Cinta Yang Ternoda

cerita selingkuh suami

Cinta yang ternoda tentang cerita selingkuh suami dengan alasan lembur di kantor karena banyak pekerjaan, karena sering, istrinya curiga lalu menyelidiki. Akankah sang istri memaafkan dan menerimanya kembali ? Simak selengkapnya pada cerpen perselingkuhan berikut.

Cerita Selingkuh Suami – Cinta Yang Ternoda

Matahari sudah mulai menyembunyikan diri. Gelap menyelimuti bumi, sinar mentari berganti sinar penerangan lampu dari listrik. Suara adzan Maghrib berkumandang. Segera aku berkemas hendak ke masjid, dan anak-anak kuajak serta.

Si Sulung Adi sudah remaja, sekarang sudah kelas dua SMP, sedang si tengah Dinda juga sudah menginjak remaja, sekarang sudah kelas enam SD. Sementara si bungsu Rafi baru umur lima tahun, sudah sekolah di TK.

“Mah, Ayah kok belum pulang ya Mah ?” tanya Dinda setelah kami pulang dari masjid.

“Mungkin Papah masih banyak kerjaan di kantor.” Jawabku, lalu menyuruh anak-anak untuk belajar.

Sampai waktu sholat Isya berlalu, tapi mas Arya belum juga pulang. Entah mengapa hatiku menjadi khawatir. Apalagi saat kuhubungi HP nya tidak juga aktif. Anak-anak kulihat juga gelisah. Lalu aku mencoba telepon ke kantor, tapi kata satpam kantor sudah sepi.

Dan aku mencoba telepon Mas Dimas teman kerja Mas Arya. “Maaf Mas ? Apa tahu dimana suami saya ? Karena sampai sekarang belum pulang, dan HP nya saya hubungi tidak aktif.” Tanyaku. Tapi rupanya Mas Dimas juga tidak tahu keberadaan suamiku.

Waktu sudah menunjuk pukul 8, tapi tak juga ada kabar dari suamiku. “Mah, Papah belum ada kabar ya ?” tanya Adi. Aku mengangguk, “Sudah kalian makan dulu ya, nggak usah nunggu Papah.” Aku kasihan sama anak-anak karena dari tadi menunggu Papahnya untuk makan malam bersama. Biasanya kami memang selalu makan malam bersama, dan itu selalu kami lakukan bersama-sama.

Sambil menunggu Mas Arya aku menemani mereka makan. Selesai makan mereka masih ikut menunggu kedatangan Papahnya sambil melihat TV. Dalam hatiku, aku merasa khawatir. Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengan Mas Arya.

Dan tak terasa, waktu sudah menunjuk pukul sepuluh, dan anak-anak sudah tertidur di depan TV. Lalu aku bangunkan Adi dan Dinda untuk pindah ke kamar, dan aku bopong Rafi pindah ke tempat tidur di dalam kamar. Lampu aku matikan, dan aku masih menunggu mas Arya di depan TV. Hingga akhirnya mataku sudah tidak tahan untuk terpejam.

Dan sampai pagi ternyata mas Arya belum juga pulang, sampai anak-anak terbangun menanyakan Papahnya. Aku jawab apa adanya kalau Papahnya belum pulang. Ya Allah kemana sih Mas Arya. Setelah anak-anak berangkat sekolah, aku mencoba menghubungi HP mas Arya, tapi masih juga tidak aktif.

Lalu aku mencoba menghubungi Mas Dimas. Betapa terkejutnya aku, karena Mas Arya sudah di kantor. Lalu kemana semalam mas Arya pulang. Saat aku pengin bicara sama Mas Arya melalui HP mas Dimas, tapi mas Arya menolak dengan alasan masih sibuk.

Ya sudah mungkin mas Arya memang benar-benar masih sibuk. Tapi tak bisa kupungkiri, hatiku masih bertanya-tanya kemana mas Arya kemarin malam pulang. Aku mencoba menepis rasa penasaranku.

Dan sampai sore saat waktunya mas Arya pulang, dia tidak juga muncul. Anak-anak sudah menunggu, mereka tampak sangat berharap Papahnya datang. Ternyata sampai Maghrib, Isya dan larut malam sampai mereka tertidur Papahnya tidak juga muncul. Aku kasihan dengan anak-anak. Tak terasa air mataku menetes, aku merasa ada yang aneh dengan suamiku.

HP suamiku setiap kali aku hubungi selalu tidak aktif. Ada apa ini, semakin aneh saja tingkah suamiku. Apa yang membuatnya begini. Paginya aku memutuskan untuk ke kantor mas Arya, siapa tahu aku bisa bertemu dengannya.

Rupanya aku datang ke kantor itu kepagian. Sama satpam aku suruh menunggu di pos satpam. Satu per satu karyawan berdatangan. Dan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat suamiku turun dari sebuah mobil mewah, dan ketika turun MasyaAllah kulihat suamiku mencium pipi wanita cantik yang ada di malam mobil.

Pak Roni, satpam yang ada di ruangan satpam bersamaku, ikut memperhatikanku. Ya Allah, rupanya ini yang membuat suamiku tidak pulang ke rumah. Tak terasa air mataku menetes, hatiku seketika hancur. “Yang sabar ya Bu.” Kata Pak Roni padaku.

Aku segera menghapus airmataku. “Siapa yang bersama suami saya Pak ?” tanyaku dengan pelan. “Itu Bu Rina Bu, dia salah satu bos disini.” “Lalu ada hubungan apa dengan suami saya ?” tanyaku lagi. “Maaf, mereka pacaran Bu”. Bagai petir di siang bolong, yang sekali menyambar langsung menghempaskanku, jatuh, sakit sekali.

“Sudah lama Pak ?” tanyaku lagi dengan air mata yang deras mengalir. Sebenarnya aku sudah menghapusnya, tapi tak juga aku bisa menahannya. Pak Roni kulihat tidak tega melihatku. “Iya sudah lama Bu.” Jawab Pak Roni hati-hati. Sekali. “Maaf, saya pesankan teh ya Bu ?” tanya Pak Roni mengkhawatirkan kondisiku.

“Nggak usah Pak, saya pulang saja.” Jawabku. Lalu kuhapus airmataku, aku harus kuat. Aku pamit pulang sama Pak Roni. Ketika aku keluar dari ruang satpam, kebetulan aku berpapasan dengan Mas Dimas.

“Mira, ada apa denganmu ?” tanya Mas Dimas. Mas Dimas adalah sahabat suami sejak kuliah. Aku kebetulan dulu adik kelas mereka, sehingga kami kenal dekat. Dia melihatku, tampaknya dia kasihan melihatku. “Maaf, saya mau pulang Mas.” Kataku sambil berjalan ke pinggir jalan untuk mencegat angkot.

“Maaf, Mira, apa kamu tadi melihat suamimu ?” tanya Mas Dimas padaku. Aku hanya menggangguk sambil mengalihkan pandangan ke arah jalan, siapa tahu ada angkot yang lewat. “Kamu tidak menemui Arya dulu ?” tanya Mas Dimas. “Nggak usah Mas.” Jawabku dengan berat. Bayangan tadi masih terpampang jelas, rasanya masih belum percaya kalau itu tadi Mas Arya, suamiku.

Mas, kamu tega sekali mengkhianati cinta kita. “Mir, kamu mau aku antar ke rumah?” tanya Mas Dimas tampak mengkhawatirkanku. Apalagi melihatku berkali-kali mengusap air mata yang terus saja mengalir. Sebenarnya aku malu sekali dengan keadaanku, menangis di pinggir jalan. “Nggak usah Mas.” jawabku, dan beruntung sebentar kemudian ada angkot yang lewat.

Sampai di rumah, aku langsung ke kamar, aku lampiaskan kekecewaanku. Di kamar aku bisa menangis sepuasnya. Masih teringat jelas diingatanku saat kami menikah, dan berjanji untuk setia sehidup semati. Hingga akhirnya lahir anak kami yang pertama, kedua dan ketiga. Semua membuat keluarga kami bahagia.

Suami melarangku untuk bekerja, dia hanya ingin aku merawat anak-anak di rumah. Praktis ilmu kuliahku tidak pernah terpakai. Aku bahagia menjalani hari-hariku merawat anak-anak di rumah. Apalagi mas Arya suami yang sangat baik dan pengertian.

Dan pagi ini tadi seketika semua hancur sia-sia. Gambaran Mas Arya yang baik dan sangat menyanyangi kami seketika hilang saat aku melihat Mas Arya mencium pipi wanita itu. Hatiku terasa sesak, mataku seketika membengkak merah.

Sampai kemudian Rafi, si bungsu pulang dari sekolah. Dia heran mendapatiku berbaring di kamar. “Mah, Rafi pulang. Mamah sakit ya Mah ?” kata Rafi di dekat ranjang. “Iya Nak.” Jawabku pelan sambil menyembunyikan mukaku di balik bantal, aku masih tengkurap. “Mah, kok Rafi nggak di peluk ? Mamah sakit ya ?” “Iya Nak.” Jawabku, aku tidak ingin Rafi tahu kalau aku menangis.

“Rafi ganti baju sendiri ya Nak, Mamah sedang nggak enak badan.” Kataku. Beruntung Rafi tidak rewel. Sebentar kemudian, dia menyusulku di tempat tidur, lalu merebahkan badannya di sampingku sambil memelukku. Aku peluk Rafi erat, ingin rasanya menangis lagi, tapi aku tidak ingin Rafi melihat airmataku.

Begitu juga Adi dan Dinda, mereka menemaniku di tempat tidur, kami tidur berempat. Sepertinya mereka ikut merasakan kesedihanku.

Dan sore harinya tak kusangka Mas Arya pulang. Anak-anak begitu gembira menyambutnya, mungkin mereka sangat merindukan Papahnya. Seperti biasa, aku mencium tangan suamiku, lalu membantu melepaskan baju dan sepatunya. Setelah itu aku menyiapkan minum juga perlengkapan buat suami mandi.

Suamiku bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan dia tidak juga menyampaikan alasan dia tidak pulang ke rumah. Hingga akhirnya Dinda bertanya. ” Papah kok nggak pulang sih ? Tuh, Mamah sampai sakit.” Mas Arya tersenyum, dan herannya dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. “Paling Mamah kangen tuh sama Papah.” Mas Arya menggodaku, anak-anak ikut tertawa.

Biasanya aku juga ikut tersenyum, tapi kali ini tidak, aku merasa berat untuk tersenyum. Dalam hatiku, aku sangat kecewa dengan kebohongan juga kepalsuan suamiku. Akhirnya aku meminta ijin untuk ke kamar, tiba-tiba aku merasa pusing sekali.

Setelah mandi suamiku menyusulku ke kamar. “Mah, pijitin Papah dong Mah.” Biasanya setiap pulang dari kantor aku memang biasa memijat suamiku. Dan akhirnya aku memijat punggung suamiku. Dan tak terasa, selama memijit air mataku keluar dan jatuh membasahi punggung suamiku. Sampai berapa lama, suamiku tak merasakan, hingga akhirnya dia menoleh.

“Mamah menangis?” tanya suamiku. Dan aku tak kuasa lagi menahan airmataku. Aku menangis tersedu-sedu di hadapan suamiku.

“Mamah kenapa?” Suamiku mengusap air mataku. “Pah, Mamah minta maaf ya, kalau selama ini Mamah melayani Papah kurang baik.” Kataku sambil bersimpuh di hadapannya. Aku peluk kaki suamiku. Aku sangat tidak ingin kehilangan suamiku.

Suami membangunkanku, lalu memelukku. “Kenapa Mamah berkata seperti ini ?” tanya suamiku. “Maaf Pah, tadi Mamah pagi ke kantor Papah, ingin mencari Papah, dan Mamah melihat Papah mencium pipi Bu Rina, hati Mamah hancur Pah.” Ceritaku dengan tersedu.

Tak kusangka, suamiku memelukku semakin erat, dan dia menangis di pelukanku. Lalu dia bersimpuh di depanku. “Mamah, maafkan Papah…” tangisnya semakin menjadi. Dia mencium tanganku.   “Maaf semua ini salah Papah.” Aku hanya terdiam, melihat orang yang aku cintai, sayangi bersimpuh di depanku memohon maaf. Orang yang aku cintai, telah menodai cinta kami.

Suamiku bercerita, kalau Bu Rina bos di kantornya mencintai Mas Arya. Akhirnya Bu Rina mengancam suami, jika dia tidak terima cinta Bu Rina, suami akan diberhentikan. Akhirnya demi keberlangsungan hidup keluarga kami , suami memutuskan untuk menerima cinta Bu Rina.

Suami masih menangis di hadapanku, dia sangat menyesali perbuatannya. “Kuharap Mamah memaafkan Papah, dan Papah janji akan memperbaiki kesalahan Papah.” Aku tidak tega melihat orang yang aku sayangi bersedih, walau dengan sedikit berat akhirnya aku maafkan suamiku.

Berdua kami menghadap Bu Rina. Bu Rina sangat terkejut melihat kedatangan kami berdua.   Di hadapannya, suami menjelaskan ingin keluar dari pekerjaan. Bu Rina semakin terkejut, apalagi di hadapanku suami memutuskan hubungannya dengan Bu Rina. Ku lihat Bu Rina menangis dan memohon-mohon suamiku untuk mengurungkan niatnya. Tak kusangka di meronta-ronta seperti anak kecil.

Lalu suamiku segera mengajakku keluar, sementara Bu Rina masih memanggil-manggil suamiku. Dia tidak peduli jadi tontonan anak buahnya. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan wanita itu.

“Pah, kenapa Papah tidak menikahinya ?” tanyaku. “Hushhh…kamu bilang apa. Bagiku kamu sedah menerimaku lagi saja aku sudah sangat senang.” Aku tersenyum, suamiku memelukku.

Walaupun habis ini keluarga kami harus mulai lagi dari nol. Suamiku harus cari kerja lagi untuk menafkahi keluarga kami. Dan akhirnya kami membuka warung es di depan rumah.Anak-anak juga gembira, kadang saat pembeli banyak, mereka ikut membantu.

Dan cinta yang sempat ternodai, dengan cinta pula kami berusaha menghapusnya. Aku terharu melihat suami tidak risih berjualan es, setelah sebelumnya bekerja kantoran. Semoga ini jadi berkah bagi keluarga kami.(AF)


Terima kasih telah membaca cerita selingkuh suami sibuk kerja lembur di kantor sampai pagi. Semoga cerpen perselingkuhan diatas bermanfaat bagi sobat pemirsa Bisfren sekalian serta menjadi motivasi dan inspirasi untuk membina hubungan lebih baik dengan pasangan.  Salam sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait