Habib Novel : Tahun 2007 Daeng Aziz Bukan Siapa-Siapa Jika Tanpa Dukungan Media

habib novel bamukmin FPI vs daeng aziz kalijodo

Bisfren Jakarta – Jelang digusurnya Kalijodo – Habib Novel Bamukmin, Sekjen Dewan Syuro DPD FPI – mengatakan FPI sudah berkali-kali berusaha melakukan penertiban di wilayah itu namun selalu gagal dan justru FPI yang selalu kemudian dihujat.

Daeng Aziz Bukan Siapa-Siapa Jika Tanpa Dukungan Media

Bentrokan antara FPI dengan preman Kalijodo memang bukan cerita baru bagi FPI. Pada masa Habib Rizieq menjadi ketua, bentrokan kerap terjadi antara massa pendukung FPI dan warga yang tinggal di sekitar Kalijodo dengan preman-preman disana.

Menurut Novel, sekitar tahun 2007 FPI mendatangi lokalisasi yang sudah cukup lama berdiri itu karena banyak laporan bahwa keberadaannya mengganggu masyarakat disekitar terutama dampak dari pelacuran dan penjualan minuman keras yang tidak pernah ada jam operasi yang pasti.

Di Kalijodo, mereka buka 24 jam, minuman keras dan pelacur bisa ditemui di warung-warung setiap saat jika orang melintasi jalan itu. Sarang maksiat itu tidak baik bagi anak-anak yang tinggal di sekitar. Mereka berangkat dan pulang sekolah, mengaji bahkan bermain dengan melihat contoh buruk yang bisa merusak mental mereka kelak.

“Jadi mereka kita datang dan omongin baik-baik. Tiba- tiba mereka nyerang kita (FPI) sehingga FPI datang dengan jumlah lebih banyak dan memukul mundur preman-preman” kata Habib Novel.

“Tapi apa yang terjadi ? Polisi dan media yang datang belakangan justru hanya menyoroti aksi brutal anggota FPI dan diberitakan besar-besaran, diputar berulang-ulang tanpa memberitakan kejadian awalnya saat anggota FPI yang datang dengan baik-baik dikeroyok sehingga beberapa orang mengalami luka bacok dan pukulan kayu. Namun tidak ada yang meninggal dunia” Lanjutnya.

Para preman disana memang tidak menyukai kedatangan FPI disana, namun menurut catatan media, kekuatan FPI pada saat itu jauh melebihi jumlah preman di Kalijodo. Diperkirakan ada 1000 preman di Kalijodo, namun FPI bisa saja mendatangkan 5.000 orang laskar fanatik (dari berbagai sumber).

“Meski FPI jadi bulan-bulanan media pada saat itu, namun berkat niat baik, hanya preman-preman itu yang ditahan sementara laskar dibebaskan beberapa minggu setelah peristiwa” lanjut Novel.

Jadi, kalau sekarang Daeng Aziz merasa dicurangi oleh media yang tidak meliput dan memberitakan saat polisi memasang pengumuman dan melakukan razia, yang katanya menakut-nakuti warga, dia dan pengacaranya tidak perlu protes. Karena hal itu dulu terjadi pula kepada FPI.

“Kalijodo itu lokalisasi turun temurun. Tapi lebih parah Kalijodo, jadi kalau sekarang Ahok mau membereskan Kalijodo, ya FPI akan membiarkan Ahok yang bereskan” tutupnya.

Menertibkan lokalisasi pelacuran adalah salah satu pekerjaan bagi setiap gubernur DKI kalau mau raportnya bagus. Sutiyoso berhasil mengubah Kramat Tunggak menjadi Islamic Center, Fauzi Bowo mengubah Boker menjadi stadion olahraga, kini saatnya Ahok menunjukan kemampuannya mengubah Kalijodo menjadi ruang terbuka hijau dan (kabarnya) lapangan olah raga.

Warga DKI menunggu kesungguhan Gubernur Ahok dalam menggusur Kalijodo untuk memberi nilai pada mata ujian “menertibkan lokalisasi”.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait