Cinta Untuk Sahabatku

cerita selingkuh

Cinta untuk sahabatku adalah cerita selingkuh dengan teman yang bahkan sudah dianggap sahabat. Begitulah hidup, kadang sesuatu berjalan diluar harapan dan rencana. Simak selengkapnya cerpen perselingkuhan berikut :

Cerita Selingkuh – Cinta Untuk Sahabatku

“Thanks, Bro! Berkat bantuan lu, akhirnya gue jadian sama Gita, hehehe …” ujarku pada Indra “Hmm …iya ! Buat sahabat gue, apa sih yang nggak, biar nggak jomblo melulu! Hehehe …” sahut Indra, “Jangan lupa teraktirannya ya …” tambahnya. Kami bercerita banyak hal tentang Gita.

Saat itu aku merasa jadi lelaki yang sangat beruntung karena telah bisa menaklukkan hati seorang gadis manis, untuk menjadi sosok pacarku. Dua bulan masa pendekatanku dengan Gita tak sia-sia, dan itu berkat bantuan sahabatku juga. Indra, teman satu kantor, satu kost, dan orang yang sudah kuanggap sahabat baik sejak lama. Dia yang pertama kali mengenalkanku kepada Gita, dan ia juga yang membantuku mendekati Gita hingga menjadi pacarku.

Hebat, memang hebat. Kedekatanku pada Gita saat itu berjalan baik-baik saja. Ia pun mengakui kalau dirinya suka denganku, dan sering kali kami jalan berdua seusai pulang berkerja, pun saat libur kerja. Banyak kenangan manis yang kulewati bersama Gita. Ia wanita baik, lembut, dan penuh perhatian. Kadang aku rindu melihat senyumnya yang tulus, tampak sangat manis dan anggun. Rambut panjang yang terurai halus,membuat ia tampak menawan.

Lima bulan kami berhubungan menjadi sepasang kekasih. Aku merasa nyaman pada Gita, nyaris tak pernah kami bertengkar, sekalipun bertengkar, dengan cepat pasti kami bisa menyelesaikannya dengan cara yang dewasa. Sejak menjadi kekasih gadis manis itu, hari-hariku menjadi semakin bersemangat, ceria, dan … selalu bahagia. Karena nyaris setiap saat Gita selalu mengabarkan dirinya padaku, ia sosok kekasih yang romantis.

Aneh, ketika Gita mulai menjadi sosok yang dingin. Saat itu ia mulai mengurangi jalan berdua denganku, perhatiannya pun berkurang, ia beralasan kalau dirinya sedang sibuk dengan target perusahaan. Ya, aku memakluminya soal itu, hmm … tapi aneh saja, kenapa ketika libur kerja ia tak mau jalan denganku, selalu ada saja alasan, dan aku pun selalu mempercayainya.

Dengan sahabatku, Indra … aku bercerita tentang masalahku itu. Ia mau mendengarkan curahan hatiku, dan ia juga bersedia memberikan solusinya. Indra menyarankanku untuk mengerti dan ikuti apa kata pacarku. Karena ya … memang begitulah kesibukan wanita karir seperti Gita. Dalam kondisi pikiran dan hati yang kalut, Indra selalu saja mampu membuatku bangkit lagi, ia selalu punya cara untuk membuatku tertawa. Maka ketika ia sedang kesulitan, aku tak sungkan membantunya.

“Begitulah wanita, Bro … dia juga manusia yang kadang butuh pengertian dari pasangannya, jadi … maklum aja, tenang …” ujar Indra.

Aku menghela nafas, “Yaa, semoga aja dia nggak sedang ngambek sama gue ya, Bro …” sahutku.

“Nggak akan, tenang aja, Bro ….”

Saat sedang bosan dan jenuh, aku dan Indra biasa pergi keluar mencari alam terbuka, berdiskusi banyak hal, berceloteh tentang keseruan antara sahabat.

***

Malam minggu. Gita mengabarkan ia akan pergi dengan keluarga besarnya untuk berkunjung ke tempat kediaman saudaranya di luar kota. Padahal aku berniat untuk ajak Gita menonton bioskop, hmm … namun sudahlah, aku memilih untuk tetap di kost, mengusir jenuh dengan cara membaca buku novel. Sedangkan Indra pergi malam minggu itu, ia pamit padaku ingin pergi ke rumah temannya. Bahkan Indra meminjam motorku, tak biasanya, ia beralasan motornya sedang rusak, entahlah. Aku mengizinkan Indra untuk memakai motorku.

Saat itu jam menunjukkan pukul 20.00, malam itu aku tak bisa membaca buku novel dengan fokus, karena kondisi area kost sedang ramai orang. Hmm … aku berpikir sejenak, dan … aku memilih pergi keluar mencari angin malam sembari jaja makanan di taman kota. Sigap aku langsung merapikan diri.

Pintu kost kukunci, dan menitipkan kepada ibu kost. Khawatir kalau Indra pulang lebih awal.

Berjalan di atas trotoar, di tengah hiruk pikuk suasana kota malam hari. Aku melihat banyak sepasang kekasih yang sedang asyik jalan berdua menikmati malam. Malam yang cerah, berbintang, dan cahaya bulan pun tampak menyorot benderang. Hhh, kulihat juga ada sepasang kekasih yang sedang cemberut di bawah pohon rindang, geli melihatnya, mungkin ia sedang bertengkar.

Malam itu aku bagaikan seorang jomblo, tanpa teman, tanpa kekasih, tapi aku tetap tenang menikmati suasana malam itu. Aku duduk di atas rerumputan sambil menatap keramaian, tepat di samping gerobak pedagang  jagung bakar dan minuman hangat. Sesekali kubuka ponsel untuk berbalas pesan singkat dengan Gita.

“Bang … jagung bakar sama susu jahe panas satu yah …” pintaku pada pedagang jagung itu.

“Siap,Mas …” Ia sigap menyiapkan pesananku.

Sambil menunggu pesanan, dengan serunya aku berbalas pesan singkat pada Gita. Ia mengirimkan pesan singkat yang mampu membuatku tersenyum sendiri saat membacanya. Andai malam itu kami bisa berjumpa, pasti suasana semakin seru.

Sontak aku kaget, saat melihat di hadapanku ada sepasang kekasih yang bertengkar hebat. Ia saling melontarkan kata-kata kasar, hehehe … ternyata lelakinya ketahuan selingkuh. Orang-orang termasuk juga aku hanya menontonnya dari kejauhan. Aku menghela nafas dan menggelengkan kepala, heran pada orang itu, kenapa harus selingkuh … kalau tak sanggup setia, kenapa bukannya sudahi saja sejak awal hubungan mereka. Hmm … payah.

Pesanan jagung bakar dan susu jahe panas sudah siap. Aku menikmati sendirian malam itu, beda dengan malam minggu sebelumnya. Aku lebih sering menghabiskan waktu malam minggu dengan Gita, atau kadang juga dengan sahabatku, Indra.

Aku menikmati sajian kuliner yang sederhana itu, sambil melihat aneka suasana di taman kota itu. Sedikit iri saat melihat sepasang kekasih yang berlalu lalang melintas di depanku dengan mesranya. Aku rindu Gita malam itu.

***

Buyar lamunanku. Pecah semua ketenangan, hancur sunyi yang kurasakan, menggelegar hati yang tenang. Saat kulihat dua orang  berjalan di tengah taman itu dengan mesranya. Aku melihat mereka bercanda tawa dengan sangat riang, sangat bahagianya. Jadi apa yang harus kulakukan saat itu? Aku benar-benar bingung. Tetap tenang, duduk santai di atas rerumputan sambil melihat ulahnya dari kejauhan.

Yang kulihat saat itu adalah Gita, pacarku. Yang katanya ia sedang pergi ke luar kota mengunjungi saudaranya, ternyata ia bohong … ia jalan berdua dengan seorang lelaki. Aku tersenyum masam melihatnya dari kejauhan. Lelaki itu dengan mesranya merangkul tubuh mungil pacarku, aku benar-benar tak menyangka. Bagaimana aku cara menyapa mereka.

Motor matic warna merah milikku terparkir di tepian taman. Indra …, kenapa kamu tega! Huh! Aku menghela nafas, dan beranjak pergi menghampiri mereka.

Aku berdeham dari arah belakang mereka, “Gita,” ia menoleh, “Nggak jadi pergi ke tempat saudara kamu? Katanya masih di jalan? Hmm?” tanyaku dengan santainya. Wajah Gita dan Indra terkejut bukan kepalang.

Sigap Indra melepas tangannya yang sedang merangkul Gita. Mereka gelagapan saat ingin berkata padaku. Aku hanya tersenyum masam sambil mengernyitkan dahi.

“Boleh gue jelasin ini, Bro?” Indra menepuk pelan sebelah bahuku.

Aku menyibak tangannya, dan  meminta kunci motorku pada Indra. Mereka berusaha menahanku, Gita mulai binar sepasang matanya, ia terisak sambil berkali-kali memohon maaf padaku.

“Gue maafin kalian berdua, nah, sekarang kalian lanjutin aja!” mataku tajam menatap mereka, “Tapi ingat ya! Lu Gita, bukan lagi siapa-siapa gue! Kita putus! Dan lu, Ndra …. gue Cuma anggap lu sekadar teman biasa! Paham lu!” cetusku. Sigap aku langsung pergi ketika Indra memberikan kunci motorku yang ia pinjam.

Gita duduk di bangku taman sambil menyembunyikan wajahnya yang sedih dengan dua telapak tangannya. Sedangkan Indra mengejarku ingin memberikan penjelasan lagi, percuma bagiku.

Saat menaiki motor dan menyalakannya, aku langsung kebut pergi dari taman itu. Hati terasa sakit, perih, dan pikiran kalut. Tak kusangka, ternyata orang yang paling dekat denganku bisa menusuk dengan kejamnya. Hhh, baru air mata menetes soal pertengkaran seperti itu, payah … mereka payah. Kenapa tega mereka lakukan ini padaku. Hmm, walaupun kalut, ku yakin … semua akan kembali baik-baik lagi, tapi saat kondisi seperti itu, aku lebih memilih untuk menyendiri … takkan ada yang bisa mengusik kesendirianku. (Depok, 07 April 2017 – Eddy Pepe)


Terima kasih telah berkunjung ke laman Bisfren dan membaca cerita selingkuh pacar dengan sahabat. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan dapat menghibur hati sobat muda sekalian. Tetaplah optimis dan semangat, meskipun pacar diambil orang, berpikirlah positif, yakinlah bahwa orang itu tidak bermaksud merebut pacar kamu tetapi takdir memang menghendaki mereka bersatu. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Eddy Putra

Penulis :

Artikel terkait