Reuni

cerpen romantis clbk

Reuni adalah cerpen romantis CLBK tentang wanita ragu-ragu untuk datang ke acara reuni sekolah karena belum juga menikah. Ditambah lagi traumanya pada kegagalan cinta masa remaja, membuat dirinya semakin takut pada kata reuni hingga akhirnya dirinya datang dan menemukan sesuatu yang berbeda dari bayangannya selama ini.

Cerpen Romantis CLBK – Reuni

Mataku hanya memandangi kartu undangan reuni tergeletak di atas meja. Baru tadi sore kartu tersebut diantar Dita, teman SMA ku dulu. Kebetulan tadi masih di kantor, jadi tidak ketemu Dita. Tadi Dita BBM kalau undangan reuni sudah diantarnya. “La, tadi undangan sudah ku antar. Pokoknya kamu harus datang”. Kuhela nafasku. Rasanya sudah kesekian kalinya diriku mengabaikan undangan reuni, tak pernah sekalipun mau datang reuni. Selalu saja kubuat berbagai cerita alasan untuk tidak datang reuni.

Sekarang umurku sudah tiga puluh dua tahun, sudah empat belas tahun lulus dari SMA, namun tak pernah sekalipun mendatangi acara reuni sekolahku. Dulu sibuk kuliah lalu bekerja. Seiring berjalannya waktu, satu per satu teman-temanku mulai menapaki kehidupan baru, mereka menikah kemudian punya anak. Sedangkan diriku, hingga sekarang, masih saja melajang. Jangankan menikah, pacar saja tidak punya. Kembali kuhela nafas panjang, lalu kubaringkan badanku di atas sofa. Semakin lama rasanya semakin tak berani menghadapi kenyataan hidup. Sekarang aku telah menjadi perawan tua, sebutan sangat menyesakkan dada. Tapi itulah kenyataan harus kuterima.

Tak bisa aku bayangkan, kalau datang ke acara reuni, mataku harus melihat teman-teman datang bersama keluarga masing-masing. Pasti pembicaraan merekapun sudah berbeda, masing-masing pasti membicarakan keluarga serta anak-anaknya. Saling berebut menceritakan kelebihan putra-putri masing-masing.

Sebenarnya yang bikin malas ke reuni karena masih jomblo

Sementara diriku ? Aku akan datang reuni seorang diri, lalu mereka memandangku aneh kemudian menjadi bahan perbincangan mereka. “Kok Ela belum menikah sih ? Pasti karena orangnya sulit, terlalu pilih-pilih.” Bla bla bla lalu diriku menjadi orang paling aneh disitu. Bisa kupastikan, saat pulang airmataku akan mengalir begitu derasnya.

Tapi ada satu hal sangat membuatku enggan datang ke acara reuni. Hatiku tak akan sanggup melihat mantanku datang bersama anak istrinya. Dia pasti akan mencibirku atau malah kasihan padaku. Tidak, takkan sanggup melihat semua itu.

Masih sangat kuingat bagaimana sakit hatiku, bahkan sakitnya masih belum hilang sampai sekarang. Saat dirinya ketahuan mendua dengan Dina, anak kelas 2 A. Dan parahnya saat itu dirinya mengakui lalu memilih untuk mengakhiri hubungan denganku. Betapa hancur hatiku saat itu, diriku telah setia menjadi pacarnya sejak kelas satu, namun begitu mudahnya dikhianati bahkan ditinggalkan.

Trauma masa lalu masih terus terbayang

Sejak saat itu, hatiku sulit percaya lagi pada laki-laki. Sulit untuk berpikir positif. Terlalu sakit rasanya dikhianati, bahkan lukanya masih terasa perih meski sekian lama waktu berlalu. Ingatanku masih belum bisa melupakannya. Bahkan kalau mengingat hal itu, kadang diriku masih sering menangis sendiri.

Sebenarnya ada juga, beberapa teman kuliah ataupun teman kantor pernah mendekatiku kemudian menyatakan rasa sukanya padaku. Tapi rasanya hatiku masih belum bisa percaya pada mereka. Aku takut kalau harus jatuh kemudian sakit lagi sementara diriku adalah wanita yang susah move on.

HP ku berbunyi, lagi-lagi BBM dari Dita. “La, besok kamu bisa datang reuni kan ? Kita kangen nih”. Cukup lama ku terdiam, lalu membalas BBM nya. “Ya, ku usahakan datang .” Jawabku singkat.

Namun kali ini kuputuskan untuk hadir

Entah mengapa, hatiku tiba-tiba menjadi ingin sekali datang ke acara reuni tersebut. Rasa rindu bertemu teman-teman sangat mendera hatiku. Kupikir tak boleh begini terus, aku harus berani menghadapi kenyataan untuk datang reuni. Kalaupun sekarang masih sendiri, pasti karena sudah takdir Yang Kuasa. Hatiku tidak boleh terus menerus mengingkarinya. Kalaupun nanti harus bertemu Rudy, diriku harus menerima bahwa hal tersebut adalah bagian dari takdirku. Hingga akhirnya hatiku mantap untuk datang ke acara reuni itu. Aku harus menghilangkan bayangan-bayangan buruk tentang betapa seramnya kata “Acara Reuni” bagiku.

Dan akhirnya, tiba juga harinya. Aku berdandan casual, celana jeans, kemeja lengan panjang dan jilbab. Bahkan hanya ber-make up tipis menghiasi wajah. Dari dulu diriku memang suka penampilan casual, tanpa perlu ribet bahkan terkesan apa adanya. Yang penting berpenampilan bersih serta sopan, itu saja. Walaupun dengan gajiku sekarang, bisa saja diriku berpenampilan bak artis, bisa membeli segala kebutuhan apa saja. Tapi hal tersebut tidak kulakukan, karena diriku tak menyukai gaya hidup glamour atau berlebih-lebihan.

Sampai di sekolah yang tidak banyak berubah

Apapun akan terjadi, aku harus menghadapinya. Jadilah aku berangkat sendiri, mengendarai mobil sendiri. Tak berapa lama sampai juga di tempat reuni, di Aula SMA tempat ku dulu bersekolah. Bangunannya tidak begitu banyak berubah, hanya tampak lebih bersih dengan saputan warna cat baru lebih terang. Langkahku berjalan menuju ruang Aula, sambil melihat ruang-ruang kelas disana.

Langkahku terhenti sebentar saat melewati ruang kelas 2 B, ruangan mempunyai banyak kenangan. Di kelas ini banyak kuhabiskan masa-masa indah bersama teman-teman juga Rudy pacarku. Tapi di ruang kelas ini pula, kemudian kurasakan rasa sakit teramat dalam.

“Elaaaaa…!” tiba-tiba terdengar suara memanggilku, lalu begitu cepatnya langsung memelukku. Ya ampun ternyata Riska. Hatiku terkejut dengan penampilannya sekarang, dulu tubuhnya langsing kecil imut, sekarang berubah penampilannya seperti Ibu-ibu kebanyakan, melar disana sini.

“Waduh La, kamu kok masih tetep kayak dulu.” Ucap Riska. “Gimana tetep culun kan ?”, jawabku. “Nggak lah, kamu tetep cantik.” Puji Riska padaku. Hatiku sedikit heran, karena Riska datang sendirian. “Loh, kok datang sendirian, nggak sama keluarga ?” tanyaku. “Aduh Ela, kemana aja sih kamu. Dari dulu kan emang setiap kali acara reuni kelas kita semua datangnya sendirian. Biar bisa bebas.” Kata Riska sambil mencubit lenganku lalu tertawa riang. Masih seperti dulu, Riska masih tetap seorang teman periang.

Ternyata senang banget ketemu teman-teman lama

Aku jadi terbawa perasaan gembira. Rasanya diriku jadi seperti anak SMA lagi. Lalu satu per satu kutemui teman-temanku. Mereka masih seperti dulu, bahkan bahan pembicaraanpun masih tetep seperti dulu. Karena ternyata telah terjadi kesepakatan kalau setiap reuni dilarang membawa keluarga juga dilarang membahas masalah keluarga masing-masing dalam acara reuni.

Ah, kalau saja diriku tahu aturannya sejak dulu, pasti aku selalu datang ke acara reunian. Berkumpul bersama mereka benar-benar mengasyikkan. Walaupun umur kita kian hari semakin bertambah tapi ternyata jiwa serta semangat tetap sama.

Di tengah keasyikanku bergurau bersama teman-teman, tiba-tiba ku lihat sosok tak asing buatku. Ya, dia Rudy, masih tetep seperti dulu, gagah, ganteng. Lalu Dita menarikku, hatiku sangat terkejut karena dia membawaku mendekat ke arah Rudy. Hatiku berdegup kencang sekali, ingin rasanya lari dari situ. Tapi pegangan tangan Dita sangat kuat menarikku. “Eh Rud, ini lho Ela.” Rudy tersenyum padaku, lalu mengulurkan tangannya padaku. “Hai La.” Sapanya.

Aaaah kenapa dia ada disini … !!!

Tiba-tiba saja, rasa sakit hatiku muncul lagi. Tak kuat rasanya untuk menahannya. Tapi kuyakini harus bertahan, harus kuat menghadapinya. “Hai.” Jawabku dengan suara tertahan sambil tanganku membalas uluran tangannya. Setelah sekian lama, empat belas tahun akhirnya tanganku berjabatan dengannya, mantan pacar yang telah mengkhianatiku. Sementara Dita, kulihat tersenyum gembira. Hatiku jadi sedikit heran kenapa Dita bisa segembira itu. Ada apa ini. “Nah, begini kan enak.” Katanya. “Tunggu saja, nanti ada kejutan lagi buat kalian. “Aku sangat terkejut dengan kata-katanya. Ada apa lagi nanti. Sementara untuk bersalaman dengan Rudy saja telah menyedot habis seluruh energiku, keringat dingin mengucur begitu deras.

Sebentar kemudian, acara dimulai.  Diriku kembali ke tempat dudukku semula, bergabung bersama teman-teman cewekku. “La, kamu tadi ketemu Rudy ya ?” tanya Riska saat aku kembali duduk di sampingnya.

“Eh tahu nggak, dia juga baru kali ini datang ke acara reuni, kemarin-kemarin nggak pernah datang, katanya sih belum berkeluarga.” Mataku terbelalak mendengar perkataan Riska. Kok bisa sih, sama denganku. Tapi buru-buru kutepis segala rasa penasaranku. Yang kupikirkan, sekarang diriku bisa nyaman menikmati acara reuni. Hatiku bertekad, bagaimanapun dirinya hanyalah masa laluku. Apapun terjadi dengannya bukan urusanku lagi.

Dinobatkan jadi pasangan serasi masa SMA. Wooow… !!!

Tiba-tiba MC mengumumkan bahwa ada penobatan pasangan serasi semasa SMA. Betapa terkejutnya ketika namaku serta Rudy disebut sebagai pasangan serasi, kemudian dipersilakan untuk maju ke atas panggung. Tak kusangka, mereka menyorakiku untuk maju ke panggung. Kulihat, dia sudah maju ke depan. “Ayo La, kamu maju.” Riska serta beberapa teman juga mendorongku maju ke depan. Akhirnya dengan berat hati, diriku maju juga. Mereka bertepuk tangan riuh ketika melihatku maju ke depan.

Hatiku berdegup sangat kencang sampai di atas panggung. Dia kembali menyalamiku. Entah apa kurasakan saat ini. Lebih tak kusangka, diriku mendapat sebuah piagam juga hadiah diserahkan oleh Pak Ahmad, wali kelasku dulu.

“Selamat ya, semoga kalian berjodoh.” Hatiku kembali terkejut saat mendengar ucapan Pak Ahmad, begitu juga Rudy, kelihatan sekali rasa terkejutnya. Matanya melirikku sebentar. Diriku jadi bertanya-tanya, mungkinkah benar Rudy sekarang belum berkeluarga sepertiku.

“Untuk pasangan serasi terpilih, mohon memberikan sambutan kesan serta pesannya.” Kata MC. Tentu saja membuatku bingung. Bahkan semakin bingung ketika tiba-tiba saja tangannya menggandengku maju ke depan mik.

Ternyata dia juga …

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Terus terang saya sangat terkejut. Jadi pada kesempatan ini, saya hanya ingin meminta maaf pada pasangan saya Ela, karena telah mengecewakannya. Namun saya hanya berharap semoga kami bisa berjodoh.” Ucap Rudy  yang disambut para hadirin. Entah apa kurasakan sekarang, sebulir air mata menitik di pipiku.

“Jadian sekarang saja !” teriak Anton. Diirku jadi sangat tidak nyaman, jadi salah tingkah. Kalau saja bisa, ingin rasanya berlari dari sana.

Tiba sekarang giliranku memberikan sambutan. “Saya juga mengucapkan terima kasih, saya senang bertemu dengan teman-teman semuanya. Maafkan kalau selama ini tidak bisa hadir di acara reuni-reuni sebelumnya. Terima kasih.” Ucapku.

“Lalu bagaimana dengan permintaan maaf dari Rudy, apakah kamu memafkannya?” Tanya Agus, sebagai MC. Sejenak pikiranku bingung menjawabnya, mulutku terdiam cukup lama. Kulihat teman-teman juga cemas menunggu jawaban dariku.

Akhirnya timbul juga keberanianku untuk menjawabnya. “Setelah sekian lama, saya memaafkan.” Kataku dengan suara tertahan, bahkan tanpa bisa kutahan tiba-tiba airmata begitu deras keluar. Rudy mendekatiku. “Maafkan ya Ela.” Dia menggenggam tanganku begitu erat.

Mungkinkah reuni ini menyatukan kami kembali ?

Segera ku berlari ke belakang panggung, tak bisa menahan lagi rasa ini. Disana kutumpahkan airmata serta rasa sakit hati teramat dalam. Dita serta Rudy mengikutiku. Kupeluk Dita. Di pelukannya kutumpahkan semua rasa yang kutahan selama ini. Sementara dia berdiri terpaku melihatku. Setelah agak lama menangis, akhirnya ku lepaskan pelukan Dita. “Maafkan.” Kataku sambil mengusap airmataku dengan selembar tissue.

Lalu Rudy mendekatiku, Dita meninggalkan kami berdua. “Maafkan Ela.” Kata Rudy lirih. “Nggak papa.” Jawabku. Rudy menatapku, entah rasanya hatiku sangat rindu pada tatapannya, tatapan penuh kasih sayang dulu pernah kurasakan.

“La, diriku ingin menebus kesalahan. Bolehkan melamarmu untuk jadi pendamping hidupku ?” tanyanya sambil menggenggam tanganku. Diriku kembali menangis. “Aku janji, takkan membuatmu menangis lagi. Diriku ingin membahagiakanmu, itu saja.”

“Kata-katamu telah berhasil membiusku, Rud. Tapi tak bisa kujawab sekarang, biarlah waktu menjawabnya. Jika kamu memang jodohku, pasti kita akan bertemu.” Jawabku lirih. Dan semoga saja memang Allah akan menjodohkan kita. Dan sekarang hatiku kembali bahagia, karena rasa itu kini telah sirna. Trauma masa lalu itu telah terhapus mulai dari sekarang. Terima kasih ‘Acara Reuni ‘, kamu yang selama ini telah menjadi monster bagiku, ternyata telah menjadi jalan untukku memulai hidup baru.


Terima kasih telah membaca cerpen romantis clbk. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat pecinta setia laman Bisfren. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait