Gendis

cerita tragis pernikahan beda agama

Cerita tragis pernikahan beda agama. Membangun rumah tangga jangan hanya dilandasi cinta karena cinta setiap saat bisa berubah. Tapi bangunlah dengan keyakinan dan keimanan, itulah yang ingin disampaikan pada cerpen ini. Rumah tangga mereka dilandasi cinta berbeda keyakinan, ketika cinta berakhir di tengah jalan, masih ada pekerjaan seumur hidup yang harus diselesaikan yaitu anak-anak. Bagaimana ketika anak mengikuti jejak emosi masa muda orang tuanya untuk menikah beda agama ? ikuti konflik menarik dari kisah dalam cerita pendek berikut :

Cerita Tragis Pernikahan Beda Agama – Gendis

Shilin  memeluk Gendis erat, dan menciuminya tanpa henti setiap kali bertemu, walau Gendis sudah berumur 19 tahun tetap saja Shilin selalu menganggap gadis itu masih berumur 6 tahun. Wajah Gendis yang walaupun tak mirip dengannya dan lebih mirip dengan papanya yang berdarah arab memang cantik dan menggemaskan dengan pipinya yang chuby.

“Mama… malu tahu di liat orang. ” Gendis mengingatkan Shilin yang akhirnya dengan berat hati melepaskan pelukan dan menghentikan ciuman sayangnya, sengaja dia pura-pura cemberut. Gendis tersenyum dan untuk menghibur hati Shilin  dia langsung menggandeng lengan Shilin. Senyum Shilin melebar diacaknya poni Gendis dan akhirnya mereka tertawa sambil melangkah bersama menyusuri pertokoan Mall.

“Tumben hari ini ngajak Mama jalan-jalan ada apa yah ? “t anya Shilin pura-pura padahal dia tahu hari ini adalah ulang tahunnya. Dan Gendis tak akan pernah melupakannya. Gendis senyum-senyum dan menarik lengan Shilin masuk kedalam salah satu butik. Shilin melotot kaget saat Gendis memilihkan sebuah syal motif anggrek dengan warna hijau dan putih yang beberapa hari lalu sempat niat dibelinya. Tapi karena kesibukannya dia jadi lupa, padahal dia suka sekali dengan motif anggrek itu. Itu memang bunga favoritnya.

“Mama pasti suka dengan syal ini. karena motifnya anggrek. Mamakan penggila bunga anggrek bulan. “Gendis meraih syal di gantungan dan melingkarkannya dileher Shilin.

“Tuh kan mama cocok banget, lagian dikantorkan dingin Mah, tenggorokan Mama juga sensitive, kena dingin dikit pasti batuk-batuk. ” sambung Gendis lagi. Shilin tertawa. “sok tahu banget deh. ”

Gendis tertawa lebar, “Ini kado ulang tahun Gendis buat Mama, walau harganya mahal dan ngabisin jajan Gendis selama 2 bulan. Tapi gak apa-apa… yang penting Mama senang. ”

Shilin menatap Gendis lucu karena gadis itu menambahkan embel-embel uang jajan. “Yakin gak nyesel beliin Mama syal ini. Dua bulan lho Gendis gak bakalan jajan. ”

Gendis menatap Shilin dengan senyum simpulnya, tersirat niat jahat disitu. Melihat senyum itu Shilin melotot, “jangan bilang …”

“Hehehe… kan ada mama yang gantiin jajan Gendis. ” sela Gendis tak berdosa. Tuh kan benerkan ? nih anak. Shilin lagi-lagi mengacak rambut Gendis, walaupun begitu tetap saja dia senang dengan perhatian Gendis padanya. Apalagi putrinya yang satu ini sangat memahami kesukaannya.

Diantara ketiga putrinya, Gendis memang yang paling dekat dengannya. Mungkin karena cuma Gendis yang menetek padanya bahkan sampai usia 4 tahun, hingga tali bathin yang terbentang diantara mereka begitu dekat tapi bukan berarti dia tidak menyayangi kedua putrinya yang lain tidak, dia merasa kasih sayangnya pada mereka bertiga tak ada berbeda dan walaupun kini dia dan papanya anak-anak sudah bercerai toh Gendis selalu mencarinya begitu juga sebaliknya.

Berbeda dengan kedua putrinya yang lain yang lebih dekat dengan papa mereka. Gendis begitu sangat terbuka padanya, jika mereka bertemu di saat-saat seperti ini, bibir putrinya yang satu ini tak pernah berhenti berceloteh ada saja yang diceritakannya tentang kesehariannya, tentang kakak dan adiknya, tentang teman-temannya bahkan tentang pacarnya.

“Gendis lagi deket sama cowok Mah, namanya Jacky udah kuliah Mah semester 6 di sastra Inggris. Orangnya baik Mah nanti Gendis kenalin ke mama. ” cerita Gendis saat akhirnya mereka menikmati makan siang di salah satu restoran favorit Gendis.

“Iya pacaran boleh saja sayang tapi ingat fokus di kuliahnya dong. ”

“Pasti dong mama, percaya sama Gendis mah. Gendis pasti buktiin ke mama kalau Gendis akan lulus kuliah. ”

“Harus dong Dis, apa gak kasian sama papa kamu. ”

“Gendis gak akan kecewain Mama.”

“Jangan cuma mama dis, papa kamu juga mama tiri kamu. ” ingat Shilin. Tapi wajah Gendis berubah cemberut .

“Papa perhatiannya cuma sama kak Lola, di mata papa cuma ada kak Lola.. ”

“Husss… gak baik ngomong gitu. Itu hanya perasaan Gendis saja. ”

“Kalau Gendis keluar kayak gini gak perna di tanyain, kadang Gendis nginap di rumah teman gak dicariin. Coba kalo kak Lola gak keliatan aja papa da bingung telpon sana sini. ”

“Itu karena Lola sudah semester akhir Dis papamu mungkin takut kalau dia gak konsent untuk ujian kelulusannya. ”

“Mamakan gak tinggal sama kami jadi gak tahu gimana keadaan didalam rumah. “kata-kata Gendis membuat hati Shilin tercekat, dia seolah disadari pada suatu hal dan itu membuat hatinya sedih. Melihat raut wajah sedih Sedih Shilin, seolah menyadari kata-katanya Gendis meraih tangan mamanya dan menggenggamnya erat.

“Maafin Gendis Mah… ”

“Gak apa-apa sayang. Ayo lanjutin makannya. ”

Hari itu dipakai Shilin untuk menghabiskan waktunya bersama Gendis, mereka jalan-jalan, belanja, makan, nonton bioskop. Padahal dia juga mengajak kedua putrinya untuk ikut merayakan ulang tahunnya hari ini sayang Lola tak bisa ikut karena persiapan maju ujian akhir di minggu ini sedangkan Nafi lagi evoria dengan teman-teman SMPnya menikmati masa puber remaja yang tak bisa dia ganggu.

Dia cukup memahami hal itu. Dia hanya menerima selamat ulang tahun lewat telpon dan pesan kedua putrinya itu dan mengabarkan kalau mereka berdua tidak bisa datang. Walau sedih tapi hatinya terhibur karena Gendis datang menemaninya.

Setiap waktu yang dilewatinya bersama ketiga putrinya selalu dinikmati dan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Shilin. Karena waktu-waktu mereka untuk bertemu sangat terbatas. Mungkin karena mereka tidak tinggal bersama, anak-anak tinggal bersama dengan papa mereka  dan tidak tinggal bersama dengannya sejak perceraian.

Tak akan dijelaskannya bagaimana itu bisa terjadi yang pasti untuk di ceritakan akan menyakiti banyak orang. Perbedaan keyakinan diantara dia dan papa mereka memang salah satu penyebab diantara sekian banyak masalah yang menyebabkan perceraian. Hingga akhirnya dia kehilangan hak asuh karena ketidak berdayaannya. Jadi bisa di bayangkan bagaimana bahagianya Shilin bisa menghabiskan waktu dengan anak-anaknya.

Setiap momen-momen kebersamaan mereka selalu di abadikan Shilin dalam kamera. Sama seperti ini juga diam-diam dia memotret Gendis saat sedang berjalan atau bicara. Terkadang Gendis protes tapi lebih banyak setuju di potret. Tahulah jaman sekarang tidak ibu tidak anak tetap doyan foto. Tapi untuk Shilin berbeda, dia memiliki koleksi foto anak-anaknya sejak kecil sampai mereka dewasa. Yah walau hanya lewat foto dia ingin mengikuti perkembangan pertumbuhan mereka walau memotret mereka dilakukannya diam-diam.

Bulan-bulan berikutnya walau dia jarang bertemu dengan putri-putrinya lagi tapi dia masih rutin menelpon mereka. Dia juga mendapat kabar dari Gendis sendiri kalau Gendis akhirnya pacaran dengan cowok bernama Jacky yang sering di ceritakannya.

Aku tahu Gendis sama keras kepalanya seperti diriku saat remaja

Walau akhirnya Gendis mengatakan kalau mereka berbeda dan Jacky memiliki keyakinan sepertinya. Dan itu menjadi kekawatiran tersendiri dalam hatinya karena dia tahu betul bagaimana sikap mantan suami dan keluarga besarnya jika tahu kalau Gendis menjalin hubungan dengan laki-laki yang berbeda keyakinan.

Tapi Gendis masih muda, masa depan Gendis masih panjang kalau cuma sekedar pacaran Shilin yakin tak akan sampai kejenjang yang lebih serius. Berbeda dengan Lola, pacar Lola memang satu keyakinan jadi Shilin tak terlalu kuatir tapi Gendis berbeda.

Beberapa bulan terlewati tak terasa hubungan Gendis dengan pacarnya sudah berjalan 6 bulan lamanya, dan Shilin selalu memantau perkembangan hubungan mereka. Sepertinya orang tua Jacky juga sudah mengetahui Gendis dan anak mereka pacaran dan  tidak melarang hubungan mereka. Apalagi Jacky sudah mengenalkan Gendis pada orang tuanya.

Shilin juga tidak keberatan karena apapun hubungan yang dijalani mereka dia hanya bisa mendukung keputusan Gendis karena pilihannya menentukan hidupnya, baik ataupun buruk  Gendislah yang akan menjalaninya. Sebagai seorang ibu dia tidak ingin bersikap egois. Tapi pemikirannya tentu sangat bertentangan dengan cara berpikir papanya Gendis. Shilin yakin sekali mantan suaminya akan sangat menentang hubungan ini kalau mengetahui pacar Gendis dari keyakinan yang berbeda.

Dan apa yang di takutkan terjadi, beberapa hari terakhir ini Shilin sering memimpikan Gendis, tidak biasa putri keduanya itu tak menelpon atau memberi kabar. Saat Shilin menelponnya no nya tidak aktif begitu juga dengan kedua putrinya yang lain. Saat Shilin menelpon mantan suami telponnya tidak diangkat-angkat. Begitu juga dengan telpon istrinya, Shilin hanya ingin mencari tahu kabar anak-anak apa mereka baik-baik saja. Diapun mencoba mengunjungi rumah mantan suami tapi selalu di tutup.

Hampir dua bulan ketika akhirnya saat mau ke kantor, di pagi itu istri  Indra mantan suami Shilin menelpon. Sita meminta Shilin untuk datang kerumah mereka yang ada di kota kedua. saat Shilin menanyakan ada apa? mereka mengatakan akan menjelaskan kalau Shilin sudah di rumah.

Pagi itu Shilin memutuskan untuk meminta ijin  tidak masuk kantor. Hanya butuh waktu dua jam saat dia tiba dirumah yang dimaksud. Sita menerima kehadirannya dengan ramah. Saat tiba mantan suaminya sudah menunggu dan kemudian menceritakan kejadian yang sudah di duga Shilin. Kalau dia sudah mengetahui hubungan Gendis dan Jacky dan dia sangat   menentang hal itu. Bahkan saking marah dan tidak suka dia memutuskan akses Gendis dengan dunia luar yaitu mengurung Gendis dan menyita ponsel putrinya itu serta tidak mengijinkan dia masuk kuliah untuk sementara waktu. Dan itu sudah berjalan sebulan ini. hingga tiba-tiba Gendis memutuskan untuk tidak makan sebagai bentuk protes pada papanya dan keluarganya.

Shilin tidak banyak komentar dia langsung meminta untuk bertemu dengan Gendis. Mungkin karena itulah mantan suaminya menelpon dia  untuk membujuk Gendis supaya makan. Pintu kamar Gendis yang dikunci dari luar akhirnya di buka. Shilin melangkah kedalam dia menemukan Gendis yang tertidur memeluk boneka beruang warna coklat, boneka yang dihadiahkannya pada Gendis saat gendis berulang tahun ke 15 tahun. Masih jelas sekali dalam ingatannya betapa Gembiranya Gendis saat itu. Perlahan Shilin duduk di pinggiran ranjang, menyadari kehadiran seseorang Gendis sepertinya kaget tapi saat tahu Shilin yang ada di sampingnya. Gadis itu langsung memeluk Shilin sambil menangis keras.

“Mamaaaa…. Kenapa Mama baru datang. Bawa Gendis dari sini Mah. Gendis ingin tinggal sama Mama. ”

Shilin memeluk Gendis erat, kaget dia dengan keadaan tubuh Gendis yang begitu kurus. Apa yang mereka lakukan padamu anakku. Hati Shilin menangis, Gendis terus meraung tanpa henti bahkan suaranya sudah berubah parau tanda kalau dia terlalu banyak menangis.

“Kalau Mama tidak membawa Gendis, lebih baik Gendis mati Mah.”

“Hus sayang jangan bicara seperti itu ah… gak baik.”

“Tapi Mah Gendis tidak terima di perlakukan seperti ini, Gendis sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Papa memukul Gendis seperti anak kecil, Gendis malu Mah. Bawa Gendis mah bukankah Mama bilang kalau Gendis sudah bisa memilih untuk tinggal dengan siapa yang Gendis mau jika sudah berumur 17 tahun Mah. ”

Shilin menatap Gendis prihatin, Putri kesayangannya terlihat begitu menyedihkan, begitu kusut dan kurus. Tak ada senyum ceria di wajah putrinya yang ada hanyalah wajah murung yang suram dengan mata panda pengaruh karena banyak menangis dan tidak tidur.

“Mama akan bicara dengan papa Gendis dulu tapi Gendis harus janji Gendis harus makan hari ini. “bujuk Shilin. Tatapan Gendis berubah ada harapan di bola mata putrinya. “Mama janjikan ? ”

“Iya Mama janji …. Tapi Gendis makan yah. ”

Gendis menganguk, siang itu Shilin menemani Gendis untuk makan, putrinya makan dengan lahap. Sesudah makan dia menemani Gendis untuk mandi dan bersih-bersih. Gendis melakukan semua yang dikatakannya, gadis itupun berulang-ulang kali bertanya kalau dia akan di bawa oleh Shilin dan Shilin selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama. Yah dia akan mencoba bicara pada Indra tak tahan rasanya melihat keadaan Gendis yang seperti itu, putrinya terlihat begitu menderita dan menyedihkan.

“Maaf Lin, aku tidak bisa membiarkan Gendis pergi bersamamu. Tidak. ”

“Tapi Gendis butuh suasana baru. Dengan memutuskan dirinya dengan dunia luar tidak akan membantunya itu malah akan membuatnya depresi dan stress bahkan akan menambah masalah “bantah Shilin.

“Dia anak aku Lin selama ini aku yang mengurusnya, aku tahu apa maksudmu Lin. ”

“Maksudmu apa ? Gendis juga anak aku ”

“Kamu ingin Gendis untuk ikut keyakinanmukan ? karena itulah walau kamu tahu hubungan mereka kamu tidak menentangnyakan.”

Perkataan Indra membuat Shilin tertawa kecut, “Jangan bawa-bawa soal keyakinan dra, aku tidak pernah mempengaruhi anak-anak aku untuk mengikuti apa yang kuyakini. Aku hanya ingin kamu melihat dari sisi psikologis anak. Dengan tidak mengijinkan dia kuliah , mengurungnya, itu hanya akan membuat dia depresi Dra. Pikirkan itu sudah banyak contoh yang terjadi. Aku mohon Dra aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Gendis. Dia anakku aku yang melahirkan dia… ”

“Tapi kamu dimana, kamu lebih memilih keyakinanmu dari pada anak-anak. ”

“Aku datang kesini bukan untuk membahas masa lalu. Berhentilah bersikap seakan-akan kamu yang jadi korban. Bukan saatnya membahas hal yang tidak penting. Plis Dra ijinkan Aku membawa Gendis tidak akan lama-lama seminggu saja. Aku akan berusaha memberi pengertian padanya. Aku sangat mengenal karakternya. ”

“Lalu kamu pikir aku tidak mengenal sifat dan sikap anak yang kubesarkan … aku yang mengurus dan memelihara mereka, mencukupi kebutuhan mereka lalu ini balasan mereka padaku. ”

Ah… Shilin menarik nafas panjang, inilah Indra yang dia kenal, laki-laki keras kepala yang pemahaman tugas orang tua di pahaminya dengan tidak bijaksana dan hanya memikirkan perasaannya saja tanpa berempati dengan perasaan  Gendis.

“Itu sudah menjadi tugas kita selaku orang tua Dra kalau kamu pikir dengan memelihara, mengurus dan mendidik mereka kamu meminta balasan mereka akan patuh dengan semua keputusanmu itu salah besar Dra. Jaman sudah berbeda Dra semakin kamu memperlakukan Gendis seperti itu semakin kamu menyiksanya dan dia akan semakin memberontak. Bukan dengan cara memaksakan kehendak kita. ”

“Jangan kritik aku dengan caraku membesarkan anak-anak, tahu apa kamu soal membesarkan anak haa.”

Lagi-lagi Shilin menarik nafas berat, pembicaraan ini seharusnya tidak ada, karena dia seperti berbicara dengan tembok yang sangat tebal. Sia-sia pembicaraan ini padahal dia hanya ingin membantu mencari jalan keluar, bukan berarti dia juga menyetujui hubungan Gendis tapi dia percaya dengan Gendis. Lagi-lagi masalah keyakinan.

“Jadi kamu benar-benar tidak mengijinkan aku membawanya walau cuma seminggu ? ”

“Tidak, maaf Lin. ”

Shilin beranjak bangkit dari duduknya, “baiklah sebelum aku pergi aku ingin pamit pada Gendis. ”

“Kita pergikan Mah? “pertanyaan itu langsung menyambut Shilin saat wanita keturunan cina itu masuk kekamar Gendis. Pedih hatinya melihat Gendis yang sudah berganti pakaian berharap dia akan membawanya saat itu, pelan ditariknya tangan Gendis untuk duduk.

“Gendis sabar yah, Papa belum mengijinkan mama membawa Gendis. Tapi mama janji mama akan kembali jemput Gendis. Gendis bisa jadi anak penurutkan sama papa ? kalau Gendis baik-baik papa pasti akan mengijinkan Gendis tinggal dengan Mama. ”

“Tapi kenapa Mah, kenapa ? apa salah Gendis mah ? Tuhan ngasih perasaan cinta ini sama Gendis. Kenapa Gendis gak bisa mencintai Jacky. Kenapa mah…. Gendis gak minta perasaan ini mah. Apa yang harus Gendis lakukan mah Gendis sayang banget sama Jacky mah. “Gendis terisak pedih Shilin juga terisak tapi dia berusaha tersenyum.

“Sayang, tidak ada yang salah, Gendis gak boleh menyalahkan Tuhan yah, gak baik. Sini lihat Mama. “di angkatnya dagu Gendis untuk melihat wajahnya. “percaya sama mama sayang, apapun yang terjadi mama akan selalu ada buat Gendis, dan mama akan berusaha untuk mengajak Gendis tinggal sama mama. Tapi satu hal Gendis harus menuruti apa kata Papa yah. Janji sama mama. Jangan melawan sama papa, Gendis tahukan seperti apa sikap papa.  ”

“Tapi Mama juga harus janji akan bawa Gendis dari sini .”

“Mama janji… tapi Gendis harus janji juga yah. Dan mama mohon jangan ngomong mati atau bunuh diri yah. Gendis tahukan hukumnya kalau bunuh diri. ”

Gendis menganguk, “tapi Mama jangan pulang dulu yah temani Gendis bentar lagi. ”

Shilin menganguk, Gendis berbaring, kepalanya diletakkan di pangkuan Shilin, Shilin membelai rambut Gendis lembut sampai putrinya jatuh tertidur. Dalam perjalanan pulang bermacam pikiran berkecamuk di hati dan pikirannya. Memikirkan keadaan Gendis dia sangat ketakutan, dia takut putrinya akan berpikiran pendek dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan hidupnya. Sungguh tak pernah putus doa yang terucap disetiap detik hidupnya demi putri-putrinya. Menyayangkan sikap Indra yang masih tak memahami sikap dan sifat putri-putrinya.

Shilin terbangun dari tidurnya, mimpinya terasa begitu nyata. Dalam mimpinya dia berjalan-jalan bersama Gendis di taman bunga anggrek. Gendis begitu gembira dan ceria. Senyumnya tak berhenti tersungging dan tawanya begitu nyaring. Hingga tiba-tiba Gendis memberikan setangkai anggrek bulan untuknya dan kemudian berjalan menjauh dan akhirnya hilang. Tapi sebelum menghilang Gendis sempat mengatakan sesuatu.

“Gendis sayang banget sama mama. Mama baik-baik yah. ”

Mimpi itu terasa nyata, membuat hatinya terasa tidak enak. Shilin bahkan tak bisa tertidur sampai pagi padahal baru seminggu lalu dia bertemu dengan Shilin. Dia pun memutuskan kalau hari ini akan mengunjungi Shilin dan berencana mengajak dua sepupu laki-lakinya. Hari ini dia memutuskan untuk membawa Gendis apapun yang terjadi.

Kebetulan kedua sepupunya satunya adalah seorang perwira polisi dan satunya adalah pengacara. Lagipula dia sudah berkonsultasi dengan banyak pihak. Dia hanya ingin menjaga psikologis anaknya, jika mantan suaminya masih berkeras   mengurung Gendis dia akan memaksa untuk membawa Gendis tak perduli Indra suka atau tidak. Sebagai seorang ibu dia punya hak. Shilin baru saja mau menjemput sepupunya ketika telponnya berbunyi. Hatinya berdesir, jantungnya tiba-tiba berdegub kencang saat melihat nama Sita disitu. Dan suara Sita yang terbata-bata membuat Shilin tiba-tiba panik.

“Lin, kamu cepat kesini ini mengenai Gen.. Gen… Gendis.. ”

“Tidak jangan katakan Sita jangan, anakku baik-baik saja dan aku sedang dalam perjalanan kesana. ” Shilin memutar balik mobilnya tak jadi menjemput kedua sepupunya. Airmata merebak dipelupuk mata tapi dia berusaha menguatkan hatinya, tidak tidak… Gendis akan baik-baik saja. Tunggu Mama Dis, hari ini mama akan membawamu pergi. Tak perduli dengan papamu ataupun siapapun. Tunggu disana Dis… mama datang.

Sejuta pikiran buruk  merebak dalam benaknya laksana bau yang tercium dihidung. Shilin menggeleng-gelengkan kepala mencoba menepis pikiran-pikiran buruk dalam hati dan pikirannya. Tapi saat mobilnya terparkir depan pagar rumah yang selalu tertutup itu kini di biarkan terbuka, lutut Shilin menjadi lemas.

Anakku Gendis sudah pergi … dia gantung diri demi cinta remajanya

Banyak orang terkumpul didepan rumah saat dia masuk, dia bahkan bisa melihat sosok indra yang terduduk menangis, dan Sita yang terisak-isak disudut ruangan. Tidak ini tidak mungkin, Shilin menggelengkan kepalanya keras. Nafi putri bungsunya menghambur kepelukannya menyebut nama Gendis berulang-ulang. Saat tiba didepan kamar Gendis yang terbuka, pemandangan yang mengiris hati terhampar layaknya permandani Gendis sedang di turunkan oleh beberapa orang laki-laki dari tali yang menjerit lehernya. Bibirnya yang membiru dengan wajah sepucat kapas membuat Shilin meraung memburu tubuh Gendis yang sudah tak bernyawa.

“Tidak…. Gendis sayang Tidak… ini tidak mungkin sayang … tidak… “Shilin meraung mendekap putrinya yang kini sudah terbujur kaku. “Jangan tinggalkan mama sayang .. sayang… bangun sayang Gendis ini mama, mama datang menjemput Gendis. Gendis akan tinggal sama mama. Ayo bangun sayang ayo bangun ini mama. Mama datang menepati janji sama Gendis. Janji Gendis mana ? ayo sayang. “seperti orang yang tidak sadar Shilin berbicara.

“Buka matamu sayang, buka matamu, bangun Gendis ini mama nak. Gendisssss….. sayang… ”

Semua yang melihat pemandangan itu menangis, perasaan seperti apa yang dirasakan Shilin hanya mereka yang bisa memahami. Wanita itu terus meraung dalam kepedihan yang mendalam, sementara Indra hanya terpekur bisu dengan pipi yang juga basah dengan air mata penyesalan.

“Ayo sayang, liat papamu sudah mengiinkan mama membawa Gendis. Ayo sayang….. ” dalam raungannya sebuah bola kertas yang tergenggam di tangan Gendis di raih dan di bukanya.

“Maafkan Gendis mah, Gendis terpaksa, sampaikan salam sayang Gendis untuk Jacky mah Gendis sayang Jacky selamanya. Gendis sayang banget sama Mama, mama baik-baik… yah maaf Gendis gak bisa nepatin janji Gendis sama mama…. ” dan Shilinpun semakin tenggelam dalam raungan kesedihannya.

“Gendisssss sayang…. Kenapa Dis… kenapa ninggalin mama dengan cara seperti ini nak. Kenapa ? Gendissssss…. “betapa hancur hati Shilin. Saat melihat Indra yang juga sedang menangis seketika Shilin berteriak.

“Puas kamu… puas kamu. Kamu yang membunuh anak kamu. Kamu pembunuh, pembunuh…. ” Shilin menghambur kearah Indra memukul-mukulnya, menendang…

“Kembalikan anakku, kembalikan anakku, kembalikan… oh Gendis sayang Gendis…kembalikan anakku kembalikan Gendis Dra aku mohon…. ” dan Shilin terus memukul Indra yang tak bergeming di tempatnya dibiarkannya Shilin memukul-mukulnya sampai akhirnya wanita itu ambruk pingsan karena tak kuat menahan kesedihan.

Semua sudah terjadi penyesalan tak akan ada gunanya lagi. Sementara di luar rumah sesosok tubuh jangkung sedang tersedu, bahunya berguncang Jecky hanya bisa menangis pilu menyadari cintanya kini telah pergi.

Shilin mengusap sudut matanya yang terus basah dengan air mata, pelan-pelan diletakkannya rangkaian anggrek bulan diatas gundukan tanah yang masih basah. Bayangan masa kecil Gendis slide demi slide kamera berganti-ganti dalam benaknya. Senyum dan tawa Gendis yang begitu ceria, tawanya yang nyaring dengan celotehan yang tak pernah berhenti kini tak akan lagi dia jumpainya. Walaupun Gendis pergi dengan cara yang berbeda, tapi dia akan tetap menyimpan kenangannya dengan utuh dalam hati dan pikirannya.

“Selamat jalan sayang…. Doa mama akan selalu ada untuk Gendis. “Shilin meraih bahu kedua putrinya yang terisak sedih, memeluk mereka erat dan akhirnya melangkah meninggalkan gundukan tanah merah itu.


Terima kasih telah membaca cerita tragis pernikahan beda agama. Semoga cerpen sedih diatas dapat bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Ingatlah selalu banyak masalah dalam perkawinan, jadi jangan ditambah lagi dengan masalah agama.  Siapa yang bisa dipersalahkan kalau hal tersebut terjadi ? orang tua yang sudah semakin bijak dan semakin mendekat pada Tuhan kah ? atau kekerasan hati anak muda yang tertalu bergejolak tak terkendali ?

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait