Endless Love Yang Ku Egoiskan (Persahabatan yang ku coba jadikan cinta)

cerpen persahabatan dan cinta

Endless love yang ku egoiskan adalah cerpen persahabatan dan cinta. Mereka ingin tetap menjadi sahabat selamanya tetapi mencoba mengubahnya menjadi cinta. Bagaimana kisahnya ? simak cerita pendek mini cinta berikut :

Cerpen Persahabatan Dan Cinta – Endless Love Yang Ku Egoiskan (Persahabatan yang ku coba jadikan cinta …)

Angin bertiup kencang hari ini. Rutinitas yang sering melelahkan tidak membuatku lupa untuk selalu bersyukur dengan hari baru yang Tuhan berikan. Pagi ini hadirkan senyum terbaik yang membangunkan ku dari tidur lelap malam.

“Selamat pagi Endless Love”. Sebuah SMS penyemangat hari yang membuatku terbangun lebih dini di beberapa waktu lalu. Ya, Endless Love, nama baru yang ku terima dari seseorang yang kunamakan juga Endless Love.

Dia adalah seseorang yang bersamaku sejak SD sampai hari ini. Yang sekelas denganku sampai di bangku SMU, selalu memperhatikanku dan memberi aku semangat untuk senang atau sedihku. Yang selalu mengerti diriku tanpa kukatakan apa yang sedang kurasa, selalu percaya padaku saat orang lain tidak mempercayaiku, dan selalu membelaku saat orang lain berkata salah tentangku.

Dia, ya, dia Endless Loveku.

Perasaan ini telah lama ada, namun aku selalu takut akan sebuah akhir. Bertahun-tahun ku diamkan, walau banyak kenalan, teman-teman,bahkan keluarga kami mendukung hubungan kami. Aku selalu berkata “Kami hanya sebatas sahabat”, setiap kali mereka bertanya tentang kami. Tertawa kami selalu riang saat pertanyaan-pertanyaan itu datang. Kami merasa orang-orang sedang salah melihat keakraban kami. Namun kami mengerti, wajar jika mereka sering melontarkan pertanyaan tentang kebersamaan kami.

Masih kuingat saat kecelakaan motor membuatnya terbaring lemah. Rasa kuatir dan cemas membuatku ingin segera mungkin menemuinya, namun pekerjaanku di hari itu menarik waktu hingga malam baru dapat ku kunjungi.

Melihatnya dengan perban di kepala membuatku benar-benar sedih.

“Mengapa bisa begini ?” tanyaku lirih. Dia hanya tersenyum, seolah ingin mengatakan “aku baik-baik saja, kau tak perlu kuatir, aku hanya butuh kau ada dekatku”. Ku pegang  wajahnya, meremas tangannya pelan. Ingin kukatakan “tolong, jangan buat aku takut akan sebuah kehilangan” namun kalimat itu tertahan.

Ada banyak teman kuliahnya waktu itu. Kakaknya sedang membujuknya untuk makan. Namun ia menolak karena tidak berselera. Sejak pagi ia hanya mau minum. Ku ambil mangkok bubur dari kakaknya, dengan sebuah senyum dan ajakan ku coba merayunya untuk makan. Ia pun mau.

Semua orang dalam ruangan itu seakan bersorak senang akan kehadiranku yang dapat membuatnya bersemangat dan ingin makan. Guyonan-guyonanpun datang, membuat wajah kami memerah, namun kami abaikan.

Hati kami punya sesuatu yang membuat kami semakin takut untuk terpisah.

Tahun-tahun berganti, pekerjaan membuat waktu bersama kami tersita. Aku bekerja pagi dan sore, dia berkuliah dengan jadwal yang tidak menentu. Terkadang pagi, terkadang siang atau sore. Namun kami selalu sempatkan waktu untuk bersama, walau hanya sekedar menemaninya beberapa menit saat berlatih bola kaki seminggu atau dua mingu sekali. Jika tak sempat, kami selalu berbagi waktu lewat SMS atau telepon.

Hari-hari sibuk kami semakin banyak. Hampir tak ada lagi waktu bersama. SMS atau telepon mulai jarang kami lakukan. Jikapun sempat, pertanyaan yang sering dilontarkan “Kamu sudah punya pacar?” atau “Bagaimana kabar hubungan kamu?”

Entah aku yang memulainya lebih dahulu untuk menhabiskan waktu bersama orang lain, tak pernah ada yang jujur. Egoisku yang tak ingin merusak persahabatan, membuatku selalu diamkan perasaanku .Diapun tak pernah ingin memulainya karena telah tahu jawabanku.

Seperti mengilhami kata ‘mencintai tak harus memiliki’ demikianlah kami. Kami saling mencintai namun egois untuk memiliki.

Memilih menghabiskan waktu bersama orang lain, membuat kami enggan untuk berbagi cerita tentang hubungan kami masing-masing. Entah karena kami takut rasa cemburu kami semakin besar atau memang hubungan yang kami jalani dengan yang lainnya tak menarik untuk diceritakan.

Kami hanya akan menceritakan hubungan cinta kami jika telah berakhir. Begitulah yang sering terjadi. Karena aku wanita, maka saat hubungan ku kandas, semua uneg-uneg hati, marah, kecewa, kesal, sedih ku tumpahkan semua kepadanya.

Dia layaknya pintu rumah yang selalu terbuka saat aku telah pergi jauh dan kembali. Seperti kata halo setelah ucapan selamat tinggal ku terima.

Mungkin ia telah bosan melihatku terluka dan mendengar sedihku dalam cinta yang sering kandas, tiba-tiba saja dia mengungkapkan perasaannya. Hatiku benar-benar tercabik, antara egois dan mencintainya. Namun semakin aku egois, cintaku semakin besar untuknya.

Lelah, lelah sudah aku menolaknya. Tak kuat lagi hatiku menahan rindu yang telah sekian tahun ku diamkan untuknya.

Tentang mimpi bersamanya yang tidak hanya ingin ku jadikan sahabat. Mimpi saat berjalan melewati setiap waktu pada langkah yang sama, merasa terlalu gugup untuk saling menatap, mengengam dalam jemari yang erat, melihat langit pada waktu tertawa, memeluk erat seakan esok tak lagi jumpa, lalu mencintanya seakan aku akan kehabisan waktu bersamanya.

Dan… Aku menerimanya nenjadikannya Endless Loveku tanpa sekat. Namun, di waktu yang salah.

Ia memiliki seseorang yang mencintainya dengan tulus, tapi juga mencintaku yang telah sekian lama ia diamkan. Ku paksakan jalani kisahku, namun hanya untuk seumur kecambah. Yang tak bisa kulakukan ialah menyakiti hawa kaum sesamaku.

Rasanya begitu perih, ku egoiskan lagi hatiku. Bagaimanapun keadaannya akan ku egoiskan. Aku endless Lovemu dan kau Endless Loveku walau tidak bersama.

Semoga kita dapat bertemu di kehidupan kedua, menghabiskan waktu dalam keabadian surga. Tanpa cinta pada sekat persahabatan, tanpa ruang antar rindu egois yang memisah. Mencintaimu tanpa rasa sesal, Endless Loveku.


Terima kasih telah membaca cerpen persahabatan dan cinta. Semoga cerita pendek mini cinta diatas dapat menghibur dan menginspirasi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis menjalani hidup. Tidak ada yang sulit tapi juga tidak ada yang tidak mungkin. Jadikan pengalaman sebagai guru paling berharga untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Trivonia Yanggu

Penulis :

Artikel terkait