Cinta Yang Tak Pernah Kau Mulai @ Cerita Pendek Perpisahan

cerita pendek cinta tak sampai

Cerita pendek cinta tak sampai tentang dua remaja bersahabat sejak SMP tapi sang wanita tidak pernah mengetahui betapa sahabat sejatinya memendam rasa cinta kepadanya. Bagaimana akhir cerita pendek kasih tak sampai ini ? mari simak dalam cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Cinta Tak Sampai – Cinta Yang Tak Pernah Kau Mulai

Kalau bicara kata cinta, aku hanya mengenal kata itu lewat sahabatku, Sari. Dia yang selalu menemani hari-hari ku sejak SMP hingga saat ini di bangku SMA. Dia adalah gadis periang penuh ambisi yang selalu saja bisa membuatku tertarik dengan apa yang ada dalam dirinya. Mungkin dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Sahabat yang mau berbagi di saat suka dan duka. Sahabat yang selalu ringan mengulurkan tangan saat aku jatuh, dan sahabat yang selalu bergantung saat dia terluka.

Kalau mau dibukukan, mungkin sudah ribuan cerita tentang cinta yang dia bacakan kepadaku. Mulai dari cerpen mini hubungan cinta sesaatnya, cerita pendek kisah cintanya dengan temanku lainnya, bahkan berlembar-lembar cerita romantis berisi cerita duka, romantis, mesra sudah difatwakannya kepadaku. Semua itu hanya bisa kudengarkan sambil tersenyum atau membiarkannya berbaring dibahu saat dia menangis.

Dan sama seperti saat itu, kamu bercerita tentang cinta, lagi …

“Kamu mau tahu gak aku lagi pacaran sama siapa ?” katanya.

“Waah… Sama siapa lagi  ?” Aku tersenyum. Terlalu sering aku mendengar dia berpacaran.

“Tapi janji ya , jangan bilang ke siapa-siapa. Ini hanya jadi rahasia kita berdua” katanya. Hmm… seingat aku sekalipun dia bilang rahasia berdua, tapi dia sendiri yang akan mengatakan ke orang lain.

“Iya.. Perasaan aku nggak pernah deh aku sebarin rahasia kamu” jawabku mantap sambil mengangkat jari tengah dan telunjuk.

“Sama Malik, mahasiswa IKIP yang lagi tugas di sekolah kita itu lo..”

Hmm.. Aku diam mendengarnya. Minggu lalu katanya baru dapatin ketua OSIS, sekarang ganti lagi, mahasiswa. Memang harus aku akui sebagai wanita dia itu sempurna. Nyaris tanpa cacat dari ujung kuku kaki sampai ujung kepala. Tapi sebenarnya banyak juga yang cantik bahkan lebih cantik. Tapi anehnya mengapa dia yang menjadi idola. Adakah sesuatu yang istimewa yang tidak kasat mata pada dirinya, batinku.

“Halooo … ! Andri … !!  kok malah diem kayak patung kesambet” katanya sambil mengeleng-gelengkan wajah tanpa dosanya di depan wajahku. Begitu dekat. Sangat dekat sehingga hembusan nafasnya terasa pada wajahku. Dan harum aroma tubuhnya merasuk ke jiwaku. Kalau sudah seperti ini aku terpaksa menyerah. Menjawab dengan senyum seorang sahabat yang siap mendengar segala curhat.

Lalu dia bercerita tentang segala kisah baru cintanya. Tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah sebelumnya, tetapi selalu ada yang membuat dia begitu bersemangat. Dan aku dengan sabar selalu menunggu dia selesai bercerita. Karena aku selalu menyukai akhir dari setiap ceritanya, yaitu sebuang genggaman tangan erat seakan ingin menyakinkan diriku bahwa aku adalah orang paling berharga baginya sekalipun dia menyukai siapa saja. Genggaman tangan erat seorang gadis yang begitu cantik, putih, mulus dan mempesona. Genggaman yang membuat aku selalu berusaha menyenangkan hatinya dan mendengar setiap ceritanya.

Tapi mungkin itu adalah genggaman terakhir yang aku dapatkan darinya. Sejak itu dia mulai berubah dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Malik, kekasih barunya. Sepertinya dia mulai melupakan aku. Mungkin dia mulai mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari anak mahasiswa itu. Mungkin juga dia mulai merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya dan peduli pada kesetiaan sehingga harus menjaga pergaulan dari lawan jenis. Aku hanya bisa menduga, meski harus kuakui, aku mulai merasa kehilangan.

Sebulan sudah berlalu. Aku tidak lagi bisa pulang sekolah bersama dia. Menunggunya hanya menimbulkan rasa sedih dengan melihatnya berjalan bersama mahasiswa itu dan hanya berkata “Andri .. kok kamu belum pulang ? lagi nunggu siapa ?”. Sungguh menyakitkan.

Aku berubah menjadi melankolis. Aku mulai menuangkan perasaan hati dalam puisi dan cerita. Sekedar untuk melupakan dia dan pacar baru yang mungkin menjadi akhir perjalanan cintanya. Ada banyak kerinduan yang begitu menyakitkan harus aku lampiaskan. Ada segenap luka yang harus aku balut dengan basuhan tinta. Dan aku, aku harus berterima kasih kepadanya karena telah berhasil mengurai keran airmataku.

Mungkin jika dia menjauh dan aku tidak pernah melihatnya lagi, luka yang ditorehkan tidak seperih ini. Tapi kami ada di sekolah yang sama. Setiap hari kami berjumpa tapi dia seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Memang salahku tidak pernah mengungkapkan rasa cinta. Aku terlalu nyaman dengan kata sahabat. Tapi itu bukan karena aku tidak berani mengatakan cinta. Tapi aku sungguh belum mengerti cinta. Dan kata cinta yang pertama aku dengar adalah saat dia bercerita tentang pacar pertamanya, lalu yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi pantaskah jika aku tidak mengucapkan cinta ?

Hari terus berlalu, dan hari ini adalah hari perpisahan sekolah. Sungguh aku bersyukur diterima di Universitas Negeri di Jakarta, tapi aku juga sedih karena dia juga diterima disana meski berbeda fakultas. Tapi aku yakin, kampus tidak sekecil sekolah yang membuat kita setiap saat berjumpa. Di kampus setiap fakultas mungkin terpisah-pisah dan jadwal pelajarannya berbeda sehingga aku tidak perlu melihat dia. Ini adalah hari terakhir aku berada di tempat paling menyedihkan dan paling menyakitkan seumur hidup, kataku dalam hati.

“Andri ..!!” terdengar suara yang sangat kukenal memanggilku. Aku menoleh ragu. Kulihat dia mendatangiku tidak dengan wajah ceria. Dia pasti sedang dalam masalah. Dan aku tahu pasti jika wajahnya seperti itu, dia baru saja putus dengan pacarnya. Aku hanya diam. Tidak menghindar tapi juga tidak menjawab.  Aku ingin tersenyum tapi bibirku terasa beku.

“Maafkan aku …” katanya lirih. “Maafkan aku karena telah meninggalkan kamu. Maafkan aku yang lebih mementingkan pacar dibanding sahabat”. Sahabat ? huh ! seharusnya kamu tahu dari dulu bahwa aku tidak pernah ingin menjadi sahabat kamu !!. Aku ingin menjadi lebih dari sahabat !!! teriakku dalam hati. Mulutku tetap seperti dibungkam tak bisa bersuara.

“Kamu jangan pergi dari aku ya. Kita sama-sama satu kampus. Kita bisa seperti dulu lagi. Cuma kamu yang bisa mengerti aku dan menjadi sahabat sejati aku.” katanya memelas. Tangannya meraih tanganku lalu menggenggamnya. Dan aliran hangat seketika menguasai tubuhku. Masih sama, persis seperti dulu.  Bibirku jadi bisa mendesah dan tersenyum pahit. Setiap kali kata sahabat itu diucapkan, setiap kali pula ada sejuta jarum yang menusuk jantungku.

“Iya” kataku sambil menggenggam tangannya dengan dua tanganku. “Aku tidak akan meninggalkan kamu.” Kutatap matanya, lalu kupalingkan wajahku kearah seorang teman yang kebetulan melintas. “Desy, tunggu…!!! kita diterima satu fakultas kan ? nanti kita bareng ya daftar ulangnya” teriakku sambil meninggalkan Sari yang diam terpaku. “Maafkan aku .. sahabat” bisikku dalam hati.(RK)


Terima kasih telah membaca cerita pendek cinta tak sampai. Semoga cerpen cinta diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat Bisfren sekalian untuk selalu menjaga hubungan. Salam sukses buat kita semua.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait