Dua Garis Merah

cerita istri selingkuh

Dua garis merah merupakan cerita istri selingkuh dengan lelaki lain karena galau hubungannya dengan suami kurang baik. Ketika bertemu pria pengejar yang piawai menggoda dan sabar, jatuhlah dirinya dalam pelukan. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen perselingkuhan berikut :

Cerita Istri Selingkuh – Dua Garis Merah

“Aku sudah tak mencintai suamiku lagi”. Entah kalimat tersebut harus mengembirakan atau hanya sekedar mengejutkan saat terdengar dari bibir tipis wanita dihadapanku. Kepalanya menunduk saat mengucapkan menutupi kesedihan atas sekedar tidak mau memperlihatkan ekspresi asli wajahnya. Tapi hatiku tiada peduli. Berhasil mengajaknya ke kafe ini dan membuatnya mengungkapkan perasaan sudah merupakan sebuah prestasi mengagumkan tersendiri.  Bagaimana tidak, wanita tersebut, Nanda, telah memiliki suami mapan lagi tampan seakan tak bercela. Melakukan pendekatan pada Nanda butuh waktu sangat panjang serta kesabaran ekstra. Dari mulai memberi perhatian kecil, mencari tahu hobi, kebiasaan, kesukaan lalu belajar untuk menyukai hal sama hingga berpura-pura acuh. Dan yang terpenting semua harus kujalani secara natural tanpa ada kesan mengejar atau memperlihatkan rasa suka berlebihan. Dan kuyakini, untuk hal satu itu diriku tiba-tiba menjadi begitu piawai hanya untuk menjadi dekat dengan seorang Nanda.

Kuberanikan diri menjulurkan tanganku menyentuh dagunya lalu mencoba mengangkatnya agar wajahnya menatapku. Dia tak menolak. Hmmm… sepertinya mahluk satu ini sudah sepenuhnya dalam genggamanku. Tapi aku tetap tak mau gegabah, kesalahan sedikit saja bisa merusak segala daya serta usaha sudah kukerahkan. Diriku tak ingin mengacaukannya. “Kenapa ?” tanyaku.

“Ku pikir waktu akan menambah cintaku padanya. Tapi banyak cerita sedih dan senang kami lalui bersama tiada berpengaruh. Begitupun kulihat melalui matanya, tapi entahlah. Tapi, kebersamaan kami berdua tak pernah membuat nyaman sebagaimana awal pernikahan.”

“Apa membuatmu berpikir bahwa kalian sudah tak saling cinta ? bukankah pernikahanmu sudah berjalan 4 tahun ?” tanyaku dengan gaya seorang konselor. Sebenarnya beginilah caraku terakhir-terakhir setelah berhasil mencuri perhatiannya. Diriku selalu berusaha menjadi terapis masalah kejiwaan baginya.

“Diriku tidak memiliki kenyamanan juga kebutuhan yang sama lagi. Kamu tau, pernikahan kami sudah seperti kobaran api membakar sekam. Suatu saat pasti akan menghanguskan lumbung padi”

Aku terdiam menatap wajahnya yang kembali menunduk. Kusodorkan sepiring kentang goreng sejak tadi belum tersentuh. “Makanlah … siapa tahu bisa mencairkan suasana” ucapku sambil tersenyum mencoba membuatnya lebih tenang. Dan berhasil, dia menatapku sejenak lalu tertawa sambil tangannya mencomot beberapa potong kentang goreng lokal digoreng garing. Namanya saja impor “french fries” tapi disini, di jalur puncak tidak ada satupun kafe atau rumah makan lokal menggunakan kentang impor terlihat dari irisannya pendek-pendek berbeda dengan kentang impor.

Tempat dimana kami berada memang masih masuk wilayah bogor, tetapi merupakan jalan akses menuju puncak. Menyajikan pemandangan alam dengan nuansa tradisional serta letaknya juga sangat dekat dengan pintu tol Ciawi jadi cocok untuk sekedar melepas penat bila tidak punya banyak waktu untuk terus sampai ke puncak.

“Cobalah berlibur berdua, masak makanan kesukaan bersama atau lakukan hobi bersama, atau … ,” sampai disini sengaja kutahan kalimatku. Matanya menatapku. “Apa ?”, tanyanya. Kuturunkan nada suaraku, kulayangkan pandanku ke arah lain “memulai hubungan dengan orang lain” kataku sambil melirik. Nanda tersedak. Tapi dia tidak marah, malah tertawa tergelak. “Good idea !!” katanya. Oh my god. Dirinya membuatku semakin berani.

Tanpa terasa malam kian merambat, sudah jam 9 malam. Butuh setidaknya 1 jam untuk tiba kembali di Jakarta. Tapi malam Nanda tak sedikitpun terlihat gelisah ingin segera pulang. “Bagaimana kalau kita pulang, nanti suamimu menunggu”.

“Suamiku sejak kemarin tugas ke luar kota, seperti biasa sebulan dua kali. Dua hari lagi baru pulang. Aku sudah bilang mau menginap di rumah mama. Tapi malas juga sih” katanya.

“Hmmm… bagaimana kalau kita menginap di Villa ? sekaligus kamu refreshing siapa tahu pikiran kamu jadi tenang setelahnya” tawarku tanpa ragu. Hatiku meyakini kelinci sudah masuk perangkap tidak boleh dibiarkan lepas. Sekali lepas akan sulit mendapat kesempatan kedua. Meskipun belum tentu berhasil setidaknya sudah ada usaha begitu pikirku.

Nanda berpikir sejenak, lalu mengiyakan. “Tapi besok pagi-pagi sekali kita harus langsung balik ya. Ada tugas kantor belum kuselesaikan”, katanya. Akupun menyetujui, lagipula besok juga diriku harus bekerja. Segera saja kupacu Brio silver matic imut miliknya yang sebenarnya lebih cocok di jalan kota. Kalau tidak macet hatiku yakin Brio masih mampu ngacir di puncak, tapi kalau macet dalam udara panas aku tidak terlalu pede meskipun kuyakin pasti mampu nanjak merayap. Dan itulah malam pertama dimana sebuah perbuatan terlarang kami lakukan. Nanda layaknya Wildebest liar menemukan mata air di tengah gurun pasir. Hatiku meyakini itulah ekspresi keluh kesah nyata nuraninya. Pagi-pagi buta kami kembali ke Jakarta meski belum sama sekali tertidur. Lalu sore harinya kami bertemu kembali dan menginap di sebuah hotel di Jakarta. Begitu juga keesokan harinya.

Anehnya, setelah pertemuan tersebut, kami tidak lantas menjadi semakin dekat. Hubungan kami biasa-biasa saja seperti sebelumnya. Nanda sibuk dengan pekerjaannya, sementara dirikupun seperti tidak terlalu terpengaruh pada hubungan kami. Entah kenapa ? apakah hatiku merasa dia sepenuhnya adalah milik suaminya ? hatiku tidak benar-benar cinta pada Nanda atau sudah merasa puas dapat memilikinya walau hanya sekejab ? Tak ada yang berubah hingga suatu hari dua bulan setelah pertemuan kami, Nanda minta bertemu di sebuah kafe di kawasan Sudirman usai jam kerja. Akupun menyanggupi dengan hati serta pikiran penuh kotoran hitam.

Sorenya, saat sampai pada tempat dijanjikan Nanda sudah berada disana sedang duduk sendiri sambil memainkan gadget kesayangannya. Wajahnya tampak ceria dan terlihat agak gemuk. Sesekali bibirnya senyum-senyum sendiri membaca tulisan diatas layar ponsel smartphone. Sepertinya dia sedang chatting bersama teman-temannya. Sengaja tak langsung kuhampiri melainkan memesan minuman dan kue kecil terlebih dahulu lalu membawanya ke meja dimana Nanda berada.

“Hai “, kataku. “Sudah lama ?”.

“Lumayan.” Lagi-lagi Nanda tersenyum memamerkan keindahan gigi putihnya berbaris rapi pada bibir tipis merekah. Dimeja terlihat cafelatte serta muffin coklat tinggal separuh.

“Sepertinya udah duluan” ucapku sambil menggeser kursi lalu duduk dihadapannya.

“Iya, maaf. Aku cuma mau cerita. Semalam suamiku ngajak malam malam sangat romantis”.

Deeeghh otak kotorku seketika bak tersiram air hingga tuntas, tak ada lagi harapan. Tapi diriku tetap tenang. “Owh syukurlah… jadi sudah baikan sekarang ? bisa romantis-romantisan lagi. Selamat ya”.

“Iya, hatiku bahagia sekali” katanya lagi dengan tetap tersenyum sementara matanya tak berhenti menatap mataku.

“Kenapa bisa berubah ?”

Dia tidak langsung menjawab, dikeluarkannya sebuah benda berbentuk batangan dari plastik dan karton dimana terlihat ada dua garis merah. “Aku membeli ini tiga hari lalu di apotek. Kata orang garis merah ini artinya postif hamil”. Tiba-tiba aku tersedak. Entah harus bicara apa. Hatiku campur aduk. Semua pembicaraan setelahnya tak lagi mampu kutangkap dengan jelas.

= TAMAT =


Terima kasih telah membaca cerita istri selingkuh. Semoga cerpen perselingkuhan diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan berpikir positif, jadikan setiap peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait