Cinta Ini Kapan Berakhir

cerita pendek selingkuh dengan kekasih sejati

Cinta ini kapan berakhir adalah cerita pendek selingkuh dengan kekasih sejati yang sudah putus. Mereka saling mencintai tapi memang tidak mungkin bersama dan tidak berjodoh hingga akhir sang kekasih justru menjadi selingkuhannya. Simak selengkapnya cerpen perselingkuhan berikut :

Cerita Pendek Selingkuh Dengan Kekasih Sejati – Cinta Ini Kapan Berakhir

Kisah percintaanku kali ini membingungkan, mantanku kembali padaku dengan kisah yang sulit aku mengerti. Semua nama tokoh sengaja aku samarkan, takut jika ada yang terlukai dengan kisah kami ini.

Malam ini gelisah menghantui hati dan jiwaku, teringat Jihan kekasihku. Kekasih yang selama kurang lebih 5 tahun setia mendampingiku, namaku Niko. Aku hanyalah pegawai di sebuah pabrik percetakan Yasin dan undangan, di daerah Jakarta Barat.

Awal perkenalanku dengan Jihan waktu itu saat pulang kampung untuk menghadiri acara pernikahan kakakku. Namanya juga anak muda, pulang kampung itu hal yang paling menyenangkan. Selain bisa kumpul bareng keluarga aku juga bisa kumpul kumpul sama teman-teman lama.

Malam itu aku berkunjung ke rumah sahabatku di desa sebelah desaku, namanya Lina. Malam itu aku telpon Lina, jika aku sedang menuju ke rumah nya, ternyata Lina sedang tidak berada di rumah, Lina sedang berada di rumah sahabat ceweknya. Lina memintau untuk menunggunya di rumahnya. Benar saja sesampainya aku di rumah Lina, dia sedang tidak berada di rumah, dan malam itu ibunya Lina menyuruhku menunggu Lina kembali. Tidak butuh waktu lama, tibalah Lina di rumah, dengan seorang gadis manis berambut hitam sebahu dengan perawakan putih kuning langsat.

Kebetulan malam itu aku tidak datang sendiri, aku ditemani oleh temanku, lama berbincang bincang saling tukar kabar, gadis manis yang duduk di samping Lina tersenyum dan tanpa malu memperkenalkan diri.

Jatuh cinta pada pandangan pertama

“Hay nama ku Jihan, nama kamu siapa ?”

“Aku Niko dan ini teman ku Adam”

Dengan senyum manis di bibirnya dia ulurkan tangannya yang putih kuning langsat dan halus, dalam hatiku berkata, “Selain cantik ternyata gadis di hadapan ku ini tidak sombong, begitu ramah dan sopan, ”

Setelah ngobrol kesana kemari tidak tentu apa yang kita bicarakan, tidak terasa jam di dinding rumah Lina menunjukan pukul 9 malam, saatnya kami sebagai tamu untuk berpamitan pulang. Tidak enak jika berlama-lama di rumah seorang gadis pada malam hari.

Baru saja aku berpamitan kepada Lina, dan Jihan. Tiba tiba ada seorang cowok yang menarik tangan Jihan dan mendorongnya di sudut rumah Lina, dengan ganas dan kasar dia ingin menyentuh bibir manis Jihan. Rasanya aku tidak terima melihat pemandangan yang mengganjal di mataku. Hatiku bertanya “Siapakan dia ? Apakah dia kekasih Jihan ? Atau dia ingin berniat jahat kepada Jihan ? Ah ada apa ini ? “Hatiku jadi gelisah, sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan Jihan. Wajahnya yang ayu dan senyumnya yang manis, terus menghantuiku. Sampainya di rumah, segera ku telpon Lina dan ku minta nomer ponsel Jihan kepada Lina.

Minta nomor telepon dari temannya

Malam ini juga aku harus tau, siapa cowok yang tadi bertindak tidak sopan kepada Jihan, aku tidak mau hatiku tersiksa seperti ini. Setelah ku dapatkan nomer Jihan, tanpa fikir panjang segera ku telpon Jihan,

“Halo selamat malam”

“Malam juga, maaf ini siapa ya ?”

“Ini aku Niko, maaf ya Jihan, aku minta nomer telpon kamu dari Lina.”

“Oh kamu Niko, iya gak apa apa. Ada apa nih ?”

“Gak ada apa apa kok, cuma sekedar ingin nanya, ”

“Emang kamu mau nanya apa ?”

“Nanya soal kejadian tadi di sudut rumah Lina, cowok yang tadi hampir nyakitin kamu atau ngecup bibir kamu itu siapa ya ? Jika boleh tau ? ”

“Oh itu, tadi itu Andi. Masih tetangga kok. Andi emang suka sama aku, tapi aku tidak suka sama dia. Tadi Andi cemburu sama kamu, Andi kira kamu adalah pacarku, karena Andi telah lama menyatakan cinta namun tidak aku terima, ”

“Jadi tadi bukan pacar kamu kan ?”

“Bukan Niko, memang kenapa ?”

“Enggak apa apa kok Jihan, cuma nanya aja, karena sejak tadi aku terus kefikiran kamu, hatiku terasa rindu ingin melihatmu lagi, aku tidak tau perasaan apa ini, besok siang aku bolehkan main ke rumah kamu ?”

“Jangan main ke rumahku, karena kedua orang tua ku tidak mengizinkan jika ada cowok yang main ke rumah, jika ingin bertemu, bisa di rumah Lina, besok siang. ”

“Oke besok siang aku akan ke rumah Lina, untuk menemui kamu”

Ketemuan lalu jalan-jalan di pantai

Akhirnya siang ini aku akan bertemu Jihan di rumah Lina. Siang itu banyak sekali teman teman Jihan dan Lina, termasuk cowok yang tadi malam menyentuh pipi Jihan. Nah kebetulan Lina mengajak ku untuk ke pantai. Fikiran dan pandanganku fokus kepada gadis manis yang duduk di hadapanku.

Sepertinya aku telah jatuh cinta kepada Jihan, sampai saat Lina mengajakku ke pantai dan Jihan tidak ikut, rasanya akupun tidak ingin ikut. Akhirnya Lina dan teman-temannya memaksa Jihan untuk ikut. Sampainya di pantai, rasanya hatiku semakin berdetak kencang. Aku selalu mengikuti kemana pun Jihan pergi, sampai pada akhirnya. Ada kesempatan untuk bicara kepada Jihan, “Jihan jika ada cowok yang suka sama kamu gimana ? ”

“Ha ha ha aku tidak percaya dengan cinta Niko”

“Kenapa tertawa dan berkata jika kamu tidak percaya kepada cinta ”

“Denger ya Niko. Cinta itu jahat, karena cinta aku lahir dan cinta pasti ada benci karena benci itulah yang membuat kedua orang tua ku pisah bercerai, aku korban perceraian cinta dan benci Niko, maka itu aku tidak percaya kepada cinta ”

“Tapi kan tidak semua cinta begitu Jihan ! ”

“Sudah lah jangan bahas cinta, memang siapa yang cinta pada ku Niko? ”

“Tidak ada aku hanya sekedar bertanya saja,”setelah mendengan kata kata Jihan, rasanya hatiku sakit tulang tulang ku terasa lemas, malas rasanya, jadi bete.

Aku menunjukkan arogansi dan egois dengan cara ngambek !!!

Dan aku diam, semua orang bertanya kepadaku mengapa diam, sampai pada akhirnya Jihan bertanya, apa yang membuatku diam, aku hanya menjawab pusing. Tak terasa waktu sudah sore dan kami bergegas pulang, karena kaki Jihan lecet akibat sepatu yang Jihan pakai licin, akupun membawakan sepatu Jihan, namun masih dalam keadaan diam,

Besok malam aku akan berangkat ke Jakarta lagi, waktu liburanku sudah habis dan acara resepsi pernikahan kakakku pun sudah berakhir. Namun gejolak hatiku tidak juga berakhir. Bayangan Jihan selalu membayangiku, malam ini aku harus memberanikan diri untuk menyatakan cinta kepada Jihan, walau hanya melalui telpon.

“Malam Jihan,”

“Malam juga Niko, ada apa ? ”

“Aku cuma mau ngomong, sama kamu, tapi aku takut kamu marah.”

“Lho kenapa harus marah ngomong aja. ”

“Ini penting bagi ku Jihan, jadi harus ku omongon, ”

“Ya udah ngomong aja, kalo penting ”

“Jihan aku suka sama kamu, kamu mau kan jadi pacar ku ”

“Hah kamu jangan bercanda si Niko, serius mau ngomong apa ”

“Aku serius Jihan, aku suka kamu sejak pertama kali kita betatap mata di rumah Lina, aku suka kamu . ”

“Aku enggak mau jawab pertanyaan mu melalui telpon, jika kamu beneran suka sama aku, datang ke rumahku, bicaralah di hadapanku, jangan pengecut kayak gini,”

“Oke besok aku akan ke rumah kamu, untuk buktiin ke kamu kalo aku beneran suka kamu,”

Rasanya seneng ternyata Jihan menyuruhku untuk main ke rumahnya, semoga Jihan menerima cintaku,

Ini adalah malam yang aku tunggu, malam ini aku akan menyatakan kepada Jihan tentang perasaanku. Karena besok aku sudah harus berangkat untuk ke Jakarta.

Sejak sore aku telah menyiapkan kata-kata indah untuk Jihan, walau sebenarnya aku bukanlah tipe orang romantis, tapi setidaknya malam ini aku ingin Jihan menerimaku.

Dan ngambek adalah cara cukup ampuh untuk menaklukkan wanita berhati lembut yang mudah kasihan

Sampainya di rumah Jihan, aku terkejut ternyata Jihan hanya tinggal seorang diri di rumah. Ternyata Jihan bohong tentang ayah ibunya yang tidak mengizinkan jika teman Jihan dilarang datang ke rumah. Tapi sudahlah lupakan, malam ini Jihan terlihat sangat ayu dan senyum dibibirnya terlihat semakin manis dengan setelah kaos berwarta unggu dan celana jeans. Malam itu aku nyatakan kembali semua perasaanku kepada Jihan. Tentang aku yang sangat suka kepadanya. Memang aku tidak bisa romantis, mungkin karena kami masih terlalu remaja, dengan usia ku yang masih 17 tahun dan Jihan baru 15 tahun.

Dan malam ini Jihan menerima cintaku. Betapa bahagianya aku malam itu, rasanya ingin ku peluk dia, namun rasanya malu. Kami bercerita tentang apa saja yang bisa dijadikan bahan pembicaraan.

Tidak terasa hari sudah semakin larut malam. Rasanya berat sekali untuk pergi dari rumah Jihan, meninggalkan gadis manisku itu, namun apa boleh buat memang sudah waktunya aku pulang.

Sepanjang perjalanan pulang hatiku terasa sangat bahagia, namun sampainya di rumah aku terkejut dengan keadaan rumah yang penuh dengan air mata, ku lihat ibu menangis, ayah membaca surat Yasin dan kakak-kakakku mengikuti ayah dengan bacaan bacaan surat surat pendek. Di hadapanku terlihat nenek dengan kain penutup terbujur kaku, nenekku meninggal. Mengapa ini terjadi ? Baru saja aku bahagia sekarang aku berduka, rasanya hatiku tidak sanggup menerima semua ini. Tapi ya sudahlah mungkin ini memang takdir Yang Maha Kuasa,

Semuanya berlalu begitu saja. Terasa biasa dan baik baik saja, aku dan keluargaku, aku dan pekerjaanku dan aku bersama Jihanku.

Hari demi hari berlalu sangat indah, tahun pertama aku lalui dengan indah, namun aku tidak bisa setia. Namanya usia masih labil ,aku masih mencintai banyak gadis gadis di luar sana tanpa Jihan tahu. Semuanya berjalan sesuai rencana, tahun kedua semuanya masih sama, namun kini Jihan mulai tahu sifat burukku. Jihan mengerti jika cintaku telah ku bagi dan terjadi pertengkaran di antara kami karena wanita lain. Kini Jihan pun berani menunjukan sifat marah kecewanya kepadaku. Jihan berselingkuh dan mengimbangiku.

Mulai sejak saat itu kita selalu beradu keegoisan, tapi Jihan tipe wanita yang lembut dan baik. Dia terus mengalah demi keutuhan hubungan ini, namun sifat egois ku tetap tumbuh. Aku tidak perdulikan Jihan aku tetap saja sesuka hati ku bermain dan membuat Jihan kesal, alhasil kita tidak pernah aku di tahun ke dua ini aku dan Jihan benar benar selalu bertengkar.

Tahun ketiga, ku perkenalkan Jihan pada orang tua

Memasuki tahun ke tiga, aku mulai memperkenalkan Jihan kepada orang kedua orang tua ku, namun aku sudah akrab dengan keluarga besarnya Jihan, karena sejak pacaran beberapa bulan Jihan mulai membawa masuk aku masuk kedalam kehidupan keluarga Jihan, namun di tahun ke tiga ini. Aku baru berani membawa Jihan masuk ke dalam rumah,

Ketika aku bawa dia pulang ke rumah dan ku perkenalkan dengan keluargaku. Betapa bahagianya melihat senyum manis di bibir Jihan, dan rona wajah malu di pipi putihnya. Semuanya menerima Jihan dengan baik. Aku bersyukur rasanya bisa memiliki gadis berhati baik seperti Jihan, semuanya jalan seperti biasa.

Tapi sifatku tidak berubah

Kisah kami mengalir seperti air, namun tak jarang Jihan marah padaku karena sifatku yang masih tergila-gila pada game online, sering tidak mengangkat telpon karena sedang bermain game, chat yang jarang aku bales karena sibuk dengan game, dan juga aku sering terlena dengan wanita lain selain Jihan.

Namun sifat egois ku selalu saja tidak bisa ku kendalikan, aku yang salah namun aku yang terus memarahi Jihan. Padahal selama ini dia terus sabar dengan keadaan kami dan sifatku. Bahkan seringkali Jihan membantu aku dalam keekonomian karena sebagai karyawan sebuah percetakan undangan sering kali aku tidak memegang uang akibat sering merokok dan tergila gila dengan game online.  Bukan itu saja, meski aku tidak pernah membelikan Jihan pulsa, dia selalu mentransfer pulsa.

Namun itu semua tidak membuatku bisa bersyukur dengan keadaan, aku tetap saja menyakiti perasaannya. Aku tau sebagai korban perceraian orang tuanya Jihan haus kasih sayang haus perhatian. Namun aku tipe orang yang cepat merasa bosan, jadi sering kali aku enggan untuk menemaninya.

Di perjalanan akhir tahun yang ke tiga ini, Jihan hampir saja mengakhiri hidupnya, karena putus asa pada sifat cuekku, dan dengan sifat egoisku, ditambah lagi aku menghadirkan orang ke tiga di antara kami. Aku tau Jihan pasti lelah, namun harus bagai mana lagi. Aku tidak mampu menepis pesona selingkuhanku itu. Aku juga belum bisa mengendalikan sifat egoisku

Setelah lamaran dia menyerahkan perawannya

Aku bisa melihat pergelangan tangan Jihan yang terluka karena goresan silet, hatiku sakit, rasanya aku ingin mati melihat Jihan begitu sayang padaku sampai ingin mengorbankan hidupnya karena lelah pada sifatku. Akhir nya di akhir tahun ke tiga ku putuskan untuk meminang Jihan. Aku dan Jihan bertunangan. Betapa bahagia diriku melihat Jihan bermanja bahagia di sampingku. Aku tidak pernah melihat Jihan se bahagia ini selama tiga tahun kita bersama. Semua acara berjalan dengan sempurna. Aku kira setelah ini kita akan baik baik saja.

Malam ini aku berdua saja dengan Jihan didalam rumah, karena kedua orang tua Jihan sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di luar daerah, dan kakak Jihan sedang bekerja. Awalnya kita hanya ngobrol ngobrol biasa mendengarkan musik dan meminum segelas teh berdua. Udara dingin malam itu membuat posisi dudukku merapat pada Jihan. Ku rasakan betapa dinginnya tubuh Jihan, lalu ku peluk Jihan dan ku tatap matanya. Akupun terlena di dalam dinginnya malam dan hangatnya nafas Jihan, malam itu ku renggut kesucian Jihan dengan janji akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padanya.

Tahun ke empat, nyaris kiamat, dia hamil di luar nikah

Aku dan Jihan telah bersama selama empat tahun, hari ini Jihan akan berangkat ke Jakarta, dia mendapat pekerjaan di Jakarta yang jaraknya tidak jauh dari tempat kerjaku. Peluang untuk saling bertemu pun semakin banyak. Tidak seperti dulu hanya melalui telpon dan hanya bertemu jika aku pulang sehingga selalu bertengkar.Aku harap kali ini di tahun ke empat aku dan Jihan tidak lagu bertengkar, semoga kita baik baik saja.

Namun semuanya tidak berjalan seperti apa yang kita harapkan. Aku dan Jihan semakin sering bertemu dan kita selalu melakukan hubungan intim karena jarak antara tempat kerja ku dan tempat kos Jihan tidak terlalu jauh. Ya Jihan di Jakarta tinggal di tempat kos. Jadi kita bebas untuk bertemu bebas untuk melakukan apa saja.

Masalah kali ini datang lagi, Jihan hamil. Aku shok aku tidak bisa terima, aku marah sama Jihan. Aku caci maki dia. Aku takut jika keluargaku akan malu dan keluarga Jihan malu. Akhirnya aku menyuruh Jihan untuk menggurkan kandungan itu. Karena takut jika aku meninggalkannya, maka Jihan nurut padaku, dia menggugurkan kandungannya.

Jihan kecewa namun tetap menggugurkan kandungannya

Aku tahu Jihan hancur dan kecewa, namun aku tidak perduli. Semua itu terjadi kurang lebih tiga kali. Tiga kali pula Jihan terus menggugurkan kandungannya. Karena jika Jihan tidak mau menuruti kemauanku maka aku akan meninggalkan Jihan. Dan Jihan takut kehilanganku karena aku tau Jihan terlalu sayang padaku. Namun aku mempermainkan perasaannya sesuka hatiku. Tetap sibuk dengan game online-ku, sibuk dengan keegoisanku, sampai sebagai seorang calon suami aku tidak bisa memberikan apa yang Jihan butuhkan. Namun aku masih selalu merepotkan Jihan, meski Jihan terus sabar dengan segala keegoisanku dan ketidak-kesabaranku.

Memasuki tahun kelima ini aku dan Jihan bertengkar sangat hebat. Mungkin Jihan mulai lelah dengan semua ini. Jihan mulai sering marah marah dan aku tidak bisa mengimbangi Jihan. Kami bertengkar hebat, aku mencaci maki Jihan lagi, aku terus menghina Jihan, dan memintanya pergi. Dengan air mata Jihan mempertahankan ini semua.

Namun sifat egois ku tidak terima, sehingga Jihan menurutiku, dia meninggalkanku, dan kita putus. Jarak satu minggu Jihan menelponku. DIa berkata jika dia telah memberitahu kabar ini ke keluargaku dan keluarganya, tentang semuanya bahkan sampai Jihan pernah hamil dan digugurkan. Hatiku sakit, aku takut, namun aku tahu Jihan, jika dia merasa lelah maka dia akan berhenti.

Kami putus dan kali ini dia memiliki kekasih baru

Benar saja kurang dari satu bulan semuanya benar benar hancur, Jihan mulai menjauh dan semakin menjauh. Jihan benar benar lelah. Dan aku yang salah.

Kini Jihan telah memiliki kekasih baru. Namun aku tetap tidak bisa melupakan Jihan. Penyesalan tinggal penyesalan semua nya sia sia. Aku tau Jihan benar benar lelah dan jenuh. Aku mencoba mencari pengganti Jihan namun tetap saja, aku tidak bisa melupakan Jihan

Baru kusadari tiada wanita sebaik Jihan, tiada kasih sayang seperti Jihan. Kini Jihan bahagia dan aku terbelenggu di dalam karma.

Kini dia memiliki kekasih baru, tapi aku tahu dia wanita bodoh hanya menggunakan perasaan, sangat mudah mendapatkannya

Ini adalah bulan ke lima setelah kita putus. Malam ini Jihan menelponku. Memberi kabar dan menanyakan kabar. Betapa aku bahagia dan malu. Malu dengan apa yang telah ku lakukan kepada Jihan dan anakku.

Namun malam ini aku kembali jatuh hati pada Jihan. Aku tetap mencintai Jihan. Bahkan rela menjadi selingkuhan Jihan. Aku berkata pada Jihan, dengan segala salah dan dosaku, aku akan mencintainya walau dia telah berkasih, dan Jihan mengiyakan itu.

Kini aku dan Jihan kembali menjalin cinta. Namun bedanya kini aku bukan sebagai calon suaminya, namun hanya sebagai cinta rahasianya.

Jadi selingkuhannya justru tidak ada beban, ini hanyalah bagaimana cara bermain perasaan

Entah sampai kapan aku akan seperti ini, dengan rasa penyesalan aku rela menjadi kekasih gelapnya. Rasa penyesalan yang tiada pernah usai. Entah sampai kapan kisah ini akan berakhir. Aku tau jika Jihan masih mencintaiku, sama seperti dulu. Namun aku tau ada banyak luka yang tidak dapat ku sembuhkan.

Aku hanya berharap. Semoga aku tetap bisa melihat senyum Jihan. Walau cinta kita saat ini gelap. Namun aku bahagia. Maaf kan aku Jihan, penyesalan ini tidak pernah bisa aku tebus dan kisah ini tidak akan pernah usai, sampai kita sama sama menua nanti. Jihan kau wanita terbaik.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita pendek selingkuh dengan kekasih sejati. Semoga cerpen perselingkuhan diatas dapat bermanfaat menambah pengetahuan sobat Bisfren terutama kalangan wanita untuk berhati-hati dalam memilih kekasih. Tetaplah semangat dan optimis, salam sukses selalu.

Dibagikan

Eva Wahdaniyah

Penulis :

Artikel terkait