Cinta Masa Lalu

cerita romantis cinta masa lalu

Cinta masa lalu adalah cerita romantis seorang cewek jones yang menemukan kembali cintanya pada seorang polisi setelah peristiwa kecelakaan. Simak tuntas pada cerita pendek berikut.

Cerita Romantis – Cinta Masa Lalu

Memang akhir-akhir ini pekerjaanku lumayan banyak, sehingga menyita banyak waktuku. Tiap hari harus lembur serta pulang malam. Seperti malam ini, diriku harus menyelesaikan laporan begitu banyak. Tak terasa waktu sudah agak larut malam, sudah jam sepuluh. Dan ternyata hanya tinggal diriku serta Nita tersisa di kantor. Sebentar kemudian Nita juga pamit karena sudah dijemput suaminya. Kini hanya tinggal diriku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk pulang juga.

Kupacu mobilku agak kencang karena kebetulan jalanan agak sepi. Namun tiba-tiba saja ada motor menyalipku, kemudian tanpa kusangka motor tersebut menyenggol mobilku membuat pengendaranya terpental. Seketika hatiku panik. “Ya Allah, apa telah terjadi”.

Kuhentikan laju mobilku. Sebentar kemudian sudah banyak orang mengerumuni pemotor jatuh tadi. Hatiku jadi takut karena banyak orang mengerumuni mobilku, memintaku turun. Hatiku jadi ragu untuk keluar mobil, jangan-jangan mereka akan menghakimiku. Keringat dingin membasahi kening, mungkin wajahku juga berubah jadi pucat pasi.

Aku berdo’a berharap ada pertolongan. Syukurlah sebentar kemudian datang beberapa polisi. Karena ada polisi hatiku jadi sedikit tenang, jadi lebih berani untuk keluar dari mobilku.

“Mari Bu, keluar tidak apa-apa.” Kata seorang polisi. Akupun keluar. Kemudian korban akhirnya dibawa menggunakan mobil kepolisian ke rumah sakit. Lalu aku dibawa ke kantor polisi. Tak tahu lagi apa kurasakan saat ini. Tak tahu juga apa harus kulakukan. Di kota ini diriku hanya hidup sendiri, sementara orang tua serta saudara-saudara tinggal di kampung halaman. Tak mungkin kuhubungi mereka, pasti hanya akan membuat mereka panik. Sementara untuk menghubungi teman-teman kantor juga tak mungkin, karena mereka punya keluarga, punya kehidupan sendiri, pasti disibukkan dengan urusan mereka sendiri.

Dalam hati, hatiu pasrah saja, mudah-mudahan cepat diberi jalan keluar. Kuharap semoga kondisi korban tidak parah. Sesampainya di kantor polisi, diirku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, disana disuruh menunggu dijaga oleh seorang petugas. Badanku terasa capek sekali, mataku terasa berat, kepalaku juga pusing. Ditambah lagi belum makan malam. Kalau boleh, pasti akan kupilih pingsan, tidak ingat apa-apa dibanding menunggu disini.

Cukup lama aku menunggu dalam ruangan tersebut. “Maaf Pak, bagaimana kondisi korban Pak ?” tanyaku pada petugas. “Kita belum tahu Mbak,” jawab petugas tersebut.

“Maaf lagi ya Pak, ini saya suruh menunggu siapa Pak ?” tanyaku lagi. “Pak Kapolsek Mbak,” jawab petugas lagi.

Dan tak berapa lama, ada seseorang mengetuk ruangan. Masuklah sesosok petugas tinggi besar, lalu duduk di hadapanku. Hatiku sangat terkejut, begitu juga petugas yang baru datang. Matanya memandangiku, begitu juga mataku menatap mengingat sesuatu. “Mira ?”. Seketika kuingat, dirinya adalah Yoga. Teman satu kos ku dulu. “Yoga ?” tebakku. Dia tersenyum, “Iya, selamat bertemu lagi,” katanya terlihat senang.

Seketika ingatanku kembali lima tahun lalu, saat kami satu kos bersama. Ketika bekerja  pada sebuah kota kecil dimana dirinya juga bertugas disana. Karena disana jarang ada kos-kosan, akhirnya diriku kos pada sebuah rumah dimana hanya tinggal kakek tua. Dan ternyata di samping kamarku, Yoga telah duluan menjadi penghuni kos disana.

Dulu sempat menaruh hati padanya, tapi harus ku kubur cinta di hatiku dalam-dalam karena ternyata dia sudah punya kekasih. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Hatiku semakin patah saat dirinya harus pindah tugas. Hatiku sangat kesepian, rasanya ada sesuatu hilang dari hidupku. Lama sekali harus kutata kembali hatiku untuk bangun dari mimpi. Ya mungkin mencintai dirinya adalah mimpi, karena tiada mungkin terjadi. Mungkin bagaikan pungguk merindukan bulan.

Walaupun apapun kulakukan untuk menyenangkannya, toh diriku bukan siapa-siapanya. Walaupun banyak kenangan indah kami lalui, tapi semuanya hanya sia-sia, karena dirinya tak pernah menaruh hati sedikitpun padaku. Saat terakhir meninggalkan kos, dia datang bersama seorang perempuan cantik. Seketika hatiku hancur, tidak sanggup melepas  kepergiannya bersama seorang wanita di sisinya.

Saat mengetuk pintu kamarku, kupilih untuk tidak membukakan pintu, karena hatiku tak sanggup. Aku tenggelam dalam kesedihan mendalam. Akhirnya hanya bisa melepas kepergiannya dengan memandang dari balik jendela. Sejak itulah diriku terpuruk dalam kesedihan mendalam, harus tertatih mengubur mimpi juga melupakan semuanya.

Dan sekarang dirinya berdiri di hadapanku, setelah lima tahun berlalu padahal aku telah melupakannya. Dia tersenyum padaku dan membangunkanku dari lamunan masa lalu.

“Mira ?”.

“Opppsss… iya Pak”, jawabku kaget. “Nggak usah bilang Pak, bagaimana kabarmu ?”, tanyanya ramah. “Baik,” jawabku singkat. Kucoba menguatkan hati, tak boleh terbuai dengan rasa cinta yang dulu. Walaupun tak bisa ku pungkiri, rasa cinta ini masih sangat dalam, tapi diriku tak boleh kembali merasakannya. Harus kubuang jauh-jauh rasa itu.

Sekarang Yoga adalah seorang Kapolsek yang sedang menjalankan tugas sementara diriku adalah seorang tersangka kasus kecelakaan dengan korban sedang terbaring di rumah sakit.

Aku menarik nafas panjang, tak terasa air mataku mengalir. Kurasakan letih sekali. “Maafkan aku, tubuhku letih sekali. Aku tidak sengaja, motor tersbeut tiba-tiba saja menyenggol mobilku”, jelasku lirih. Hatiku sangat takut, kalau kondisi korban parah, pasti diriku akan dipenjara. Tangisku semakin menjadi dan tak tahu apa akan terjadi padaku.

Diriku hanya bisa menangis, tidak bisa berfikir jernih lagi. Matanya hanya memandangku lalu memegang tanganku, hatiku sedikit terkejut. “Jangan cemas Mira, pasti semua akan baik-baik saja”. Beruntung dalam ruangan hanya diriku dan Yoga.

Kulepaskan pegangan tangannya. “Maaf, diriku memang letih. Sekarang harus bagaimana ? Silahkan kamu lakukan tugasmu. Diriku akan baik-baik saja.” Kataku. “Benar kamu sangat letih sekali.” Lalu dia keluar, tak berapa lama sudah datang dengan secangkir teh serta sebungkus nasi Padang.

“Ayo makan dulu, pasti dari tadi belum makan”, katanya padaku. Tapi diriku merasa tidak selera. “Maaf perutku tidak lapar”, dirinya kembali memandangku. “Kami tidak akan memeriksamu kalau kondisimu seperti ini.” Katanya lagi.

Akhirnya kuminum teh serta memakan nasi bungkus tersebut. Benar, diriku tidak boleh drop. Harus kuat menghadapi semuanya  juga tidak boleh cengeng. Yoga menungguiku makan, persis seperti saat kami masih satu kos dulu. Waktu itu dirinya sering menungguiku makan, karena kalau makan dia selalu habis lebih dulu, jadi selalu menunggu sampai makananku habis.

Bibirnya tersenyum padaku. “Ini seperti waktu kita masih bersama dulu ya. Kamu selalu habis belakangan, jadi diriku selalu menunggumu selesai makannya”. Kepalaku mengangguk juga teringat saat itu. “Masakanmu dulu enak, apalagi mie goreng buatanmu, kadang hatiku suka rindu dengan saat itu.” Seketika tenggorokanku tersedak mendengar ucapannya. Tak kusangka dirinya masih ingat dengan semua itu. Yoga langsung menyodorkan minuman padaku. “Sudah santai saja, kamu jangan buru-buru makannya”.

Sejenak benakku lupa pada kasus menjeratku. Entah mengapa, berada di dekatnya membuatku merasa nyaman, persis seperti dulu pernah kurasakan. Tapi buru-buru ku tepis kembali rasa itu. Diriku tak boleh lagi mengingatnya, semua hanyalah kenangan pahit. Pasti sekarang dirinya juga sudah menikah dengan kekasihnya, sudah bahagia bersama keluarganya. Diriku tak boleh tenggelam dalam rasa ini.

“Diriku sudah selesai makan, tolong periksa aku.” Kataku. Akhirnya diriku diperiksa petugas pada malam itu juga. Dan sepanjang malam Yoga menunggui pemeriksaanku. Malam itu diriku bermalam di kantor polisi.

Pagi harinya, baru aku memberi kabar pada Nita tentang kejadian kualami semalam. Nita sangat terkejut, kemudian berjanji akan segera datang menjengukku. Benar saja, tak berapa lama Nita datang bersama Pram teman kantorku. “Jangan khawatir Mira, kami akan menemanimu. Pak Amir sudah mengijinkan kami untuk menemanimu.” kata Nita padaku. “Terima kasih”, jawabku.

Lalu datang petugas memanggilku untuk menghadap Pak Kapolsek, yang tak lain adalah Yoga. Diriku diantar menuju ruangannya. Di dalam dirinya sudah menungguku.

“Selamat Pagi Mira.” Sapanya padaku. Bibirku tersenyum. “Maaf atas ketidaknyamanan semalam. Mira, kondisi korban sudah membaik, hari ini dia boleh pulang. Masalah ini akan diselesaikan secara kekeluargaan. Korban mengakui kalau dirinya yang salah. Hari ini kamu boleh pulang”. Betapa lega dan gembira hatiku mendengar kabar ini.

“Terima kasih”, ucapku senang. Yoga juga tersenyum, kelihatan senang. “Sekarang aku sudah boleh pulang kan ?” tanyaku. Dijawabnya dengan mengangguk lalu memandangku. “Mira, hatiku senang bisa bertemu denganmu lagi. Maaf dari kemarin kau hanya sendiri, dimana suamimu ?”. Glek… Mulutku terdiam mendengar pertanyaannya. Tak tahu harus menjawab apa, karena memang sampai sekarang aku belum memiliki suami.

“Aku belum berkeluarga,” jawabku.

“Ohhh..”.

“Kenapa ? Iya tidak ada yang mau padaku”, kataku. Sebenarnya hatiku perih ketika mengatakannya, namun harus kukatakan kalau memang diriku belum punya suami, bahkan pacar pun tidak punya.

Dian kembali memandangku. “Aku juga belum laku, tidak ada yang menyukaiku.” Tentu saja hatiku sangat terkejut mendengar perkataannya. “Maukah kamu mencintaiku ?”. Oooh… kini semakin terkejut. Tak mungkin, pasti semua hanya halusinasiku saja.

“Maaf Yoga, aku harus pulang, tubuhku capek. Harus bangun dari semua mimpi ini, pasti sekarang aku sedang bermimpi”, ucapku. “Tidak kamu tidak bermimpi, percayalah padaku.” Dicobanya mencegahku pergi.

“Kamu harus tahu kalau selama ini hatiku menyukaimu, menyayangimu. Tapi tidak bisa menghubungimu, nomor teleponmu telah ganti, dan diriku tak tahu dimana kau berada,” jelasnya. Memang sejak dirinya pergi, kuputuskan untuk mengganti nomor telepon serta bertekad melupakan semuanya.

“Lalu bagaimana dengan kekasih yang menemanimu waktu itu ?”, tanyaku lirih.

“Dia adik perempuanku”. Ya Allah ternyata selama ini hatiku telah salah sangka.

“Jadi kamu mengira dia kekasihku ?”.

Kuanggukan kepala pelan.

“Maafkan aku ya”, katanya lagi. Hatiku jadi merasa bersalah karena telah salah sangka padanya. “Aku juga minta maaf”, ucapku.

“Jadi ? Maukah kamu menerima cintaku ?”, tanyanya lagi. Lama diriku terdiam.

“Aku harus pulang Yoga, terima kasih atas semuanya. Ini nomor teleponku, kamu boleh menghubungiku kapan saja”. Lalu langkahku bergegas pergi dari ruangan Yoga. Dan aku merasakan kenyamanan lagi. Terima kasih ya Allah, kini cinta bisa kurasakan lagi.


Terima kasih telan membaca cerita romantis cinta masa lalu. Semoga cerpen diatas dapat menghibur sekaligus menginspirasi serta memotivasi sobat dalam menjalin hubungan dan berkarya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait