Cinta Tak Pernah Sampai

cerpen sedih kasih tak sampai

Cerpen sedih kasih tak sampai tentang gadis yang menunggu pujaannya mengucapkan cinta tapi tak kunjung juga diucapkan. Bagaimana akhirnya ? mari simak pada cerita pendek berikut.

Cerpen Sedih Kasih Tak Sampai – Cinta Yang Tak Pernah Sampai

Angin yang bertiup semribit menerpa muka juga rambutku, membuat hatiku semakin pilu. Suasana sore yang sendu, membuat aku semakin tak berdaya. Tulang-tulangku serasa lemah tak ada tenaga. Semuanya gelap, aku sudah tidak bisa berfikir jernih lagi.

Semangatku telah hilang, mimpiku telah sirna. Semua berlalu begitu saja, saat kamu dengan langkah tegap dan mantap engkau mendatangiku. Hatiku berdegup kencang, hatiku sangat senang ketika engkau mendekat. Apalagi saat kau melempar senyummu padaku. Duh, kamu semakin cakep, ingin rasanya memelukmu, tapi itu tidak mungkin.

Kamu adalah sahabatku, sahabat yang sangat ku kagumi juga aku cintai. Tapi cinta yang tak pernah ku ungkapkan, cinta yang begitu tersimpan rapat di hatiku.

“Hai Sita !” sapamu padaku. Aku jadi salah tingkah, apalagi saat kamu mengambil tempat duduk di sampingku. Jarak kita begitu dekat, wangi tubuhmu semakin membuatku terpesona. “Hai juga.” Balasku. Ya Doni adalah teman satu kos denganku. Kamar kami bersebelahan, dia sangat baik dan sopan.

Walaupun dia sudah punya jabatan lumayan di kantornya, tapi dia tidak sombong.  Karena parasnya ganteng, sikapnya yang sopan membuatku jatuh hati padanya. Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Setiap malam aku hanya bisa berdoa semoga kami didekatkan dan berjodoh.

“Lagi sibuk apa ga kamu ?” tanya Doni membuyarkan lamunanku. “Ohhh…nggak.” Jawabku buru-buru. “Bisa kita makan malam di luar ?” Pertanyaannya sungguh mengagetkanku dan membuatku terbengong beberapa saat lamanya. “Woiii…bisa kan ?” lagi-lagi Doni mengagetkanku. Langsung aku mengiyakan.

Akhirnya aku masuk ke mobil Doni, entah kemana dia akan membawaku malam ini. Mungkinkah ini jawaban atas doaku selama ini, mungkinkah dia akan menembakku malam ini. Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam, kadang kulirik wajah Doni, dan hatiku semakin berdegup kencang.

Dan sungguh rasa ini menyiksaku, membuatku sulit bernafas, suaraku serak tertahan. Sungguh tidak nyaman, apalagi keringat dingin begitu deras keluar dari keningku. Aku mabil tisu, Doni melihatku. “Gimana AC nya kurang dingin ya ?” tanya dia. Aku menggeleng.

Akhirnya Doni menghentikan mobilnya, di depan sebuah restoran taman yang suasananya nyaman sekali. Lampu remang-remang menambah suasana menjadi romantis. Banyak kulihat pengunjung datang berpasangan. Doni lalu menggandeng tanganku masuk ke restoran itu. Hatiku semakin berdegup kencang.

Apalagi Doni mengambil tempat duduk di pojok, yang agak jauh dari meja lainnya. Praktis hanya kami berdua, dan rupanya Doni telah memesan meja ini sebelumnya. Apalagi di situ sudah tersedia banyak makanan, yang aku pikir pasti harganya sangat mahal.

Segera Doni mengajakku makan, bahkan dia melayaniku, mengambilkanku beberapa makanan, dan sedikit memaksaku untuk memakannya.

Cintaku Tak Sampai

Ingin rasanya menangis, tapi aku harus menahannya. Hatiku seketika menjadi kosong, seketika hilang. “Oooohhh…” jawabku lemah. Doni kembali tersenyum padaku. Dia mengajakku untuk menghabiskan makanan yang ada di meja. Dia begitu senang, dia begitu lahap memakan makanan itu.

Aku curi pandang padanya, aku masih bertanya, tak adakah rasa sedikitpun padaku. Setelah sekian lama aku menunggu, mungkinkah semua hanya berakhir begitu saja. Apakah selama ini dirinya hanya menganggapku sebagai sahabat saja, tidak lebih sedikitpun.

Aku masih berharap, nanti pasti dia akan mengungkapkan perasaannya padaku. Mungkin juga merasa kehilangan kalau harus berpisah denganku. Hingga akhirnya dia mengajakku pulang. Di sepanjang perjalanan, hatiku masih berharap, masih ada waktu, dia tidak mungkin meninggalkanku begitu saja.

Sampai di kost ternyata dia pamit tanpa mengatakan kata cinta

Dan akhirnya sampai juga di tempat kos. Dia tidak ikut masuk, hanya mengantarku sampai pintu gerbang. “Tidak masuk Don ?” tanyaku heran. Kepalanya menggeleng. “Tidak, besok saya harus sudah di Bandung, malam ini aku berangkat.” Sungguh sangat mengagetkanku jawabannya.

“Barang-barangmu ?” tanyaku lagi. “Sudah ku bawa kemarin.” Lalu dia pamit, masuk mobil lalu pergi begitu saja. Dan akhirnya malam itu dia benar-benar pergi, tanpa ada sepatah katapun terucap darinya. Dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.

Malam ini semua berakhir begitu saja. Cinta yang selama ini ku pendam, hancur seketika. Sepeninggalnya, aku hanya bisa tenggelam dalam kubangan air mata. Cinta yang ku pupuk akhirnya sia-sia dan diriku harus menerimanya. Tulang-tulangku tak ada daya, darahku berhenti mengalir. Dunia serasa berhenti berputar seketika itu juga, anginpun enggan bertiup. (AF)


Terima kasih telah membaca cerpen sedih kasih tak sampai.  Semoga cerita cinta diatas dapat memberi motivasi sekaligus inspirasi bagi sobat Bisfren untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Salam sukses untuk kita semua.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait