Cinta Dua Dunia

cerpen romantis jodoh tak terduga

Cinta dua dunia adalah cerpen romantis jodoh tak terduga tentang gadis yang menolong seorang ibu saat naik bus kota menuju kantor tempat kerja. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerita pendek berikut :

Cerpen Romantis Jodoh Tak Terduga – Cinta Dua Dunia

Matahari sudah beranjak naik. Sinarnya yang lembut menembus daun-daun menghangatkan kulitku. Diriku harus segera berangkat, karena ini hari pertama masuk kerja, tidak ingin terlambat masuk kantor. Kupercepat langkahku, dan beruntung ada bus masih menunggu di pangkalan. Betapa lega hatiku, karena masih ada tempat duduk untukku.

Di sampingku duduk seorang Ibu berumur sudah lumayan tua, mungkin seumuran Ibuku tapi masih kelihatan cantik. Dia tersenyum padaku, lalu kubalas senyumnya. Bukankah sikap kita tergantung sikap orang kepada kita ?.

“Mau ke mana Nak ?” tanyanya.

“Kerja Bu…” jawabku.

“Kerja dimana Nak ?” tanyanya lagi.

“Kerja di pabrik Bu. Ini hari pertama saya masuk kerja” jawabku.

“Selamat ya Nak.” ucapnya. Kepalaku mengangguk. “Ibu mau kemana ?” tanyaku kemudian.

“Mau ke rumah sakit Nak.” jawabnya.

“Oooo…Ibu sakit ?” tanyaku, kulihat wajahnya tampak pucat. Dia mengangguk pelan. “Kok nggak diantar saja Bu ?” tanyaku.

Ibu itu terlihat menunduk, ada bulir-bulir air mata keluar membasahi pipinya. Lalu buru-buru dihapusnya airmatanya. “Ibu bisa sendiri.” katanya sambil tersenyum.

Hingga akhirnya kondektur teriak. “Rumah sakit…” lalu Ibu disampingku beranjak berdiri dengan kepayahan. Namun ketika dirinya hendak berjalan menuruni tangga, tiba-tiba dia terjatuh.

Kecelakaan di bus kota, menolong atau kerja ?

cerpen cinta romantis di rumah sakit
Cerpen romantis di rumah sakit

Hatiku begitu kaget, langsung ku berdiri lalu  ikut menolongnya. Dirinya tampak kesusahan bangun, mungkin kakinya terkilir. Lalu dengan dibantu kondektur juga beberapa orang, dirinya dibawa masuk ke rumah sakit.

Ku putuskan untuk menemaninya. Hatiku tak tega meninggalkannya sendirian. Tidak peduli lagi, bahwa hari ini adalah hari pertama masuk kerja. Bisa saja diriku langsung dipecat, walaupun belum sempat masuk kerja. Bagiku menolong orang lebih penting.

Ku minta perawat untuk membantu dengan kursi roda. Dia tampak kesakitan, Tidak tahu apakah hanya terkilir ataupun patah tulang, hatiku panik juga bingung.

Perawat itu membawanya ke UGD, mungkin biar penanganannya lebih cepat. “Maaf mbak ini keluarganya ?” tanya perawat itu. “Bukan Mbak,”

“Lalu keluarganya ?”.

“Saya tidak tahu Mbak,” jawabku.

“Tolong hubungi segera keluarganya.” kata perawat itu.

Rupanya kondisiya agak parah, karena dalam ruang UGD dirinya pingsan. “Mbak, tolong ditangani ya, saya janji mau hubungi keluarganya.” kataku. Lalu aku meminta ijin untuk melihat KTP nya sekaligus meminjam HP dibawanya.

Ku coba menghubungi beberapa nomer dalam kontaknya. Dari beberapa orang ku hubungi kebanyakan para tetangga. Dari tetangganya, ku tahu bahwa dia tinggal dengan seorang putranya, sedangkan putranya tersebut sedang sakit pada rumah sakit jiwa. Untungnya tetangga-tetangganya cukup baik, tak berapa lama mereka datang. Dari mereka ku ketahui nama ibu tersebut adalah Bu Suryo.

Ibu itu memiliki dua putera

Dari cerita mereka, ku ketahui Bu Suryo adalah istri mantan jenderal, tapi suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Mereka memiliki dua orang putra, satu namanya Evan, seorang perwira polisi, sekarang tinggal di Bandung. Sementara satunya Dimas, putra sulung Bu Suryo sekarang sedang sakit, dirawat pada rumah sakit jiwa.

“Kenapa bisa sakit jiwa Bu ?” tanyaku pada Bu Ida tetangga sebelah rumah ikut datang. “Dia stress karena tidak bisa masuk AKPOL, sementara adiknya bisa diterima. Bapaknya terlalu keras, sehingga jadi stress”. Kepalaku hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasannya karena memang aku tidak mengetahui.

Rupanya setiap orang memiliki masalah sendiri-sendiri. Ekonomi sudah mapan, tapi karena keinginan tak tercapai akhirnya menjadi stress. Ku pandang langit-langit rumah sakit, kuhela nafas panjang. Hari ini sebenarnya hari pertama masuk kerja, tapi kepedulian membuatku lebih memilih untuk menolong Ibu tadi.

Tak bisa kubayangkan, pasti nanti Ibuku sangat kecewa. Karena akulah harapan keluarga satu-satunya. Bapak sudah sakit-sakitan, sudah tidak kuat lagi untuk menarik becak. Sementara Ibuku juga sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang untuk membantu mencuci pakaian tetangga. Padahal adik-adikku masih membutuhkan biaya untuk sekolah.

Beruntung diriku bisa menyelesaikan sekolahku sampai SMA. Inginnya wirausaha tapi tak ada modal sehingga setelah lulus ada salah satu pabrik menerima lamaranku. Harapan keluarga ada padaku, tapi diriku mengecewakan mereka.

Tetangganya mulai berdatangan

kata bijak doa membesuk orang sakit
Cerpen romantis membesuk orang sakit (@ http://www.nydailynews.com)

Bu Ida kulhat menghubungi Evan, anaknya Bu Suryo. Tapi ternyata Evan tidak bisa datang, karena masih ada tugas.

Tak berapa lama, ada perawat mencari keluarganya, lalu Bu Ida mendekat. “Maaf saya tetangganya, anaknya belum bisa datang”.

“Ooo iya Bu…maaf ini pasien Bu Suryo sudah sadar, tapi tulang kakinya ada sedikit retak namun sudah kami tangani. Silahkan Bapak Ibu bisa menjenguk.

Lalu kami masuk ke ruang IGD, Bu Suryo tampak tersenyum menyalami para tetangga. Saat melihatku, dirinya tampak begitu kaget. “Nak Indah…”. Bibirku tersenyum lalu mendekat. “Iya Ibu…”. Ku salami tangannya lalu dia menciumku.

“Indah yang menolong Ibu, bahkan rela tidak masuk kerja padahal ini hari pertama dirinya masuk kerja.” cerita Ibu Ida. Bu Suryo sangat kaget mendengar cerita Ibu Ida.

“Maafkan Ibu ya Nak.” katanya sambil menatapku, matanya tampak berkaca-kaca. “Tidak apa-apa Bu”, jawabku sambil tersenyum.

Tak berapa lama, dirinya dipindah ke bangsal perawatan. Berhubung belum ada keluarga menemani maka ku putuskan untuk menemaninya dulu. Sedangkan para tetangga karena ada keperluan satu per satu pamit pulang.

Sampai hari menginjak malam, belum ada saudara maupun anaknya datang. “Nak, kamu pulang saja dulu, Ibu tidak apa-apa sendiri,” kata Bu Suryo. “Tapi Ibu tidak ada yang menemani.”

“Tidak apa-apa Nak, lebih baik ibu sendiri, nanti orangtuamu khawatir.” katanya lalu menyuruhku untuk mengambilkan dompetnya. Dia mengambil beberapa lembar lalu memberikannya kepadaku.

Aku terkejut, terus terang belum pernah melihat uang sebanyak itu. “Maaf, nggak usah Bu.” tolakku.

“Tolong ya Nak, terima ini, supaya Ibu cepat sembuh”, paksanya. Kali ini untuk menghargainya, aku tidak bisa menolak permintaannya. “Terima kasih bu, tapi saya ikhlas melakukannya,” kataku merasa tidak enak hati. Disatu sisi diriku tak mengharapkan imbalan tapi tidak boleh menolak hadiah.

Pemuda gagah lagi ganteng tersebut anak kedua bu Suryo

Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu. Lalu seorang pemuda gagah sangat tampan masuk. Bu Suryo tampak tersenyum gembira, pemuda tersebut mencium tangan lalu memeluknya. Diapun menyalamiku. Bu Suryo mengenalkan pemuda itu, “Nak, ini Evan anak Ibu, Evan ini nak Indah yang telah menolong Ibu.”

Berhubung anak Bu Suryo sudah datang, diriku pamit pulang. Belum lama berjalan ke luar kamar, ada suara memanggilku, ternyata Evan. “Indaaahhh!” Kuhentikan langkahku. “Ya Mas ?” tanyaku. “Makasih sudah menolong Ibuku”, ucapnya. “Iya nggak papa, sama-sama”, jawabku. “Maaf bisa kita ngobrol sebentar ?” pintanya memulai pembicaraan. Sebenarnya hatiku merasa nggak enak, tapi Evan sudah mengajakku ke rumah makan depan rumah sakit.

“Kamu mau makan apa ? Pasti lapar ya, seharian nunggu Ibu.” Evan lalu memesankanku minuman juga ayam goreng. Rasanya menu tersebut terlalu mewah untukku, jarang sekali diriku makan ayam goreng apalagi di rumah makan. Tiap hari Ibu hanya menyediakan sayur juga lauk seadanya, itu saja sudah sangat kami syukuri.

Bau ayam goreng begitu menggoda perut kelaparanku sejak tadi. Dari pagi belum makan. Tanpa kusadari, diriku makan lahap sekali. Hingga  tersadar Evan tersenyum melihat caraku makan.

“Eh maaf ya.. maaf kalo tanpa sadar makannya nggak sopan… maaf”, kataku lalu melanjutkan makan pelan-pelan. “Nggak papa, lanjutkan saja. Mau nambah ?”

“Oh…enggak-enggak… sudah cukup, kenyang sekali.” ucapku.

Usai makan ingin pulang

Setelah selesai makan, aku minta ijin pulang. “Maaf sebelumnya ya Mas Evan, ini hari sudah malam, takutnya nanti gak ada bis lewat lagi.” ucapku. “Oooohh…nanti saya antar, jangan khawatir. Sekali lagi saya terima kasih juga minta maaf karena telah merepotkan kamu. Hatiku jadi semakin tidak enak, karena Mas Evan terlalu sering mengucapkan minta maaf juga terima kasih.

“Lalu bagaimana dengan hari pertama kerja mu ?” Diriku terkejut mendengar pertanyaannya. Mungkin Bu Suryo sudah cerita padanya. “Iya nggak papa Mas, nanti pasti ada kesempatan lagi.” jawabku enteng.

“Sayang ya.. sekali lagi saya minta maaf”, Walah…minta maaf lagi.

“Kamu kerja dimana ?” tanyanya lagi.

“Pabrik mas, hanya buruh, tapi ya Alhamdulillah setelah melamar kerja langsung diterima, tapi sekarang Alhamdulillah sudah nggak kerja lagi.” jawabku.

Owh .. Ceritanya pemuda itu mengantarku pulang

cerita romantis naik motor balap gede
Cerita romantis diantar pulang naik motor gede (@ youtube.com)

Mas Evan mengernyitkan keningnya mendengar ceritaku. “Kamu tinggal dimana ? Mari saya antar.” Lalu akupun membonceng motornya, motor gede punyanya orang kaya. Sebenarnya risih juga dibonceng, apalagi disuruh pegangan. Apa kata para tetangga, kalau melihatku pulang diantar pemuda tampan, apalagi naik motor sangat keren.

“Mas, sampai sini saja, nanti saya masuknya jalan kaki.” pintaku. “Kok nggak sampai rumah ? Kenapa ?”, tanyanya. “Nggak enak sama tetangga” jawabku.

“Nggak papa, aku ingin ketemu orang tuamu mengucapkan terima kasih”. Waduh, hatiku semakin tidak enak menolak permintaannya.

Benar saja, saat melintas di gang masuk mau ke rumah, banyak tetangga memandang ke arah kami. Hatiku jadi semakin gak enak, karena tetanggaku kadang aneh, apalagi mereka memandang sebelah mata dan kerap berkata sinis pada keluarga miskin seperti kami.

Kami berhenti di depan rumahku, rumah sangat mungil dan sangat sederhana.

“Ibuuuu….ibuuuu…!” panggilku. Ibu membukakan pintu, lalu terkejut saat melihatku diantar seorang pemuda sangat tampan dengan motor keren.

“Maaf Ibu, saya Evan.” kenalnya. Lalu Iibuku menyuruhnya masuk ke ruang tamu sangat sempit dengan kursi tua sangat sederhana.

Ketulusan berbuah keberuntungan, dia memintaku untuk menjadi teman ibunya

Lalu Evan menceritakan semuanya pada Bapak Ibu. Dia meminta ijin untukku menemani Ibunya serta akan mengganti biayanya alias gaji cukup besar. Tentu saja Bapak Ibu sangat terkejut.

“Sekali lagi maaf ya Pak, kami tidak menjadikan Indah sebagai pembantu, tapi meminta Indah untuk menemani Ibu saya, karena di rumah juga sudah ada pembantu”, jelasnya.

Bapak Ibu menyerahkan semua keputusan kepadaku. Akhirnya demi membiayai keluarga, juga karena ingin membantu Bu Suryo, kuputuskan untuk menerima tawarannya. Hatiku lega karena Ibuku juga menyetujui keputusanku.

Kakak pemuda itu juga tampan, tapi sakit jiwa

Setiap hari diriku bertugas menemani Bu Suryo di rumah. Suatu hari, Bu Suryo mengajakku untuk menjenguk anaknya, Dimas, diantar oleh Mas Evan ke rumah sakit jiwa.

Ku dorong kursi roda lalu kami dipersilakan menunggu sebentar. “Dia Dimas.” tunjuknya pada seorang pemuda tak kalah tampan dari Mas Evan, cuma rambutnya agak gondrong.

Mas Dimas mendatangi kami diantar seorang perawat. Tatapannya kosong, “Dimas kenalkan ini Indah, dia menemani Ibu”, kata ibunya mengenalkanku pada anaknya. Ku coba tersenyum sambil menyodorkan tangan tapi dirinya hanya diam saja.

“Ibu kenapa ?” tanyanya. “Ibu sakit Nak, habis jatuh.” Kulihat tangannya mengelus-elus kaki Ibunya. Hatiku jadi terharu, apalagi saat kepalanya bersandar pada pangkuan ibunya sementara sang ibu mengelus-elus kepala anaknya.

“Ibu, Dimas mau pulang.” katanya lirih. “Iya Nak, kita pulang.” jawab ibunya. Akhirnya dengan seijin dokter, dia boleh dibawa pulang namun masih dalam pengawasan rumah sakit. Walaupun sudah sehat tapi bisa jadi penyakitnya akan kambuh.

Dan hari itu dirinya pulang bersama kami setelah hampir sebulan di rumah sakit. Mas Dimas mulai stress sejak beberapa tahun lalu, sejak gagal masuk Akpol. Hal tersebut membuatnya sangat kecewa apalagi ditambah tekanan dari Bapaknya.

Sejak itu dirinya jadi sering diam lalu mengurung diri dalam kamar, kadang juga teriak-teriak mengamuk. Setiap kali teriak-teriak, Bapaknya memukul atau mengikatnya dalam kamar. Hal tersebut membuat kondisi jiwanya semakin tambah parah. Kemudian dia diperiksakan ke rumah sakit jiwa hingga akhirnya untuk menunjang kesembuhannya dirinya harus dirawat di rumah sakit.

Jadi perawat cowok ganteng, tapi sakit jiwa, asyik juga sih 🙂

cerpen lukisan cinta romantis
Melukis untuk menenangkan jiwa (@ http://www.proprofs.com)

Keadaan ini membuat Bu Suryo sedih, apalagi tak berapa lama Bapaknya juga meninggal karena sakit. Dimas bolak balik pulang dirawat di rumah sakit jiwa. Beruntung Evan adiknya bisa lolos masuk Akpol dan sekarang sudah Dinas di Bandung.

Kali ini Bu Suryo memintaku untuk ikut menjaga Mas Dimas. Tugasku menyiapkan makanan juga keperluan Mas Dimas. Seringkali menemani Mas Dimas keluar untuk mencari obyek lukisan. Dari dulu Mas Dimas memang hobby melukis.

Seiring berjalannya waktu, Bu Suryo begitu gembira melihat perkembangan Mas Dimas, sekarang Mas Dimas bisa diajak bicara, kadang suka mengobrol, bahkan sesekali juga ikut tertawa. Mas Dimas begitu suka mendengarkan cerita-cerita lucu. Sampai-sampai aku membelikan Mas Dimas kaset CD humor lawakan.

Tapi sakit jiwanya tiba-tiba kambuh

Suatu hari kulihat, Mas Dimas melukis di taman belakang rumah, sementara aku sedang menyapu. Penasaran dengan apa yang dia lukis, aku mendekatinya. Tapi buru-buru kanvas itu ditutupinya. “Melukis apa sih Mas ?” tanyaku. Dia tampak panik, rasanya dia tidak ingin lukisan itu aku lihat. Tak kusangka, dengan sebentar saja dia berteriak mengursirku. “Pergi…pergi kamu…!” teriak dia sambil melempariku dengan benda apa saja yang ada di situ.

“Mas, ini aku Indah…aku tidak akan mengganggu Mas.” kataku mencoba menenangkan, tapi Mas Dimas semakin reaktif, dia melempariku dengan batu kecil, ada yang mengenai pelipisku hingga berdarah. Keributan ini terdengar seisi rumah, sampai-sampai Bu Suryo datang sendiri dengan kursi rodanya. “Sudah Nak…!” teriak Bu Suryo.

Sementara Mbak Surti, pembantu rumah menelepon rumah sakit. Dan tak berapa lama petugas rumah sakit jiwa datang dan menjemput Mas Dimas. Mereka membawa Mas Dimas yang masih meronta-ronta ke rumah sakit. Sepeninggal Mas Dimas, aku menangis menggigil, tak kusangka Mas Dimas akan bereaksi seperti tadi.

Bu Suryo mendekatiku. “Sudah Indah, maafkan Mas Dimas ya.”Aku mengangguk. “Tidak apa-apa Bu.” jawabku.

Sepeninggal Mas Dimas rumah jadi sepi. Aku merasa sangat kehilangan. Kini tidak ada lagi yang mau mendengarkan cerita lucuku, tidak ada teman buat gokil-gokilan. Rasa sedih akibat kehilangan membuatku jadi penasaran dengan lukisan Mas Dimas, yang sangat tidak ingin aku melihatnya. Aku berjalan ke taman belakang, tempat biasa Mas Dimas melukis.

Ternyata mas Dimas mencintaiku, dan lukisan itu adalah wajahku

Kanvas itu masih tertutup kain. Pelan-pelan aku membukanya. “Ya Allah…” aku sangat terkejut sekali, karena lukisan itu adalah lukisan diriku. Lukisannya sangat indah, seperti namaku. Sampai sebegitunya kah ? untuk melihat lukisan diriku, Mas Dimas bereaksi demikian.

Dan di dekat lukisan itu aku temukan secarik kertas. Pelan aku membukanya. “Kau hadir dalam hidupku… Kau telah mengindahkan hidupku… Hadirmu membuatku begitu indah menikmati hariku… Aku ingin melukismu di hatiku saja… Tapi terlalu sayang, karena sosokmu begitu indah… Dan tak kuasa kutahan kuasku untuk melukismu, bidadari hatiku.

Tak terasa airmata membasahi pipiku. Mas Dimas, aku kangen padamu Mas. Dan kertas itu kusimpan di sakuku. Hari berganti hari, tapi belum ada tanda-tanda Mas Dimas boleh pulang. Hingga akhirnya saat Mas Evan pulang, kami berkesempatan untuk menjenguknya.

Aku dorong kursi Bu Suryo, tak seperti waktu dulu kami menjemput Mas Dimas. Kami hanya boleh melihat Mas Dimas dari kejauhan. Kulihat Mas Dimas melompat-lompat, kadang salto. Menurut penjelasan dokter, kondisi Mas Dimas sedang tidak baik. Tingkat kesadarannya rendah.

Sungguh kasihan kondisi Mas Dimas. Ku coba meminta ijin dokter untuk menemui Mas Dimas, tapi tidak diijinkanku. Bisa jadi Mas Dimas bisa membahayakanku. Dan aku hanya bisa memandang dari balik pintu jeruji rumah sakit. Tak terasa air mataku mengalir deras. Mas Evan mendekatiku, lalu buru-buru aku mengusap airmataku.

“Kasihan Mas Dimas…” kata Mas Evan. “Dulu Bapak sangat ingin dia mengikuti jejak Bapak, jadi Polisi. Tapi dia tidak mampu. Karena sejatinya dia adalah seniman, dia pintar melukis, menulis… tapi Bapak masih memaksa. Akhirnya dia jadi tertekan dan mengurung diri.” cerita Mas Evan.

Melihat kondisinya aku jadi hilang semangat Aku jadi tidak ceria seperti saat ada Mas Dimas. Hal ini membuat Bu Suryo memanggilku.

“Indah, kamu kenapa ?” Aku menggeleng.

“Tidak ada apa-apa Bu.”

“Apa ada masalah dengan keluargamu ?” tanya Bu Suryo, lagi-lagi aku menggeleng. “Tidak Bu.”

Diajak makan malam, ada apa ya ?

“Ya sudah, maaf Indah nanti malam kita makan malam di rumah sama Mas Evan, kamu jangan pulang dulu.” kata Bu Suryo.

Aku jadi bertanya-tanya, mungkin aku sudah tidak akan dipekerjakan di sini, karena kaki Bu Suryo juga sudah sembuh dan Mas Dimas juga tidak di sini lagi. Bagaimanapun aku harus siap dengan apa yang terjadi nanti. Kalau sudah tidak disini lagi, aku bisa cari pekerjaan lain, walaupun harus jadi buruh cuci seperti Ibu.

Akhirnya makan malam sudah siap, dan Mas Evan juga sudah datang. Lalu Bu Suryo mempersilakan kami makan. Hidangan kali ini begitu istimewa, aku jadi sedikit heran.

Setelah makan Bu Suryo bicara. “Indah…Evan…Ibu sangat senang kalian ada di sini. Ibu punya satu keinginan… Ibu ingin kalian menikah. ” Kata-kata Bu Suryo sangat mengejutkanku. Kulihat Mas Evan juga terkejut.

“Bagaimana menurut kalian?” Aku hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Lalu Evan bicara. “Bu, biarkan kami memikirkannya terlebih dahulu.” Bu Suryo setuju.

Lalu Evan mengajakku ke taman belakang, tempat biasa Mas Dimas melukis. Dan lukisan diriku juga masih ada disitu tertutup kain.

“Indah bagaimana menurutmu dengan permintaan Ibu ?” tanya Mas Evan padaku. Aku terdiam, dan akhirnya aku menangis. Evan bingung dengan sikapku. “Kenapa kamu menangis Indah ? Kamu tidak setuju ?” tanya Mas Evan.

Tapi aku hanya mencintai dia

“Mas, lihat lukisan juga surat ini.” Kubuka lukisan diriku juga surat tulisan mas Dimas. Mas Evan kulihat terkejut. “Mas, saya mencintai Mas Dimas.” kataku pelan. “Saya sangat sayang padanya, apapun keadaannya .” ucapku lirih.

“Walaupun dia tidak ada kemungkinan sembuh ?”

Aku mengangguk. “Aku hanya ingin mencintainya…itu saja Mas.”

Beruntung Mas Evan mengerti keadaanku.

“Aku mau jelaskan ini pada Ibu.” katanya. Dan saat Mas Evan menjelaskan pada Bu Suryo, Bu Suryo langsung menitikkan airmata, langsung dia memelukku dan menangis di pelukanku.

Dan hari-hari berikutnya, aku selalu menjenguk Mas Dimas di rumah sakit setiap hari. Walaupun dia tidak mengenaliku, tapi aku sangat senang bisa melihat juga menemani dan bercerita di hadapannnya setiap hari. Aku hanya ingin melihat dia tertawa saat mendengar ceritaku. Walaupun saat ini dia ada di dunia yang berbeda denganku.


Terima kasih telah berkunjung dan membaca cerpen romantis cinta dua dunia. Semoga cerita pendek diatas dapat memberi inspirasi dan motivasi bagi sobat pemirsa Bisfren sekalian.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait