Cerpen Sedih PSK : Intan Dan Kirani

cerita sedih kehidupan sosial pelacuran anak

Cerita sedih kehidupan sosial Intan dan Kirani berkisah tentang dua orang gadis kakak beradik korban penjualan anak dan dijadikan pelacur (PSK). Keduanya berpisah dengan maksud mendapat kehidupan lebih baik, tetapi nasib berkata lain. Simak hingga akhir cerpen sedih berikut.

Cerita Sedih Kehidupan Sosial Remaja Intan Dan Kirani

Intan memasuki kamar berukuran 2×3 itu dengan langkah lunglay ditangannya sebuah tas kresek berisi 2 bungkus nasi padang serta 2 plastik air mineral bekal makan malam untuk adiknya. Makanan tersbeut dibelinya sekitar sejam lalu didepan jalan masuk gang. Gadis remaja berusia 16 tahun itu tersandar kelelahan didinding kamar terbuat dari triplek itu. Suara triplek membangunkan Kirani adiknya duduk dikelas 6 SD, sedangkan Dio adik bungsunya sedikitpun tak terusik dengan kehadirannya.

“Kakak sudah pulang ? Rani buatkan teh hangat yah ?” Kirani bergegas menghampiri. Intan berusaha tersenyum lembut, disodorkannya bungkusan plastik berisi makanan, langsung diterima Kirani.

“Bangunin Dio dia pasti belum makan dari siangkan  …?”

Kirani menganguk mendekati tubuh Dio tergolek lelap, pelan-pelan ditepuknya tangan Dio.

“Dio bangun yuk Kakak sudah pulang kita makan yuk…” adiknya menggeliat malas lalu kemudian bangun saat hidungnya mencium aroma nasi padang sudah dibuka Kirani diatas piring. Intan menatap miris kedua adiknya saat menikmati makanan dengan sangat lahap, hatinya teriris, rasanya ingin berteriak, berseru pada Tuhan mengapa begitu tiada keadilan bagi hidupnya dan adik-adiknya.

Intan melacur karena dipaksa

Nyeri begitu hebat masih terasa di selangkangannya, sakit bagian bawah perutnyapun belum hilang. Dia bahkan hampir tidak bisa berdiri saat terakhir melayani tamu Tante Noni. Abang  brewokan dengan postur tubuh tambun sering membawa truk gandengan benar-benar tak memberinya sedikitpun waktu untuk beristirahat. Tubuhnya begitu lelah, hatinya apalagi, tapi kedua adik-adiknya ini adalah semangat untuknya menghadapi hidup seperti neraka. Senyum mereka bagaikan obat pendamai hati serta penyejuk lara jiwanya.

Kalau saja boleh memilih pekerjaan lain, tapi dirinya bisa apa ? tamat SMP pun dia tidak. Bukan keinginan hatinya untuk bekerja seperti ini, pekerjaan nista lagi begitu tercela dimata masyarakat. Bahkan kalaupun bisa, ingin tangannya mengupas kulit untuk membunuh dirinya sendiri. Diri yang ternoda, hati terkoyak, martabat terinjak-injak.

Dua laki-laki teman Tante Noni, bukan bukan teman Ibu tirinya itu entah kenapa bisa ada dikamarnya malam itu. Dan pada malam itu dua tahun lalu, dua hari sebelum dirinya berumur 14 tahun, dirinya kehilangan kebanggaannya. Harta berharga selalu dijaga mengingat pesan bunda sebelum meninggal. “kamu boleh kehilangan apa saja dalam hidupmu anakku tapi jangan kehilangan martabatmu sebagai wanita”, telah terenggut.

Seandainya ibu masih ada

Bunda… hati Intan menjerit piluh, bunda lihat Intan Bunda. Intan sudah takk sanggup lagi hidup seperti ini. Tak terasa pipi kurusnya terasa hangat. Kirani menelan makanannya dengan lahap. Berusaha menyenangkan hati kakaknya dengan menunjukkan didepan sang kakak kalau dirinya selalu menghargai makanan dari kakaknya. Menelan makanan seolah susah untuk telannya, hampir-hampir tenggorokannya tersedak, tapi cepat-cepat diminumnya air. Hatinya juga menjerit pilu tak peduli jika makanannya penuh dengan air mata.

Kakakku tersayang, kakakku baik hati betapa malangnya nasib kita. Kirani tahu penderitaan seperti apa dijalani hidup kakaknya Intan, diremehkan, dihina, bahkan tak sering Intan pulang dengan badan bekas dipukul. Mukanya lebam, bibirnya pecah. Kirani hanya bisa menangis diam-diam, doa tak putus-putusnya selalu terucap dari bibirnya. Bahkan tak sadar dalam keadaan setengah tidur nama Tuhan selalu disebut. Kirani tak ingin menatap wajah Intan, tiada ingin Intan tahu matanya menangis. Tak ingin melihat kesedihan pada wajah Intan walau tahu Intan mengalami hal lebih pedih. Tiba-tiba pintu dibuka keras, didepan mereka sesosok tubuh berdiri dengan wajah bengis tanpa rasa kasihan. Dio yang sedang makan langsung menyembunyikan tubuhnya dibelakang Kirani.

“Ini bagianmu hari ini, ingat jangan coba-coba melarikan diri seperti kemarin. Apa kamu mau adikmu menggantikanmu heh…!”. Sosok itu melemparkan lembaran 20 ribuan kearah Intan lalu langsung pergi. Kirani meraup uang 20 ribuan berjumlah 5 lembar tersebut lalu menyerahkannya pada Intan.

“Simpan saja Rani, kan kamu harus membayar ujian ”

“Tapi kak…”

Merencanakan untuk melarikan diri

“Tidak apa-apa kakak bisa cari lagi besok….kakak mau tidur. Habiskan makanannya yah. Kalau disimpan besok bisa basi”. Intan beranjak membaringkan tubuhnya dilantai beralaskan tikar. Kirani menatap kakaknya sendu. Selesai makan dibersihkannya semua lalu tidur disamping Intan. Ada satu rencana dalam benaknya sejak hampir 3 bulan terakhir tersusun dalam otaknya. Otaknya sudah memikirkan matang-matang semoga jika saatnya tiba Intan bisa menyetujui rencananya.

Dia tahu takkan mudah melarikan diri dari sana. Tempat ini dijaga sangat ketat, ke sekolahpun dirinya harus diantar oleh salah satu pengawal tante Noni. Dari pembicaran sering didengar dari mulut tante Noni serta anak buahnya, dirinya adalah aset berharga.  Aset ? apakah tante Noni akan menjadikan dirinya pelacur seperti kakaknya ?. Tidak, itu tidak akan terjadi. Dia takkan pernah menjadi pelacur. Lebih baik mati gantung diri daripada menjadi pelacur.

“Rani … kamu harus pergi dari tempat ini. Sebentar lagi kamu akan mengalami haid. Kalau kamu sudah haid, tante Noni takkan segan-segan lagi untuk menjualmu. Kakak tak akan pernah memaafkan diri kakak jika kamu menjadi seperti kakak. Jangan pikirkan Dio, dia anak laki-laki, pikirkan dirimu Rani. Jika kamu pergi, pergilah sejauh mungkin kemudian jangan pernah kembali.”

“Tidak kak, takkan mungkin membiarkan kakak serta Dio. Kita harus pergi bersama”.

“Jangan bodoh, apa mau mati ?, apa tak melihat anak buah ibu begitu banyak, mereka bisa membunuh kita”.

“Aku tidak ingin berpisah dengan kakak”.

“Berjanjilah pada kakak Rani, berjanjilah kamu akan pergi dari tempat laknat ini”. Waktu itu Kirani hanya bisa menganguk. Berat rasanya mengambil keputusan bagi anak kelas 6 SD sepertinya. Tapi Kirani tak punya pilihan, apalagi setiap saat tante Noni selalu memeriksa keadaan dirinya apa sudah haid atau belum.

Saatnya pun tiba, mampukah melarikan diri ?

Malam ini untuk terakhir kalinya Kirani memeluk kakaknya. “kakak sudah tidur ?”.

“Kamu ingin pamit Rani ?”, tanya Intan sambil berbalik menatap adiknya. Kirani menganguk pipinya basah oleh airmata. Tapi Intan malahan tersenyum “Kamu harus berjanji pada kakak untuk hidup dengan baik ya ? Jangan pernah putus asa. Jika harus bekerja bekerjalah dengan pekerjaan halal. Jangan pikirkan kakak dan Dio. Pergilah sejauh mungkin Rani, jangan pernah kembali”. Kedua kakak beradik itu berpelukkan sambil menangis pilu.

Perpisahan memang akan terjadi, Intanpun benar-benar telah mempersiapkan dirinya. Karena dirinya tahu tante Noni pasti akan menyalahkannya dengan kaburnya adiknya. Tapi Kirani harus pergi dari tempat terkutuk tersebut walaupun nyawa taruhannya. Dirinya yakin diluar tempat ini Kirani pasti bisa hidup dengan baik.

“Ada apa Rani kenapa kamu tidak masuk sekolah ?” Ule preman pengantar sekolah Rani bertanya heran saat Rani tidak masuk gerbang sekolah. Kirani memegang perutnya pura-pura kesakitan, “Ule kayanya Rani datang bulan.” bisik kakanya ketelinga Ule.

“Kalau begitu pulang saja”.

“Tidak bisa Ule, ada ujian. Kamu mau Rani tidak lulus SD”, bohong Kirani.

“Terus maunya apa ?”

“Ule beliin Rani pembalut diwarung sana,” tunjuk Kirani. Ule garuk-garuk kepala tengsin rasanya beli pembalut. Tapi mau bagaimana, ini adalah kabar gembira untuk bosnya. Kirani sudah haid wah pasti bosnya akan gembira menerima kabar ini. Pikiran kotor ule mulai membayangkan tips akan dia terima dari bosnya.

“Yah sudah kamu tunggu disini”.

Kesempatan baik, pergi sejauh mungkin

Kesempatan hanya datang sekali seumur hidup tersebut langsung dipergunakan Kirani untuk naik angkot lewat di depannya. Menyadari Kirani kabur naik angkot, Ule panik. Dirinya langsung mencari ojekan untuk mengejar angkot ditumpangi Kirani. Tapi semuanya sudah dipikirkan Kirani. Saat mereka terjebak macet karena lampu merah, Ule berseru kegirangan pikirnya Kirani takkan bisa lari lagi. Sayang Kirani selalu menang praktek lomba lari, dia sudah mempersiapkan segalanya. Segera turun dari angkot lalu berlari menyeberang jalan dijalur berseberangan.

Sebuah taksi melintas dicegatnya, sambil menyebut suatu tempat wisata. Taksi melaju arah luar kota. Kini dirinya sudah bisa menarik nafas lega. Sebuah dompet kecil dikeluarkan dari dalam tasnya. Uang pemberian kakaknya setiap hari selalu disimpan. Cukup untuk membayar taksi serta makan selama seminggu kalau dirinya berhemat, sesudah itu akan mencari pekerjaan. Sebelum tiba di lokasi wisata, Kirani berhenti di sebuah desa. Tempat itu memang agak keluar kota jauh dari jangkauan orang-orang kota.

Baru beberapa jam pergi hatinya sudah merindukan kakak serta adiknya. Apa akan terjadi dengan mereka berdua ? Doa tak putus-putusnya selalu terucap dalam hati untuk kakak serta adiknya. Pesan kakaknya terus terngiang-ngiang ditelinganya.

cerita pendek intan dan kirani diperkosa
Diperkosa (@https://plus.google.com/117597966298343571015)

Kirani belum pulang

Intan sudah berdandan lipstick merah melapisi bibirnya yang pucat, bedak murahan membuat mukanya putih seperti mayat. Kebanyak laki-laki datang menidurinya tak perduli dengan dandanannya. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja kasar, buruh, atau sopir truk. Untuk mendapat pelanggan berkelas diatas mereka rasanya sulit karena lokalisasi berada pada pemukiman kumuh, jauh dari jangkauan masyarakat kelas atas.

Sudah jam 1 siang, adiknya belum juga pulang. Sayup-sayup terdengar Tante Noni marah-marah. Suaranya tajam memenuhi seisi komplek. Intan sudah bersiap diri. Dirinya sangat tahu hukuman apa akan diberikan Tante Noni. Tapi sebelum menerima hukuman diirnya harus melayani para pelanggan dulu. Hatinya sangat beryukur adiknya belum pulang. Itu tandanya adiknya sudah pergi. Hatinya lega setidaknya adiknya bisa menjalani hidup normal. Dia yakin adiknya pasti bisa bertahan hidup baik-baik diluar sana. Dia yakin, diluar kompleks masih banyak orang baik.

Tamu kali ini sedikit berbeda

Kali ini Kirani mendapat seorang pelanggan cukup parlente. Dilihat dari wajah juga penampilannya, rasanya tak mungkin lelaki ini dari kalangan tamu biasanya. Saat berada dalam kamarpun lelaki itu hanya menatapnya.

“Duduklah, siapa namamu ?”, sopan suara laki-laki itu. Intan jadi ragu juga kikuk karena biasanya para lelaki langsung akan memintanya melakukan macam-macam.

“Intan.. pak”, lirih suaranya sambil duduk disamping pria itu dengan ragu.

“Ceritakan tentang dirimu Intan, kamu masih sangat muda kenapa bisa berada disini ?”,
lelaki itu bertanya sambil matanya menatap penuh selidik pada Intan. Tak ada niat untuk menyentuh ataupun menidurinya, sama sekali takada nafsu di hatinya. Memang dirinya datang kesini bukan untuk itu.

“Bapak hanya punya waktu dua jam sebaiknya kita tidur pak.” Intan bergerak menyentuh lengan laki-laki itu. Sama sekali hatinya tiada ingin menceritakan kisah pahit tentang dirinya. Semua hanya akan membuat hatinya terluka semakin menganga. Tapi laki-laki itu malah memegang tangannya meraih saputangan dari balik kantongnya lalu melap bibir Intan, menghapus warna merah bibir mungilnya.

“Kamu masih sangat muda Intan, bisa keluar dari tempat ini kalau mau.”

“Tidak akan bisa Pak, mungkin bisa kalau sudah jadi mayat dilempar ke sungai. Banyak lelaki seperti anda datang menawarkan hal seperti itu. Tapi cuma berakhir sia-sia bahkan keadaanku semakin parah. Jadi kumohon kita selesaikan saja sekarang”, suara Intan bergetar.

Ternyata dia petugas dinas sosial

“Saya tidak seperti laki-laki lain Intan, saya seorang petugas sosial. Datang kesini untuk mencari tahu tentang pekerja seks komersial seperti kamu, tidak lama lagi tempat ini akan digusur. Saya datang untuk memberi  perlindungan serta bantuan pada kalian. Tapi semua tergantung dari kamu, mau ditolong atau tidak. Karena itu kita pakai waktu tersisa untuk mendengar ceritamu ?”, Intan menatap laki-laki didepannya dengan tatapan lekat seolah-olah ingin memastikan kalau laki-laki itu berkata jujur lagi bersungguh-sungguh.

“Saya Bima, panggil saja Mas Bima” tambah laki-laki itu lagi. Walau agak ragu akhirnya kisah mirispun keluar dari bibir Intan. Kisah menyedihkan. Ibunya meninggal karena sakit TBC 4 tahun lalu. Mereka tinggal dengan ayahnya, seorang supir truk. Baru beberapa bulan ibunya meninggal, ayah mereka menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Noni. Intan serta kedua adik-adiknya tak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyangka Noni adalah wanita baik-baik. Namun belang Noni terlihat saat ayah mereka terlibat kecelakaan beruntun dua tahun lalu. Perusahaan tempat ayahnya bekerja tak mau bertanggung jawab sehingga ayahnya dipenjara.

Sejak itulah kehidupan mereka berubah. Rumah dijual lalu Noni membawa mereka ke komplek tempat tinggalnya sekarang. Ternyata Noni adalah PSK di kompleks ini. Disini juga Noni bertemu dengan ayah Intan yang kemudian membawanya dengan membayar uang jaminan untuk germo disini.

Seandainya mau sedikit bersabar tidak melarikan diri

Lalu semua kisah menyedihkan itupun dimulai. Perkosaan yang disangkanya ternyata Noni telah menjualnya pada kedua laki-laki bejat itu. Berurai air mata Intan bercerita sehingga tanpa sadar mata Bima berkaca-kaca. Dirinya sangat prihatin pada musibah menimpa Intan. Dirinya juga tahu untuk mengeluarkan Intan serta adiknya butuh uang jaminan lumayan besar.

Noni tak akan mungkin melepaskan mereka begitu saja. Tapi Bima bukan mempersoalkan itu, uang tak jadi masalah dengannya. Namun dirinya punya rencana lain untuk memangkas penyakit masyarakat disini serta menyelamatkan perempuan-perempuan seperti Intan. Pertemuan dengan Bima saat itu meninggalkan satu harapan dihati Intan. Walaupun tidak berharap banyak, setidaknya hatinyan terhibur pada kebaikan Bima. Bima pergi tanpa janji seperti biasa didengarnya dari laki-laki lain. Namun tepat jam 7 malam, Bima muncul didampingin beberapa petugas kepolisian lalu membawa Intan serta Dio pergi dari tempat itu untuk selama-lamanya. Seandainya diirnya mau sedikit bersabar menahan Kirani, tentu mereka keluar dari sana bersama.

cerita pendek intan dan kirani duduk di halte bus stasiun kereta
Duduk di stasiun (@https://www.pinterest.com/pin/226868899950701031/)

Waktu terus berlalu

10 tahun berlalu. Tanpa terasa Dio Lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Sebuah Universitas negeri siap menyambutnya dengan program pendidikan beasiswa karena dia lulus dengan prestasi baik tanpa pernah turun dari peringkat satu. Sementara Intan, walaupun cuma sederhana tapi pendidikan menjahit dipanti sosial membuatnya bisa menghidupi dirinya dengan Dio.

Dirinya sangat berterimakasih pada Bima karena sudah menolong serta menitipkan mereka pada panti sosial milik pemerintah. Bapak juga Ibu petugas disana sangat sabar lagi telaten mendidik sekaligus membimbingnya. Mereka juga membantu mendapatkan tempat tinggal serta menyalurkan hasil pekerjaan sampai dirinya mampu melakukan sendiri. Walaupun kini dirinya telah dilepas sepenuhnya, sekarang mereka bisa tinggal dirumah susun dan sangat bersyukur, karena setidaknya mereka tidak hidup dilokalisasi lagi.

Lokalisasi tersebut sudah digusur beberapa minggu setelah mereka keluar. Sebuah gedung perkantoran bertingkat didirikan disana. Kabar mengenai Tante Noni pun tak didengarnya lagi. Namun, Kirani, adiknya juga tidak pernah didengar kabarnya lagi. 10 tahun hatinya merindukan adiknya. Kadang disesalinya mengapa mengambil keputusan terlalu cepat. Seandainya mereka menahan diri beberapa hari saja, tentu jalan cerita kehidupan tidak seperti sekarang. Kini hanya doa dapat dipanjatkan agar Tuhan mempertemukannya kembali dengan adiknya suatu saat nanti.

Tak sadar Intan mengusap foto usang berukuran 4×6 ditangannya. Satu-satunya kenangan tentang adiknya selalu disimpannya dengan hati-hati. Semoga hidupmu baik-baik saja adikku ah, kakak sangat merindukanmu, bisiknya dalam hati kemudian dilanjutkannya kembali pekerjaan menjahitnya.

Kontradiksi kehidupan

Masih dalam kota sama, di hotel bintang lima cukup terkenal,  dalam sebuah kamar penthouse, kamar termewah di hotel itu. Seorang wanita cantik hanya mengenakan lingerie sedang berdiri menatap ke bawah kearah mobil-mobil lalu lalang terlihat kecil jauh dibawah sana. Tergenggam segelas minuman ringan ditangannya, pelan-pelan diteguknya mencoba meresapi kesegaran dalam tenggorokannya. Rambutnya panjang berombak tergerai begitu saja menambah pesona pada dirinya. Lingerie warna hitam transparan sedikit memperlihatkan tubuh begitu sempurna.

Harum parfum kelas atas merebak seisi ruangan, Kirani menarik nafas panjang. Lelaki ditunggunya belum juga datang. Tadi lelaki itu menelpon kalau dirinya masih ada meeting kemudian menganjurkan Kirani untuk menikmati fasilitas kamar mewah sengaja disewanya untuk Kirani. Untuk wanita panggilan kelas atas seperti dirinya, Kirani sudah sangat populer dikalangan pejabat serta bos. Wanita itu sangat menguasai pekerjaannya hingga tak ada satupun pelanggan mengeluh atas pelayanannya.

Kirani memang dididik menjadi wanita panggilan kelas atas. Dari hasil pekerjaannya dia bisa tinggal di apartemen mewah serta memiliki semua keinginannya. Dirinyapun bebas keluar negeri kapanpun saja mau. Kebanyakan pelanggannya lebih memilih keluar negeri untuk bersama dengannya daripada didalam negeri. Semua akses memudahkannya untuk melakukan segala hal. Semua kemewahannya adalah hasil menjual tubuhnya.

Berawal dari kembalinya ke lokalisasi

Sepuluh tahun lalu dirinya hanya anak kelas 6 SD yang menolak terlibat dalam dunia prostitusi. Tapi dia hanyalah seorang anak kecil yang setelah beberapa minggu melarikan diri kemudian memutuskan pilihan untuk kembali bersama keluarganya, kakak serta adiknya. Akan tetapi saat kembali mereka semua sudah pergi, dan sebagian lokalisasi sudah dibongkar. Akhirnya dia menemui tante Noni lalu dijual kepada seorang germo besar disebuah club malam terkenal.

Miris memang, tapi takdir terkadang mempermainkan hidup seseorang. Seandainya tidak kembali, mungkin saat ini dirinya sedang menikmati hidup sebagai gadis desa. Tapi pilihannya untuk bersama saudara-saudaranya membuatnya harus menerima kenyataan pahit kalau mereka sudah pergi.

Kita menentukan pilihan, takdir Tuhan hanya menyesuaikan

Siapa harus disalahkan dalam hidupnya ?. Semua ini adalah akibat pilihannya sendiri. Takdir hanya mengikuti apapun pilihan manusia karena sepanjang hidup semua pilihan akan dihadapkan pada pilihan-pilihan berikutnya. Dan pilihan berikutnya akan dihadapkan pada persimpangan pilihan lainnya. Begitu seterusnya. Mungkin itulah maksud perkatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha mengubahnya. Karena Tuhan menentukan takdir secara dinamis mengikuti kehendak pilihan hati manusia.

Hari ini dirinya sudah memutuskan bawah ini adalah hari terakhirnya menjalani profesi sebagai wanita panggilan. Bila besok matahari masih bersinar sama seperti hari ini, semoga dirinya masih bisa menikmati cahaya harapan untuknya.

Sebuah pilihan lain, diajak menikah oleh pelanggannya

“Sayang apakah sudah memutuskan untuk menerima tawaranku ? kamu tidak perlu lagi bekerja seperti ini. Akan kucukupi semua kebutuhanmu. Tugasmu hanya diam dirumah melayaniku. Bagaimana ?”

Tubuh Kirani bergeser, menatap lelaki yang baru saja diberi kepuasan. Tawaran menggiurkan selama ini diharapkan. Tapi bukan dari lelaki itu. Lelaki itu menarik tangan Kirani memaksanya rebah lagi dalam pelukan. Ditelannya ludah pahit dalam hatinya. Ingin dirinya meronta, hatinya merasa muak dengan semua segala perbuatannya.

“Beri aku waktu memikirkannya Om.. ”

“Ayolah sayang dirku tak suka ada lelaki lain menyentuhmu. Kalau memikirkannya hatiku merasa tak tenang”, ujarnya merajuk.

Ingin rasanya mulutnya meludah. Cih kau pikir diriku tak ingin hidup baik-baik. Kau pikir perasaanku sudah mati apa ?. Hidup baik-baik dengan menerima tawaranmu. Bukannya hidup baik-baik, malah akan semakin membuat hidup dalam dosa. Bagaimana dengan istrimu ? Anak-anakmu ? sialan mati saja kau. Tak sadar Kirani memaki-maki dalam hati namun hanya senyum tersungging keluar dari bibirnya.

Pilihan antara menjadi istri muda atau tetap menjalani hidup sebagai pelacur sudah kerap diterima dari tamu-tamunya. Ya, kehidupannya sebagai wanita penghibur tidak banyak memberi pilihan. Hampir semua lelaki dikenalnya bukanlah dari kalangan lelaki baik-baik. Kalaupun ada lelaki baik, secara ekonomi tidak memungkinan baginya untuk bergantung hidup. Tak pernah terfikir lelaki tidak baik bukan berarti tidak bisa menjadi baik. Seandainya dirinya mampu berfikir bukankah dirinya wanita tidak baik namun ingin menjadi baik ?.

Sebagian tamunya mungkin pada dasarnya baik namun karena sesuatu hal dalam rumah tangga membuat mereka melarikan diri mencari kepuasan diluar. Mungkin berbagai sebab membuat mereka mencari daging mentah, pelacur, diluar. Entah ingin menjaga rumah tangga, takut, tidak siap mengambil resiko, atau lainnya. Tapi satu hal terlupa, lelaki baik secara naluriah akan meminta wanita teman kencannya menikah.

Sekali lagi, manusia menentukan pilihan, takdir hanya menyesuaikan

Kirani bukanlah wanita yang mengerti masalah kehidupan sosial serta agama dengan baik. Kehidupan serta terbatasnya pendidikan telah membentuknya menjadi manusia tanpa pertimbangan luas. Tak ada kemampuannya menelaah, menilai perbuatan seseorang dari sebab akibatnya. Hanya satu prinsip dipegangnya bahwa dirinya tidak ingin merusak rumah tangga wanita lain. Apapun alasannya, apapun kondisinya. Baginya lebih baik seorang lelaki selingkuh dengan seribu pelacur seperti dirinya daripada menikah lagi. Itulah prinsip hidup Kirani. Prinsip yang membuatnya tiada pernah melirik apalagi memikirkan bahwa mungkin tawaran itu adalah pilihan dari Tuhan sebagai langkah awal untuk mengangkat derajatnya.

Sepuluh menit kemudian lelaki itu pamit untuk kembali kekantornya untuk kembali malam nanti. Setelah lelaki tersebut pergi, Kirani langsung masuk ke kamar mandi. Merendam tubuh dalam jacuzzi, sambil mengusap kulit tubuhnya dengan spoon begitu kerasnya hingga kulit putihnya terlihat kemerahan. Hatinya merasa dirinya sedemikian kotor. Tak bisa hilang dengan ribuan kali mandi menggunakan bergalon parfum serta pemutih kulit.

Selesai mandi dikenakannya gaun dibelikan lelaki tadi. Gaun malam berwarna merah darah. Rambutnya disisir rapi. Memandang sosok tubuhnya didepan cermin besar, matanya seperti melihat bayangan seorang putri disitu.

Didepan meja rias, dpakainya parfum kesayangan lalu menuju balkon. Angin menerpa rambutnya kencang. Matanya terpejam seakan menikmati udara segar. Berdosakah dirinya menikmati segala kemewahan semu ?. Sampai berapa lama dirinya harus bergelimang kenistaan sambil menelan kerinduan pada kakak serta adiknya ?. Matanya terpejam, terus terpejam memeras setetes air mata keluar.

cerita pendek gadis bunuh diri intan dan kirani
Bunuh diri (@http://www.nydailynews.com/new-york/woman-18-dies-7-floor-plunge-fence-manhattan-article-1.2201765)

Mengantar baju pesanan

Intan terburu-buru, melangkah setengah berlari menuju hotel Flowers. Dirinya harus tepat waktu membawa pesanan pakaian. Ibu Lurah akan mengenakan pakaian tersebut pada pesta ulang tahun perkawinan bersama suaminya disana. Kadang dirinya heran kenapa Bu Lurah suka menjahit pakaiannya kepadanya. Kalau ditanya, selalu dijawab jahitannya rapi serta hasilnya pas dengan tubuhnya. Padahal kalau mau, Bu lurah bisa memesan pada butik atau tempat lain dengan kualitas jahitan lebih baik darinya. Akan tetapi tetap saja Bu Lurah selalu saja memberikan pekerjaan jahitan kepadanya dan dirinya selalu berusaha untuk tidak mengecewakan siapapun pelanggannya.

Intan baru saja selesai menyebrang jalan saat terdengar suara keras benda terjatuh. Orang-orang disana langsung ramai berkumpul.  Dia kebetulan memang ada didekat kejadian langsung mendekat, penasaran akan apa terjadi. Oh.. Ternyata ada kejadian bunuh diri.

Seorang gadis bergaun merah tergeletak jatuh dengan kepala berlumuran darah. Dipalingkan wajahnya ngeri. Ya Tuhan, gadis tersebut masih sangat muda lagi cantik. Apa gerangan membuatnya bunuh diri ?, bisiknya dalam hati. Cepat-cepat dirinya menjauh. Perutnya tiba-tiba merasa mual ingin muntah, namun ditahannya. Beberapa sekuriti hotel terlihat sibuk akibat kejadian tersebut.

Sebuah panggilan ponsel mengagetkan dirinya, ternyata sopir Bu lurah berdiri tak jauh dari tempatnya. Sopir berusia 35 tahun tersebut bergegas menghampiri lalu Intan segera memberikan bungkusan jahitan dari tangannya lalu segera pamit.

Intan masih tak bergeming dari tempatnya. Ditatapnya kerumunan orang serta petugas pada pelaku bunuh diri. Apa dialami gadis itu hingga memutuskan bunuh diri ?, terlalu beratkah masalah dihadapinya sehingga tak sanggup menanggungnya ?. Pelan-pelang kakinya melangkah menjauh dengan berbagai fikiran. Tiba-tiba hatinya teringat pada Kirani adiknya. Kirani pasti sudah seumur gadis itu ?, bisiknya dalam hati.

cerita pendek intan dan kirana naik bus bersama
Naik bus (@http://theodysseyonline.com/ull/5-reasons-why/195995)

Kerinduan kakak saat pulang kerumah naik bus kota

Naik dalam bus memilih duduk pada kursi kosong paling belakang. Entah kenapa, sejak melihat kejadian tadi dirinya merasa sangat rindu pada adiknya. Dibukanya dompet tempat menyimpan foto adiknya. Ditatapnya foto tersebut lalu dielus dan dikecupnya perlahan kemudian didekap dalam dada. Adikku sayang dimana kamu berada ?, kapan Tuhan akan mempertemukan kita lagi ?, tak sadar mulutnya mendesis perlahan.

Kepiluan adik dalam dekapan

Kirani menyandarkan kepalanya dibahu kakaknya. Ada rasa hangat lembut yang sudah lama tak dirasakannya. Dia menatap kakaknya pilu. Kakakku sayang, adikmu ada disini disampingmu. Mulai sekarang diriku akan selalu disisi kalian. Takkan pernah lagi meninggalkan kalian. Maafkan adikmu bila tak sanggup menghadapi kenyataan hidup hingga memilih jalan seperti ini. Maafkan diriku. Kirani terguguh tangis, air mata membasahi pipi.

Hatinya tahu dunia mereka kini berbeda. Matanya hanya bisa melihat kakaknya tanpa bisa menyentuhnya. Dirinya juga tahu kalau jiwanya akan selamanya terombang-ambing pada dua dunia. Tapi itulah konsekuensi dari pilihan yang kemudian menjadi takdir baginya.

Beberapa waktu lalu dirinya harus menerima kabar mengejutkan dari dokter. Dia diminta bertemu salah satu sukarelawan yayasan HIV AIDS. Karena menurut dokter dirinya postif menderita HIV. Dirinya juga sudah menjalani beberapa tes kesehatan ditempat lain namun hasilnya tetap sama. Karena itulah dirinya memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Berfikir sebelum bertindak, tentukan pilihan tepat serta tetap bersabar dan berfikir positif

Bus terus melaju membawa Intan. Membawa juga Kirani masih terisak pedih. Membawa sejuta cerita kehidupan sosial mereka. Takdir ataukah nasib mempermainkan mereka. Namun setiap saat kita selalu dihadapi beberapa pilihan. Tidak semua manusia bisa menentukan pilihan tepat bagi hidup mereka. Ketika kesalahan memilih terjadi pada diri kita, tetaplah berusaha, bersabar dan berfikir positif disertai doa.(pw)


Terima kasih telah membaca cerita sedih kehidupan sosial remaja karya Putri Wahyuningsih. Semoga cerpen sedih pelacuran anak diatas dapat memberi inspirasi serta menghibur sobat pemirsa sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment