Hanya Sahabat

cerita kasih tak sampai

Hanya sahabat adalah cerita kasih tak sampai cinta bertepuk sebelah tangan seorang gadis pada teman sekolah SMA nya. Dia memendam rasa sedemikian dalam, mencoba melupakan, namun selalu saja ada sesuatu penyebab kenangan tak dapat terlupakan. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Kasih Tak Sampai – Hanya Sahabat

Tahun itu, tahun ketika aku masih bersamamu dan kau masih denganku, hari-hari dimana kita masih memakai seragam putih abu-abu, masih berbagi senyuman, berbagi cerita tawa serta tangis. Hari-hari dimana selalu indah karena hadirmu. Setiap hari-hari kebersamaan kita selalu penuh senyuman. Hatiku begitu bahagia bisa melewati waktuku bersamamu, cowok idaman dalam diamku, meski kau menyebutku sebagai teman baikmu ketika beberapa orang memorgoki kita sedang jalan menikmati indahnya pemandangan pantai di kota kita. Meski begitu, kau menyebut hubungan kita adalah sebuah ikatan persahabatan.

Hatiku bahagia bisa selalu bersamamu, membuat detik-detik menjadi sangat indah. Rasa demikian terus saja terpendam, pikirku biarkan saja toh, kita masih tetap selalu bersama. Taukah kamu ? Sebuah cinta indah dimulai oleh persahabatan. Ya, hatiku begitu percaya akan hal itu. Sehingga ku harap pada penghujung masa kau akan menyadari tentang ikatan apa sebenarnya ada diantara kita.

Akan tetapi suatu hari seorang bidadari sekolah sering kau kagumi kecantikannya mendekatimu dengan wajah menyimpan beribu kegelisahan tidak kuketahui mengapa. Dia tiba-tiba menghampirimu. ” Kaisar, aku ingin bicara denganmu..”

“Denganku..” Kaisar menunjuk dirinya dengan telunjuknya sendiri seolah meyakinkan apa telah dikatakan Leni. Gadis berparas cantik juga anggun tersebut berdiri mengangguk di depan kami. “Iya dengan mu, penting..”.

“Soal apa ?” Kaisar tiba-tiba tersenyum seolah seperti menyimpan kemenangan di hatinya. Seorang cewek sangat dikaguminya bahkan sering dipuji kecantikannya ingin berbicara penting dengannya.

“Kaisar, hatiku sayang kamu, aku cinta kamu. Sudah lama kupendam perasaanku, dan sekarang kamu harus tau. Selama ini tak pernah diriku peduli pada orang lain karena hanya peduli satu orang dan itu kamu…” katanya sambil memejamkan mata seolah mengumpulkan seluruh tenaga serta mentalnya yang ada ketika mengutarakan isi hatinya kepada Kaisar.

Ku lihat ada binar-binar bahagia di mata Kaisar, bibirnya tersenyum begitu manis, tak pernah kulihat Kaisar sedemikian bahagia. Hari itu, pada hari perpisahan sekolah Kaisar menemukan cintanya. Tapi bukan dengan ku, melainkan pada Leni, bidadari sekolah yang sering membuat Kaisar terkagum-kagum karena kecantikan serta kepintarannya. Saat itulah kusadari satu hal, tak ada ikatan lain dalam persahabatan kami. Hanya ada ikatan persahabatan. Tidak lebih maupun kurang.

Tahun-tahun berlalu, kulanjutkan kuliahku di sebuah universitas jauh dari kota kelahiranku, itu membuatku jarang pulang bahkan sangat jarang. Diriku lebih suka menghabiskan waktuku di kota tempatku kuliah. Walaupun hari libur, masih ku sibukkan diri dengan beberapa kegiatan kuikuti disana karena jika kembali kota kelahiranku ingatan akan detik-detikku bersama Kaisar detik kembali lagi.

Meski telah bertahun-tahun lamanya diriku tidak bertemu Kaisar lagi tetapi bayangnya, namanya, masih ada dalam hatiku. Hatiku  masih begitu merindukannya. Ahh.. buat apa juga merindukannya, dirinya pasti mengingatku tak, dirinya begitu beruntung bisa satu kampus dengan Leni yang mungkin adalah cinta pertamanya. Sedangkan diriku hanya seorang sahabat, teman yang pasti juga akan didapatinya disana. Kucoba mengusir rinduku dengan menyibukkan diri tapi tetap saja bayangnya sulit kuusir dari hatiku sehingga sulit melupakannya. Sosok Kaisar begitu lembut, manis, pintar juga begitu bersahaja. Oh, ajarkan diriku melupakannya.

Hingga akhirnya tepat lima tahun setelahnya, diriku kembali ke kota kelahiranku lagi, entah ada angin apa suatu sore ku terima tawaran Nova sepupuku untuk jalan-jalan menikmati pantai tempat biasa ku kunjungi dulu bersama Kaisar saat masih menjadi sahabatnya. Kami duduk pada sebuah pondok kecil pantai, tapi kemudian diriku ditinggal sendiri karena Nova melihat beberapa teman SMA nya. Mereka kebetulan ada disana juga. Dengan gembira dia mencoba menyapa karena beberapa dari mereka adalah teman akrabnya dulu sewaktu SMA.

Aku masih duduk di pondok tepi pantai itu, dengan suara gemuruh ombak aku menikmati minumanku lalu hanyut lagi dengan irama ombak yang pulang pergi mengunjungi pantai.

“Tiara..” sebuah suara memanggil namaku. Ku cari tau dari mana asalnya dengan membalikkan badanku kearah suara tersebut.

“Ini benar kau Tiara.. ?” Hatiku terperanjat kaget menyaksikan seorang lelaki begitu  ku kenal. Dia adalah Kaisar sahabatku dulu.

“Hei..” aku menyapanya. Fisiknya tak banyak  berubah hanya saja perawakannya sudah lebih terlihat sebagai lelaki dewasa berkumis tipis sehingga membuatnya semakin terlihat manis.

“Ini beneran kamu Tiara ? Kemana saja kau seperti ditelan bumi gak pernah mengontak ?,  kirain kau sudah mati, hatiku kangen tau..”

Haaah…. !! apakah benar dia mencari-cariku juga rindu padaku ? Batinku amat senang mendengarnya tapi hanya sesaat ketika ku sadari rindunya hanya sebagai sahabat, lalu bibirku hanya tersenyum kepadanya.

“Tiara.. kau sudah banyak berubah, gak banyak bicara seperti dulu kah ?” Dia mulai memerhatikan sikapku lebih banyak tersenyum kepadanya atau mengangguk kepala saat mendengarkannya bicara padahal dulu mulutku tak bisa diam bila bersamanya.

“Kamu menutup akun facebookmu, lalu mengganti nomer teleponmu, tidak memberitauku, sengaja ya ?”.

Ingin sekali ku jawab iya, tapi itu tidak akan ku lakukan. “Aku kehilangan ponselku, lalu ada masalah di facebookku, ada orang memblokirnya..” jawabku berbohong.

“Dan kamu tau ? Aku pernah mengunjungi rumahmu saat musim liburan, tapi kamu tidak ada disitu, kakakmu bilang kamu gak pulang, banyak aktifitas di kampusmu, kamu begitu sibuk, lalu aku pulang mengira kamu sudah melupakanku, teman SMA mu yang selalu kangen sama kamu..”

Dia mengatakan lagi kalau hatinya merindukanku, tapi masih tetap saja sama, andai saja dia juga tau hatiku dari dulu selalu melewati hari untuk berperang dengan perasaanku melawan kerinduan untuknya.

“Oh ya ? Benarkah ? Ku kira kamu melupakanku karena sudah ada Leni disampingmu..”

Dia tiba-tiba tertawa entah karena apa. “tidak mungkin lah Tiara, kamu adalah sahabatku sementara Leni adalah pacarku kalian beda, maksudnya kalian sama-sama menempati tempat di hatiku pada tempat berbeda namun sama pentingnya. Akan ada kekurangan dalam hidupku jika salah satunya kosong. Diriku tetap merindukanmu, yang dulu selalu mengisi masa SMAku. Kamu gak tau ya Tiara ? Sahabat tidak pernah akan tergantikan oleh kekasih, masing-masing tetap ada posisinya disini” katanya sambil menepuk dadanya. “Oh ya, aku sudah tunangan lo dengan Leni”.

“Tunangan.. ?”

“Iya, kami sudah tunangan, sebentar lagi akan menikah. Sebenarnya ingin memberitahukanmu ketika hari pertunanganan kami, tapi ya mau bagaimana, gak bisa dihubungi”.

Bibirku terdiam dengan perasaan tidak menentu, sahabatku masih saja menganggapku seperti sahabat. Meski katanya merindukanku bahkan mencoba mencariku, tetap saja hanya sebagai seorang sahabat, tidak ada rasa lebih dari persahabatan. Padahal bukan demikian ku harapkan.

Kaisar akan segera menikah dengan Leni, artinya diriku harus segera menghapus bayangnya juga namanya dari hati dan hidupku meski pastinya takkan mudah. Lagi-lagi rasanya begitu sakit. Namun salah siapa ? Apakah salahku sendiri begitu rapi menjaga perasaan sehingga tidak ada seorangpun tahu ?. Perasaan  yang telah ada dari dulu bahkan tidak segera menggantikannya dengan mereka yang pernah mencoba datang ke hatiku namun ku abaikan karena aku berharap Kaisar kembali kepadaku suatu waktu. Aku sempat berpikir waktu yang tepat itu adalah tadi, dan ternyata sebuah penantian yang sia-sia dan memang tidak semua persahabatan akan menjadi cinta.


Terima kasih telah membaca cerita kasih tak sampai masa SMA. Semoga cerpen diatas dapat menghibur sekaligus menginspirasi dan memotivasi sobat Bisfren sekalian dalam mengejar cita – cita dan cinta. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait