Untuk Sahabatku

cerpen persahabatan

Untuk Sahabatku adalah cerpen persahabatan erat dua wanita yang terpisah karena pilihan jalan hidup mereka. Persahabatan memang tak lekang oleh waktu, tetapi ketika terjadi hubungan tidak seimbang atau terjadi perbedaan status sosial ekonomi, itu dapat menjadi renggang kalau salah satu tidak bersabar serta menahan diri. Bagaimana kisah mereka ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Persahabatan – Untuk Sahabatku

Seperti kali terakhir datang ke kota ini, kutemukan lagi sosoknya duduk diam menungguku pada lobby hotel. Di hadapannya terletak secangkir kopi hitam terlihat sudah dingin, sementara tanganya sibuk dengan ponsel. Sebelumnya kupikir dia telah pulang saat aku menerima pesan SMS darinya. Sekarang jam setengah 3 ketika akhirnya diriku bisa keluar pada sesi coffe break. Mungkin dia sudah pulang karena sejak tiba 2 jam lalu tak mengirim SMS lagi. Namun ternyata masih ada. Masih seperti dulu, bedanya hanya kulitnya semakin putih serta rambutnya kini sepanjang bahu, serta berkacamata. Kupikir kaca mata hiasan layaknya sering kami pakai dulu untuk gaya-gayaan. Akan tetapi dari foto terakhir kulihat pada akun Facebooknya, terlihat matanya mengenakan kacamata juga.

Kakiku melangkah mendekatinya, sudah begitu dekat dengannya tapi seolah dirinya tak sadar akan kehadiranku. Tetap saja tangannya sibuk pada ponselnya. Mulutku berdehem pelan langsung duduk dihadapannya. Agak terkejut matanya melihatku namun sontak memburuku dengan pelukan serta cipika-cipikinya.

“Belum kelar, sosialisasinya ya Pat ?” tanyanya menatapku. Aku menganguk,  pelan mencoba terus memperhatikan sosoknya yang terlihat sangat berubah. Penampilannya terlihat semakin modis bergaya casual lagi trend akhir-akhir ini. Menggunakan model kaos longgar berbahan Chiffon warna putih dipadu celana jeans biru classic cut kakinya mengenakan sepatu vans jenis oldskool berharga lumayan mahal. Asli atau KW bukan urusanku.

Waktu datang beberapa tahun lalu penampilannya tidaklah semodis serta semahal ini, bahkan tiga tahun lalu saat aku datang, diriku masih harus membelikannya beberapa pakaian untuk ke kantor. Sekarang gayanya terlihat Jakarta banget. Hatiku tersenyum, namun entah apa membuatku tersenyum dibalik tatapan mataku pada dirinya.

“Kok ngeliatnya kayak gitu Pat ?”. Tere terlihat jengah karena mataku masih terus saja memandangnya. Akhirnya kugelengkan kepala sambil masih menyungging senyumku.

“Jakarta banget penampilanmu sekarang Re.”

Tertawa melebar, tapi mataku menangkap bayangan kecewa dalam bias sorot matanya. Terlihat sekali  wajahnya berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Aku putus dari Hardy.”

Itu sudah kutahu. Walau tak dituliskan secara langsung pada dinding facebooknya, tapi kalimat singkat statusnya minggu lalu, memperlihatkan hubungannya dengan Hardy ada masalah. Akan tetapi kali ini mulutku tak ingin berkomentar. Sejujurnya diriku lelah selalu menjadi orang yang terus mengingatkannya, bahwa berhubungan dengan suami orang buntutnya takkan baik.

Aku tak tahu alasan apa membuatnya menerima tawaran Hardy menjadi simpanannya. Apakah karena materi ?, atau karena cinta ?. Hidup pada kota besar seperti  Jakarta memang butuh biaya tidak sedikit, apalagi mengingat gaya hidupnya saat dikota asal sudah tinggi, bagaimana kalau di Jakarta ?. Jika karena jatuh cinta sebenarnya sudah tak lagi menarik rasa empatiku. Aku tidak suka bicara tentang cinta atau hal-hal indah kata cinta. Umurku sudah terlalu tua untuk bersentuhan dengan kata-kata cinta pria dengan wanita. Malu rasanya kalau sudah sedewasa ini masih dibodohi oleh satu kata yang kadang menghipnotis cara kita bersikap. Akan tetapi sorot mata sedihnya sedikit memberi jawaban, hubungan dirinya pada Hardy karena cinta atau materi.

“Patris, koq diam sih ?”.

Kupandangi sekelilingku, mencoba menutupi rasa kesal dalam hatiku. Bosan akan pertemuan dengannya karena selalu saja curhat takkan lepas dari tuturnya. Oh come on girls sudah berapa umurmu sekarang ? 34 tahun. Kenapa cara berpikirmu masih seperti 17 tahun lalu saat masih duduk dibangku SMA ?. Dirimu wanita dewasa berhentilah bersikap seolah-olah dirimu korban kekejaman dunia. Ugh… tak sadar diriku mengeluh dalam hati.

“Kau masih bekerja pada perusahan keramik itukan ?” tanyaku akhirnya mencoba memecahkan seribu tanda tanya dalam hati temanku akibat ketidak-antusiasanku pada pembicaraan tentang Hardy atau apa saja mengenai lelaki itu dalam hidupnya.

“Iya, akhir-akhir ini lagi mempertimbangkan untuk resign.”

What ! resign, Sadar gak sih ?, kerja sebagai accounting diperusahan itu saja sudah beruntung banget. Terus sekarang mau resign, mau makan apa di Jakarta ini ?. Apalagi kalau benar kau putus dari Hardy, bisa kolaps dirimu !. Hatiku  menggerutu. Ingin sekali kalimat dalam benakku ini kucurahkan padanya namun hanya satu kata terlontar dari mulutku, “kenapa ?”.

“Suasana mulai gak menyenangkan Pat, biasalah banyak orang usil seolah gak senang dengan apa kumiliki.”

Apa coba yang kau miliki ?. Kerja diperusahan itu mengantarmu bisa keliling Indonesia. Ke Surabaya, Semarang, Bali, Kalimantan, dan lainnya. Semua daerah belum sempat kulihat, sudah kau lihat. Gajimu lumayan besar disana. Posisimu juga bagus, walau ijasahmu cuma tamatan SMA. Pertama kali datang kesini, kau hanya membawa mimpi indah bersamamu. Pikirmu Jakarta tak sekejam kau dengar. Toh akhirnya dirimu membuktikan sendiri, bahkan kita harus berjuang agar bisa hidup disana. Saking keras serta beratnya hidup di Jakarta, dirimu bahkan sempat wirausaha menjual gorengan di Monas hingga akhirnya dikejar-kejar satpol PP.

Bahkan seringkali kutawarkan bantuan untuk mengirim tiket pulang tapi selalu kau tolak. Ambisimu untuk menaklukan Jakarta belum selesai. Pendirianmu begitu kuat, keras kepalamu membuatku menyerah sehingga hanya menunggu sambil terus mengikuti perkembangan kehidupanmu di Jakarta.

Setelah susah payah akhirnya kau menemukan pekerjaan pada sebuah perusahan ekspedisi di Tanjung Priok. Hatiku miris saat harus bertugas ke Jakarta kau memintaku menginap di kosmu. Alasanmu cuma satu, dari pada buang uang bayar hotel mending uangnya disedekahin buat kamu. Begitulah katamu waktu itu, setengah bercanda. Tapi hatiku tahu kamu tidak bercanda. Kamu memang butuh uang. Aku mengalah lalu menerima tawaranmu. Kuputuskan untuk menerima tawaranmu tidur di rumah kos yang kurasa sangat tak layak untuk kutiduri. Tapi mulutku tak mengeluh karena pertemuan kembali denganmu membawa banyak sekali kisah tak sempat kuceritakan setelah berpisah.

Setahun kemudian kudengar kamu pindah kekosan lebih baik. Hatiku lega. Kita mulai jarang komunikasi karena kesibukan kerja kamu di perusahaan swasta sementara diriku di Pemerintahan.

Akhir tahun lalu kau resign dari kantor lama kemudian bekerja diperusahan plastik sebagai staf marketing. Kamu pindah kos lagi, pindah pergaulan lagi.  Tapi kali ini dirimu mulai berani memposting gaya pergaulanmu di Jakarta. Caramu berpakaian mulai berbeda. Diriku terus mengikuti perkembangan tentang dirimu. Rasanya masih belum rela melepasmu di rimba Jakarta karena diriku tahu betul karakter serta sikapmu. Kamu labil juga sering memiliki masalah kesehatan.

Hatiku cemas, kuatir, sebagai teman paling dekat diriku sangat mengenalmu. Hampir 3 tahun di Jakarta kamu sudah 3 kali ganti perusahan, tapi kuyakin semua karena dirimu ingin bekerja pada tempat lebih baik untuk mencukupi kebutuhan hidupmu. Hatiku yakin pengalaman resign dari 4 perusahan dulu saat disini akibat kejadian tak mengenakkan menjadi pelajaran bagimu lebih berhati-hati.

Tahun keempat saat kita bertemu lagi, kau mengenalkan Hardy padaku. Laki-laki bergaya cosmopolitan begitu kentara. Hardy tampan, punya jabatan eksklusif pada salah satu perusahan bergengsi di Jakarta. Sekilas dirinya merupakan lelaki impian para wanita. Tapi semua tak sesederhana terlihat. Diriku baru tahu kalau ternyata lelaki tersebut sudah beristri juga memiliki dua orang putri. Aku mengajakmu pulang. Sekali lagi kau menolak. Dirimu enggan meninggalkan status wanita Jakartamu, kamu masih ingin menikmati hidup disana meski tanpa kau sadari sudah melukai beberapa hati.

Memasuki tahun ke 5 kutemukan dirimu terbaring tak berdaya dirumah sakit. Kata dokter rahimmu bermasalah sehingga takkan bisa memiliki anak dan dirimu harus istirahat total. Diirku sangat mengenal penyakitmu satu ini karena aku paling memahami perasaan serta tahu kenapa penyakit tersebut bisa ada dalam rahimmu. Banyak hal kutawarkan saat mengajakmu kembali pulang. Teman-teman, keluarga serta teman merindukanmu karena hampir 5 tahun kamu tidak pulang. Hatiku rindu bersamamu, menikmati waktu bersama, banyak hal kita lewati tapi kadang peranku seperti kakak bagimu.

Bagianku mengingatkanmu jika kau salah melangkah, memberikan saran jika hatimu bimbang, serta sedikit pelukan saat kau terluka karena putus cinta. Tapi dirimu kembali menolak tawaranku untuk terus bertahan dalam situasi diri terbungkus rasa gengsi. Satu alasanmu jika kubertanya kenapa tidak pulang saja ?, dirimu tidak akan pulang sebelum berhasil.

Berhasil ! bagaimana bisa berhasil dengan cara hidup seperti ini ?, gaji setiap bulan langsung habis dalam sekejab untuk barang-barang branded meski lebih banyak KW nya dibanding asli. Tak terlintas sedikitpun dalam pikiranmu untuk mengirim sebagian gaji kepada orang tua juga adik-adikmu. Bahkan karena pengeluaran lebih besar dari pendapatan, kau jadi sering kasbon dikantor.

Penyakit lamamu ternyata masih kamu bawa ke Jakarta. Kapan akan belajar dari pengalaman ?. Penunjang hidup kau dapatkan dari Hardy pun menguap entah kemana. Bahkan kadang dirimu harus menelpon meminta bantuan keuangan dariku. Diriku masih mengirimnya, tapi tidak sesering dulu karena terkadang hatiku jengkel pada sikapmu.

Dirimu sering putus komunikasi sekian lama, lalu  tiba-tiba telpon pinjam uang. Kau membutuhkanku hanya saat ada masalah. Tetapi jika tidak ada masalah, dirimu seolah melupakanku tenggelam dalam kehidupan metropolitan. Padalah mataku masih mengawasimu. Dari status-status facebook juga twitter, kutahu suasana hatimu. Dirimu memang penggila dunia maya, media sosial apa tidak kamu ikuti ?. aku bahkan sempat bingung menerima beberapa media sosial kau sarankan untukku.

Ini sudah 9 tahun sejak dirimu hidup diJakarta. Tapi hatiku masih kagum pada dirimu. Menatapmu seperti sekarang saat duduk didepanku dengan dua bola mata bundar memandangku seakan protes kenapa diriku lebih banyak diam sekarang. Kau memang cantik Tere, tapi kecantikkanmu takkan bertahan selamanya. Yang bertahan adalah persahabatan kita. Diriku sangat peduli padamu karena kau adalah satu-satunya sahabatku.

“Kamu niat resign, terus baru putus dari Hardy, alasan apalagi untuk menolak pulang kali ini ?”. Akhirnya kata-kataku keluar juga. Tere menatapku serius. Pandangan ingin protesnya terlihat semakin kentara.

“Apa harus kukatakan pada keluargaku kalau pulang dengan keadaan seperti ini ?”, elaknya.

“Lihat dirimu, kamu baik-baik saja”, selaku datar.

“Tidak sesederhana itu Pat. Disana kan harus cari kerja lagi”.

“Kamu bisa buka usaha, kuberi kau modal. Kita bangun usaha. Usaha kafe sekarang semakin ngetrend. Tapi kafe bagus dengan konsep anak muda belum ada di kota kita”, tawarku sedikit bersemangat. Kuingin jawaban iya atau angukan setuju darinya. Apalagi kau tunggu Tere, umur kita semakin bertambah, tidak lama lagi usia kita akan 40 tahun. Cobalah berpikir positif. Sementara dirimu masih seperti ini. Aku juga mungkin takkan sebaik sekarang. Besok atau lusa diriku pasti akan menikah lagi dengan laki-laki yang diberikan Tuhan untukku. Apa kamu tidak memikirkan hal tersebut Tere. Hatiku berkecamuk antara jengkel juga kesal.

“Maafkan aku Pat, diriku masih ingin tinggal disini”.

Jawabannya kembali menghentakkanku pada kenyataan kalau dia takkan pernah berubah, tidak mau mengambil kesempatan dariku. Sayang sekali padahal ada beberapa rencana ingin kubangun bersamanya. Kali ini kucoba tersenyum, takkan lagi kecewa seperti waktu-waktu lalu. Kupikir dirinya sudah cukup dewasa untuk menyadari ditanah mana kakinya berpijak. Kulirik jam dipergelangan tanganku. Istirahat coffe break sudah lama berlalu, diriku harus masuk kembali keruangan. Tubuhku beranjak diikuti olehnya lalu kudekap erat tubuhnya.

“Jaga dirimu Tere, aku harus masuk ruangan lagi. Mungkin lusa diriku kembali ke Manado”, ucapku pelan.

“Iya, maafkan aku Pat”.

“Its oke, jaga kesehatanmu”, kutepuk lembut punggungnya sambil bergegas masuk ruangan.

Hanya itu tawaran dariku untukmu sobat, mungkin esok semuanya akan berubah. Walau persahabatan kita takkan lekang oleh waktu, namun terkadang perubahan membuat kita kehilangan makna dari persahabatan itu sendiri. Mungkin jika kamu sudah lelah pada metropolitan, dirmu akan kembali lalu kita sama-sama mengenang kisah persahabatan yang mulai memudar.

Untuk sahabatku medio 2009. YTL… miss you so much.


Terima kasih telah membaca cerpen persahabatan. Semoga cerita pendek diatas dapat menjadi inspirasi serta motivasi bagi sobat Bisfren untuk menghasilkan karya tulis lebih baik lagi. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait