Hati Nirmala

fiksi inspiratif pendek

Hati Nirmala adalah fiksi inspiratif pendek tentang gadis miskin berhati baik menolong wanita keguguran kemudian dipertemukan kembali 15 tahun kemudian saat melamar kerja. Bagaimana hidup serta karir Nirmala ? apakah semulus kebaikan hatinya menempuh kehidupan keras ? simak pada cerpen berikut :

Fiksi Inspiratif Pendek – Hati Nirmala

Senyum bahagia tersungging di bibir Nirmala yang kering dan berwarna kebiruan. Tubuh basah kuyup agak gemetar karena menahan dinginnya melenggang riang di tengah derasnya hujan. Seolah tak peduli pada derasnya hujan, gadis belia berumur 15 tahun tersebut tetap saja melenggang bahkan seolah bermain-main dengan derasnya hujan. Tak peduli dengan warna bibir sudah membiru karena lamanya berada dalam kekuyupan. Toh bibirnya masih tersenyum-senyum. Dalam pikirannya melintas beberapa bahan kebutuhan dapur seperti beras, minyak kelapa, gula putih juga sedikit ikan asin berkelebat silih berganti. Tak sabar rasanya ingin tiba dirumah untuk menyampaikan berita gembira kepada Ibunya. Pasti ibu dan adik-adiknya akan gembira.

Tapi keriangan Nirmala terhenti saat dia melihat sesosok tubuh perempuan tergeletak di halte bis sepi. Besar rasa ingin tahunya membuat Nirmala mendekati sosok seperti tengah menahan sakit tersebut. Terlihat wajahnya seputih kapas sambil mengerang kesakitannya. Ditilik dari umurnya wanita tersebut pasti berumur sekitar 30an, wajahnya manis berkulit bening. Penampilannya terlihat agak kusut juga kotor. Siapa dia ? kenapa hujan-hujan begini berada di halte sepi.

“Bu, Ibu kenapa ?” dengan cemas Nirmala mendekatinya, tiba-tiba wanita tersebut memegang lengan Nirmala kuat.

“Tolong aku dek, sakit sekali duhhhh…” sambil mengerang kesakitan wanita itu menatap Nirmala penuh permohonan.

“Ibu sakit ya, sakit apanya ? ”

“Perutku, perut…” erangnya lagi. Dari sela-sela betisnya Nirmala bisa melihat jelas cairan berwarna merah kental meleleh tanpa henti, darah !. Pikiran gadis belia itu cepat menangkap sesuatu tak bisa ditunda.

Segera ditinggalkan wanita tersebut lalu bergegas mencari angkutan umum. Dengan bantuan supir angkot  wanita tersebut segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Untunglah masih siang masih banyak dokter yang bertugas. Secepatnya mereka langsung memberikan pertolongan. Dari sekilas mendengar pembicaraan para bidan dengan dokter, Nirmala jadi tahu kalau wanita ditolongnya mengalami keguguran. Kini dia sedang terbaring lemah di salah satu ruangan puskesmas. Sepertinya sudah tidak kelihatan sakit tapi keadaannya masih begitu lemah. Kata Ibu dokter, wanita tersebut butuh istirahat sehari untuk memulihkan kondisi lemahnya. Saat ditanya kalau wanita itu siapa Nirmalapun menjelaskan seadanya saja. Terlihat sekali sang dokter begitu kagum dengan kebaikkan hati Nirmala.

Seolah ada hal terlupakan, Nirmala beranjak keluar lalu kembali dengan sebungkus makanan serta teh hangat dalam sebuah kantong plastik lengkap dengan sedotan. Walau agak canggung wanita tersebut akhirnya memakan habis nasi juga teh hangat dibeli Nirmala. Nirmala memandangnya dengan senyum.

“Ibu tinggal dimana ?” tanyanya. Sejenak wanita itu memandang Nirmala sedih.

“Kotaku jauh Dek mungkin perjalanan dua hari dua malam dari sini. Tapi…” wanita itu terdiam lalu tertunduk. Seolah banyak kisah ingin diceritakan tapi bibirnya seperti tak sanggup untuk bercerita… dan Nirmala seolah mengerti.

Dia tak membawa apa-apa hanya sebuah saputangan berwarna hijau muda bergambar bordiran bunga lily di sudutnya tergenggam erat seolah merupakan benda sangat berharga baginya. Nirmala tahu wanita itu tak punya apa-apa apalagi uang. Pasti juga tak punya ongkos untuk pulang. Dengan mengucapkan kata permisi nan santun Nirmala keluar dari ruangan. Dia mengeluarkan sebuah plastik pembungkus es di dalamnya ada beberapa lembar uang. Ada sekitar 1 juta dua ratus, uang 500 ribu adalah hasil kerjanya selama sebulan dari membantu Bu mien di kantin sekolah, sementara 700 ribu diberikan ibu kepala sekolah sebagai beasiswa baginya setiap 3 bulan sekali. Tentu saja hatinya sangat gembira. Karena itulah tadi dirinya tak bisa menyembunyikan kegembiraan hingga bermain hujan-hujanan.

Dengan langkah pelan Nirmala mendekati ruangan Ibu dokter penolong wanita tadi. Ketukan dipintu membuat sang dokter mendongak dan tersenyum ramah kepada Nirmala.

“Ayo masuk” ajak Ibu dokter. Nirmala masuk dengan ragu.

“Ibu dokter saya mau tanya biaya pengobatan ibu tadi berapa yah Bu dokter ?” Tanya Nirmala pelan. Ibu Dokter menatap Nirmala kagum, jujur saja baru kali ini dirinya bertemu dengan gadis remaja mau menolong orang lain begitu tulus. Dia merasa malu, sangat malu. Gadis belia tersebut terlihat dari kalangan bawah namun memiliki hati seperti malaikat.

“Kenapa ? kamu mau membayar biayanya ?” tanya Ibu dokter. Nirmala menganguk.

“Memangnya kamu punya uang dek ?”

“Ada Bu dokter, tadi saya terima uang hasil kerja bantu-bantu di kantin sekolah. Tapi gak banyak, gak tahu cukup apa gak untuk biaya pengobatannya.” Polos jawaban Nirmala membuat Ibu Dokter ingin menangis. Tak sadar matanya sudah berkaca-kaca, gadis ini siapa orang tuanya ? Mereka mendidiknya dengan sangat baik.

“Biayanya 300 ribu untuk tindakan dokter. Soalnya ibu itu tidak punya kartu Jamkesmas atau BPJS. Kalau ada tentu semuanya gratis. Cuma…untuk kamu ada pengecualiannya. Ibu tak akan meminta pembayaran dalam bentuk apapun, cukup satu kamu harus sekolah dengan baik…”

Sepasang bola mata Nirmala berbinar ceria, dengan santun dia mencium tangan Bu Dokter sambil berulang-ulang kali mengucapkan terima kasih. Sedangkan sang dokter hanya bisa menatapnya nanar penuh haru.

“Bu, ini ada sedikit uang untuk Ibu pulang, saya gak tahu apa cukup atau enggak tapi saya hanya bisa membantu sebisa saya. Saya harap Ibu menerimanya.” Nirmala menyodorkan gulungan uang kertas ke dalam jemari wanita itu. Tatapan mata miliknya terlihat tak sanggup menyembunyikan keharuan.

“Lalu kamu bagaimana, uang ini pasti sangat berarti buat kamu dek ?”

“Tidak usah dipikirin Bu, uang bisa dicari tapi Ibu lebih membutuhkannya. Ibu jangan cemas. Sekarang Ibu istirahat, besok baru pulang. Jangan kuatir Ibu dokter sudah membebaskan semua biayanya.”

Lagi-lagi hati wanita tersebut tersentuh, dalam dunia dianggapnya kejam ternyata masih banyak orang baik berhati mulia.

Bunyi adzan menyentakkan Nirmala kalau sudah maghrib.” Maaf yah Bu saya permisi dulu sudah Mahgrib. Besok pagi kalo mau kesekolah saya pasti saya mampir.”

“Tunggu Dek,”  tahan wanita tersebut. “Nama kamu siapa ?”

“Nama saya Nirmala Sarwendah Bu,” ucap Nirmala tersenyum. “Saya permisi Bu, Assalammualaikum”

Wanita itu terdiam, setitik bening mengalir di pipinya, keharuan menyelimuti hatinya. Dia begitu takjub pada hati Nirmala. Gadis sebelia itu sudah mengerti tentang arti sebuah kebaikan, bagaimana dengan dirinya ? kenapa harus putus asa, kehilangan bayinya bukanlah akhir dari dunia. Nirmala bisa bertahan kenapa dirinya tidak bisa ? kebaikan Nirmala begitu membekas dalam hatinya.

********

Nirmala menghitung uang dalam plastik es di tangannya, sisa 300 ribu, entah cukup atau tidak untuk membeli keperluan di rumah. Saat langkahnya tiba di depan sebuah rumah begitu sederhana, dari luar telinganya bisa mendengar suara Ibu serta kedua adik-adiknya sedang belajar mengaji. Nirmala tersenyum lebar sambil mengucapkan salam agak keras, seketika kedua adik-adiknya menghambur keluar disusul ibunya. Nirmala langsung duduk diatas dipan terbuat dari bambu, kedua adiknya langsung memeluk Nirmala.

“Jangan Ndi baju kakak basah ni tadi kehujanan,” larang Nirmala. Kedua adiknya langsung masuk kembali kedalam rumah saat menyentuh baju Nirmala yang memang masih basah.

“Koq baru pulang Nir ?” teguran Ibu membuat Nirmala tertunduk.

“Bu maafin Nirmala yah pulangnya telat, bukan Nirmala sengaja tapi tadi di jalan….”. Cerita kejadian siang tadipun meluncur dari bibir Nirmala tak kurang juga tak lebih. Sang Ibu menyimak seksama sambil sesekali menganguk mengerti ditimpali senyum lembut menampakkan kearifan hati. Diraihnya kepala Nirmala dalam pelukan sambil membelainya lembut. Dalam hatinya betapa senang juga bangga hatinya akan perilaku Nirmala.

“Berarti bukan rejeki kita Nduk, Allah Maha Kaya, Maha Mengetahui. Setiap kebaikan pasti pahalanya berlipat ganda. Jangan kuatir anakku, Insya Allah pasti dicukupkan semua kebutuhan kita yah. Sekarang kamu mandi, ganti baju, lalu makan trus sholat ya …”.

Nirmala menganguk, disisipkannya gulungan uang ke tangan sang Ibu lalu bergegas masuk ke dalam meninggalkan sang Ibu dalam ketermenungan sangat dalam. Hatinya penuh bisikan syukur kepada sang Pencipta, bukan hanya karena gulungan uang diterimanya, tapi karena dikaruniakan seorang anak berahklak mulia.

Pagi-pagi benar Nirmala sudah berangkat kesekolah berbekal sebungkus nasi goreng buatan Ibu ditambah sebotol teh hangat dalam botol air mineral dengan niat untuk memberikan bekal tersebut pada wanita kemarin. Tapi saat tiba, wanita tersebut sudah tidak ada. Kata Ibu Bidan petugas piket sampai pagi, wanita tersebut sudah pergi dini hari tadi. Namun dia meninggalkan sesuatu untuk Nirmala, sebuah saputangan berbordir bunga Lily. Walaupun Nirmala tak tahu siapa nama wanita tersebut tapi hatinya yakin bahwa wanita tersebut sudah kembali ke kotanya untuk kembali pada takdirnya.

*************

Bertahun-tahun kemudian, proses kehidupan sudah berjalan 15 tahun lamanya. Kini Nirmala tumbuh menjadi gadis dewasa. Kehidupan keras banyak mengajarkannya bahwa tak ada bisa diraih tanpa kerja keras serta pengorbanan. Dia memang tidak bisa melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi, keadaan keluarga ditambah kedua adiknya butuh biaya untuk sekolah membuatnya harus kerja serabutan. Tak ada waktu baginya bermain-main. Apalagi Ibu tak sekuat dulu. Wanita disayangnya tersebut lebih banyak tinggal di rumah. Dia memang sudah melarang ibunya untuk bekerja. Kedua adik-adiknya juga tumbuh dengan baik, sambil sekolah mereka juga kerja sambilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Kini  kedua adiknya sudah kuliah. Ajaran bahwa pendidikan sangat penting terpatri kuat dalam pikiran kedua adik lelakinya. Bersyukurlah dirinya karena kedua adiknya tumbuh dengan sikap serta karakter penuh pemahaman juga pengertian untuk selalu mensyukuri atas segala sesuatu dari Sang Empunya Kehidupan. Sekarang Bimo sedang KKN sedangkan Dwiki tak lama lagi akan menyusul kakaknya.

Semuanya merupakan hasil kerja keras Nirmala, tak peduli apapun, demi kedua adiknya dirinya bekerja pada 3 tempat sekaligus. Asalkan adik-adiknya bisa bersekolah dengan baik, sudah merupakan kebanggaan tersendiri buat dirinya. Rasa lelah juga letih seperti tak terasa saat melihat kedua adiknya berhasil. Kepeduliannya kepada keluarganya terkadang membuat sang ibu menitikkan air mata. Walaupun dibesarkan tanpa kasih sayang sang Ayah, Nirmala tumbuh dengan ahlak ibu peri, menjadi pengganti Ayah untuk adik-adiknya.

Kini umurnya sudah kepala tiga tapi tak sedikipun terpikir untuk menikah. Dia sudah berjanji dalam hati untuk membuat adik-adiknya berhasil lalu kemudian bisa bernafas lega. Padahal dilihat dari fisik Nirmala termasuk gadis cantik berpostur tubuh tinggi semampai. Hanya saja semua tersembunyi dalam balutan penampilan begitu sederhana. Untunglah sekarang dirinya bisa agak lega karena hanya pada dua tempat saja bekerja. Sebagai pelayan di sebuah Café kopi lumayan ramai dan sebagai kasir di sebuah toko pakaian. Ada sih keinginannya untuk bekerja sebagai karyawan kantoran, tapi rasanya itu terlalu elite. Apalagi dirinya hanya lulusan SMA, bagaimana bisa diterima sebagai karyawan di perusahan, sementara sarjana saja sekarang banyak menganggur.

Toko sedang sepi, jadi Nirmala bisa duduk santai sejenak sambil baca-baca koran. Iseng-iseng dibukanya kolom lowongan kerja pada halaman paling belakang. Sebuah perusahan besar cukup terkenal di kotanya sedang membuka lowongan pekerjaan. Iklan lowongan kerja perusahan tersebut hampir setengah bagian koran. Mata Nirmala terbuka lebar saat matanya membaca kalimat dibuka untuk lulusan SMA pada bagian arsip kantor.

Ahahah… setelah membaca persyaratan yang harus dimasukkan bagi tamatan SMA Nirmala memantapkan hatinya untuk mengajukan lamaran via email. Cukup lama dia bekerja dengan menggunakan komputer dan dia cukup ahli dalam menggunakan komputer walau dia hanya belajar secara otodidak. Jika hanya untuk bekerja di bagian arsip rasanya mungkin lebih mudah dari pada membuat laporan keuangan yang biasa dia lakukan.

Lamaran pekerjaan via email sudah dikirimkan sekarang hanya menunggu kabar wawancara via ponsel. Tak sadar Nirmala mengusap ponsel buatan cina berusia setahun bersamanya. Mimpinya untuk bekerja pada satu tempat saja memenuhi benaknya, apalagi sering didengarnya kalau gaji pada perusahan tersebut besar, tunjangan juga asuransi kesehatannya bagus. Kalau bisa kerja disana, dirinya bisa membawa Ibunya untuk berobat kerumah sakit bagus.

Perusahan bergerak dalam bidang alat kesehatan serta kosmetik tersebut memang sebuah perusahan besar. Cabangnya bahkan tersebar di berbagai kota negari ini. Dia tak lagi mengkuatirkan biaya wisuda kedua adiknya kalau bisa bekerja disana. Nirmala menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit malam pekat kelam. Jauh dalam hatinya berbisik lirih memohon pada Sang Khalik untuk diberi kesempatan kerja.

Nirmala baru saja menyelesaikan makan siangnya ketika sebuah pesan masuk, pesan untuk pemberitahuan wawancara yang akan diadakan pada hari yang sudah ditentukan dengan pemberitahuan syarat berpakaian seperti biasa, kemeja putih dan rok hitam yang sopan. Senang rasanya hatinya menerima pesan singkat itu dia tahu dalam wawancara ini tak akan mudah dia juga punya banyak saingan yang akan diwawancara bersama-sama dengannya .

********

Hari penentuan tiba, hari ini Nirmala sengaja minta ijin sehari untuk wawancara. Untunglah bos pemilik toko pakaian tempatnya bekerja orangnya sangat baik juga pengertian. Dia diijinkan untuk tidak masuk kerja satu hari. Nirmala menatap bayangan wajahnya di kaca toko, penampilannya begitu berbeda karena baru sekarang menggunakan kemeja serta rok rapi. Melihat wujudnya bibirnya tersenyum sendiri, membayangkannya saja sudah merasa seperti karyawan saja.

Sebenarnya dirinya sudah cukup tua untuk melamar pada perusahan sebesar itu, tapi batasan umurnya sampai 35 tahun untuk bagian pengarsipan. Jadi dirinya masih memiliki kesempatan. Setidaknya dirinya sudah mencoba, syukur-syukur jika bisa diterima.

Wawancara dilaksanakan di kantor perusahan terletak pada gedung perkantoran elite pada lantai 25. Saat keluar dari lift, nama perusahan cukup ekslusif terpampang seperti ucapan selamat datang. Lewat petunjuk resepsionis dirinya dituntun ke tempat wawancara. Disana sudah hadir beberapa orang sama dengannya sedang duduk di ruang tunggu.

Ternyata wawancaranya diadakan dalam ruangan meeting. Sekali masuk wawancara ada tiga orang. Ada sedikit rasa gugup, tapi Nirmala meyakinkan dirinya untuk tidak gugup. Saat tiba gilirannya bersama dua orang lainnya, dirinya dipersilahkan masuk menghadap empat orang petugas wawancara mereka. Saat tiba gilirannya, dia ditanya tentang pengalaman kerja, motivasi kerja pada perusahan, visi serta misinya, juga tentang gaji. Semuanya dijawab dengan jelas, cepat dan lugas. Semua pertanyaannya sudah diperhitungkannya.

Pada bagian akhir, dirinya diuji dalam percakapan berbahasa inggris, sekali lagi Nirmala menjawab sopan, spontan penuh percaya diri. Hatinya sangat bersyukur karena nilai bahasa inggrisnya sering mendapat nilai 10. Lagipula dirinya pernah bekerja sebagai pelayan pada sebuah restoran Eropa selama dua tahun. Chiefnya orang Inggris dan selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, alhasil bahasa Inggrisnya cukup lumayan.

Nirmala menyelesaikan wawancaranya dengan baik, urusan diterima atau tidak pada akhirnya terserah pada Yang Kuasa. Semuanya dipasrahkan pada Yang Memiliki Kehendak dan Ridho. Dirinya hanyalah manusia biasa. Hanya bisa berusaha semampunya. Jadi apapun hasilnya, Nirmala tidak akan kecewa.

Nirmala keluar dari pintu Lift dengan tergesa-gesa. Sehingga tidak melihat seorang wanita juga sedang tergesa-gesa masuk ke dalam lift. Tabrakan kedua tubuh tidak bisa dihindarkan. Sang wanita anggun hanya tersurut mundur sedangkan Nirmala jatuh terduduk.

“Maaf, maaf Bu…” Nirmala bangkit tergesa-gesa. Sedangkan sang wanita mengibaskan pakaiannya, tas tangannya tadi sempat jatuh namun diraih cepat oleh seorang laki-laki berjas disampingnya. Sedangkan tas tangan milik Nirmala isinya berserakan di lantai.

Menyadari hal tersebut, Nirmala cepat-cepat meraih isi tasnya lalu memasukkannya ke dalam tas terburu-buru. Tetapi wanita yang tadinya akan melanjutkan langkah mengurungkan niatnya saat matanya menangkap sesuatu dengan cepat. Sebuah sapu tangan berwarna hijau, bordirannya terlihat jelas saat benda halus tersebut dimasukkan terburu-buru kedalam tas Nirmala.

“Maaf Bu…” lagi-lagi ucapan permohonan maaf keluar dari bibir Nirmala.

“Tunggu !” suaranya terdengar menahan langkah Nirmala, Nirmala berhenti. Dia memejamkan matanya. Pasti wanita tersebut akan memarahinya karena sudah menabraknya. Dari penampilannya saja Nirmala tahu wanita tersebut bukan wanita sembarangan.

“I iya  Bu… “, Nirmala menunduk sedikitpun tak berani menatap sang pemilik suara. Tapi wanita tersebut mengawasinya penuh seksama.

“Kalau jalan hati-hati ya, kamu bisa terluka jika jalan terburu-buru seperti itu,”

Ucapan lembut tidak disangka datang darinya membuat Nirmala perlahan mengangkat kepala menatapnya. Sebuah raut wajah cantik ber make up sempurna. Walau matanya tertutup kacamata hitam, Nirmala tahu wajahnya sangat cantik. Semua benda menempel pada tubuhnya pastilah sangatlah mahal. Tebakannya mungkin dia seorang direktris atau istri pemilik perusahan.

Kali ini Nirmala membungkuk penuh hormat. Lega rasa hatinya, disangkanya akan dimarahi. Wanita tersebut membuka kacamata hitamnya, dirinya belum beranjak dari tempat semula, pandangannya masih tertuju pada tubuh Nirmala yang berjalan menjauh. Hatinya berbisik lirih, gadis itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Sedang apa dirinya disini ? jangan-jangan… hmmm sebaiknya dia menyuruh asistennya untuk mencari tahu.

******

Seharian ini Nirmala kehilangan konsentrasinya, jantungnya berdegub kencang menunggu pesan masuk ke ponselnya. Dirinya menunggu pemberitahuan hasil wawancara lalu. Saat ponselnya berbunyi, Nirmala membuka dengan tegang. Tapi saat membaca isi pesannya, Nirmala langsung lemas. “Maaf anda belum bisa bergabung pada perusahan kami pada bidang kearsipan”. Sedetik wajah Nirmala tertekuk murung tapi akhirnya dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dirinya tahu juga sadar itulah kesempatan terakhirnya untuk menjadi seorang karyawan. Namun kesempatan tersebut sudah lewat, sekarang dirinya tidak boleh patah semangat, Bima dan Dwiki sebentar lagi akan diwisuda. Mulai sekarang dirinya harus fokus pada pekerjaan. Nirmala kembali tenggelam dalam pekerjaannya dengan senyum ihklas selalu tersungging.

Dua hari kemudian sebuah pesan masuk pada ponselnya, “Nirmala Sarwendah selamat bergabung pada perusahan kami, anda diterima pada bagian Acounting. Diharapkan besok hari untuk melapor ke bagian HRD perusahan kami”.

Bibir Nirmala bergetar tak sadar tubuhnya jatuh bersujud, sekali lagi dibacanya pesan pada ponselnya. Pesan itu masih tak berubah, masih dengan kalimat sama. Sedetik kemudian berkali-kali Nirmala sujud syukur betapa takjub hatinya pada Kuasa Ilahi. Berita ini seperti kado atas kerja kerasnya selama ini.

Terima kasih Ya Allah, bisik hatinya terus terucap berulang-ulang. Masih tak percaya pada keajaiban diberikan sang Penguasa Semesta. Saat tiba di rumah dia kembali dikejutkan oleh beberapa kiriman barang berupa sepatu juga pakaian kantor beberapa pasang. Tidak ada nama pengirimnya, hanya sebuah kartu ucapan selamat terselip diantara rangkaian bunga lily.

Selamat bergabung pada perusahan kami, ini merupakan bingkisan selamat datang. Ingatlah untuk tetap memiliki kerendahan hati dengan tetap menjadi wanita baik dan tetaplah menjadi diri sendiri. Dari orang yang tidak akan menjadi seseorang tanpa kebaikanmu.

*******

Selama 6 tahun Nirmala bekerja pada perusahan itu sudah 3 kali berturut-turut menjadi pegawai teladan sehingga disekolahkan oleh perusahannya secara khusus mengambil jurusan bisnis Stanford. Nirmala berhasil menjadi lulusan terbaik dalam waktu 3 tahun.

Memasuki tahun ke 8 dia dipromosikan sebagai manajer keuangan. Sampai saat menjadi manajer keuangan dia tidak pernah tahu kalau wanita pernah ditolongnya adalah salah satu direktris yang cukup akrab dengannya. Wanita yang mengubah nasibnya dari takdir yang mempertemukan mereka 15 tahun lalu.  Wanita itu memang tidak pernah memberitahukan Nirmala siapa dirinya, karena memang dirinya sengaja ingin melihat bagaimana Nirmala bekerja dengan kemampuan juga keyakinannya sendiri. Ternyata pilihannya tidak salah.

Sesungguhnya Nirmala memang tidak akan bisa diterima pada perusahan itu tapi takdir mengikat keduanya sehingga membuat nasib Nirmala berubah. Tak pernah Nirmala sadari kalau atasannya yang suka marah-marah tapi peduli padanya adalah wanita pernah ditolongnya 15 tahun lalu. Memasuki tahun ke 10 saat Nirmala menginjak ulang tahunnya ke 40 dia dilamar oleh seorang duda tampan pekerja diperusahan sama, dia adalah Irgintio Sukmana anak tiri Niken Suseno wanita yang ditolongnya waktu itu.

Pada tahun ke 11 saat masih menjadi manager keuangan, Niken Suseno masuk rumah sakit. Kanker Rahim dideritanya 3 tahun terakhir membuatnya tidak bisa bertahan. Dia menghembuskan nafas terakhir dengan menggenggam tangan Nirmala, Niken meninggal dengan tersenyum. Sapu tangan berwarna hijau muda berbordir bunga lily tergenggam erat ditangannya menyatu berama jari-jari Nirmala yang basah oleh air mata.

Nirmala baru mengetahui wanita yang begitu dihormati juga disayanginya setelah ibunya, yang membentuk dirinya hingga bisa seperti ini ternyata adalah wanita pernah ditolongnya bertahun-tahun lalu. Bertahun-tahun Niken menyembunyikan identitasnya, dan Nirmala berterima-kasih atas keputusannya tersebut. Keputusan Niken menyembunyikan identitas telah membuat Nirmala bisa membuktikan kemampuan dirinya kalau dirinya tidak akan berubah walau bisa meraih segalanya.

Waktu telah menguraikan kisah mereka lewat proses tidak mudah untuk dijalani. Tapi satu hal paling penting adalah menanam kebaikan. Kebaikan apapun walau cuma sekali bisa tumbuh beribu-ribu kali. Kebaikan dan ketulusan tanpa pamrih senantiasa akan tetap menjadi doa dimana dan kapanpun kita berada.(PW)


Terima kasih telah membaca fiksi inspiratif pendek kami. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi maupun motivasi pada sobat Bisfren sekalian agar senantiasa tolong menolong secara tulus kepada sesama. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

4 Comments

  1. Dua jempol buat mbak Putri, ceritanya mantaaap…. bikin ngeces. Bikin yang kayak gini lagi yaaa…. gak usah romantis-romantisan he he he sukses mbak

  2. Bagus ceritanya sangat menyentuh perasaan dan jadi motivasi buat remaja menjadi lebih peduli