Cinta Suci @ Cerita Pendek Inspiratif Islami

cerita motivasi pendek cinta suci

Cinta suci adalah cerita motivasi pendek tentang remaja yang memilih untuk tidak pacaran tapi langsung menikah. Bagaimana jalan ceritanya ? Simak selengkapnya pada cerpen motivasi berikut

Cerita Motivasi Pendek “Cinta Suci”

“Aku mencintaimu, Wa.” ucap Fathir.

“Astaghfirullah!… Assalamu’alaikum.” jawab Halwa terkejut lalu segera meninggalkan Fathir seorang diri.

“Wa’alaikumsalam.” lirih suara Fathir menjawab salam.

Halwa seorang muslimah berjibab yang sudah lama menarik perhatian Fathir. Fathir tidak bisa melepaskan dan memalingkan hatinya dari perempuan yang menurutnya cantik dan sholehah, dan selalu satu kelas dengannya itu.

Baru pada jam istirahat tadi Fathir memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, setelah meminta Halwa untuk menemuinya di perpustakaan ditemani Rahma, sahabat Halwa.

Hanya tiga kata yang keluar sebagai keberaniannya. Sama sekali tidak digubris oleh Halwa.

Fathir merenungkan apakah ada yang salah. Sedangkan teman-temannya sudah berstatus in relationship. Malam Minggu menjadi malam yang panjang bagi Fathir. Dia selalu menghabiskan malam Minggu seorang diri di kamar. Karena tidak ada yang bisa diajak keluar. Teman-temannya lebih suka berduaan dengan kekasih masing-masing.

Minggu siang ini akan diadakan rapat Rohis untuk membahas acara HUT sekolah. Fathir sebagai ketua seharusnya datang tepat waktu dan memastikan semua yang diperlukan sudah siap. Sudah dua puluh menit para pengurus Rohis menanti kedatangannya, tidak kunjung muncul. Irfan, yang menjabat sekretaris berulang kali mecoba menghubungi Fathir, namun nomor yang dituju tidak aktif.

Akhirnya rapat diadakan tanpa sang ketua.

Pukul 15.00 rumah Halwa kedatangan beberapa orang tamu. Seorang laki-laki bersama kedua orang tuanya hendak bersilaturrahim. Hanya kedua orang tua Halwa yang menemui.

“Maksud kedatangan kami untuk mengkhitbah putri Bapak dan Ibu.” ucap bapak dari laki-laki yang kelihatan seperti seorang anak SMA.

Bapak dan ibu Halwa terkejut bukan main.

Bagaimana tidak, putri kecil mereka yang masih duduk di kelas tiga SMA dilamar oleh seorang laki-laki muda yang ternyata teman sekelasnya.

“Fathir sudah pernah mencoba mengungkapkan perasaannya kepada Halwa. Tapi Halwa hanya diam, tidak menjawab.” Fathir tertunduk malu mendengar penuturan bapaknya kepada tuan rumah.

“Aduuhh…bagaimana ini, Pak?” tanya ibu Halwa kepada suaminya yang sama-sama kebingungan.

“Anak-anak kita kan masih sekolah, Pak.” seru bapak Halwa mengingatkan.

“Kami tahu, Pak, Bu. Semuanya sudah kami pikirkan baik-baik.” timpal bapak Fathir.

“Mereka akan tetap sekolah sampai lulus, bahkan mereka harus terus melanjutkan ke perguruan tinggi. Selama masih di SMA, mereka tidak akan tinggal serumah dulu. Belajar dan istirahat di rumah masing-masing.” sambung ibu Fathir.

“Insya Allah anak-anak kita bisa dipercaya di bawah pengawasan dan bimbingan kita. Yang lebih penting lagi, perasaan Fathir kepada Halwa menjadi halal. Jadi Insya Allah menghindari pergaulan bebas dan maksiat. Lagi pula delapan bulan lagi mereka akan lulus SMA.” lanjut ibu Fathir menjelaskan.

Di dalam kamar, anak perempuan yang hendak dikhitbah menangis. Entah bahagia atau takut. Ia tidak tahu perasaannya sendiri. Yang dia tahu hanyalah kecintaannya kepada Tuhannya.

Halwa buru-buru menyeka air matanya ketika terdengar suara ketukan pintu.

“Halwa sudah dengar pembicaraan di ruang tamu?” tanya ibu Halwa.

Halwa mengangguk.

“Lalu bagaimana keputusan Halwa?” tanya ibu Halwa lagi.

“Halwa harus minta ijin dulu, Bu.” jawab Halwa.

“Bapak dan Ibu setuju apa pun keputusan Halwa. Kalau Halwa mau menerima khitbah ini, Bapak dan Ibu akan mengijinkan.” ujar ibu Halwa meyakinkan putrinya.

“Bukan, Bu. Bukan ijin Bapak dan Ibu yang Halwa maksud.” sahut Halwa.

“Terus Halwa mau minta ijin siapa lagi?” tanya ibu Halwa keheranan.

“Kepada yang menciptakan Halwa, Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk Halwa.” jawab Halwa tersenyum.

“Astagfirullah, Ibu bahkan melupakan itu.” seru ibu Halwa sambil menepuk dahinya, merasa khilaf.

“Halwa memang anak yang sholehah.” puji ibu Halwa dengan memeluk putri satu-satunya.

“Aamiin, InsyaAllah.” balas Halwa.

“Nanti kita sholat tahajjud ditambah istikharah ya, Bu.” ajak Halwa.

Ibu Halwa mengangguk setuju.

Akhirnya Fathir pulang membawa jawaban yang masih menggantung. Sang perempuan meminta waktu untuk memberikan jawaban terbaik.

Tiga hari setelah pengkhitbahan, keluarga Halwa memberikan jawaban yang membuat Fathir sangat bahagia.

Pernikahan akan dilaksanakan tiga minggu lagi, setelah mendapat ijin dari sekolah dan pihak berwenang. Pihak-pihak tersebut memberikan ijin atas pertimbangan bahwa kedua keluarga merupakan keluarga berpendidikan dan sudah dipercaya akan akhlak dan taat beragama. Selain berdasarkan atas pengkajian UU RI No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

Hari Jum’at, pukul 13.00. Akad nikah berlangsung secara khidmat. Rumah Halwa dipenuhi keluarga besar dan teman-teman sekolah.

Setelah sholat sunnah dua rakaat, Fathir dan Halwa duduk berdua di dalam kamar yang pintunya dibiarkan terbuka. Suasana canggung masih sangat terasa. Diiringi lagu nasyid “Kau Ditakdirkan Untukku”.

“Alhamdulillah, sekarang tanggung jawabku bukan atas diriku, melainkan atas dirimu juga, Halwa.” ucap Fathir memulai percakapan.

“InsyaAllah aku akan patuh kepada suamiku, sesuai perintah Tuhan kita.” sahut Halwa.

Ternyata Allah memberikan petunjuk-Nya kepada Halwa melalui sebuah mimpi. Di dalam mimpi Halwa mencium punggung tangan Fathir kemudian dibalas Fathir dengan ciuman di kening Halwa.

Meskipun pernikahan Fathir dan Halwa menjadi hal yang aneh dan tidak wajar bagi para tetangga, bahkan kerabat. Namun kebahagiaan sepasang pengantin muda itu membuat para kerabat cemburu.

“Hanya kecintaan hamba-hamba kepada Tuhannya yang sanggup memegang teguh perintah-Nya. Demi menjauhi pergaulan laki-laki dan perempuan yang tidak layak, yang sudah dianggap wajar oleh masyarakat.” Halwa mengingat betul nasihat ibunya, setelah Halwa menceritakan perihal mimpinya untuk menerima khitbah Fathir.(NA)


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita motivasi pendek rohani Islam Cinta Suci. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi motivasi bagi sobat pengunjung setia laman Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait