Curhat Kawin Lari – Ibu Mertua Mengertilah

kisah nyata curhat kawin lari

Kisah nyata curhat tentang wanita yang tinggal di rumah mertua yang tidak setuju pernikahan mereka. Umumnya ibu mertua dengan menantu perempuan memang sulit untuk akur apalagi kalau cerita diawali dengan kawin lari. Dibutuhkan kesabaran dan pengertian lebih dari keduanya. Simak selengkapnya pada curhat dari kisah nyata berikut :

Kisah Nyata Curhat Kawin Lari : Ibu Mertua, Mengertilah

Tahun ini adalah tepat dua tahun usia pernikahanku. Waktu itu tepatnya bulan Desember, kami menikah. Setelah melalui perjalanan panjang masa pacaran. Betapa bahagianya kami, setelah berpacaran hampir empat tahun lamanya akhirnya kami menikah juga. Aku dan mas Aryo adalah teman kuliah.

Kami berkenalan sejak semester pertama. Entah kenapa dan darimana datangnya cinta, mungkin juga karena kami teman satu jurusan dan sama-sama perantauan akhirnya cinta yang menyatukan kita. Hubungan cinta kami begitu lancar, tidak ada kendala berarti, kami saling mengerti dan mengisi. Aku yang periang, supel dan mas Aryo yang pendiam, sungguh kami pasangan yang serasi.

Banyak teman kami yang iri dengan kekompakan juga kemesraan kami. Menurut mereka kami adalah pasangan romantis. Bersyukur aku memiliki mas Aryo. Kemana saja kami pergi selalu berdua, di mana ada mas Aryo pasti ada aku, begitu sebaliknya. Selama kami pacaran, belum pernah kami saling mengenalkan orangtua masing-masing, jarak rumah kami begitu jauh. Mas Aryo berasal dari Solo, sedang orangtuaku tinggal di Sumatera.Hal itu tidak masalah bagi kami, karena cinta kami begitu kuat.

Akhirnya tiba saat kami selesai kuliah menjelang wisuda

“Mira, besok saat wisuda orangtua ku datang, aku akan mengenalkan dirimu dengan orang tuaku.” kata Mas Aryo. ” Iya Mas, saatnya juga dirimu bertemu orang tuaku.” kataku.

Kami berencana, saat nanti wisuda, saat orang tua kami datang, mas Aryo berencana untuk melamarku. Bagaimanapun kami sudah lama berhubungan, tentunya kami ingin mengikat hibungan kami dalam tali pernikahan.

Tiba saat acara wisuda, kebetulan kami duduk agak jauh. Setelah acara wisuda, mas Aryo mengajak kami untuk bertemu di restoran. Di momen itu mas Aryo mengutarakan niatnya untuk melamarku. Tapi di luar dugaan kami, ibu Mas Aryo bereaksi tidak setuju. Dia beralasan bahwa hal ini sangat mendadak, dia juga belum mengenalku.

Setelah pertemuan itu, mas Aryo langsung diajak pulang Ibunya. Beberapa lama kami kehilangan kontak. Melihat keadaan ini, orangtuaku juga mengajakku pulang. Ibu tidak terima kalau aku diperlakukan seperti ini. Kondisi ini membuat aku putus asa. Bagaimana pun aku sangat mencintai Mas Aryo. Aku masih tidak percaya kalau kisah cintaku akhirnya cuma seperti ini.

Sebulan berlalu, dan suatu hari tanpa kusangka mas Aryo datang ke rumah. Dia melamarku seorang diri. Orangtuaku gantian tidak setuju, karena pernikahan ini harus disetujui kedua belah pihak.

Kawin lari, tinggal di Jakarta

Entah mengapa saat itu kami berpikiran pendek. Kami melarikan diri ke Jakarta. Di sana kami mengontrak sebuah rumah kecil. Kami menikah siri, membangun keluarga kecil tanpa restu orang tua.

Hidup kami sungguh berat, mas Aryo memang sarjana, beruntung dia diterima bekerja di sebuah perusahaan, tapi gajinya masih kecil. Di tengah persaingan hidup di kota metropolitan, tentu hal ini sangat kami syukuri.

Tak berapa lama, aku hamil. Hal ini membuat kami bahagia. Kekuatan cinta kami yang membuat kami bertahan dalam kekurangan. Tapi hidup kami bertambah sulit saat kami harus terima kalo mas Aryo di PHK. Kami mencoba bertahan beberapa saat sambil mas Aryo melamar kerja lagi. Tapi tak juga mas Aryo dapat panggilan.

Melihat kondisiku yang hamil, mas Aryo tidak tega. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajakku pulang ke Solo. Awalnya aku tidak setuju, aku lebih suka pulang ke Sumatera saja, rumah orang tuaku. Tapi mas Aryo yang nggak setuju. Akhirnya sebagai istri aku menurut kata suami. Tidak bisa aku membayangkan bagaimana sikap ibu mertuaku nanti.

Tinggal di rumah mertua

Kedatangan kami mengejutkan keluarga mas Aryo. Orangtuanya memeluk mas Aryo, mungkin mereka sangat rindu, apalagi Ibunya yang memeluk mas Aryo lama sekali.

Sementara diriku hanya berdiri diam dengan kondisi perutku yang besar. Hingga akhirnya mas Aryo mengenalkanku. Seketika mereka diam, tak ada yang menyalamiku. Bahkan Ibu mas Aryo langsung beranjak pergi lalu masuk ke kamar, diikuti satu per satu keluarga lain.

Hanya tinggal Bapaknya mas Aryo dan kami berdua. Bapak tersenyum lalu mendekatiku. “Selamat datang di rumah kami, mantuku.” kata Bapak sambil menyalamiku. Sedikit lega aku, akhirnya ada juga yang menyalamiku, mas Aryo memegang erat bahuku, berusaha menguatkanku.

Akhirnya Bapak menyuruh kami untuk masuk ke kamar. “Sana istirahat dulu, pasti kalian capek.” mas Aryo menggandengku masuk ke kamarnya.

Saat melewati sebuah kamar, sayup-sayup terdengar suara orang menangis. Mungkin itu suara Ibu mas Aryo. Semakin erat mas Aryo menggenggam tanganku, dan berjalan lebih cepat.

Sampai di dalam kamar, tak kuasa aku menahan tangisku. Aku rebahkan tubuhku dan menutupi wajahku dengan bantal. Aku menangis di balik bantal. Mas Aryo mendekatiku, lalu membelai kepalaku. ” Yang sabar ya sayang.” Bisiknya.

Aku mengerti pasti posisi mas Aryo begitu sulit. Ku usap airmataku, lalu ku peluk suamiku. Tidak ingin diriku membuat suamiku sedih. Ku genggam tangannya.

Hari hari berat tinggal di rumah mertua

Dan hari- hari tinggal bersama mertua pun di mulai. Masih seperti dari awal, ibu mertua belum bisa menerimaku, apa yang ku lakukan selalu salah di matanya. Begitu juga adik iparku, Susi , sikapnya sama, memusuhiku. Ku coba bersabar, semua demi keluarga kecilku. Apalagi demi calon si kecil yang sedang ku kandung, aku harus kuat.

Suamiku kini membantu usaha Bapak, menjalankan wirausaha bahan bangunan yang sebelumnya merupakan usaha sampingan. Setiap pagi mas Aryo berangkat pagi ke toko lalu pulang pada sore hari.

Sebelum berangkat, Ibu menyiapkan sarapan buat Mas Aryo. Setiap mau membantunya, selalu berusaha dihalangi. Bahkan saat mereka sarapan pagi bersama di meja makan, aku tidak pernah diajak. Aku harus makan bersama pembantu di dapur. Pernah mas Aryo mengajakku, tapi berakhir dengan ngambeknya Ibu yang nggak mau makan lalu mengurung diri di kamar. Akhirnya diriku mengalah.

Setiap hari aku tidak boleh bergabung bersama mereka melihat televisi. Aku harus di belakang, membantu pekerjaan pembantu. Beruntung Mbok Nah dan Yu Surti begitu baik padaku. “Yang sabar ya Mbak. Sudah Mbak Mira nggak usah membantu, istirahat saja.” Mbok Nah tidak tega melihatku dengan kondisi perut yang besar.

Suamiku berbalik berpihak pada ibunya

Yang ku sedihkan, semenjak tinggal disini, belum pernah diriku periksa kandungan. Pernah suatu kali ku bilang sama mas Aryo. Tapi mas Aryo bilang masih sibuk, dia beralasan toko sedang ramai. Pernah juga ku minta diantar sore atau malam ke dokternya, tapi dia bilang capek.

Kadang diriku merasa kesepian, suamiku lebih sering menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Sementara aku lebih banyak di kamar. Pernah suatu kali aku keluar main ke rumah tetangga, begitu tahu, Ibu mertua mendatangiku dan menyuruhku pulang. Di rumah diriku dimarahinya.

Betapa sakit hatiku, tak kusangka banyak kata- kata buruk dia keluarkan padaku. Mulutku hanya terdiam, rasanya sudah tidak kuat lagi. Sampai akhirnya pingsan. Lalu mbok Nah dan mbak Surti memapahku ke kamar. Kebetulan ada tetangga tahu kejadian ini, lalu memberi tahu suamiku. Banyak tetangga datang lalu membawaku ke Puskesmas. Sementara Ibu mertuaku begitu tahu aku pingsan langsung masuk ke kamar.

Di Puskesmas, diriku segera ditangani, beruntung tetangga baik padaku. Hingga akhirnya datang suamiku. Dokter bilang kalau aku menderita kurang gizi, harus dirawat di Puskesmas untuk memulihkan kondisiku.

“Maaf, Bapak. Sebaiknya jaga kondisi istri Bapak, beruntung kondisi janin masih baik.” kata dokter pada suamiku.

Aku harus merasa kecewa, setelah pulang opname, kondisi tidak berubah. Sikap Ibu mertua semakin jahat padaku. Sementara suamiku hanya bisa menyuruhku bersabar tanpa bisa membelaku. Aku sudah bersabar dan mencoba kuat.

Demi kesehatan janinku, akhirnya aku memutuskan untuk meminta ijin suamiku, pulang ke rumah orangtuaku. Dan suamiku lagi-lagi tidak bisa berbuat banyak, dia mengijinkanku tapi tidak bisa mengantarkanku. Bahkan untuk mengantar ke bandara pun, suamiku tidak bisa mengantar.

Tiket pesawat juga dibelikan orangtuaku. Akhirnya aku diantar tetangga ke bandara. Suamiku tidak memberiku uang saku sedikitpun padaku. Hanya Bapak melepas kepergianku, begitu juga Mbok Nah dan Mbak Surti.

Maafkan aku Mas, kalau aku tidak kuat dan juga sabar. Ku lakukan semua ini demi kesehatan anak kita. Walaupun sangat kecewa dengan ketidakberdayaanmu menjagaku. Ku tahu kamu begitu mencintai Ibumu, aku sangat mengerti. Mungkin memang diriku yang salah.

Dan yang lebih penting sekarang adalah kesehatan calon anak kita. Silahkan saja kalau mau kecewa dengan sikapku, yang penting diriku akan selalu menghormatimu. Itu saja.(af)


Terima kasih telah membaca kisah nyata curhat kawin lari kami, semoga curhat dari kisah nyata tersebut dapat menjadi pelajaran bagi remaja untuk tidak sekedar memutuskan berkeluarga hanya dengan dasar cinta. Izin dan restu orang tua sangat dibutuhkan karena tidak mudah menyatukan dua hati tanpa restu orang tua. Yang direstui saja bisa bercerai apalagi yang tidak direstui. Salam sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait