Cerita Cinta Sejati Romantis Keajaiban Cinta @ Cerpen

cerpen cinta romantis

Keajaiban Cinta merupakan cerpen romantis tentang cinta sejati dua manusia sejak sekolah hingga menjadi sukses. Cerpen bernuansa romantis Kisah Cinderella ini memperlihatkan betapa cinta sejati tidak bisa pupus oleh status sosial bahkan oleh ketidak sempurnaan fisik. Bagaimana jalan cerita cerpen cinta romantis ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Cinta Sejati Romantis Keajaiban Cinta

Hari ini dibarisan kelas II IPS2 lagi-lagi mataku tak melihat sosok itu, ah…..parah. Dasar anak badung, baru kemarin dihukum berdiri didepan tiang bendera sekarang tidak masuk lagi. Kucoba menoleh kebelakang lagi, apel sekolah telah dimulai, anak-anak datang terlambatpun sudah ditahan Guru BP untuk baris sendiri.

Yaa… ada sedikit kecewa mengelayut dilubuk hatiku. Entah kenapa? rasanya tidak semangat jika Joe tidak sekolah. Sosok itu memang memiliki nama yang unik Joenarta Juniar tapi teman-teman disekolah mengenalnya dengan nama Joe. Sosok doyan bikin ulah serta pelanggaran itu memang terkenal badung di sekolah (Kalau suka baca cerpen cinta romantis, baca Amarylis Merah). Siapa sih tidak mengenal Joe ? dari adik kelas sampai kakak kelas  kenal banget sama dia, sampai guru-gurupun capek menghukum si Joe.

Tapi entahlah aku merasa kebadungannya adalah salah satu hal menarik membuatku tambah suka. Gayanya cool, cuek banget bahkan masa bodoh, doyan bolos, kalo masuk kelas nanti jam ke tiga atau jam keempat tergantung siapa guru mengajar. Kalo killer gak bakalan keliatan tampang tuh anak, tapi kalau cantik seperti Bu Miranda, atau suka ngelucu seperti Pak Thomas pasti masuk kelas.

Aku juga heran sendiri koq aku bisa suka dengan mahkluk badung itu, secara kalau disekolah dirinya cuma ngumpul mah teman-teman segengnya badungnya serta jarang bergaul dengan teman lain selain teman-teman dikelasku. Itupun cowok, kalo cewek paling-paling tegur sapa biasa. Padahal Joe tampangnya keren. Gayanya juga kece walau kadang terlihat slengean tapi tetep saja hatiku menyukainya (Kalau suka baca cerpen cinta, baca Namun SenyumMu tetap mengikuti). Diriku suka melihat cara bicaranya, cara berpakaian, melihatnya dihukum gara-gara terlambat, gak bikin pekerjaan rumah, atau dihukum berdiri didepan tiang bendera gara-gara gak pake kaos kaki.

Apapun ada padanya hatiku tetap suka. Dikelasku Joe duduk dibangku paling depan sebelah kiri paling sudut, sementara diriku duduk dibangku paling belakang paling sudut kanan. Jadi saat dia duduk lalu melihat kebelakang pasti secara tidak sengaja mata kami akan saling bertatapan, mungkin bagi Joe itu hal biasa tapi bagiku itu adalah hal luar biasa.

Tapi diriku tak ingin bermimpi lebih, melihat sosok Joe disekolah, dengan semua kebadungannya saja sudah membuatku bahagia. Diriku bukanlah sosok Intan supel lagi cantik, bukan pula Gina sipintar juga kaya, atau sepopuler Susan dengan sejuta kelebihannya. Diriku hanyalah seorang Nina yang lebih suka duduk dikursi paling belakang. Seolah–olah bersembunyi dari  tatapan mata merendahkan serta mencemoohku. Aku hanyalah Nina si culun kutu buku berkacamata. Keseharianku di sekolah hanya duduk diam dibangku kelas tanpa berani keluar walau jam istirahat. Diriku seorang Nina yang kadang-kadang hanya bisa makan bekal  berisi nasi goreng asin buatan emak meski akhir-akhir tak kumakan lagi dikelas, karena Yuna serta gengnya sering meledekku (Kalau suka baca cerpen cinta, baca makanan harus dihindari).

Yah, diriku adalah salah satu dari kaum minoritas di sekolah selalu diremehkan serta dihina. Apalagi emak cuma buruh cuci di rumah-rumah orang-orang kaya, tapi sekarang tenaganya kadang sudah tidak dipakai karena terganti oleh mesin cuci canggih. Penyewa jasanya mulai berkurang. Kadang pulang sekolah kudapati wajahnya kuyu karena dari pagi sampai siang cuma satu penyewa  tenaganya.

Ah, mengingatnya membuat hatiku giris juga sedih. Wanita itu adalah ibu yang melahirkanku. Tabah mengurus sekaligus mendidikku disela-sela kekurangannya. Diriku tak punya ayah. Ayah meninggal saat diriku masih dalam kandungan Emak (Kalau suka cerpen cinta, baca maafkan anakmu ibu). Katanya ayah sakit TBC. Sedih memang, tapi dirinya tak mau kawin lagi. Emak lebih memilih membesarkanku sendirian.

Kadang jika pulang sekolah diriku membantunya menyuci, tapi selalu dengan keras dilarangnya. “Gak usah Nin, kamu belajar saja biar bisa jadi orang sukses,”hanya itu selalu dikatakannya sehingga menjadi kata kata motivasi hidup buatku untuk terus sekolah, terus belajar walau selalu dihina serta diperlakukan tidak adil disekolah. Bagiku hinaan serta cemohan tidaklah sebanding dengan kerja keras ibu menyekolahkanku.

Agak kaget juga aku saat pulang sekolah kudapati bermacam lauk pauk tertutup rapi diatas meja makan, ada sambal goreng ati kesukaanku, ada semur tempe, ada ayam goreng dan sayuran (Kalau suka cerpen cinta, baca makanan untuk menyembuhkan asam urat). Woah ada apa ini ? dari dalam kamar Emak muncul dengan senyum khasnya.Terlihat sekali raut gembira diwajahnya yang mulai keriput (baca penyebab keriput).

“Wah habis ada acara yah Mak ?”.

“Gak ada, ayo duduk sini, kamu pasti lapar kan Nin ?”. Aku duduk dengan takjub, “iya sih Mak”. disendokkannya nasi kepiringku, “ada kabar gembira Nin, mulai sekarang Emak akan bekerja tetap di rumah bu Winda dikampung sebelah”, katanya.

“Yang bener mak ?”

“Iya lumayan Nin gaji sebulannya. Lagipula bu Winda serta keluarganya baik banget. Sempat kaget juga waktu ketemu Bu Winda kemarin dirumahnya Bu Anwar. Emak pikir Ibu Winda bercanda waktu nyuruh kerumahnya pagi tadi, gak taunya mau menawari pekerjaan” (baca  profesi pekerjaan paling dibutuhkan).

“Wah sukur Alhamdulillah yah Mak”.

“Waktu tadi kerumahnya diajak belanja di supermarket buat kebutuhan seminggu, trus bahan-bahan dikulkas disuruh buang semua. Wah kan masih bagus, masih bisa dimasak Nin. Terus Emak bilang buat saya aja. Eh gak disangka Bu Winda setuju. Nah ini hasilnya. ”

Aku menatap makanan didepanku dengan mata berkaca-kaca. Bahan-bahan ini sudah dibuang pemiliknya tapi Emakku membuatnya menjadi masakan enak.

“Ayo makan Nin, masih hangatkan. Enak Nin, kamu udah lamakan gak makan makanan enak ?”

“Iya mak”, bergetar suaraku saat mengunyah makananku. Rasa haru hampir menyeruak keluar lewat titik air mata tapi berusaha kutahannya.

“Enak gak nin ?”

“Enak Mak, enak banget”, jawabku. Jujur bagiku masakannya adalah masakan terenak didunia. Apapun dibuatnya mau keasinan atau kurang garam tetaplah enak (baca cara menjadi orang menyenangkan).

“Besok mungkin Emak pulang jam lima sore Nin. Kalau makanannya sudah dingin dipanasin yah,  jangan lupa masak air yah.”

“Kalau Nina bantuin gimana mak ?”.

“Gak usah kamu belajar aja”.

“Tapi dirumahkan sepi, Aku bisa bantu nyapu, ngepel, atau apa kek biar kerjaan cepat selesai”. Ibuku terdiam lalu akhirnya tersenyum, “baiklah tapi kamu harus janji belajar dulu baru bantuin Emak”. Aku mengangguk gembira (Kalau suka cerpen cerita romantis, baca Kisahku).

“Yah sudah kamu makan banyak yah, Emak kekamar dulu.”

*******************

Kutatap lembar hasil ulangan ditanganku. Hatiku bersorak gembira melihat angka 100 hasil ulanganku. Hasil ulangan matematika kemarin dapat 100, berarti gak sia -sia belajar siang malam.

“Coba lihat !”.

Tak menyangka Yuna sudah merampas kertas ulangan ditanganku dengan cepat.

“Yuna kembalikan !”, seruku, yapi Yuna malah menjauh sambil mengibar-ngibarkan kertas ulanganku.

“Si kutu  buku dapet 100 ulangan matematikanya pasti nyontek nih”, teriak Yuna. Teman-temannya langsung mengerubuti (Kalau suka cerpen cerita romantis, baca Yang bikin orang gak enak ditemenin).

“Ya pastilah, juara kelas kita aja dapetnya cuma 80 dianya dapet 100. Nyontek pasti tu.”

“Duduknya kan paling belakang, pasti nyontek tuh”.

“Harus dilaporin nih ke ibu guru”.

“Jangan Yun, sumpah nggak nyontek. Tolong kembalikan ulanganku”, pintaku mencoba mengambil kertas ulangan dari tangannya. Namun sia-sia. Dengan sigap Yuna melemparkanya kertas ulanganku kusut menjadi bola kertas dioper kesana kemari oleh gengnya Yuna. Bahkan tubuhku pun ikut didorong-dorong. Lalu brukkk… Tubuhku terjerembab, kacamataku jatuh, lebih parah lagi tanpa rasa berdosa Yuna serta kawan-kawannya menginjaknya.  Diriku cuma bisa berteriak dalam hati. Tak sadar airmataku menetes. Pelan-pelan kuraih kacamata tinggal gagangnya saja lalu beranjak bangkit pelan-pelan sambil mengusap airmataku (cerpen cerita sedih, Ayahku mawar berduriku). Sebuah tangan kokoh meraih tanganku untuk bangkit. Agak terkejut hatiku saat menyadari siapa menolongku bangkit. Joe…!

“Terimakasih,” ucapku tertunduk. Joe menatapku aneh lalu akhirnya mendekati Yuna serta kawan-kawannya.

“Kembalikan kertas ulangannya”.

“Bukan urusan kamu kale, Joe”.

“Kembalikan, atau kubuka rahasia kotormu”, terdengar ancaman Joe.

Yuna merenggut dan langsung mengembalikan kertas ulanganku yang kini sudah berubah menjadi bola kertas (cerpen cinta romantis, Cinta harus memilih).

“Ini, sukurlah gak robek cuma agak lecek”.

“Terimakasih lagi yah”, ucapku pelan .

“Kacamatamu rusak ya ?”

“I…i..iya, tapi gak apa-apa koq”, usai berkata begitu cepat-cepat ku kembali kebangku. Diriku takut berlama-lama dengan Joe. Yuna dan gengnya akan mengerjaiku lagi karena siapa tak tahu kalo Wiwin teman segeng Yuna suka banget pada Joe. Selintas Joe meraih sesuatu dilantai kemudia berlalu diikuti teman-teman gengnya juga. Saat melirik kearah Yuna, dia mengacungkan tinjunya kearahku (cerpen romantis cinta, Kan ku kubur cinta ini dihatiku).

******

Sudah seminggu ini mataku tidak menggunakan kacamata. Pandanganku jadi kurang jelas. Tapi sama sekali hatiku tak ingin memberitahukan Emak. Diriku tak ingin menambah bebannya lagi. Kacamata  minus harganya cukup mahal. Belum lagi kalau harus kedokter mata, bagaimana bisa membelinya ?.

Kakiku baru saja melangkah keluar kelas. Suasana sekolah sudah sepi. Hanya terlihat satu dua orang belum pulang. Sama sepertiku mereka mungkin sedang membersihkan kelas. Kakiku melangkah keluar halaman sekolah. Di gerbang sekolah kulihat Joe serta teman-teman gengnya sedang berkumpul (cerpen romantis cinta, Hujan dibulan Nopember). Aduh, gimana nih gak biasanya tuh anak nongkrong disitu. Rasanya begitu gugup saat harus lewat didepan mereka. Tapi apa mau dikata gerbang sekolah cuma satu mau tak mau harus lewat didepan mereka.

“Nina !”, sebuah panggilan terdengar. Langkahku terhenti, jantungku berdegub kencang saat tahu Joe mendekatiku.

“Eh..eh, ada apa yah ?” tanyaku benar-benar gugup. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, sebuah bungkusan kecil berwarna abu-abu (cerpen cinta sedih, Seperti itu ku mencintamu sampai mati).

“Ini”, sodornya.

“A…a…apa ini ?”, tanyaku belum menerima. Diraihnya tanganku lalu meletakan bungkusan itu diatasnya.

“Pakai ini, kulihat seminggu terakhir kamu kerepotan karena tak memakai kacamata.”

“I.. ini ?”
“Itu kacamata, punyamu kemaren rusak kan ? Mudah-mudahan bisa membantu.”

“Jangan… ini ?”.

“Ahhh…Sudahlah pakai saja”, usai berkata begitu dirinya langsung mendekati teman-temannya lalu mengajak mereka pergi meninggalkanku penuh heran, tanda tanya, sekaligus  kaget (cerpen cinta sedih, Haruskah aku mencintainya).

Ada apa dengan sih badung itu ? mengapa tiba-tiba berubah ? mengapa menjadi baik padaku ? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi otakku. Saat berada dirumah, kubuka bungkusan berisi kacamata pemberiannya. Hatiku terkesima.

Dengan hati-hati ku pakai kacamata sambil melihat bayangku dicermin, sungguh bagus kacamata ini. Ukuran lensa minusnya sama, hanya gagangnya saja terlihat beda, lebih mahal dari punyaku dulu. Kacamata ini harganya pasti mahal, ah apa harus kukatakan padanya ? bagaimana cara mengucapkan terima kasih padanya ?. Diluar pertanyaan-pertanyaan memenuhi otakku, hatiku begitu gembira, siapa tidak gembira menerima pemberian dari orang disukai ?. Tak sabar rasanya ingin cerita pada Emak, dia pasti kaget melihatku punya kacamata baru (cerpen cinta sedih, Kuharus melepasmu).

*****

Hari ini sepulang sekolah, setelah beres-beres rumah serta mengerjakan beberapa tugas dari sekolah, diriku pergi kekampung sebelah. Tidak sulit menemukan rumah Bu Winda. Rumah besar itu berdiri kokoh dengan halaman luas dipenuhi berbagai macam bunga-bunga. Tamannya tertata apik. Dari luar saja sudah bagus bagaimana dalamnya yah ?. Ada pos satpam disamping rumah. Satpam bernama Pak Kusdi itu menyambutku dengan senyum ramah saat diriku permisi masuk. Sepertinya dirinya tahu diriku anak pembantu disana sehingga tanpa ragu-ragu membuka pagar besi setinggi 3 meter itu. Wuih… dengan pengamanan seperti ini mana ada pencuri bisa masuk.

Perlahan ku berjalan melalui pintu samping menuju belakang. Takjub rasanya saat melewati sebuah kolam renang. Wow benar-benar kaya raya bu Winda. Ck.. ck..ck Mulutku berdecak kagum. Lihat saja kolam renangnya besar lagi megah. Airnya jernih, ada taman mengelilingi kolam. Ada air terjun buatan disudut benar-benar rumah sangat indah. Langkahku menuju dapur. Kulihat ibuku sedang mencuci menggunakan mesin. Bibirku tersenyum kecil melihatnya sudah mahir menggunakan mesin cuci (cerpen cinta sedih, Penyesalanku).

“Mak.”

“Udah dateng Nin, bantuin jemur pakaian yah, cuma dianginin doang”.

“Iya Mak”, gesit kuraih keranjang pakaian lalu mulai menjemur. Tak lama kemudian kami sudah selesai mencuci. Sekarang kubantu membersihkan  dapur. Sedang asyik mencuci piring  tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Bu Sur lihat kemeja kotak-kotakku warna ijo gak ?”.

“Udah disetrika Den tadi pagi ada dalam lemari diruang setrika Den”, terdengar suara Emakku menjawab dari belakang.

Tubuhku berbalik, sepertinya diriku mengenal suara barusan. Sosok didapur itupun sama terkejutnya denganku (cerpen cinta sedih, What if tomorrow never comes).

“Joe !”.

“Nina !”, serunya kaget dengan mata melotot. “Ngapain disini ?”.

“Oh Den Juna, ini putri Bu Sur”, Emakku tiba-tiba sudah muncul didapur. Kepalaku menunduk malu tak berani menatapnya.

“Oh jadi Nina anak Bu Sur yah ?”.

“Kalian sudah saling kenal ya ?”, tanya Emak kaget.

“Kami sekelas Bu Sur”, ujar Joe tersenyum kearahku.

“Wo alah sekelas to”, Emakku tertawa. Joe menatapku lucu entah apa dalam hatinya.

“Iya bu “.

“Anak ibu dikelas gak nakalkan ?”.

“Wah, gak lah bu, malah sebaliknya terlalu baik”, ujarnyalagi mendekatiku. Ibuku kembali kebelakang (cerpen cinta romantis, November Rain).

“Terlalu baik dan polos sampai dikerjainpun cuma diam”, bisiknya ditelingaku. Kontan mukaku memerah, bibirnya menyeringai kecil.

“Juna, sudah siap-siap belum ?”, terdengar suara dari dalam.

“Bentar mah”.

“Cepetan nanti terlambat”.

“Iya mah”, sahutnya lagi. “Awas ya kalo cerita-cerita tentangku ke ibumu atau ke mamaku”, ancamnya lagi.

Diriku melongo menatapnya berlalu dengan tatapan masih tak percaya. Dia anak Bu Winda. Ternyata dirinya anak orang kaya (cerpen cinta sedih Pelindung Hatiku). Ternyata lagi si badung itu anak mama. Dipanggil Juna lagi. Tak sadar mulutku tergelak, ibuku masuk menatapku heran.

“Ada apa Nin ?”.

“Gak Mak.”

“Jadi Joe itu teman sekelasmu ya ?”.

“Iya mak pantes saja”.

“Pantes napa ?”.

“Anaknya baik, patuh sama orang tua”.

Ups!.. kudekap mulutku menahan tawa. Baik iya, tapi badung kale Mak, patuh ?, idih sebaliknya Mak suka ngelawan tuh sama guru. Suka bikin ulah, suka usilin orang bisik hatiku.

“Kamu kenapa Nin kok bengong ?”, tegur Emakku.

“Enggak Mak”, jawabku tersipu malu.

Sebenarnya sejak tahu Joe anak Bu Winda diriku sudah berniat untuk tidak datang lagi karena malu.Tapi tak disangka dirinya sendiri memintaku datang (Mungkin anda suka membaca cerpen romantis cinta Setia). Akhirnya memang diriku rutin kerumahnya membantu ibuku, tapi itu bukan karena permintaannya melainkan karena permintaan Bu Winda setelah tahu anaknya tidak Lulus ulangan mata pelajaran matematika. “Ibu minta tolong ya Nina bantuin Juna di pelajaran Matematika. Kemarin ibu mau menyewa guru privat tapi Juna gak mau katanya dibantu Nina aja cukup”, begitu katanya. Hatiku ingin menolak tapi beliau memaksa sehingga hatiku luluh.

***********

Tanpa terasa 15 tahun sudah berlalu. Diriku sudah berubah, semua berkat kebaikkan keluarga Bu Winda. Menyandang lulusan terbaik di SMA membuatku bisa mendapat beasiswa masuk universitas Negeri jurusan Kedokteran. Selama kuliah kami banyak dibantu keluarga bu Winda. Sampai lulus dokter lalu mengambil spesialis bedah. Semua kebaikan mereka membantuku mencapai impian tak bisa kulupakan.

Diriku kini sudah bisa hidup mandiri. Sayangnya Emak tak bisa menemaniku. Beliau meninggal saat diriku baru menjadi Koas, sedih rasanya karena belum bisa menyenangkan hatinya. Kalau saja masih hidup tentu akan bahagia melihat kehidupanku sekarang.  Bu Winda bersama Pak Sofian masih ada, diriku tinggal bersama mereka karena ingin berbakti serta membalas budi baik mereka menyekolahkanku sampai bisa berhasil menjadi salah satu dokter ahli bedah terbaik serta termuda di Indonesia Timur (Mungkin anda suka membaca cerpen romantis cinta Meskipun itu membunuhku).

Masing mengharapkan dirinya kembali

Sudah hampir sepuluh tahun Joe tinggal di Itali. Hatiku masih mengharapkannya untuk kembali meski tidak pernah berharap dirinya mengetahui isi hatiku. Setelah sekian lama berpisah hatiku hanya berharap dia kembali walau cuma sekejab mata memandangnya. Meskipun setelah itu dirinya pergi lagi asalkan rinduku terobati.  Meskipun terpisah jarak jauh, komunikasi kami masih terjalin tapi hatiku rindu untuk menyentuhnya, mengacak rambutnya, mencubit pipi nya, atau menjewer kupingnya seperti dulu kalau tidak bisa mengerjakan tugas matematika dariku.

Ah Joe..Joenarto Juniar. Anak badung yang ternyata anak mama, yang sering dipanggil Juna di rumah, Ingat itu mulutku tak sadar tertawa kecil. Haitku benar-benar merindukannya.

“Senyum-senyum sendiri Nin”, tegur Ibu Winda.

Segera kuletakan bingkai foto Joe di meja.

“Kangen Juna ya Nin ?”.

“Iya bu, sudah lama. Heran tu anak betah banget di Itali”, keluhku. Bu Winda tersenyum.

“Ibu juga heran sama kalian berdua. Dua-duanya sudah menjadi orang sukses tapi belum menikah-menikah juga. Apa sih kalian tunggu ?”.

“Belum ketemu jodoh bu, Juna juga mungkin belum ketemu”, hiburku.
Bu Winda geleng-geleng kepala.”Kalau tahu begitu mending ibu jodohin kamu sama Juna dari dulu”.

Ups….Kutatap wajahnya haru. Ah Ibu, bagaimana mungkin bisa punya pikiran begitu apakah tak akan terasa janggal ?. Dirinya terbatuk-batuk, kudekati lalu kuperbaiki syal dilehernya.

“Nin”, ditahannya tanganku dengan tatapan lembut. “Jangan merasa terbebani pada Ibu juga Bapak. Niat kami menyekolahkanmu tulus dan ihklas. Jangan karena hanya karena kami, kamu belum juga menikah”.

“Gak usah dipikirkan hal itu ya bu, Nina juga Ihklas lagian kalau sudah jodoh Nina pasti akan nikah” (baca cerpen romantis Sang Jodoh).

“Tapi umurmu  semakin bertambah Nina”.

“Haha… ibu kok pikirin Nina, Junanya gimana ?”.

“Iya, tuh anak juga. Pusing mikirinya. ”

Aku tertawa,”jangan kuatir ya Bu, yang terpenting jaga kesehatan saja jangan terlalu mikir berat-berat. Nina janji pasti akan menikah”.

Ibu Winda tersenyum, ah…. bagaimana bisa menyukai orang lain kalau hati sudah terikat dengan putranya. Walaupun waktu terasa berat untuk dilewati tapi perasaan ini tak kan  pernah hilang.

Kesehatan Ibu Winda semakin memburuk. Hal tersebut sudah kukabari anaknya.   Penyakit gagal ginjalnya 5 tahun terakhir membuat dirinya benar-benar menderita. 6 bulan terakhir, seminggu sekali harus cuci darah. Sebagai seorang dokter diriku sudah melakukan hal terbaik. Tapi hatiku mengatakan mungkin dia tak akan bertahan. Apalagi dirinya sudah menolak untuk cuci darah lagi, sepertinya hatinya sudah pasrah pada keadaannya. Disaat saat terakhir, ditengah-tengah kehadiran anak, menantu serta cucu-cucunya dari anak pertama serta keduanya, tanpa kehadiran Joe, Bu Winda masih membisikan sebuah kalimat ditelingaku (cerpen romantis cerita pendek jangan pernah pergi).

“Ibu titip Juna ya Nin, jaga Juna, dirinya butuh kamu”, diriku hanya bisa menganguk dengan airmata berlinang.

Ibu Winda sudah meninggal. Kuburnyapun masih basah. Rumah terasa makin  sepi. Pak Sofian pun semakin jarang bicara. Kelihatannya lebih mencurahkan kesedihan pada burung-burung perkutut dihalaman belakang (cerpen romantis cerita pendek Maafkan aku Fani). Putranya belum juga muncul. Hatiku agak marah padanya. Kenapa tidak pulang ?. Begitu sibukkah dirinya sehingga tiada waktu untuk sekedar menengok sang bunda disaat-saat menjelang kematiannya ?.

Baru kali ini diriku masuk kekamar Joe setelah sekian lama tinggal disini. Semuanya masih sama. Letak barang-barangnya tiada berubah. Meja belajar dulu sering kami pakai bersama posisinya masih sama (cerpen romantis cerita pendek Hidupku kamu).

Ada sesuatu menarik hatiku saat melihat sebuah buku diatas meja. Saat kudekati ternyata sebuah buku diari. Iseng aku membukanya, lembar demi lembar halamannya hanya berisi gambar gambar metal. Gambar gambar seram ini pasti miliknya. Lucu juga kalo si badung bisa punya diari.

Kubuka halaman-halaman berikutnya. Saat kubaca diriku termangu, terpaku, lembar kubaca sampai halaman terakhir berisi hanya tentangku. Dan tanggal tertera disitu menunjukkan kalau buku tersebut ditulis sejak dirinya masih kelas 1 SMA (cerpen persahabatan  Diary Sahabat).

Ah.. tak percaya rasanya membaca buku hariannya. Membaca ungkapan-ungkapan perasaannya tentangku. Ternyata dia menyimpan perasaan sama denganku. Hatinya sudah menyukaiku sejak kelas 1 SMA. Ya Tuhan, kenapa takdir tak berpihak pada kami ? Kenapa perasaan kami harus menjelma menjadi seperti ini ? (cerpen romantis, monster kopi). Apa karena perasaan ini sampai dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah desainnya ke Itali ? Apakah karena berpikir untuk tidak menyakiti hati orangtuanya karena telah menyukaiku, anak seorang pembantu yang dengan kebaikan hati orangtuanya bisa menjadi sukses ?. Ah kalau saja dirinya tahu kalau Mamanya berniat menjodohkan kami.

Tiba-tiba dadaku sesak, air mata membasahi pipiku. Semua telah lama berlalu. Dirinya mungkin telah lama melupakan perasaannya padaku. Sementara aku masih disini dengan perasaan tetap sama, masih menunggu. Menunggu sebuah keajaiban terjadi. Entah sampai kapan ? (cerpen sedih romantis Maaf aku sayang kamu).

Dua  minggu berlalu dalam kesepian. Menjelang sore aku ziarah ke makam Emak juga Bu Winda. Ku bersihkan makam ibuku lalu menaruh setangkai mawar putih diatasnya lalu membaca doa pendek. Kemudian kemakam Bu Winda, gundukannya terlihat masih basah, masih banyak sisa-sisa bunga diatasnya. Aku berjongkok disamping makam menaruh seikat  mawar putih.

“Juna belum juga datang bu. Tuh anak memang keterlaluan kalau pulang nanti akan ku jewer telinganya,” ucapku tertawa pelan. Tak sadar airmata menetes dipipiku (cerpen sedih romantis Pacar Rahasia).

“Rumah tambah sepi Bu, gak ada Ibu rasanya beda banget. Kalau saja ada Juna mungkin akan terasa berbeda”, ucapku lagi sambil kuusap airmataku.

“Ibu jangan kawatir yah, pasti akan ku marahin dia kalau datang. Nina pasti akan jaga Juna seperti pesan Ibu. Ibu jangan kawatir, Nina pasti akan selalu datang untuk melihat Ibu juga Emak. Semoga tenang disana ya. Titip salam buat Emak, Nina kangen banget sama Emak,” lagi-lagi kuusap airmataku (cerpen cinta romantis jawaban atas penantianku).

Setelah selesai, akupun beranjak, hari semakin sore. Kakiku baru saja hendak melangkah saat sesosok tubuh muncul dihadapanku. Sosok begitu kukenal, sosok Joe, wajahnya terlihat pucat lelah tapi masih tetap tampan seperti dulu.

Terpaku ditempat, mataku menatapnya tak percaya. Rasanya ingin ku berteriak marah sambil memukulinya. Tapi tubuhku hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Dia berdiri dihadapanku dengan sebuah tongkat menyanggah kaki sebelah kirinya (cerpen cinta sedih, Cinta lain). Sekilas mataku langsung mengerti tidak ada kaki kiri dibalik celanya. Hatiku terperanjat.

“Joe !”.

“Aku kehilangan kaki kiriku 3 tahun lalu Nin”.

“Tapi kenapa Joe ?”.

“Karena itulah diirku takut untuk pulang. Takut mengecewakanmu, mama juga papa”.

“Kenapa kamu tidak bilang Joe kenapa ?”.

“Karena kehilangan kaki adalah mimpi buruk bagiku Nin”.

“Tidak tidak Joe, itu hanya sebuah kaki. Dunia kedokteran semakin canggih kamu bisa memakai kaki palsu” (cerpen cinta romantis, rambut palsu).

“Tapi kamu tidak akan cukup mengerti akan perasaan orang kehilangan kaki sebelah Nin. Itu sama dengan kehilangan harga diri Nin”.

“Aku, keluargamu, tetap akan menerimamu apapun adanya kamu. Selama kamu masih hidup. Tidak tahukah dirimu kami sangat mencemaskanmu ?”, selaku keras.

“Ya, tapi aku butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau diseumur hidupku akan bergantung pada kaki palsu”.

“Karena itukah kamu tidak datang saat aku mengabarimu ?”.

“Aku tidak takut pada dunia akan ku hadapi nanti. Hatiku hanya takut kalau bertemu denganmu, kamu ..”. Kepalanya tertunduk, mulutnya diam tanpa kata-kata.

“Diriku tiada akan pernah meninggalkanmu, tidak akan”, kudekati dirinya lalu menggandeng tangannya.

“Tapi kakiku cacat seperti ini”.

“Ssstt, tidak usah bicara lagi.”

Matanya menatapku lembut. Lihatlah diriku. Lihatlah kedalam mataku. Akan kau temukan jawaban mengapa cinta bisa selama ini. Bertahan dalam penantian. Walaupun kau datang membawa sejuta luka, hatiku akan selalu menerimamu (cerpen cinta romantis, penantian unni). Cinta tiada mengenal sempurna atau tidak sempurna sebuah raga. Semua hanya balutan kulit hidup.

Cinta sejati adalah cinta rasa mau menerima apa adanya juga selalu berpikir positif. Seratus kekuranganmu akan menjadi sejuta kelebihan bagiku. Itulah cinta, dan takdir takkan pernah salah. Jika memang tiba waktunya, takdir tetap akan berpihak pada kita. Mungkin inilah yang dinamakan keajaiban cinta (cerpen romantis inspiratif, intan dan kirani).


Terima kasih telah membaca cerpen cinta romantis Keajaiban Cinta. Mohon berikan jempol jika menyukai cerpen serta bagikan pada dinding facebook serta pinterest anda sebagai apresiasi kepada penulis cerpen ini. Jangan lupa baca cerpen kami lainnya untuk mengusir rasa sepi semoga lebih terhibur dan merasa lebih puas.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

You may also like