Diary Sahabat

cerita anak dan remaja pendek

Diary sahabat adalah cerita anak dan remaja pendek dari kisah nyata karya Nova Arofiani untuk mengungkapkan kesedihan atas meninggalnya adik penulis. Silahkan simak cerpen anak berikut.

Cerita Anak Dan Remaja Pendek – Diary Sahabat

Dua tahun sudah kami bersahabat sejak kelas 1 SMP. Nama kami yang hampir sama membuat kami semakin dekat dan akhirnya bersahabat. Rasya dan Sasya. Namaku Rasya, sedang sahabatku Sasya. Sampai-sampai teman sekelas kami menganggap kami ini kembar. Padahal secara fisik jauh berbeda dan dari keluarga yang berbeda pula. Akhirnya kami gunakan ide “kembar” itu mejadi tanda persahabatan kami.

Suatu hari, sepulang sekolah kami mampir ke sebuah toko buku. “Aku pilih yang biru.” pintaku. “Aku pilih yang merah jambu saja.” sahutnya. “Kok gitu, katanya mau kembaran. Aku biru, kamu juga biru dong.” desakku. “Hmm. Oke, kita mabil yang biru dua.” jawabnya mengalah sambil menyerahkan dua lembar limabelas ribuan kepada bapak penjual.

Ku terima satu buku diary darinya. Kutatap diary kembar itu, berwarna biru dan bergambar Doraemon. Tokoh kartun kesukaanku juga warna favoritku. Kulihat Sasya tersenyum melihat tingkahku. Wajahnya agak pucat. Ku hanya berpikir itu karena panasnya hari ini. Kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa sebelum berpisah, aku berpesan agar sesampainya di rumah nanti kami langsung menulisi diary masing-masing. Aku yang memutuskan agar menulis tentang perasaan satu sama lain selama persahabatan ini.

Tanpa melepas seragam sekolah dan sepatu, aku langsung menuju meja belajar. Aku sibuk menuangkan perasaan bahagia, sedih, marah selama bersahabat dengan Sasya, ke dalam buku diaryku. Setelah selesai menulis, ku tekan nomor Sasya di HP ku.

“Halo, Ras.. Ada apa?” jawab Sasya dari seberang, suaranya terdengar berbeda

“Gak papa, cuma mau nanya. Gimana udah ditulis diarynya?” tanyaku

“Oh itu, maaf Ras.. Aku belum sempat nulis. Nanti pasti ku tulis kok. Tp gak bisa sekarang, ya?” balasnya dengan suara pelan. Samar-samar terdengar suara batuk dari seberang.

Tapi aku tak peduli. Kuteruskan pembicaraan kami.

“Gimana si kamu ini, kita udah janji mau langsung nulis. Aku dah selesai ni. Pokoknya besok kita tukar baca. Kalau gak, kita gak sahabatan lagi” Tutupku kesal

Esok paginya aku menunggu Sasya menjemputku seperti biasa. Namun setengah jam berlalu, yang ditunggu tak muncul-muncul juga. Dengan perasaan kesal kuputuskan berangkat sendiri saja.

Di sekolah , hingga bel tanda masuk berbunyi, yang ku tunggu masih tak menampakkan batang hidungnya. Sampai wali kelas IX masuk ke kelas.

“Selamat pagi, Anak-anak. Hari ini kelas kita tidak ada pelajaran.”

“Horee… !!” sorak seisi kelas. terkecuali aku.

“Ada berita duka dari salah satu teman kalian.” sambung wali kelas kami sontak kelas menjadi berubah hening. Raut-raut wajah berubah seratus delapan puluh derajat.

Tak sabar menunggu kelanjutan berita dari wali kelas, tiba-tiba degup jantungnya mengencang. Pikiranku tak karuan. Adakah hubungannya dengan sosok yang sedari pagi ku nanti? Tidak, jangan! Pekikku dalam hati.

“Innalillahi wa Innailaihi Roji’un. Telah meninggal dunia salah satu anggota kelas kita, Sasya Kusuma…”

“Tidak …!” potongku setengah berteriak.

Tak ku pedulikan tatapan-tatapan mata mengarahku. Ku berlari keluar kelas. Tak percaya apa yang ku dengar. Ingin ku pastikan sendiri kebenaran berita itu. Ku seret langkah kakiku menuju rumah Sasya. Sesampai di depan rumah Sasya, langkahku terhenti. Kerumunan orang memenuhi halaman rumahnya. Terparkir sebuah ambulans, ibu-ibu berkerudung hitam, wajah-wajah duka, melemaskan tubuhku.

Aku masuk ke dalam rumah Sasya.

Ruang tamu ku susuri, tak terlihat seorang pun dari keluarga Sasya.

Aku melanjutkan langkahku ke ruang keluarga. Di sudut kanan terlihat kasur lipat yang biasa kami gunakan untuk tidur bersama selepas lelah bermain.

“Di mana Sasya, tante, dan om?” Tanyaku dalam hati gelisah.

Ku arahkan pandanganku ke luar rumah, di taman yang sering aku dan Sasya gunakan membaca buku. Ada beberapa orang di sana, tenda biru, juga alir yang mengalir. Dan.. Ibu Sasya ku lihat keluar dari tenda. Apa yang dilakukannya di dalam sana ?

Ku ayunkan kaki menghampiri beliau. Namun belum sempat ku menghampiri beliau, tiba-tiba ada yang menarik lenganku pelan.

“Jangan ke sana, Dek. Jenazah sedang dimandikan. Adik tunggu saja ya di ruang keluarga dengan yang lain” ucap seorang laki-laki paruh baya menahanku.

Ku tak mengerti jenazah siapa yang sedang dimandikan.

Ku turuti saja perintahnya. Setelah menunggu beberapa menit, muncul beberapa orang yang tadi sibuk di taman. Sesosok tubuh berkain putih dibaringkan di tengah-tengah orang yang sudah duduk berkeliling. Kulihat jelas siapa sosok yang dibaringkan di depanku itu. Ku kenali wajah bersih putih itu. Senyumnya mengembang seperti yang sering kulihat, begitu akrab denganku. Tapi hatiku bergejolak, ketika ku tatap sosok itu menutup matanya. Tak lagi menatapku.

Dengan hati yang sakit, ku panggil nama si pemilik jasad tersebut.

“Sa… Sya..!!!” panggilku lemah. tak dapat ku tahan air mata, tangisku langsung meledak. Kepalaku pening dan pandanganku menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.

Aku tak kuasa mengantarnya ke pemakaman.

Terlintas wajah pucatnya, terngiang suara pelan dan lemahnya.

Kini hanya penyesalan yang menyesakkan dada atas kemarahanku, kata-kata kasar yang keluar dari mulutku. Percakapan terakhir kami di telpon tak bisa kulupakan. Aku mengutuk diriku sebagai sahabat yang tidak mengerti, tidak peduli. Di saat dia menahan sakit, aku memaksakan kehendakku padanya. Tapi apalah guna sesalku ini. Dia, Sasya, sahabatku, takkan kembali. Demam tinggi merenggut nyawanya. Merebutnya dariku !

*******

Satu tahun setelah kepergiannya, ku beranikan diri bertakziah ke makamnya dan berdo’a untuknya.

Sepulang dari makam, ku buka laci meja belajarku. Kuambil titipan terakhir dari sahabtku. Diary miliknya kubaca.

“Perjumpaan karena Allah-lah yang membuat kita bahagia. Perpisahan karena Allah pula yang membuat kita ikhlas.”

Hanya beberapa patah kata itu saja yang kutemukan di diary nya. Kubandingkan dengan milikku yang penuh dengan luapan perasaanku kepadanya. Saat dia membuatku kesal, ku membencinya. Saat dia membuatku senang, ku memujinya.

Berbeda sekali aku dengannya.

Tanpa sadar ku menitikkan air mata kembali, dan berucap, “Aku ikhlas, sahabatku.”

“Selamat jalan untuk teman adikku, Ferina Aquila, yang meninggal dunia setelah dua tahun berjuang melawan kanker ganas stadium 4 (kanker jaringan lunak) dari bulan Agustus 2011-Agustus 2013. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.”


Terima kasih telah membaca cerita anak dan remaja pendek tentang Diary Sahabat. Semoga cerpen anak dan remaja diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat pengunjung sekalian.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait