Gerbang Itu 10 September 2013

Cerita Pendek Sedih Keluarga "Gerbang Itu 10 September 2013"

Cerita Pendek Sedih Keluarga “Gerbang Itu 10 September 2013” adalah cerita pendek tentang perasaan seorang wanita yang diminta putrinya datang ke rumah mantan suami saat putrinya berulang tahun. Cerita pendek yang ditulis dari kisah nyata cerita pendek sedih keluarga ini merupakan karya Putri Wahyuningsih, penulis komunitas cerita pendek. Bagaimana akhir cerita pendek sedih keluarga ini ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Sedih Keluarga “Gerbang Itu 10 September 2013”

Aku berdiri bisu di depan pagar hitam setinggi tiga meter yang kini gerbangnya terbuka lebar seolah menyambut siapa saja yang akan datang hari ini termasuk aku. Tapi aku hanya bisa menatap gerbang itu dengan sejuta gejolak perasaan yang sukar untuk ku gambarkan.Gerbang pagar itu biasanya selalu tertutup, sang pemilik rumah seolah olah berada didunianya yang lain didalam gerbang pagar itu. Seolah-olah tidak mengijinkan siapapun masuk dan mengusik mereka. Seolah-olah Takut jika ada yang masuk dan mengganggu ketenangan mereka. Di balik pagar tinggi inilah kisahku yang dulu tersimpan dan kebanyakan yang tersimpan adalah kisah yang pahit. Satu satunya yang berarti yang tersimpan hanyalah aku pernah membesarkan anak-anakku disitu. Anak-anak dari laki laki yang dulu begitu aku cintai.

Dan hari ini setelah sekian lamanya aku akhirnya punya keberanian untuk datang itupun kalau bukan karena ulang tahun putriku yang ke 17 mungkin aku tidak akan datang. Aku belum siap berhadapan kembali dengan kenangan masa laluku yang ada dibalik gerbang pagar itu.Kenangan yang terlalu pedih untuk dikenang. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita renungan keluarga singkat Selembar Kain Di Pergantian Hari.]

Selama hampir dua minggu ini Dilah putri  sulungku setiap hari menelpon, “ma..plis yah datang ke ultah dilah yang ke 17… Dillah pingin mama ada disaat Dillah merayakannya. Selama ini Dillah ga pernah minta apa apa dari mamakan jadi plis mama datang yah”

“Tapi sayang gak mungkin mama datang kerumah papamu, kita ketemu direstoran kesukaan Dillah saja yah atau di mall atau…”

“Mah… plisss… Dillah mohon” Nada permohonan Dillah putri sulungku terdengar begitu memelas.”Setiap ulang tahun Dillah mama ga pernah ke rumah, Dillah ga keberatan tapi sekarang Dilla pengen mama hadir sekali saja. Dillah pengen ngenalin mama dengan teman-teman dan guru Dillah pliss mah..kali ini aja..” [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita renungan singkat motivasi Ketika setia menjadi pelita.]

“Baiklah…sekali ini saja yah”

“Gak dapet kado dari mama Dillah ga apa apa asalkan mama hadir”

“Jatah kado tetap ada dong kan hari ulang tahun 17..harus special tentunya”

“Urusan kado belakangan mah, yang penting doa dan kehadiran mama sudah merupakan kado terindah utk Dillah”. Ucapan putriku seolah menghentak sanubariku menyadarkan aku akan sesuatu yang hampir saja aku lupakan. Iya anakku sayang….mama selalu mendoakanmu setiap hari disetiap tidur malam dan bangun pagi mama,selalu sayang… hatiku berbisik lirih.

“Mama janji yah, kalau mama ga datang Dillah ga akan mau ketemu mama lagi”ancam Dillah.

“Iya mama janji”ucapku akhirnya. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita renungan sedih Perempuan Berjubah Hujan.]

Dan dua minggu sudah berlalu. Hari ini, 10 september 2013 aku akhirnya bisa menjejakkan kakiku di depan rumah ini. Aku masih mengenakan seragam kantor saat aku datang tidak ada waktu untukku berganti pakaian karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Telponku dari jam 3 tadi terus berdering, Dillah terus menelponku sepertinya dia begitu cemas jika aku tidak hadir. Ah mana mungkin aku mengingkari janjiku untuk datang. Ini hari yang paling spesial dalam hidup putriku bagaimana bisa aku mengecewakannya. Aku juga disaat berulang tahun ke 17 didampingi mamaku walau tampa papaku. Ingat itu lagi lagi aku mendesah kecewa.

Namun langkahku kenapa terhenti ? aku gugup bagaimana aku harus bersikap bertemu dengan mantan suami dan istrinya ? ah sulit membayangkan bagaimana harus bersikap. Sebuah angkot berhenti. Dari dalam turun rombongan teman-teman Dillah. Itu terlihat dari seragam yang mereka kenakan, seragam sekolah Dillah. Saat mereka masuk mereka menatapku aneh, mungkin bertanya tanya siapa aku. Aku baru saja mau masuk ketika sosok mantan suamiku muncul dia sepertinya sedang sibuk mempersiapkan alat barbeque untuk acara Dillah. Dia tidak melihatku… [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita realita kehidupan Kupu-kupu Bersayap Awan.]

“Mamaaaa” seru Dillah gembira. Aku tersenyum, mantan suamikupun seolah terkejut dan menatapku. Entah apa makna tatapan itu. Tatapan kasihankah ? atau tatapan rindu ?. Aku tidak mau memikirkan itu karena berada dirumah ini saja aku sudah sangat tersiksa. Sepertinya luka dihatiku belum sembuh benar. Apalagi dengan penuh formalitas berjabat tangan dengannya seolah dua orang yang baru saja saling kenal benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kikuk dan gugup.

Ah.. lihatlah. Kami dua orang yang pernah saling mencintai, yang dulu menabrak segala macam tembok pembatas demi satu kata CINTA. Tapi lihatlah sekarang, kami berdiri saling tatap seolah tidak pernah saling kenal seperti dua orang asing yang baru bertemu. Benar benar menyedihkan. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita sedih keluarga singkat Pelindung Hatiku.]

Aku memeluk anakku dan menghujaninya dengan kecupan rindu. Kualihkan perhatianku pada anakku… kutatap anakku… Putriku dia mirip sekali denganku, saat aku seusianya dulu. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya putih, rambutnya panjang terurai. Ah putriku sekarang tumbuh laksana bunga yang sedang mekar. Lihatlah dia dengan gembira dia menggandeng tanganku dan mengenalkannya pada teman-temannya dan pada guru-gurunya yang menatapku dengan iba.

Yah… aku tahu kenapa mereka menatapku seperti itu, mungkin kasihan dengan diriku yang harus menahan perasaan datang kerumah mantan suami yang sudah menikah. Perasaan ini mungkin ada pada setiap wanita jika mengalami hal sepertiku. Tapi aku tidak boleh egois. Aku harus mengesampingkan perasaanku demi putriku. Apapun yang terjadi antara aku dan ayah mereka itu adalah masalah kami, cukuplah selama ini mereka menjadi korban ketidak adilan dari perceraian aku dan ayah mereka. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita kehidupan sosial Para Penjaja Warta.]

“Dillah mama tidak bisa lama-lama yah” bisikku keputri Dillah. Dillah menatapku kecewa “Tapi mah”

“Mama sudah datangkan mama sudah memenuhi janji mama”

“Tapi mah… mama kan belum makan”

“Mama masih kenyang sayang tadi makan siang dikantor ”

“Tapi Dillah masih ingin mama disini”

Kubelai rambut anakku “Dillah anakku sayang, banyak hal yang terlihat tidak sebagaimana yang terlihat. Suatu saat Dillah pasti akan pahami itu” ucapku lembut. Dillah menatapku tak mengerti dia sepertinya mencoba mencernah kata kataku. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita pendek motivasi Salim Anakku.]

“Mama tidak akan dapat mobil ke desa kalau lewat jam 6 sore sayang”ucapku akhirnya. Dillah akhirnya menganguk. “Baiklah mama, hati hati yah. Terimakasih yah mama mau datang”

“Iya sayang, jangan lupa kadonya dibuka yah”ucapku. Sekali lagi kupeluk putriku dan menghujaninya dengan kecupan sayang. Rasanya tidak ingin meninggalkannya, tapi aku harus pergi. Kalau aku berlama-lama disini aku akan terbawa perasaan dan aku pasti akan menangis. Aku tidak ingin terlihat konyol di depan mantan suamiku dan keluarganya. Setelah sedikit berbasa basi aku akhirnya pamit pulang. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerpen cinta Ikhlas.]

Maafkan mama sayang, hati ini belum terlalu siap untuk bertemu dengan masa lalu yang menyakitkan. Jika aku sanggup berpura-pura mungkin aku akan menikmati pertemuan ini. Tapi semua ini terasa janggal bagiku, suatu saat nanti putriku, kau akan mengerti mengapa mama belum bisa melupakan kenangan bersama Papamu. Karena dalam kenangan itu ada dirimu dan adik-adiku. Mama tidak bisa melupakannya begitu saja karena disaat menatap kalian ada wujud dirinya dalam wujud kalian yang selalu mengingatkan akan cinta mama yang begitu besar pada papa kalian. Perjuangan cinta yang berakhir dalam kepahitan menyisahkan sepenggal kisah sedih yang menyakitkan. Satu-satunya hal yang terindah dalam hidupku adalah kehadiran kalian buah hatiku. Buah hatiku yang terhalang gerbang pagar setinggi tiga meter yang memisahkan aku dengan kalian sekian tahun. Aku tidak bisa menerjang gerbang tinggi itu untuk mengambil kalian, aku tidak berdaya , aku hanya bisa melihat kalian tumbuh dari jauh.

Hatiku merontah mengapa Pengadilan Agama memberikan hak perwalian pada Ayah kalian bukan padaku ? apakah karena Ayah kalian orang berada sedangkan waktu itu ibumu hanyalah seorang pegawai rendahan dari kelas bawah ?. Apakah karena seluruh panitera dan hakimnya adalah keluarga ayah kalian sedangkan aku tidak memiliki keluarga orang penting ?. Seorang ibu yang tidak bisa hidup dengan anak-anaknya seorang ibu yang terpisah dari anak-anaknya.  Perasaan ini siapa yang bisa membayangkannya ? Tapi disaat melihat anak-anakmu hidup dalam kecukupan, sekolah di sekolah terbaik dan memiliki semua yang tidak dimiliki anak-anak lain, akhirnya membuatku merelakan mereka dan berpikir ini untuk kebaikkan mereka. Karena jika mereka hidup denganku mereka pasti akan susah. Kuhibur hatiku dengan semua itu. Tidak apa-apa mereka tahu aku ibu mereka, aku masih bisa menemui mereka disekolah atau dimana saja, setiap tahun merayakan ulang tahun mereka, atau bermain satu atau dua jam dengan mereka lalu mengantarkan mereka pulang kembali masuk kedalam gerbang itu, masuk ke dalam dunia mereka yang tak bisa ku usik. Tawa dan senyum mereka adalah bahagiaku tidak ada yang lebih berarti dalam hidupku selain melihat mereka tersenyum dan tertawa. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita cinta remaja singkat Meskipun Itu Membunuhku.]

Dan hari ini, entah kenapa, di setiap ulang tahun anak-anakku aku selalu saja menangis antara bahagia melihat mereka semakin tumbuh dewasa dan sedih karena tidak bisa melewati hari hari bersama mereka. Begitu banyak waktu yang terlewati.

Maafkan mama tidak bisa menemani kalian di setiap hari kalian. Menina bobokan tidur kalian, menghapus airmata kalian disaat sedih. Apakah kalian tahu bagaimana mama melewati hari hari tampa kalian disamping mama ? hanya bisa menatap foto-foto masa kecil kalian dan mengingat kisah masa kecil kalian ? tangan yang mungil yang menggenggam erat tanganku saat mencoba belajar berjalan, bibir kecil yang terbentuk lucu saat mulai belajar berbicara dan menyebutkan kata mama, kalimat pertama yang kalian ucap ?

Kuhapus airmata yang menetes deras dipipi. Maafkan mama anakku. Betapa pedih hati seorang ibu yang harus hidup bertahun tahun tampa anak-anaknya. Tapi waktu cepat berlalu. Gerbang itu tidak lagi bisa menahan langkah kalian. Langkah-langkah mungil itu sudah berubah menjadi langkah-langkah yang tegas dan tidak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk bertemu denganku. Tidak Ayah mereka, tidak keluarga mereka, dan tidak juga gerbang itu. Gerbang yang kutakuti, membuatku trauma dan kehilangan kepercayaan diri. Gerbang yang merampas separuh hidupku yang dulu dengan sepenuh hati kudedikasikan untuk orang yang paling kucintai. [Kalau suka membaca cerita pendek sedih keluarga, coba baca juga cerita selingkuh singkat Perpisahan Yang Manis.]

Mama berjanji Dillah, suatu waktu nanti mama akan datang kembali memasuki gerbang itu tanpa beban, menghapus benci dan dendam, menguburkan kemarahan, dan mengganti semua itu dengan tali silahturahmi. Tapi untuk saat ini mama belum siap sayang. Berikan mama waktu untuk menata sekeping hati mama. Selamat ulang tahun sayangku, suatu saat nanti, ketika kamu sudah benar-benar mengerti dunia orang dewasa, semua pertanyaanmu akan terjawab, dan saat itu kamu telah menjadi pribadi yang dewasa.(PW)


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih keluarga “Gerbang Itu 10 September 2013” karya Putry Wahyuningsih. Apabila anda menyukai cerita cerita pendek sedih keluarga, berikan jempol dan bagikan pada laman Facebook, Google+, Twitter, dan Pinterest sebagai bentuk apresiasi kepada penulis cerita pendek sedih keluarga ini. Jangan lupa untuk membaca cerita romantis motivasi Bisfren lainnya.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

You may also like