terikat, “Itu karena Ayah telah membunuhnya”. Diucapkan kata sambil menunduk.

Apa… ?? kakek membunuh siapa ?

Membunuh ? Apa ? Kakekku pembunuh ?.

Kakekku terdiam beberapa saat. Tak bisa kubaca ekspresi wajahnya.

“Ayah.. tolong lepaskan ikatanku. Tidakkah Ayah kasihan pada Sukreni ? Dirinya tak bisa terus-terusan dikurung disini”.

Aku ??!!. Ada apa sebenarnya ?. Mimpi.. Ya, semua pasti mimpi. Kugerakkan kepalaku lagi, berusaha menyingkir kepala dari cermin sialan, tapi tak bisa. Sial !. Ada apa ini ?. Mimpi yang benar-benar mengerikan !.

“Baiklah kalau Ayah tak mau melepaskanku, tapi setidaknya, tolong lepaskan Sukreni. Dirinya tak tau apa-apa. Dia tidak berdosa, Yah. Biar diriku saja menanggung semua telah kulakukan. Tolong bebaskan serta jaga dia, biar bagaimanapun, dirinya adalah cucu Ayah”.

Kulihat kakek menjambak rambut wanitanya. “Dia bukan cucuku, setan !”, kemudian dihantamkan kepalanya bertubi-tubi ke tembok. Darah muncrat mengenai baju serta celana kakek. Wanita tersebut memejamkan mata lalu pada saat bersamaan terdengar tangisan bayi. Aku ! Bayi itu diriku !.

“Asih..”, kakek mengguncang tubuh wanita malang itu. “Asih..” teriaknya lagi. Matanya tampak basah, “Maafkan Ayah.” Kakekku memeluknya, tapi tak lama. Dia kemudian keluar ruangan.

Tubuhku masih belum bisa bergerak. Peristiwa tadi membuatku gila. Jadi wanita itu ibuku ? Bayi menangis adalah aku ? Tidak, tidak, semua pasti hanya mimpi.

Apa yang akan dilakukan kakek sekarang ?

Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kakek datang dengan linggis, pasir, semen, ember, juga alat pertukangan lainnya. Apa akan dilakukannya ?.

Kakek berjalan kearahku berdiri. Hatiku kembali ketakutan. Apa mau membunuhku ?

Tidak ! dia berjalan tepat melintasiku, menembusku !. Lalu menggunakan linggis dibuatnya lubang pada tembok dihadapanku. Cermin tersebut tidak ada di sana. Hanya mataku bisa melihat cermin itu. Hanya tubuhku dan cermin yang ada tapi seakan tak ada. Kepalaku pusing. Rasanya ingin pingsan. Seandainya terjadi pada dunia nyata, pasti tubuhku sudah pingsan sejak tadi, tapi sekarang ada sesuatu membuat mataku tetap terbuka lebar.

Kakekku terus menggali tanpa kenal lelah. Lubang dibuatnya sudah cukup besar. Dia berjalan ke arah wanita tersebut, – diriku tak kan memanggilnya Ibu, karena semua hanya mimpi ! -, menggendongnya, lalu menaruhnya dalam lubang. Kemudian ditutupnya mayat dengan balok kayu lalu menguburnya dengan campuran semen.

Kulihat semua tanpa bisa melakukan apapun. Otakku buntu. Ingin segera bangun dari mimpi mengerikan.

Kakeku keluar ruangan lagi. Beliau sama sekali tak mempedulikan tangisan bayi. Entah karena haus atau karena tahu ibunya sudah meninggal. Betapa ingin hatiku menenangkannya, seandainya tubuhku bisa bergerak. Cermin terkutuk ! Apa yang kau lakukan padaku ?.

Ternyata kakek menguburkan ibuku lalu menutupnya dengan cermin

Kulihat kakekku masuk ruangan dengan sebuah cermin besar ditangannya. Cermin itu !. Cermin berukuran 1 x 2 meter yang menempel pada tembok kamarku. Beliau memang memiliki tubuh kekar jadi bisa dengan mudah membawa lalu menempelkan cermin di tembok seorang diri. Menutupi bekas lubang kuburan seorang wanita.

Kakek menembusku sekali lagi kemudian beranjak menuju sang bayi , “Diam ! Atau kubuat kau menyusul ibumu wanita jalang itu !”.

Merekapun keluar ruangan. Kakek menutup pintu kamar dengan keras, begitu kerasnya sampai tubuhku terlonjak.

Mimpi…. Ternyata semua itu memang hanya mimpi. Kurasakan seragam sekolahku basah oleh keringat. Pasti ketiduran saat melihat-lihat foto itu. Diriku mimpi aneh pasti karena marah pada kakekku karena telah menampar nenekku. Kakekku tidak mungkin membunuh.

Dalam mimpi cermin itu pecah, tapi …

Kuusap keringat pada pelipis juga dahiku, lalu akupun turun dari tempat tidur. Betapa terkejutnya hatiku saat melihat cermin besar pada tembok kini pecah menjadi serpihan-serpihan kecil berserakan dilantai. Segala yang ditutupi oleh cermin kini terlihat jelas. Bekas lubang !. Itu bukan mimpi. Oh…

Tiba-tiba angin berdesir lagi. Jendela yang kuyakini sudah terkunci kini terbuka lebar terantuk-antuk oleh angin. Ketakutan kembali merasukiku. Tubuhku lemas. Keringat membasahi dahi, pelipis, serta sekujur tubuhku. Kutatap bekas lubang dan sesuatu muncul dari dalamnya. Seorang wanita cantik, kulitnya bersih, tak ada memar, tak ada luka, dialah ibuku.

“Sukreni…” berbisiknya perlahan, suaranya merdu, tangannya melambai kearahku. Tanpa ragu langkahku mendekatinya. Inilah ibuku, wanita dalam mimpiku.

“Ibu…” tanganku berusaha memeluknya, tapi hanya memeluk angin. Tubuhku pun mundur beberapa langkah sambil tetap memperhatikan wajah menyiratkan kesedihan.

Ibuku minta dibebaskan

“Tolong bebaskan Ibu, Nak”.

“Membebaskan Ibu, bagaimana caranya ?”, tanyaku.

“Ibu tidak akan pernah tenang sebelum mayat ibu diupacarai dengan layak”.

“Ibu…. Aku masih bingung. Apa sebenarnya telah terjadi ?”.

Ibuku tersenyum, senyum manis menghiasi wajah pucatnya, “Apa yang baru saja kau lihat adalah kenyataan, anakku”, tiba-tiba ibuku berubah. Pakaian putihnya berubah menjadi pakian sobek-sobek, wajahnya menjadi penuh memar juga luka, tangan serta kakinya terikat. “Cepat lepaskan Ibu, Nak. Tolong… Tolonglah !!  Tolong ibu..”

“Ibu……………..” mulutku kini bisa menjerit. Apa sebenarnya terjadi ?. Tubuhku masih ditempat tidur. Baru saja bangun dari tidur. Mimpi dalam mimpi. Aku bisa gila.

“Sukreni, kamu kenapa ?”, tanya nenek yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.

“Nek..”, diriku langsung turun dari tempat tidur lalu mendekap nenekku dengan erat. Air mata bercucuran dari kedua mataku, beradu dengan keringat.

“Kamu mimpi buruk ?”, dibelainya kepalaku dengan lembut. “Tenang, ada nenek di sini. Nggak apa-apa. Semuanya baik-baik saja”..

Kulepaskan pelukanku lalu berjalan menuju cermin yang masih menempel kokoh di tembok. Kemudian kuambil tongkat kasti dari dalam lemari.

Kuhancurkan cermin penutup kuburan ibu

kisah misteri memecahkan cermin
Memecahkan cermin (@ http://www.comilva.org)

“Kamu mau ngapain, Sukreni ?”, dipegangnya tanganku, namun segera ku tepis. Tidak tahu dari mana datangnya kekuatan menggebu ini. Kupukul cermin dengan sekuat tenaga. Satu pukulan saja, cermin hancur berkeping-keping.

“Sukreni !”, nenekku menjerit, lalu menarik tubuhku menjauh dari serpihan kaca itu. “Apa yang kamu lakukan ?”.

“Mengungkap kebenaran.” Kataku sambil menunjuk tembok tempat cermin menempel sebelumnya.

Nenekku menangis, aku juga. Tak ada kata yang mampu melukiskan perasaan kami saat itu. Aku benar-benar terpukul. Kakek telah membunuh kedua orang tuaku, tapi beliau mengatakan aku yang menyebabkan mereka meninggal. Kakek sudah mebuatku hidup dalam bayang-bayang penyesalan, dan nenek.. ah.. aku tak bisa menyalahkan nenek. Nenek sudah begitu baik padaku dan beliau terpaksa berbohong demi menyelamatkan jiwaku dari kakek.

“Maafkan Nenek.” Kurasakan tangannya mendekap tubuhku.

“Di mana pembunuh itu ?”, ku tepis kedua tangannya lalu kutatap wajahnya.

“Kakek belum pulang dari tadi siang.”

“Kita harus menghubungi polisi Nek, kita tidak bisa membiarkan pembunuh itu tinggal bersama kita.”

“Tapi nenek takut”.

“Apa yang nenek takutkan ?”

Mulutnya diam tak menjawab.

Segera kulaporkan cerita mistis tersebut ke polisi

“Kita harus segera pergi dari sini Nek”, Kutarik tangannya lalu kami berlari ke ruang keluarga. Aku langsung menelepon kantor polisi, menceritakan semuanya secara pendek. Setelah itu kami keluar.

“Kita mau ke mana ?”.

“Ke rumah tetangga. Kita harus bersembunyi sampai polisi datang. Kalau dia bisa membunuh ibu pasti juga bisa membunuh kita”. Aku berjalan tanpa menoleh ke arah nenek yang mengikut di belakangku. Langkahku terhenti saat tiba-tiba kulihat kakek berjalan ke arah kami.

“Mau ke mana kamu, Sri ?”.

Tubuhku bergetar menahan gejolak kebencian sekaligus kemarahan.

“Jawab !” bentaknya.

“Jangan bentak nenekku lagi !”, mulutku berteriak. Kebencian dan kemarahan sudah bersatu menjadi keberanian.

“Aku tak bicara padamu.”

“Kau pikir aku sudi bicara dengan pembunuh sepertimu !”.

“Apa kamu bilang ?”.

“Aku sudah tahu semuanya !”.

Keberanianku muncul, kakek menyangka nenek memberitahu

Kakekku melotot ke arah nenekku, “Berani-beraninya kau melanggar perintahku !”. Kakek berjalan mendekati nenek.

Kurentangkan kedua tanganku, “Bukan nenek yang memberi tahuku, tapi ibu !”.

“Apa ?”.

“Ibu selalu datang kedalam mimpiku minta tolong. Kenapa tega melakukan itu ?. Kenapa membunuh orang tuaku ?”.

“Kalau tahu seperti ini, pasti sudah kubunuh kau dari dulu”.

“Bunuh saja aku !”, nenekku berteriak. Aku menoleh tak percaya ke arahnya, “Bunuh saja sekalian diriku ! Aku sudah muak hidup denganmu ! Kamu telah tega membunuh anak kita satu-satunya. Dirimu bukan manusia, Atmaja ! Kamu setan !”.

“Apa kamu bilang ?”. Kakekku terlihat sangat marah. Kedua matanya melotot seakan mau keluar dari tempatnya. Dia berjalan mendekati nenek sambil menghempaskan tubuhku. Aku terjatuh ke bebatuan kering sehingga menggores luka pada kulitku. Rasanya sakit sekali.

“Aku seharusnya sudah membunuhmu dari dulu”. Kudengar suaranya berteriak. Aku segera menoleh. Dia sedang mencekik nenekku hingga tubuhnya terangkat beberapa senti dari tanah.

Kakek terlihat sangat marah, dia ingin membunuh kami

“Hentikan…” aku berteriak, menahan sakit di siku dan telapak tanganku. Aku berlari ke arah mereka lalu kudorong tubuhnya sekuat tenaga. Kakek melepaskan nenek lalu berbalik ke arahku. Wajahnya benar-benar menakutkan.

Kuatur nafasku, hidungku bekerja ekstra untuk memasukkan banyak oksigen ke paru-paru. Waktu terasa melambat. Dia menyeringai, “Kamu akan segera menyusul orang tuamu.” Katanya sambil berjalan mendekat.

Aku melangkah mundur namun kakiku tersandung batu. Aku terjerembab.

“Akan kukirim kau ke neraka.” Tangan kakek menggapai leherku. Aku menepis tangan-tangan kokoh itu sekuat tenaga, tapi sia-sia.

“Jangan bergerak !” seseorang berteriak. Aku menoleh, polisi.

Dua orang polisi langsung membekuk kakekku dan memborgol tangannya. Aku dan nenekpun segera dilarikan ke rumah sakit. Untung nyawa nenek bisa diselamatkan.

Esoknya aku pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Aku menceritakan semuanya. Polisi terlihat kurang percaya dengan ceritaku. Kamipun ke rumahku untuk melihat lubang itu.

Seorang petugas menggali tembok itu. Satu jam kemudiam linggisnya beradu dengan balok kayu. Diapun menarik balok kayu tersebut dan terlihatlah kerangka manusia, kerangka ibuku. Aku tak bisa menahan air mata yang meleleh di pipiku.

Akhirnya semuapun terungkap, arwah ibu telah dibebaskan

cerita mistis pengabenan
upacara pengabenan (ngaben) (@ http://mysticalbali.blogspot.co.id)

Seminggu kemudian nenek sudah bisa dibawa pulang. Kami mendengar kabar kalau kakek terancam dipenjara seumur hidup. Aku sungguh merasa bersyukur.

“Nek, kita bebaskan ibu ya.” Kataku saat kami berdua duduk di ruang keluarga.

Nenek mengangguk perlahan. Akupun menghubungi keluarga jauh dan beberapa orang tetangga. Kami mulai mempersiapkan upacara pengabenan* untuk ibu.

“Selamat jalan Ibu.. Semoga ibu tenang di sana.” Kataku saat tulang belulang ibu dikremasi. Nenek mendekap tubuhku dengan erat, akupun membalas dekapan nenek.


*pengabenan = upacara kremasi mayat oleh umat Hindu di Bali.

Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita misteri pendek KDRT “Cermin”. Untuk mengapresiasi penulis, mohon berikan suka dan bagikan cerita misteri pendek KDRT ini melalui facebook, twitter, google+ dan pinterest dengan mengklik ikon dibawah. Jangan lupa baca juga cerita pendek kami lainnya.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

You may also like