Diam dalam Jeda

cerpen mini romantis diam dalam jeda

Sebuah cerpen mini romantis menyerupai puisi dari pengalaman penulis saat dia dan pacarnya sama-sama diam, sama-sama tidak berbicara. Biasa kan orang pacaran atau orang ngobrol, gak harus marahan, tapi memang tiba-tiba saja diam keduanya terdiam. Kalau anak-anak jaman dulu bilang “ada setan lewat” :).

Cerpen mini romantis : Diam dalam jeda

Entah sudah berapa kali mereka bertemu. Di tempat yang sama. Di nomor meja yang sama. Di hadapan latar kafe yang sama. Berdua, mendiskusikan buku. Hingga kafe tutup. Mulanya.

Entah sejak kapan pula, topik pembicaraan mereka bukan hanya seputar buku. Kini mereka pun membicarakan pernikahan. Bukan hanya sekedar gagasan, melainkan sebuah rencana. Rencana yang telah mereka sepakati bersama.

Ada satu hal yang tidak pernah bisa mereka hilangkan sedari awal pertemuan dulu. Atau mungkin mereka tak pernah menyadari. Bahwa ada jeda dalam percakapan. Ada diam yang menggantung, mengayunkan pendulum yang akan berhenti sebagai tanda dimulainya kembali sebuah percakapan (baca cerpen mini romantis : saat aku ternodai).

Biasanya jeda tercipta saat Fhira, nama perempuan itu, sibuk di hadapan layar telepon genggamnya. Sang laki-laki tak pernah sekalipun menyuarakan protesnya, karena memang tak pernah ia mempermasalahkan hal itu. Ia tahu betul profesi Fhira sebagai mahasiswi koas menuntutnya untuk selalu memahami dinamika rutinitasnya. Justru, itulah saatnya bagi sang laki-laki menikmati diam.

Dalam menunggunya, ia menatap Fhira, sembari sesekali membaca quote yang terpajang di sepanjang dinding ataupun menatap keramaian latar pedestrian walk di balik kaca kafe. Ia mengamati ekspresi Fhira versi serius, yang menurutnya tetap lucu seperti suara-tanpa-bass yang dimiliki Fhira. Fhira yang jarang berkedip dan diam terpaku. Sesekali, laki-laki itu pun menatap jemari Fhira, untuk sekedar mengira-ira ukuran cincin yang tepat (baca cerpen mini romantis cerita sedih kan ku kubur cinta ini dihatiku).

Bukankah ketika dua orang yang memiliki niat baik melakukan pertemuan, saat diam pun hal-hal baik dapat tetap terjadi, dan niat baik baru pun tetap dapat tercipta untuk kemudian disampaikan? Ujar laki-laki itu pada dirinya sendiri saat pertama kali menghadapi momen diam di antara mereka.

Sebagaimana ia menikmati setiap percakapan yang tercipta, ia pun menikmati setiap diam yang lahir dalam jeda. Lagipula, sebelum ini ia pernah menikmati diam yang lebih lama. Saat ia jatuh cinta diam-diam pada perempuan itu. Saat bagian dari masa lalunya memutus momen pertemuan bagi keduanya. Saat ia memutuskan hanya akan mencintai dalam diam. Sebelum akhirnya, Allah menciptakan momen pengantar pertemuan yang baru.

Saat berada dalam jeda pun, terselip doa demi doa untuk setiap niat baik mereka. Agar hati tetap teguh, niat tetap lurus. Agar setiap niat baik tumbuh menjadi perbuatan baik. Agar setiap perbuatan baik menumbuhkan hal baik. Agar setiap hal baik dapat membahagiakan orang lain, entah yang sudah baik, sedang menuju baik, ataupun yang belum baik.

Diam yang bersemi tidak pernah menjadi hal yang sia-sia. Mereka telah sepakat untuk melaksanakan hal baik yang termasuk ke dalam salah satu mitsaaqan ghalidzaa. Maka sejatinya, setiap detik yang mereka lalui menuju pelaksanaannya, akan mereka isi dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan?

Diam dalam jeda, sebagaimana sebuah percakapan, selalu memberikan makna. Diam dalam jeda, sebagaimana sebuah pertemuan, selalu melukiskan senyum. Diam dalam jeda, sebagaimana sebuah diskusi, menciptakan jalan tengah bertitik terang atas segala tanya dan perbedaan.

Diam dalam jeda, di mana perasaan mereka tercipta.

Dibagikan

Merajut Pelangi

Penulis :

You may also like