Cinta Tak Harus Memiliki

cerita sedih putus hubungan

Cinta tak harus memiliki adalah cerita sedih putus hubungan seorang mahasiswi yang pacarnya minta putus karena sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen remaja berikut :

Cerita Sedih Putus Hubungan – Cinta Tak Harus Memiliki

Andai saja aku diberi kesempatan lagi untuk mengulang waktu, pasti aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu dengan kamu. Bagiku mencintaimu adalah waktu yang terbuang sia-sia. Andai saja engkau tidak pernah hadir dalam hidupku, pasti aku tidak akan merasakan sakit seperti ini.

Cinta yang bertahun-tahun aku rawat, ku pelihara, ku pertahankan akhirnya harus ku lepaskan. Cinta yang begitu sulit yang ku perjuangkan dengan peluh dan air mata, kini harus berakhir. Aku harus merelakannya.

Tapi itu hanya penggalan kalimat dari cerita yang ku tulis. Pada kenyataannya, perjalanan cintaku begitu bahagia. Aku punya pacar, Dimas namanya, orangnya baik, perhatian juga dia cowok yang setia.

Aku bersyukur memiliki dia, dia selalu ada di saat aku membutuhkannya. “Yang, nanti bisa kan antar aku ke toko buku?” tanyaku pada Dimas. Selalu Dimas mengiyakan apa yang ku minta, dia selalu siap mengantar aku pergi.

Hubungan kami sudah berjalan tiga tahun sejak kami pertama masuk kuliah. Tapi lama-lama aku merasa sikap Dimas mulai membosankan. Dia tak lebih hanya cowok penurut yang tak pernah punya inisiatif untuk mengambil sikap terlebih dahulu. Bahkan teman-teman ada yang mengolok kalau Dimas itu seperti pengawal pribadiku.

Iya sih, selama kami berhubungan dia tidak pernah memberikanku kejutan atau apapun di saat momen-momen istimewaku, seperti hari ulang tahunku atau saat valentine. Bahkan lebih seringnya aku yang inisiatif mengajak dia.

Aku jadi kepikiran, memang dia baik tapi dia bukan tipe cowok romantis. Aku kadang merasa iri dengan teman-temanku yang lain. Saat mereka bercerita tentang cowok-cowok mereka yang selalu memberi surprise saat momen istimewa mereka.

Seperti biasa pagi itu Dimas sudah menghampiriku untuk berangkat kuliah bareng. Tapi entah kenapa aku hari ini begitu males, aku merasa bosan dengan rutinitas ini. Terlintas dalam fikiranku untuk mencoba sesuatu yang lain. Aku ingin Dimas seperti cowok-cowok yang lain, yang tidak selalu menurut sama cewek, aku ingin dia punya inisiatif dan aku yang mengikutinya.

Dia sudah berdiri di depan pintu kamar kos ku. “Pagi sayang!” sapanya padaku. “Pagi juga.” Balasku. “Kita berangkat sekarang ?” tanyaku. “Sayang, aku mau bicara sama kamu.” Aku mengernyitkan dahi, tumben Dimas tampak begitu serius, tak biasanya dia seperti itu.

“Maaf hari ini, aku mau pulang ke kampung, Mama menyuruhku pulang, ada sesuatu yang penting kata Mama. Jadi hari ini aku nggak bisa antar kamu kuliah.” Jelas Dimas padaku. Aku sedikit terkejut, tapi nggak papa ini kesempatan untuk aku mencoba hal yang baru tanpa Dimas. “Oh iya nggak papa.” Jawabku. Setelah itu Dimas berpamitan untuk pulang.

Dan hari itu aku berangkat sendiri kuliah dengan naik angkot. Dan aku harus sendiri membawa buku-bukuku. Biasanya Dimas yang selalu setia membawakan buku-buku juga laptopku. Selepas kuliah, saat istirahat aku harus membeli minuman sendiri juga, karena biasanya Dimas yang selalu melayaniku. Sehari tanpa Dimas rasanya berat banget.

Aku harus rela ikut berjubelan saat naik angkut, berdesak-desakkan. Apalagi  saat harus mencium bau keringat banyak orang, seketika langsung mual aku. Tapi aku harus kuat menjalani semua ini sendiri.

Sehari, dua hari, dan hari ini menginjak hari kelima Dimas pulang ke kampung halamannya. Rasanya begitu lama aku menunggunya kembali. Sendiri tanpa Dimas aku merasa berat, capek. Tak ada teman, aku kesepian. Apalagi selama Dimas pulang kampung HP nya tidak bisa dihubungi, mungkin memang di kampungnya sinyal begitu sulit.

Tak terasa airmata ku menetes, aku merasa sangat rindu dengan Dimas. Aku jadi merasa bersalah saat mulai bosan dengan sikapnya dan membanding-bandingkannya dengan cowok lain. Tapi rupanya memang itu yang ku butuhkan, perhatian juga kasih sayangnya lebih berharga daripada sebuah kado ulangtahun.

Hingga akhirnya, dua minggu setelah Dimas pulang kampung, dia muncul di depan kamarku. “Dimass…!” aku sangat terkejut melihat sosoknya. Aku segera menghampirinya dan ingin sekali memeluknya, tapi Dimas keburu menepis tanganku, dia menolakku memeluknya.

Aku terkejut dengan sikap Dimas. Dia lalu duduk di kursi depan kamarku. “Hai sayang, apa kabar, aku kangen sekali denganmu.” Kataku. Dia terdiam, lalu menatapku. Perasaanku jadi merasa tidak enak, aku merasa pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Dimas.

Lama dia terdiam, aku jadi semakin merasa khawatir. “Ada apa sayang ?” tanyaku pelan. “Maafkan aku Dinda…” kata dia sambil menatapku. Perasaanku jadi semakin tak karuan.

“Aku mau kita putus…” Deg…kata-kata pelan Dimas seketika telah memuat hatiku runtuh. Pelan-pelan bulir-bulir airmata keluar membasahi pipiku. Aku hanya bisa menatap Dimas tanpa bisa berkata-kata, mulutku terdiam membisu, hatiku sakit.

Kulihat mata Dimas juga berkaca-kaca, tampak kesedihan yang mendalam dia rasakan.    “Maafkan aku ya Dinda…” ucapnya pelan sambil memegang tanganku. “Papaku sakit, beliau ingin aku menikah dengan anak temannya yang rupanya sudah dijodohkan denganku. Aku tidak bisa menolak keinginan Papa. Karena ini keinginan Papa, aku tidak tega menolaknya saat kondisi Papa seperti ini.” Jelas Dimas sambil memegang erat tanganku.

Aku menangis tersedu, Dimas mengusap air mataku. Hal ini terlalu berat bagiku. Aku tidak mungkin sanggup melepas cintaku pada Dimas.

Aku bangkit lalu mengusap airmataku, Dimas memandangku. “Maafkan aku Dinda, aku harus melakukan ini, maafkan kalau menyakitimu.” Sakit sekali rasanya hatiku, tapi mau bagaimana lagi. Takdir tidak berpihak pada cinta kami.

Aku harus kuat, aku harus menjalaninya. Mungkin kini saatnya aku membalas kebaikan Dimas padaku selama ini. Aku harus membuktikan kalau aku benar-benar mencintainya, dengan mendukung keputusannya. Walaupun aku harus rela mengatakan kalau cinta tak harus memiliki.

“Aku mendukung keputusanmu. Bahagiakan orang tuamu, ini kesempatanmu untuk membahagiakan mereka. Aku akan selalu mendo’akanmu, aku juga minta maaf kalau selama kita berhubungan selalu merepotkanmu.” Kataku pelan tapi dengan tegar, aku usap airmataku.

Mata Dimas semakin berkaca-kaca. Lalu ku pegang tangannya. “Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Terima kasih ya Dimas. Cinta memang tak harus memiliki.” ucapku. “Maafkan aku Dinda, karena telah mengecewakanmu, menyakitimu. Semoga kamu dapat yang lebih baik dariku.” Aku tersenyum, tak ingin Dimas sedih.

“Iya, kita saling mendo’akan ya.” Balasku. Lalu Dimas berpamitan pulang, dan aku mengantarnya sampai pintu gerbang. Sebenarnya mataku mulai berkaca-kaca, tapi aku harus menahannya, aku harus tegar di depan Dimas. Walaupun kini harus rela melepaskan cintanya Dimas, pasti akan sangat merasa kehilangan sekali.

Memang benar, Cinta Tak Harus Memiliki. Bagaimanapun ku hargai dan juga kan selalu mengenang cinta ini.


Terima kasih telah membaca cerita sedih putus hubungan cinta. Semoga cerpen patah hati diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian dalam menghadapi masalah cinta dan hidup. Tetaplah semangat, jadikan segala peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait