Desta Dan Kinar @ Cerpen Sedih Keluarga

cerpen sedih tragis penjual bunga

Desta dan Kinar merupakan cerpen sedih tragis penjual bunga yang pacarnya dibunuh oleh suruhan orang tuanya karena cinta mereka tak direstui. Silahkan simak kisahnya pada cerita pendek berikut.

Cerpen Sedih Tragis Penjual Bunga – Desta Dan Kinar

Desta hanya bisa menatap Kinar dari kejauhan, melihatnya sibuk dengan kotak-kotak berisi bunga harus disusun rapi agar kelihatan sedap dipandang mata serta menarik para pembeli. Tiada keberaniannya untuk muncul dihadapan Kinar walau sekedar menyapa. Hatinya begitu takut pada kenyataan kalau wanita masih sangat dicintainya telah melupakannya. Lebih dari ketakutan menerima kenyataan kalau wanita tersebut sudah tidak mencintainya lagi bahkan sudah menggantikannya dengan laki-laki lain dalam hidupnya.

Memikirkan demikian dirinya hanya bisa menarik nafas panjang. Seandai dirinya punya keberanian itu, tapi tidak !  Matanya hanya bisa berdiri disudut jalan ini, sambil terus memperhatikan kegiatan kekasihnya setiap hari. Dirinya tiada boleh egois, sudah 5 tahun berlalu, sudah waktu bagi kekasihnya berpaling pada cinta lain.

Sering dirinya mencoba mendekat, bersembunyi diantara keramaian orang untuk sekedar melihat sosok kekasihnya dari dekat. Rindu tak tertahankan kadang meluap tanpa bisa ditahan. Tapi akhirnya harus berlari lagi kembali ketempatnya saat melihat sorot mata sang kekasih seperti menyadari kehadirannya.

Pria itu datang lagi, seorang pria tegap berpenampilan parlente. Cukup lumayan, sudah beberapa minggu terakhir dilihatnya sosok itu. Selalu, disetiap pagi muncul untuk menyapa Kinar serta mengajaknya bicara. Kelihatannya ramah juga baik, tapi gadisnya seolah membuat benteng kokoh. Kenapa Kinar ?, bukankah sudah waktunya menerima kenyataan kalau cinta diantara kita bukan takdir kita ?. Kenapa masih kau tutup hatimu serta membentengi dirimu dengan cinta kita yang telah berlalu. Hati Desta berbisik perih. Sekali lagi diihatnya sosok kekasihnya tiba-tiba menatap kearah tempatnya berdiri. Desta menunduk, tiada ingin sang gadis, kekasih hatinya, melihat.

Ada beberapa pembeli datang ketoko, sang gadis melayani dengan sabar. Membungkus bunga secara rapi. Toko bunganya berada tepat di pusat kota membuat banyak disinggahi pelanggan, baik hanya sekedar melihat keindahan bunga, mencium aromanya atau  langsung membelinya. Desta masih berdiri, tiada rasa letih maupun lelah walaupun seharian hanya berdiri ditempatnya. Cintanya membuat semua rasa lelah serta letih hilang. Memandang dari jauh saja sudah merupakan hal terindah untuknya. Tidak ingin dirinya mengganggu aktifitas kekasihnya, mengagetkannya melalui kemunculan tiba-tiba.

Gadis penjual bunga tersebut masih seperti dulu, tubuhnya tinggi langsing, kulitnya hitam manis, wajah lembut tiada pernah bosan dilihat. Senyumnya merekah bagai bunga lily putih kesukaannya. Ya, lily putih adalah simbol cinta diantara mereka. Dan bunga-bunga itu terlihat penuh dietalase kaca toko bunga Kinar. Sepertinya dipesan serta ditempatkan khusus meski jarang orang membelinya. Tidak jarang matanya melihat bunga-bunga itu akhirnya layu kemudian dibuang ketempat pembuangan sampah diujung blok. Tapi tetap saja esok maupun esoknya lagi, akan ada bunga pengganti. Kinar, apa terjadi denganmu ? kalau terus memesan bunga lily itu kamu akan merugi. Lily jarang dibeli orang, walaupun mampu cukup lama bertahan hidup, tapi orang lebih memilih mawar daripada lily.

Ah… kembali dia mengeluh dalam hati. Tanpa disadari malam sudah menjelang, Kinar – gadis penjual bunga, kekasihnya – terlihat mulai membereskan toko lalu memasukan kotak-kotak penuh bunga kedalam. Jika malam sudah tiba barulah Desta bisa bebas leluasa mendekati toko gadis tersebut, melihat kebalik kaca. Dilihatnya jelas sosok kurus kekasihnya sedang sibuk menghitung pendapatan menjual bunga dibelakang meja kecilnya. Senang rasanya melihat keinginan kekasihnya tercapai. Wanita lulusan sarjana pertanian itu lebih memilih membuka usaha kecil menjual bunga daripada mencari pekerjaan lain. Jika ditanya kenapa ?, lewat senyum manis dijawabnya bahwa dirinya tiada merasa nyaman bekerja dikantor. Hatinya merasa tenang berada ditengah-tengah tumbuhan hijau atau bunga bunga indah berbau harum.

Dulu dirinya sedikit menentang keinginan kekasihnya, tapi sejak melihat betapa wanita itu sangat menyukai bunga, hatinya pun luluh, dan akhirnya mendukung keinginan Kinar. Dan sekarang terlihat sekali kekasih hatinya begitu nyaman pada keadaannya. Walaupun hasilnya tiada seberapa tapi rasa puas jelas telihat dari raut wajahnya.

Berjalan pelan didepan toko bunga itu, matanya mampu melihat jelas aktifitas sang gadis, selesai menghitung pendapatan, gadis penjual bunga melangkah kesebuah lemari kecil dibelakang toko. Meraih sebungkus mie instan lalu menjerangnya menggunakan air panas dari dispenser tersedia. 5 menit menunggu, dalam tatapan menerawang akhirnya mulai menikmati mie instannya. Ah, mulutnya kembali mendesah, kapan sehatnya kalau makanan setiap malam hanya mie instan, tidak adakah makanan lebih baik dari itu ?. Seandainya saja dirinya mampu berada disampingnya saat ini, tentu akan diajaknya menikmati makan malam direstoran langganan. Melihatnya makan lahap menikmati pepes gurami kesukaannya.

Ha..ha…haaa… tawanya dalam hati, dirinya heran pada kekasihnya, wanita tumbuh dari keluarga kaya raya tapi makanan kesukaannya cuma pepes gurami sederhana dimasak pakai cabe ijo ditambah taburan daun kemangi. Itulah satu kelebihannya, walau hidup bergelimang fasilitas mewah, tiada pernah sombong.  Malah sebaliknya sangat rendah hati.

Diingatnya saat pertama kali bertemu. Saat ban sepeda motor Kinar bocor. Disiang terik, nafas tersengal-sengal serta keringat mengucur deras. Gadis itu membawa sepedanya kepenambal ban, kebetulan adalah pamannya. Ya pamannya membuka usaha kecil tambal ban didepan rumah sederhana. Saat itu dirinya masih kuliah dan tinggal dirumah pamannya. Jika ada waktu luang dia akan membantu pamannya. Saat itulah dirinya bertemu sang gadis. Raut wajah kemerahan karena sinar matahari, keringat membasahi pipi hampir membuat sebagian kemejanya basah adalah daya tarik begitu nyata bagi dirinya. Pada pandangan pertama saja, hatinya sudah jatuh cinta. Selanjutnya seperti direstui dewi cinta, mereka bertemu kembali. Ternyata gadis tersebut adalah salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian pada Universitas sama dengannya.

Pertemuan tersebut terjadi saat dirinya mewakili Fakultas Hukum untuk ikut serta dalam rapat senat mahasiswa. Berawal dari basa-basi ban sepeda motor bocor, kemudian diiringi dengan traktiran gado-gado dikantin kampus. Mereka kemudian menjadi dekat, lalu semakin dekat. Dia anak kampung, cuma anak petani bawang di desanya, membawa seluruh harapan orang tuanya untuk kuliah demi menggapai cita-cita bertemu dengan Kinar, anak tunggal salah satu pengusaha terkaya di kota itu, hingga akhirnya saling jatuh cinta. Cinta mereka begitu kuat hingga mampu mendobrak perbedaan diantara mereka.

Lihatlah Kinar begitu tenang menikmati semangkok mie instan tanpa nilai gizi. Usai makan kembali dibereskannya bunga-bunganya, memisahkan bunga layu lalu menata sesuai jenisnya. Ada berbagai macam jenis Mawar dengan aneka warna, putih, merah, merah muda, macam-macam Anggrek, Blue bells berwarna unggu, Hydrangea berwarna putih kebiru-biruan, bermacam-macam bunga Canna berwarna kuning, orange, merah darah, serta ada Calla Lily berwarna  putihnya yang anggun, bunga kesayangannya dengan Kinar.

Lihatlah, betapa gadis tersebut seolah tiada merasa penat sedikitpun. Desta berbalik tiba-tiba saat gadis penjual bunga seperti melihatnya. Dia bergerak keluar dari tokonya lalu melihat sekeliling. Seolah menyadari akan kehadiran seseorang. Namun tidak menemukan apa dicari, dirinya kembali masuk kedalam toko.

Dia kembali menatap gadis penjual bunga melalui kaca etalase toko. Sampai semua terhenti saat sang gadis mematikan lampu kemudian masuk dalam ruang kecil dibelakang toko sebagai kamar tidur nya. Ah… kenapa kau tidak pulang saja lalu tidur dalam kamar besar lagi nyaman diatas kasur empukmu ?. Belum bisakah dirimu memaafkan mereka ?. Sejahat-jahatnya mereka adalah orangtuamu. Tanpa sadar Desta memejamkan matanya setitik bening membasahi pipinya.

*************

Hari ini masih siang ketika toko bunga ditutup. Hmmm… tanggal berapa ini ? Ingatannya lupa kalau hari ini tanggal 10. Setiap bulan pada tanggal  sama, penjual bunga tersebut pasti akan menutup tokonya lebih awal. Tanggal 10 merupakan tanggal jadian mereka, dimana janji sehidup semati terucap, tanggal penuh kenangan.

Setelah menutup toko, gadis tersebut akan pergi menuju suatu tempat untuk menghabiskan waktunya hingga sore. Seperti biasa juga, dirinya akan mengikuti, naik bus sama, berjalan perlahan dibelakang gadis tersebut. Menuju pekuburan tua sepi tepatnya ke sebuah makan dengan pusara terawat baik. Bahkan sekelilingnya sudah ditumbuhi bunga lily putih nan indah.

Matanya menatap gadis itu sedih. Seandainya kita dapat bersama, tentu takkan kulihat airmata di pipimu. Tapi takdir kita begitu tragis sehingga harus terpisah secara menyedihkan. Hari itu saat dirinya baru diterima pada sebuah Firma Hukum cukup terkenal dikota mereka. Kabar gembira tidak sabar ingin diberitahukannya pada kekasihnya. Mereka berjanji akan bertemu di restoran langganan mereka untuk merayakannya. Hari itu, dia kembali kerumah pamannya dengan hati gembira.

Saat menjelang sore dia cepat-cepat mandi kemudian berpakaian. Mengenakan pakaian terbaik untuk acara kencan spesial. Dia akan menjadikan malam tersebut sebagai malam istimewa karena selain menyampaikan kabar gembira pada kekasihnya, dia juga akan menjadikan momen indah untuk melamarnya. Paman serta bibi juga kedua anak mereka sempat menggoda. Semuanya ditanggapinya dengan riang, hatinya gembira. Sudah dibayangkannya hubungan mereka akan disetujui orangtua sang gadis karena sudah mempunyai pekerjaan bagus, gajinya pun sesuai, serta cukup untuk membiayai hidup mereka. Orang tua sang gadia tak akan malu lagi memiliki mantu dari keluarga kelas bawah.

Namun nasib berkata lain. Di ujung jalan saat akan menaiki angkot, sebuah mobil van hitam menepi. Dari dalamnya keluar beberapa orang bertubuh kekar memakai topeng langsung menyergap. Tak mampu meminta tolong, karena tiba-tiba tubuhnya merasa sangat lemas saat merasakan sebuah cubitan kecil dileher. Saat terbangun mantanya hanya dapat melihat tubuhnya terikat telanjang dibuang disebuah kawasan hutan di pinggiran kota. Ya, mayatnya ditemukan seminggu kemudian oleh seorang laki-laki tua kebetulan melalui tempat itu.

Sungguh sadis. Sekejam inikah dunia ditinggalinya ?, apakah tiada haknya untuk mencintai Kinar ?. Salahkah perasaanya jika hanya gadis tersebut dihatinya ?. Kalau harus berakhir begini, kenapa Tuhan memberikan rasa cinta padanya terhadap kekasihnya, bukan pada gadis lain setara dengannya ?.

Dua minggu lamanya berada dalam lemari pendingin sebuah rumah sakit tanpa seorangpun datang menjemput mayatnya untuk sekedar dimakamkan secara layak. Apakah karena semua dompet serta identitasnya dibuang sehingga mayatnya tak dikenali. Dirinya sudah berusaha memberitahukan paman serta bibinya, tapi mereka tak bisa lagi mendengar perkataannya. Hingga suatu hari saat hampir kehilangan harapan, munculah kekasihnya. Walau wajahnya sudah rusak, namun gadis tersebut masih mengenalnya lewat cincin emas putih melingkar dijari manisnya. Entah darimana Kinar mengetahui keberadaannya. Para pembunuhnya lupa melepas cincin tersebut dari tangannya. Mungkin saking terburu- buru mereka membunuhnya hingga melupakan satu hal kecil tersebut. Petugas rumah sakit sudah berusaha melepaskan cincin dari tangannya tapi entah kenapa cincinnya seolah melekat erat di jarinya. Apakah raganya yang telah mati tak mengizinkan siapapun mengambil cincin tanda ikatan cinta suci ? cincin hadiah dari kekasihnya saat diwisuda.

Lalu matanya hanya bisa melihat sang gadis menangis histeris, meraung-raung seperti orang gila. Hatinya hancur lebur. Tapi dirinya bisa apa ?. Dirinya hanya bisa ikut menangis. Menangisi cinta yang harus berakhir tragis. Mencoba menyentuhnya, mencoba menghapus airmata dipipi kekasihnya, namun tidak bisa. Dunia mereka sudah jauh berbeda.

******************

Hari itu Kinar baru saja membuka kembali tokonya saat sebuah mobil mewah menepi. Dari dalam terlihat seorang wanita keluar, mamanya Kinar, lalu mereka terlihat berbicara. Mungkin mamanya mengajak gadis itu pulang namun ditolaknya. Mereka seperti sedang bertengkar. Tapi Desta tak berani mendekat apalagi mendengar pembicaraan. Tak lama kemudian wanita tersebut keluar dari toko sambil menangis, sementara putrinya hanya menatap kepergiannya dengan tatapan penuh kemarahan. Ditutupnya kembali toko lalu hanya duduk termenung dibelakang meja kecilnya. Desta memberanikan diri masuk lalu duduk dihadapan gadis penjual bunga.

“Ada apa denganmu Kinar ?, kenapa tak pulang kerumah ? mengapa menjalani hidup begini ?”.

“Diriku tak bisa Desta. Tak mungkin hidup dengan wajah orang pembunuhmu. Tapi diriku tak berdaya, mereka adalah orang tuaku. Tak mungkin kulaporkan mereka pada polisi”.

“Diriku tahu, kamu anak baik. Aku kini sudah tak apa-apa. Akan lebih membahagiakanku, kalau dirimu bisa kembali tersenyum menikmati hidup”.

“Apa gunanya hidup didunia ini tanpa kamu ?.”

“Buang pikiran jelekmu, tetaplah berpikir positif, hidup sangat indah.”

“Tak lagi indah tanpa kau disampingku Desta”, dia kembali terisak.

“Sudah lima tahun, lupakanlah diriku.”

“Bagaimana bisa melupakanmu kalau hatiku merasa kamu masih selalu berada didekatku ?, hatiku tahu kamu ada didekatku. Hati ini tak bisa berpaling Desta.”

Yah bagaimana bisa kau bisa melupakanku kalau hatiku juga tak bisa berpaling.

“Baiklah aku akan pergi. Tak kan ada didekatmu lagi. Aku pergi agar kau bisa melupakanku”. Desta beranjak berusaha memahami perasaan kekasihnya.

“Tidak !! jangan pergi Desta,” sela sang gadis keras wajahnya menguatkan ekspresi kesedihan penuh harap.

Desta mendesah … Ah .. lihatlah Kinar. Wanita itu hanya bisa mendekap wajahnya sambil berbicara sendiri, berteriak-teriak sendiri seperti orang gila seakan tengah bercakap dengan dirinya.

Desta melangkah pergi. Tak ingin mengganggu gadis tersebut lagi. Mungkin perkataan yang didengarnya tadi benar. Mereka bisa saling melupakan kalau berjauhan. Ya, ocehan gila kekasihnya seperti menyadarkan dirinya untuk menjauh, tak lagi membayangi kehidupan kekasihnya di alam berbeda.

Hari selanjutnya Desta mencoba tak mendekat. Sejak seminggu lalu diputuskan untuk melihatnya dari kejauhan saja. Tapi hari ini toko bunga kekasihnya tak dibuka. Kenapa ? Apakah dia sudah kembali ke rumah orang tuanya ?. Mengapa bunga-bunga layu serta tak terurus ?. Kemana dia ? Apa sudah tak perduli lagi pada bunga-bunganya ?  Ingin dirinya melihat mendekat, tetapi dirinya sudah berjanji untuk memberi kesempatan pada kekasihnya untuk menjauh. Memberi kesempatan melupakan dirinya.

Akan tetapi hatinya sungguh terkejut saat melihat toko bunga tersebut dibuka paksa kemudian beberapa orang menerobos masuk. Tidak berapa lama kemudian terlihat tubuh kekasihnya dibopong seorang pria. Kinar ! Ada apa ? apa telah terjadi ?.

Desta berlari masuk kemobil yang membawa tubuh kekasihnya. Wajah gadis tersbeut pucat. Tubuhnya lemah namun masih bernafas walau terlihat payah. Mereka membawanya menuju rumah sakit langsung memasuki Instalasi Gawat Darurat. Disanalah para dokter serta perawat berusaha menolongnya.

Desta hanya bisa menatap giris, tidak, kamu harus hidup, kamu harus bertahan desisnya. Suasana semakin gaduh saat papa serta mama gadis tersebut muncul. Mamanya meraung dalam tangis sesalnya, sementara papanya hanya bisa tercenung. Walaupun terlihat tegar namun Desta tahu pasti dalam hati pria tua sangat menyesali perbuatannya sehingga membuat putrinya memilih jalan hidup dalam dunianya sendiri. Pria setengah baya tersebut termangu. Tidak seharusnya dia memisahkan putrinya dari kekasihnya. Pikirnya jika Desta tersingkir, putrinya akan menuruti kemauan mereka. Tapi kenyataan melenceng jauh. Putrinya lebih memilih kekasinya dibanding mereka. Putrinya telah menghukum mereka dengan cara sendiri. Kini penyesalannya tiada berguna lagi. Nyawa putrinya tidak tertolong. Kinar akhirnya pergi untuk selamanya. Malaria, anemia, maag akut, dehidrasi, ditambah dengan penderitaan batin membuatnya menyerah.
“Desta ! “.

Desta berbalik saat panggilan lembut sangat dikenalnya terdengar. Dihadapannya sang kekasih berdiri sambil tersenyum, senyum termanis pernah dilihatnya selama 5 tahun terakhir.

“Kinar ! “.

Desta memeluk Kinar erat sekali. Kali ini dirasakan sentuhan nyata pada tubuh kekasihnya.

“Selama apapun kamu mencoba menghilang dariku tetap tidak akan mengubah cinta dihatiku. Selama ini hatiku tahu kamu selalu berada disampingku. Selalu menemaniku dalam kesendirianku”.
“Maafkan aku, maafkan karena tidak sempat pamit padamu.”

“Tidak apa-apa, bukankah aku sudah ada disini ? kita tidak akan terpisah lagi. Kita akan selalu bersama selamanya.”

Desta menatap Kinar penuh kasih sayang. Dalam gaun putih berkilauan, kekasihnya terlihat begitu anggun.

“Baiklah. Ayo kita pergi. Aku ingin mengunjungi kebun bunga lily kita. Pasti sekarang tumbuh dengan subur”. Kinar menggandeng tangan Desta. Kedua bayangan roh tersebut melangkah pergi, meninggalkan dua manusia yang terhempas pada penyesalan dalam dengan raungan tangis tiada henti-henti terdengar.

Jika cinta sejati hanya bisa bertemu pada alam berbeda, mungkin itu karena takdir. Tidak ada satu manusiapun tahu rahasia cinta dari alam semesta. Tidak ada seorangpun bisa memisahkan cinta jika cinta berupa cinta sejati. Cinta adalah satu rahasia tidak bisa dipahami dengan kata-kata. Walau ada beribu makna kata terucap, tertulis, tersirat dalam mengartikan cinta. Tapi cinta hanya bisa dirasakan oleh hati, menjadi rahasia dari sang pemilik cinta.


Terima kasih telah membaca cerpen sedih tragis penjual bunga. Semoga cerita pendek diatas dapat mengibur dan menginspirasi sekaligus memotivasi sobat Bisfren sekalian untuk terus bekerja, berusaha dan berkarya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait