Cerita Curhat Nyata : Cinta Yang Ternodai

cerita curhat nyata cinta yang ternodai

Cinta yang ternodai merupakan cerita curhat kisah hidup nyata tentang seorang anak gadis broken home. Dia mencintai seorang lelaki namun ditinggalkan setelah menyerahkan kesuciannya. Bagaimana kisah curhatnya ? siahkan simak pada cerpen berikut

Cerita Curhat Nyata

Rintik air hujan menyadarkan aku dari lamunan silam ku. Dimana hidupku diawali dengan kehancuran. Nama ku Anitha Saputi, biasa mereka menyapa ku dengan panggilan Nitha. Ini kisah hidupku yang hanya dapat aku torehkan melalui pena dan air mata.

Aku terlahir dari seorang ibu berhati dewi. Dan seorang ayah berhati ksatria. Harusnya diriku menjadi seorang putri bahagia, namun Tuhan berkata lain tentang hidupku. Ibu dan ayahku bercerai saat diriku masih kecil. Lalu mereka memutuskan untuk menikah lagi dengan pasangan masing-masing.

Disitulah awal kehanduran hidupku. Diriku tak lagi mendapat kasih sayang utuh dari seorang ayah, sedang ibuku sibuk mencari nafkah untuk kehidupan kami. Diriku selalu mencari kasih sayang dalam malamku, kasih sayang yang hilang pergi dari hidupku.

Ayah, inilah aku. Hidup disini tanpa sentuh lembut tanganmu lagi. Mengapa kau mudah melepas kami, jika memang diantara kalian tak lagi ada cinta, setidaknya ada diriku ayah, putrimu.  Pertanyaan-pertanyaan itu selalu datang dalam malam-malamku, pertanyaan tak dapat ku ungkapkan namun selalu menghantui.

Malam itu ibu membuatkan secangkit teh hangat untukku, untuk menemani malamku. “Nitha sayang”.  “Iya mama”. “Nitha belum tidur ?”. “Belum ma, rasanya hatiku rindu pada ayah, apa mungkin ayah rindu padaku ?”. “Ayah pasti rindu padamu sayang, hanya saja dia tak dapat mengungkapkannya”. “Mama kenapa belum tidur ?”. “Mama belum ngantuk”. “Mama bohong ! Mama pasti lelah, seharian kerja”. “Tidak sayang, rasa lelah mama terbayar lunas, ketika mama melihatmu tersenyum”. “Nitha sayang mama”. Percakapan malam itupun terlewat ketika ragaku terlelap diatas pangkuan ibuku.

Sejak tamat sekolah hidupku tidak menetap. Kadang di rumah nenek, di rumah paman, di rumah kakak sepupu, dan kali ini aku ikut ibuku hidup di Jakarta, bersama suaminya dan saudari tiriku. Kehidupanku terasa pahit getir, tak ada rasa manis madu.

Roda roda kehidupan memaksaku untuk terbang mencari kebutuhan hidup. Walau aku akui diriku sebenarnya tak perlu kerja keras untuk mendapatkan yang aku mau. Karena ibuku sayang padaku, walau hidup kami sederhana. Dengan sayap mungil ini diriku terbang menuju kota Bandung, kota yang indah untukku. Suasana baru, teman-teman baru. Disini kurasakan benar benar menjadi Anitha Saputri.

Awal cinta yang ternoda

Berawal perkenalan singkatku pada seorang pemuda yang sejak awal perkenalan bagiku terlihat baik. Sebut saja Briyan. Pemuda Bandung, orang sukses mapan dan tampan. Kalau kata orang tua menantu idaman.

Seperti perkenalan pada umumnya, kami menjadi teman cerita curhat, teman nongkrong dan teman jalan. Tidak pernah terfikir dalam benakku jika pria semapan dirinya mencintaiku. Namun pada kenyataannya dia menyatakan cinta padaku. Kamipun menjalani kisah dengan sangat indah, hari-hariku berwarna penuh cinta, rasanya ingin hidup 1000 tahun lagi untuk bersamanya. Seakan tiada kebohongan diantara kita. Semuanya baik-baik saja bahkan aku berkhayal kelak akan menjadi menjadi nyonya Briyan lalu mempunyai putra-putri lucu.

