Hari Meugang Untuk Mereka

cerita renungan inspiratif singkat

Cerita renungan inspiratif singkat hari Meugang untuk mereka mengambil kejadian menjelang perayaan tahunan hari Meugang di Nangroe Aceh Darussalam. Silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Renungan Inspiratif Singkat – Hari Meugang Untuk Mereka

Hari cerah dengan suasana khas sehari menjelang Ramadhan dengan kesibukan jalan  dilengkapi para pemburu bermacam-macam kebutuhan menjelang puasa. Kebanyakan dari mereka memilih pasar sebagai tempat berkumpulnya. Pasar telah dihiasi aneka potongan daging segar terlihat begitu menggoda dengan suasana khas pedagang serta pembeli di hari Meugang.

Ah ya, sebagian dari kalian tentu tidak tau apa itu hari Meugang. Meugang adalah sebuah tradisi masyarakat Aceh ketika menyambut Ramadhan, menjelang Idul Fitri serta menjelang Idul Adha. Meugang merupakan suatu tradisi dimana pasar-pasar orang Aceh dipenuhi oleh pedagang serta pembeli daging, sehingga hari Meugang bisa disebut sebagai hari makan daging serentak di Aceh dimana pada setiap rumah akan kita temukan harumnya masakan ibu-ibu membuat pemuda dirantau begitu merindu kampung halaman, rindu untuk makan masakan ibu, rindu suasana Meugang di Aceh penuh kekeluargaan sera kehangatan.

Semua terasa indah pada hari Meugang ketika seluruh orang Aceh bisa menikmati daging secara bersama pada hari itu. Seluruh ?? Dan orang bilang semiskin-miskinnya orang Aceh pasti bisa makan daging pada hari Meugang, benarkah ?.

Mungkin bisa jadi benar, seperti sedang terjadi kepada seorang bapak paruh baya sedang berdiri disamping pedagang daging, umurnya sudah lima puluh tahun lebih. Dengan pakaian lusuh dibadannya serta rambut acak-acakan namun pandangannya begitu teduh akan sejuta harapan. Berbekal uang delapan puluh ribu dirinya berharap bisa membuat keluarganya dapat menikmati daging pada hari Meugang. Terlintas bayangan lima orang anak-anaknya sedang menunggu kepulangannya sejak tadi pagi.

Dirinya berangkat dengan tukang ojek untuk membeli daging pada hari Meugang, bayangan dua anak terkecilnya Fatia dan Salim yang masih berumur 6 dan 8 tahun belum bisa mengerti keadaan, yang mereka tau daging pada hari Meugang adalah suatu kenikmatan tersendiri.

Matanya masih berdiri menatap penuh harap sambil melihat beberapa bapak-bapak lain dengan mudah membeli daging sampai beberapa kilo, bahkan kebanyakan dari mereka tanpa pikir banyak langsung mengeluarkan dua, tiga bahkan lima uang kertas bewarna merah,  setelah tadi dirinya sempat bertanya kepada lelaki bertubuh besar juga berkulit hitam di depannya “berapa daging Meugang ini sekilo ?”.

“150 ribu pak..” jawabnya langsung tanpa peduli lagi dengan si bapak penanya karena pembeli di depannya masih banyak, juga dari penampilan si bapak tak meyakinkan dapat membeli dagingnya itu.

Amat menyesakkan mendengarnya, jauh hampir dua kali lipat dari uang dibawanya.

“Mahal sekali ko..” katanya sambil menulan ludah.

“Dolar udah naik pak..” penjual daging itu menjawab disela kesibukannya melayani pembeli lain dengan penampilan lebih meyakinkan.

Dolar naik, apa urusannya dengan naik harga daging, setahu bapak, dari menonton televisi, dolar merupakan mata uang orang bule, itu hanyalah sebuah mata uang, hubungannya apa coba dengan naiknya dolar dengan daging akan dibelinya hari ini. Rasa penasaran ingin ditanyakan, tapi urung, karena mau ditanyakam kepada siapa ? Kepada penjual, ah, rasanya penjual tersebut sama sepertinya tidak tau, dia mengucapkannya karena ikut-ikutan memberi alasan seperti orang-orang pada tayangan televisi dengan pemberitaan tiap tahun selalu saja dipenuhi denga harga naik, nilai rupiah melemah, semakin membuatnya juga orang-orang lain sepertinya juga semakin lemah bertambah-tambah.

Bagaimana tidak, harga barang naik tapi harga untuk jasa memanjat kelapa, suatu profesi langka seperti dilakoninya, dari dulu hingga kini masih tetap sama. Karena jika dinaikkan orang akan berpikr berapa kali untuk meyewa jasanya. Lagipula rasanya pemberitaan barang naik lebih tragis dari pemberitaan banjir. Ia mundur beberapa langkah ke belakang berharap daging Meugang terlalu banyak dari pembelinya sehingga untuk menghabiskan dagangannya penjual akan menurunkan harga lebih murah seperti didapatkan pada Meugang hari kemarin.

Tapi rasanya tahun ini akan berbeda, tidak ada tanda-tanda seperti diharapkan, si bapak menelan ludah ketika melihat semakin ramainya pembeli berdatangan, dan pasokan daging mulai berkurang bahkan satu dua dari penjual daging sudah merencanakan untuk menyembelih sapi lain lagi, disitulah keadaan semakin parah karena biasanya ini akan membuat harga daging semakin naik.

Pandangan si bapak semakin redup, tapi juga masih memamerkan sesungging senyum kepada orang di depannya. Ini amat meyesakkan, sepertinya Fatia dan Salim dan tiga anak lainnya tidak bisa makan daging di hari Meugang ini.

“Ahh..sepertinya mereka lebih akan lebih enak jika meyatim..”

Pyarr…sebuah pengakuan begitu menghancurkan dari hati seorang ayah tapi masih terlihat tegar membayangkan wajah anak-anaknya hari ini tidak akan bisa makan daging, itu terlihat dari pandangannya tidak mengeluarkan butiran bening, sebenarnya apa pentingnya makan enak hari ini, bukankah terpenting ia bisa makan atau bisa bertahan hidup saja, karena juga di belahan bumi Allah masih ada orang lebih sekarat seperti keluarganya, tapi mungkin hal terdengar sesimple itu akan dimengerti untuk anak gadis berumur 15 tahun 13 tahun dan seorang anak lelaki 11 tahun tapi tidak untuk dua lagi masih kecil yang dari kemarin sudah mencium harumnya masakan seorang tetangga dan janda disamping rumahnya.

Bahkan seorang janda dengan anak-anaknya sudah dari kemarin mendapat daging Meugang dari infak para dermawan, tapi hanya untuk anak yatim, mereka seolah lupa bahwa fakir miskin pun perlu untuk disantuni, ketika para anak yatim begitu senang diundang dalam bentuk syukuran yang diadakan sebagian penduduk yang punya kelebihan rezeki untuk menikmati hidangan dihari Meugang ini lengkap dengan sedekah-sedekahnya. Tapi mereka lupa ada fakir miskin juga perlu di santuni mereka sama juga kekurangan dari anak yatim itu atau bahkan lebih kurang.

Si bapak dengan langkah berat menjauhi pacang atau tempat penjual sapi dengan hati sangat pilu, hari mulai siang, dia merasa tanggung jawabnya seorang ayah hari ini tidak bisa ia berikan dan anak-anaknya mereka bisa makan daging sapi hari ini. Ia mendekati pedagang daging ayam dan hanya mebelinya sepotong ayam segar sudah cukup menguras isi dompetnya.

Suasana panas mulai terasa karena siang ingin menghampiri si bapak pulang disambut oleh dua anak-anaknya begitu polos.

“Ayah pulang..” seru Fatia yang lansung mendekat dan melihat bawaan yang dibawa ayahnya.

“Yah… kok daging ayam..?” tanya gadis itu lugu.

“Emangnya kenapa ?”si bapak dengan baju lusuh, muka yang mulai menua dan terlihat lebih tua dari umur sebenarnya mencoba menjawab biasa.

“Kan biasanya hari Meugang itu daging sapi yah.. ?” tanya gadis kecil itu masih dengan polos dan dengan nada yang sedikit kecewa karena ia lebih suka daging sapi dari ayam.

Bapak itu tersenyum, “Fatia, kalau daging sapi itu gak utuh, hanya sebagian saja, gak ada paha, gak ada kepala, nah, kalau ayam ada pahanya ada kepalanya dan sayapnya, lihat..!” Kata si bapak mncoba meyakinkan.

“ya lah yah.. kan sapi itu gede, emang ayah sanggup bawa pulang..” gadis kecil itu amat pintar mencari jawaban yang membuat ayahnya kehilangan jawaban dan lagi-lagi menalan ludah. Beruntung dewi anak sulungnya yang mengerti lansung mayahut..”eh.. Fatia dimana-mana ayam itu lebih terkenal ya, lihat di KFC, Kentaki, ayam penyet, ayam tangkap itu pasti pake ayam, itu membuktikan bahwa ayam lebih enak dari daging sapi.”

Si kecil Fatia tanpa diam sejanak sibuk sok mencari kebenarannya sebelum akhirnya nyengir sambil berseru “Iya juga ya ka..”

Ada rasa lega di hati si bapak, juga rasa senang melihat anaknya yang bisa mengerti namun, bagaimana itu perasaan kabutnya yang merasa menjadi tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya tidak kunjung pergi. Hari ini ia hanya berharap agar Meugang kedepan ia bisa membeli daging sapi untu keluarganya dengan banyak dan yang dinamakan dolar itu turun seperti yang dikatakan penjual itu kepadanya hari ini dan rupiah menemukan kekuatannya agar tidak lemah sehingga daging sapi juga barang lainnya untuk hidup meraka bisa lebih murah. Begitulah harapan demi harapan, harapan bahwa hari esok lebih baik hari ini. Dan semoga harapan si bapak dan jutaan orang miskin di negeri ini menuai harapan akan janji-janji kehidupan dan perbaikan lebih baik. (DI) #Fighting


Terima kasih telah mengunjungi laman kami dan membaca cerita renungan inspiratif singkat. Semoga cerpen inspiratif diatas bermanfaat dan menghibur. Salam sukses selalu.

Dibagikan

DianRa Ilyas

Penulis :

Artikel terkait