Gadis Sejuta Senyum @ Cerpen Mini

Cerpen mini gadis sejuta senyum

Cerpen mini tentang seorang mahasiwa menyukai gadis teman kampus tak dikenalnya namun dia tidak berani berkenalan atau menyapa. Aneh tapi banyak terjadi, mungkin juga pada anda. Silahkan simak coretan penanya dalam cerita pendek mini berikut.

Cerpen Mini Gadis Sejuta Senyum

Kulihat dia berlari merambas hujan. Menggunakan setelan merah muda, warna senada dengan payungnya. Sesekali dia berhenti lalu tangannya menengadah mencoba rasakan apakah rintik hujan terlihat sama dengan deras dirasakan.  Lalu tersenyum kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelumnya kutemui dia sedang menaiki tangga terengah-engah. Kemudian kami berjumpa kembali pada kedai alat tulis penyedia jasa fotokopi di sudut kampus, terlihat dia sedang merapikan berkas-berkasnya. Tampaknya dirinya sedang terburu-buru, jari-jarinya diketukan di atas meja fotocopy seakan tak sabar menanti pekerja penjaga kedai fotocopy yang lambat melayani.  Setelah selesai, dengan wajah ketus penjaga fotocopy menyerahkan pesanannya dan semakin ketus ketika menerima uang pembayaran dari gadis tersebut.

“Gak ada uang kecil mbak ? belum ada kembaliannya.” Tak mau menerima uang pemberian si gadis. Kesal juga hatiku melihat perlakuan penjaga fotocopy itu kepada konsumen. Ingin rasanya mulutku mengumpat tetapi kutahan ketika sang gadis tersenyum seraya berkata “Gak ada mas dipegang saja dulu uangnya nanti kembaliannya saya ambil kalau sudah ada. Sekarang saya lagi buru-buru.”

Si penjaga kaget. “Jangan mbak” katanya lalu berpura mencari uang kembalian tetapi sang gadis sudah belalu begitu saja (baca juga cerpen mini hanya sahabat).

Keesokan harinya mataku melihat lagi gadis itu sedang berada di bawah jembatan penyeberangan. Kelihatannya dia sedang membagi-bagikan nasi bungkus bersama teman-temannya kepada orang-orang tua pemulung dan gelandangan disana. Sementara bibirnya masih saja penuh senyuman meski panas terik bukan kepalang  ditambah kantong kresek di tangan kanan terlihat berat saking banyaknya nasi bungkus yang dibawa, membuat keringatnya mendesak keluar dari pori-pori wajahnya

Sekali waktu pernah aku menemuinya di kantin kampus, sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Duduk tepat di bawah kipas angin sehingga kerudung dikenakannya sedikit berkibar. Ah … rupanya tak pernah dirinya menyadari kalau sedang kuamati. Sambil menyuap nasi, dia asyik mendengarkan cerita menggebu-gebu dari sahabatnya. Tampak sekali rasa antusiasnya pada cerita dari caranya menanggapi tak kalah serunya. Namun satu hal selalu saja kulihat dari ekspresi wajahnya, bibirnya selalu tersenyum.

Bahkan saat kulihat dia berjalan di parkiran sepeda motor lalu terdiam melihat parkir tak beraturan. Dihelanya nafas seperti berpikir bagaimana cara mengeluarkan motornya menggeser motor lain berkerumun malang melintang menghalangi jalan. Pastinya akan membutuhkan waktu cukup lama serta tenaga ekstra untuk melakukannya. Akan tetapi setelah bisa membebaskan motornya dari kerumunan motor-motor lain, dia tak juga segera keluar manakala dilihatnya seorang mahasiswi lain tak sekuat dirinya bersusah payah mengeluarkan motor. Tenang sekali langkahnya menuju gadis tersebut lalu membantunya. Semua dilakukannya penuh senyuman seakan dirinya memang diciptakan atau diprogram untuk menjadi penolong bagi setiap orang (baca juga cerpen mini berhenti berharap).

Kusayangi tak ada sedikitpun keberanianku untuk berkenalan secara langsung dengannya. Karisma terpancar dari wajah serta gerak tubuhnya pasti membuat hanya lelaki tertentu yang bisa mendekati. Lelaki baik dengan karisma melebihi dirinya. Sementara diriku hanyalah lelaki biasa dengan pergaulan ala-kadarnya. Bertanya  pada teman pun rasanya malu sendiri takut dianggap punguk merindukan bulan.

Dan disinilah diriku sekarang, hanya mampu mengagumi dalam hati atau sebatas melalui tulisan di media sosial dengan identitas palsu. Hanya berani memandang dari kejauhan tanpa keberanian untuk mendekat. Mungkin inilah yang dimaksud oleh kata bijak cinta tak harus memiliki. Meski hatiku belum sepenuhnya yakin, apakah rasa ini adalah cinta atau sekedar mengagumi pada gadis sejuta senyum.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait