Citra

“Ayah, kalau sudah besar nanti aku kan ceritakan semua kesedihan ayah pada mereka, biar ayah tidak kesepian lagi….” kata anakku yang kuberi nama citra.

Cerpen Mini Kehidupan : Citra

Citra adalah seorang periang, walau warnanya kelabu, dia penuh dengan rasa ingin tahu sehingga dia mencoba (banyak) hal baru yang mungkin tidak dilakukan oleh saudarinya. Dia berbeda dari segala sisi, latar belakang, warna, raut wajah yang ada, jerawat yang senantiasa ada sedangkan yang lain jauh sekali dengan citra yang wajahnya halus tak ada jerawatnya, raut wajah yang jelas dan menegaskan, dan latar belakang yang hampir sama semua, terkcuali citra. Dibanding citra, saudara – saudaranya sangat menjalani kata – kata dari para pengkhotbah, sedangkan dia, dia hanya main – main, tak mendegarkan dengan seksama, dia lebih suka melihat saudara – saudarnya mendengarkan pengkhotbah berceramah. Aku tanyakan pada citra “ mengapa kau tak mendengarkan dua penceramah itu nak? Padahal mereka yang akan membimbingmu kelak? “ citra tetiba berhenti melihat saudarinya dan melihat mataku dengan tajam sambil berkata “ aku tak suka mereka yah, mereka membosankan” kata citra sambil mengerutkan dahinya, “ Ini kan demi masa depanmu citra? Nanti bagaimana kamu tahu sesuatu sedangkan kamu saja tidak mendengarkan yang memberitahu?”, citra hanya terdiam tak bisa membalas pertanyaanku, matanya langsung melirik saudarinya yang tepat disebelahnya

Dia lahir ketika panasnya sore hari antara jam empat sampai jam lima. Aku samar – samar mengingatnya. Ibunya meninggal ketika melahirkan dia karena kehabisan darah ketika akan mengangkat citra. Maklum dia lahir secara premature darahnya kemana – kemana seakan di wajah citra masi berbekas, aku tak tahu mungkin itu hanya ilusi ku saja. Dendam? Ah tidak juga, mungkin karena aku berusaha untuk memaknainya lebih dalam, pernah seorang teman mengatakan, tapi (hampir) semua penulis adalah pembaca, yang memang dikutuk untuk paham apa yang ditulis. Dan kutukan selanjutnya, membuat orang paham, tentang yg ditulis. Dan kita adalah para penulis sejarah untuk hidup kita yang kelak akan diturunkan pada seseorang, seorang anak, anaku, citra

Saudarinya dengan anggun menari, bersama pena dipelukannya, mencatatkan setiap detil persis, apa yang dikatakan si penceramah, dua bersaudara yang mungkin hubungannya tidak begitu erat tapi mereka bersaudara. “ yah berarti kalau aku mendengarkan penceramah itu dengan khusyuk, berarti aku harus juga mencatat setiap kalimat ataupun kata dari si penceramah dong yah?” kata citra, “ ya iya, namanya aja mencatat dari guru, ya harus diserap semaksimal mungkin dong citra, dua orang didepanmu itu udah terbukti, karena mereka lebih sempurna darimu”, “ kok bisa lebih sempurna yah?”, jadi gini, citra “ orang yang didepanmu itu bisa melihat kesegala sisi, entah disampingnya, entah dibelakangnya, entah di kanan – kirinya, entah di serong kananya, dia bisa melihat sekitarnya cit, enggak kayak kamu yang cuma bisa melihat dari sau sisi saja toh Tuhan Cuma beri kamu satu mata, kamu harus syukuri itu cit”, “ya tapi yah? Aku juga mau seperti itu yah, tolong buain aku mata lagi dong yah, agar aku bisa kayak si penceramah itu” dengan penuh harap citra mengatakan itu. Aku mendadak kebingungan, aku tak ada kuasa untuk itu, “kamu mau mata lagi cit? Kamu harus berdoa sama Tuhan agar kamu diberi mata biar bisa melihat lebih di sekitarmu, biar kamu bisa jadi kayak dua penceramah itu, yuk cit kita berdoa, ayah bantu mengaminkan”, “horeee makasihh ayaahh” teriak citra gembira dan senang. Lalu kami berdua menadahkan tangan ke langit, citra berdoa dengan lantang dan aku mengamini dengan suara lirih walau aku tau itu sangat mustahil terjadi

Semakin lama citra semakin dalam, dalam ketika menunggu mata dari Tuhan yang tak kunjung datang. Harapan dia perlahan pupus terkena asam panas yang mampu melelehkan platina. Semakin dalam, dalam, dalam, … dal … am … dalam … dalam.

Dan ketika dia mulai tersadar, tersadar karena kedalamannya, ada sesuatu yang disadari citra. Dia ada karena untuk sesuatu, dia ada karena sebuah peran, peran yang menurut dia kalau dia tidak ada maka dunia yang sekarang dipijakinya akan menjadi berantakan

Beberapa waktu berlalu, citra kini sudah besar. Buruk rupanya seperti dugaanku, tak seperti saudarinya yang sangat cantik dan enak dipandang parasnya. Warnanya masih kelabu, walau citra tidak pernah bersedih. “Yah, aku sudah tau yah kenapa citra seperti ini” kata citra, mungkin karena rupanya yang tidak menawan pikirku, aku tak tega melihatnya, saudarinya pun terlihat seaakan menolak kehadiran citra. “ Tapi citra enggak apa kok yah, kan dua penceramah itu pernah bilang sama citra begini yah, semua yang ada di dunia pasti memiliki perannya masing – masing, entah perannya adalah membuat mereka semua terlihat cantik walau harus mengorbankan diri sendiri, semua itu terangkum dalam suatu kisah atau cerita, cerita yang terangkai tiada pernah berkata akan makna , tentang perjalanan panjang yang senantiasa ada”

Dibagikan

Hafid Kurnia

Penulis :

Artikel terkait