Satu kejadian saat kami pulang dari makan malam, hujan malam itu mengguyur kota Bandung dengan dahsyatnya. Terpaksa Briyan bermalam di rumah kontrakanku.  Awalnya kami hanya menikmati satu cangkir teh berdua, namun alunan musik membuat suasana menjadi berbeda. Kami sama-sama terbuai dalam madu-madu asmara, hingga akhirnya madu tersebut ku berikan kepada Briyan orang yang ku sayang. Kami menikmati manis madu di bawah derasnya hujan. Hingga akhirnya diriku tersadar, cinta telah ternoda, akupun menangis, namun layaknya lelaki sejati Briyan mampu meyakinkan diriku bahwa dirinya akan menikahiku. Sementara diriku sebagai bunga baru saja mekar, belum paham dunia luar, begitu saja memberi kepercayaan padanya. Waktu berjalan cepat setelahnya. Semuanya kurasakan baik baik saja. Kami semakin mesra layaknya pengantin baru.

Namun suatu ketika kami bertengkar hingga membuat emosi Briyan tak terkendali. Mulutnya berteriak dengan lantang dihadapanku (baca : mengapa orang berteriak saat marah). Tak pernah kulihat dirinya semarah itu selama kami bersama. Entah karena apa kami jadi marah diluar terkendali. Akhirnya diriku hanya diam dengan air mataku, sementara Briyan terus bersama emosi tak terkendali.

Malam usai pertengkaran hatiku terasa sangat hening. Seperti saat pertama kali ku dengar kata cerai dari ayah dan ibuku. Kejadian malam itu sama persis sebagaimana ku rasakan pada perpisahan keluargaku di masa silam. Diriku dengan sejuta kecewa dan luka. Terdampar tak berdaya dalam lautan asmara menyiksa hati.

Malam itu Briyan pergi dan tidak pernah kembali dengan membawa semua janji manisnya. Dia pergi membawa sejuta harapanku, sementara diriku masih disini di tempat sama untuk hati yang sama. Semua khayalan-khayalan indah mulai sirna. Madu madu cinta pernah kami teguk bersama menjadi buih-buih racun siap membunuh siapa saja. Rasa rindu menjadi dendam tak dapat ku padamkan. Rasa cinta menjadi benci tak pernah ku mengerti. Cintaku telah ternoda, bagai bunga kini tubuhku telah layu tidak bersari.

Siang ini ku tinggalkan kota Bandung dengan penuh kehancuran. Aku kembali ke Jakarta dimana tempat ternyamanku bersama dewi hatiku, dialah ibuku. Sampai di Jakarta ibu terkejut dengan kehadiranku. Wajahku pucat layaknya mayat. Badanku layu seakan tak ada lagi kehidupan. Mataku menghitam layaknya dewi kematian.

“Ya Tuhan…. Nitha !”  teriak ibu. “Kamu kenapa sayang !?. Kamu kenapa nak ? Apa yang terjadi ?”.

“Aku baik baik saja bu. Aku lelah bolehkan diriku terlelap di pangkuanmu ?”

“Kemarilah sayang. Kemari”

Aku hanya menangis di atas pangkuan ibu. Dan hati ku selalu bergejolak, inikah hidup ku inikah takdirku, hancur sudah semua nya tiada yang tersisa. Dimana ayah ? ayah inilah aku putri kecilmu yang tak pernah tau apa itu kehidupan.

3 bulan berlalu sejak pergi dari kota Bandung. Kembali ikut ibu di Jakarta. Setidaknya keramaian Jakarta membuatku sedikit mampu melupakan luka-lukaku, di tambah kehadiran Riyan, teman satu komplekku, yang ku tahu dirinya menyukaiku. Karena Riyan pula diriku mulai dapat melupakan Briyan, seseorang yang pernah menjadi terindah namun juga menjadi pisau kehancuranku.

Kasih sayang Riyan dan perhatiannya mampu menyita hatiku. Namun hatiku selalu takut  melangkah karena diriku hanyalah setangkai mawar tidak bersari. Siapapun kamu yang akan menjadi suamiku suatu saat nanti, cintailah diriku dengan segala kekuranganku, maka akan ku habiskan cintaku hanya untukmu.

Kisah hidup adik tersayang ku.

By Wahdaniyah

Dibagikan

Eva Wahdaniyah

Penulis :

You may also like