Dokter Josi

cerita romantis cinta lokasi

Dokter Josi adalah cerita romantis cinta lokasi pasien rumah sakit dengan psikiater muda ganteng saat dia dirawat karena sering tiba-tiba pingsan. Anehnya si dokter, mentang-mentang dia dokter jiwa, tiap ketemu ngasih coklat dan minuman berkolesterol tinggi padahal si cewek itu pasien rumah sakit. Ada apa ya ? yuk simak cerpen cilok berikut.

Cerita Romantis Cinta Lokasi – Dokter Josi

Berjalan-jalan di koridor rumah sakit sekarang jadi hobby baruku sejak secara resmi menjadi pasien di rumah sakit ini. Walau tak nyaman karena harus memegang tiang infus toh aku nekat saja. Sungguh membosankan jika harus diam dikamar tanpa melakukan apa-apa. Siaran di TV tak lagi menarik perhatian, berita dan filmnya itu-itu saja.

Aku merasa  baik-baik saja walau terkadang harus ku akui belakangan ini aku sering pingsan. Saat sadar tahu-tahu sudah berada di rumah sakit. Beberapa bulan terakhir ini aku sering masuk dan keluar rumah sakit. Sampai saat kemarin pingsan lagi dan kali ini harus ditahan di rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.

Aku merasa fisikku tak ada yang sakit tapi hatiku penasaran kenapa aku sering sekali pingsan belakangan ini. Di salah satu koridor rumah sakit aku berhenti di depan sebuah bangsal berjeruji, dari namanya saja ku tahu bangsal itu untuk pasien yang mengalami kelainan jiwa atau kata lainnya sakit jiwa.

Seorang dokter keluar dari sebuah ruangan tubuhnya tinggi dan berwajah tampan sekilas dia tersenyum ke arahku dan akupun membalas senyumannya. Itulah salah satu yang membuatku betah berlama-lama di rumah sakit. Dokter-dokternya kebanyakan ganteng-ganteng seperti dokter yang tadi.

Kenalan sama dokter ganteng dikasih coklat

Hahhah…. Aku tertawa dalam hati sudah sakit masih suka mata keranjang. Akhirnya langkahku menuju taman rumah sakit, disana ada beberapa orang pasien juga sedang duduk bersantai di bangku taman. Ada yang sendirian ada juga bersama keluarga mereka. Akupun duduk sendirian ketika dokter ganteng yang kulihat tadi mendekatiku.

“Halo.” Sapanya ramah.

“Ya dokter. ” balasku.

“Bosan di dalam yah ” tanyanya sambil duduk.

“Iya. ” jawabku.

“Aku juga. Mau ?” Dokter itu menyodorkan sebatang coklat Silver Queen kearahku yang langsung kuterima sembari tak lupa mengucapkan terima kasih. Dari tanda pengenalnya aku tahu dia bernama Josi pratama. Seorang psikiater. Wah masih semudah ini sudah menjadi dokter jiwa.

“Nama kamu siapa ?” tanyanya lagi.

“Yunda. ”

“Hmm namanya bagus, secantik orangnya. ”

Wuih dokter ngerayu nih, “dokter bisa aja ”

“Lho bener coba kamu bercermin, semua orang disini juga kalau aku bertanya mereka pasti akan setuju denganku.”

Aku tertawa kecil, dokter satu ini bicaranya manis banget yah.

“Sudah punya pacar ?” tanyanya lagi. Idih apa-apaan sih ni dokter nanya beginian.

“Belum. ”

“Secantik ini belum punya pacar. Wah jangan-jangan kamu orangnya tipe pemilih yah. ”

“Enggaklah dok, belum ada jodoh aja.”

“Ah kamu pasti bohong pasti banyak yang suka sama kamu tapi kamu menolak iyakan ?”

Nih dokter asal omong aja yah, tapi koq bener yah. Gak tahu juga kenapa diriku belum suka pacaran.

“Oh yah kamu sakit apa ? ” tanya dokter itu lagi.

“Belum tahu hasilnya. Baru diperiksa tadi.” jawabku lagi.

“Hmmm semoga cepat sembuh yah. ”

“Makasih dok. ”

“Ok aku masuk dulu yah, kapan-kapan kita ngobrol lagi yah. ” Josi, dokter itu beranjak pergi meninggalkanku yang terkagum-kagum. Ramah sekali dokter itu, apa karena dia seorang psikiater. Hmm koq dia bisa tahu kalau diriku pemilih sih. Tanpa sadar bibirku tersenyum dan akhirnya melangkah kembali ke ruangan. Di dalam ruangan ku dapati Farel sedang menunggu dengan wajah kuatir.

“Bandel banget sih sudah tahu lagi sakit. Kakinya di rem dulu napa. ”

Tuhkan ngomel lagi dasar cerewet, Farrel adalah sahabatku,sejak kecil kami tumbuh bersama mungkin itulah yang membuat hubungan kami dekat walau tak bisa dikatakan pacaran.

“Habis bosen sih. ”

“Makanya jangan sakit biar kamu gak di rumah sakit. ”

“Haaa… bilang aja kalau kamu gak mau kerepotan menjagaku. ” sindirku.

“Idih ngomongnya nyelekit banget siapa yang kerepotan. Malahan ku sumpahin kamu di RS terus supaya gak kemana-mana. ”

“Idih jahatnya. ”

“Abisnya… ”

Yah begitulah aku dan Farrel saling berbantah-bantahan, bertengkar, baikan lagi, diam-diaman, ribut lagi.

Keesokan harinya saat diriku ditinggal sendiri lagi karena Farrel harus kuliah, aku ngobrol lagi di taman RS dengan dokter itu. Kali ini dia membawakanku satu kotak susu ultra.

“Hmmm… sudah ada hasilnya ? ”

“Belum tahu dok, ”

“Memangnya orang tuamu kemana. ”

“Ada tapi datangnya malem, mereka kalo siang kerja. ”

“Ohh… mang temen-temen kamu gak datang nengokin kamu. ”

“Ada sih tapi sudah pada pulang. Dokter sendiri kenapa koq bisa ada disini ? ”

“Suka aja lagian pingin ngobrol sama kamu. ”

Wew… wajahku memerah dokter ini koq jujur banget yah, kayak tahu hatiku juga.

“Jujur lho suka aja melihat pasien secantik kamu. Coba kamu jadi pasien aku. ”

Wah ini sudah kelewat jujur sih, tapi hatiku malah adem aja. Wah bisa ketemu jodoh dokter kalau kayaq gini terus. Aku senyum-senyum.

“Besok ketemu lagi yah. ”

Dokter itu beranjak pergi lagi. Hampir seminggu aku ngobrol banyak hal dengan dokter itu dan diriku jadi ketagihan untik datang berlama-lama duduk ditaman hanya untuk menanti kedatangan dokter itu. Farrel yang  menelpon mau datang selalu ku tolak. Seperti hari ini aku bertemu dengan dokter itu lagi. Kali ini dia membawa biskuit Oreo, kami memakannya bersama.

“Dokter setiap hari bertugas di bangsal psikiatri yah  ? ” tanyaku iseng.

“Iya, kenapa. “

“Wah pasti sulit yah karena harus berhadapan dengan berbagai macam pasien. ”

“Iya juga sih tapi namanya dokter yah sudah menjadi tugas. ”

“Memangnya dokter gak ada pacar yah ? ”

“Laaa kan pacar aku kamu. Memangnya kamu gak mau jadi pacarku ?”

“Ih.. dokter becanda mulu. ” kami tertawa, tapi perbincangan kami terganggu saat  dokter, perawat dan beberapa petugas keamanan datang mendekati kami.

“Aduh Igun, sudah berapa kali ku bilang jangan memakai jubah dokterku. ” seorang laki-laki menghampiri Josi dan langsung membuka jubah dokternya  tepat di hadapanku. Aku melongoh.

“Iya nih dok, makanan kami juga sering hilang di kulkas pasti kerjaan Igun. Ayo ngaku . ” ujar salah satu perawat di samping dokter itu. Laki-laki yang di panggil Igun yang kutahu  bernama Josi itu menggaruk-garuk kepalanya sambil senyum-senyum.

“Bawa dia jangan biarkan lagi dia berkeliaran di luar bangsal psikiatri. Bikin repot saja. ” dua orang petugas keamanan langsung menyeret laki-laki di sampingku.

“Kita ngobrol lagi nanti yah cantik. ”

Aku semakin melongoh. Di.. dia… bukan dokter yah.

“Suster.. “panggilku pada seorang perawat yang jalan belakangan.

“Iya kenapa dek. ”

“Itu tadi ” Tunjukku melongoh.

“Oh itu , itu Igun pasien penyakit jiwa. Kasian ganteng-ganteng stress gara-gara gagal masuk sekolah kedokteran. ”

“Oh pasien penyakit jiwa. ”

“Iya dia juga suka mencuri makanan di ruangan perawat. Beberapa hari lalu coklat Silver Queen. Beberapa kotak susu Ultra dan baru-baru biscuit Oreo. Hadehhh… susah kalau ada pasien sakit jiwa. ” usai berkata begitu perawat itu langsung pergi sambil geleng-geleng kepala. Gantian aku yang terpaku di tempat tak percaya. Jadi selama ini aku ngomong sama orang gila. Waaaaaaaa… Farrelllll … !!! dan tiba-tiba saja aku kangen dengan omelan Farrel.


Terima kasih sudah membaca cerita romantis cinta lokasi di rumah sakit. Semoga cerpen lucu cinta lokasi diatas dapat menghibur dan memberi sedikit keceriaan serta membangkitkan inspirasi untuk berkarya. Salam sukses

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait