Irisan Empat Hati

cerpen cinta pendek

Irisan empat hati adalah cerpen cinta pendek tentang momen pertemuan gadis dengan mantan kekasih yang terpaksa ditinggal menikah dengan lelaki pilihan ibunya.  Bagaimana kisahnya ? simak cerita cinta segi empat berikut :

Cerpen Cinta Pendek – Irisan Empat Hati

Adilla. Dia berdiri dan menatap sosok itu dari jarak 10 meter. Sosok itu tak menyadari kehadirannya dan begitu asyik dengan kuas dan kanvas. Sesekali mata teduhnya menatap kedepan. Kepantai yang menghantarkan ombak ketepi. Melamun. Apa yang ada dipikiran laki-laki itu? Dirinyakah?

Sebenarnya dia ingin berlari. Memeluk sosok itu dari belakang seperti yang biasa ia lakukan. Dulu… Ada sosok mungil menahan langkahnya kini, sosok yang tengah menggenggam tangannya kuat. Dia menghela nafas, memberanikan diri melangkah. Menyapa sosok itu. Yah…apa salahnya menyapa. Seperti takdir yang mempermainkan kisah mereka. Mungkin kini takdirpun mengatur pertemuan ini. Lalu… “Jo…  Jo… Jo… !!!”

Johan. Aku suka sepi. Kesunyian yang melingkupi hati. Aku suka tempat ini untuk memuntahkan imajinasi. Hidupku memang tidak penuh warna seperti kanvasku. Tapi ditempat ini hidup selalu mewarnaiku. Dia…seseorang itu… suka tempat ini. Sangat menyukai tepatnya. Aku juga.

Pantai ini mempertemukan kami. Aku melihatnya yang bermain ombak. Tertawa lepas dengan rambut yang bergerai ditiup angin. Kebebasan, aku melihat itu dari tingkahnya. Dia menikmati angin yang terkadang membawa pasir memerihkan mata, air laut asin serta udara yang sedikit berbau amis. Kulit putihnya agak kemerahan terbakar matahari. Suatu saat aku akan mengabadikannya di kanvasku.

Mata hitam itu membola saat aku memberikan lukisanku untuknya. “Ini aku. Lukisan diriku, kau melukisnya diam-diam. Apakah ini untukku ?”

Ada kerlip bintang dimatanya saat aku mengangguk. Dan bintang itu makin bersinar. Suatu saat aku akan memilikinya. Memiliki bintang itu dan pemiliknya.

Aku suka sepi dan kesunyian yang melingkupi hati. Lalu dia datang dan menggusur sepi dan sunyi itu. Kadang memelukku diam-diam dari belakang dan tertawa histeris minta ampun saat aku menggelitiki pinggangnya atau menatapku diam-diam saat menuang imajinasi di kanvas.

Dia, pantai dan kanvas. Itu sudah cukup untukku. Aku tidak meminta lebih, Tuhan. Tapi untuk itupun mengapa aku tak berhak memilikinya ?.

“Jo…” Seperti suaranya. Lirih dan pelan seperti angin. Aku kangen, sungguh. Apa kabarnya sekarang.

” Jo…” Suara itu. Menjauhlah. Jangan membuat kangen ini menumpuk. Aku tak mau menjadi pecundang…!!!

” Jo… !!!” Aku menoleh. Dia berdiri di hadapanku kini. Nyatakah, atau mimpi seperti yang sudah-sudah ?

Angin masih menggeraikan rambutnya. Pasir masih menempel dikaki dan gaun putihnya. Udara yang bercampur amis dan air laut. Dejavu. Tetap sama. Tidak. Ada anak kecil digenggamannya. Kami saling bertatapan. Takdir., apa kau yang menuntun dirinya kembali?

Rani. Seperti yang sudah-sudah selalu tempat itu yang dipilihnya. Pondok kecil ditepi pantai, di bawah batang kelapa. Dia selalu melarangku kesana. Kenapa ? Entahlah, aku tidak pernah tahu alasannya. Dia tidak pernah memberi tahu. Walau beribu kali ku tanya. Sama seperti aku menanyakan “Apa kau mencintaiku ?”

Lagi-lagi senyum. Selalu. Tidak bisakah dia mengangguk atau menggeleng. Itu sudah cukup. Aku ingin dia tahu, Aku tidak mau warna abu-abu, sementara pelangi dia sembunyikan entah untuk siapa.

Tapi aku tak mau memaksa. Dia mengizinkan aku masuk kepelataran hatinya saja, itu sudah cukup. Tak perlu sampai ke dalam, biarlah. Suatu saat nanti mungkin dia yang akan membukanya. Tanpa perlu aku merusaknya.

Dia masih disana. Menggores kanvasnya. Sesekali menatap ke pantai. Seperti memikirkan sesuatu. Akukah ? Apakah mungkin dia memikirkan aku untuk membantu menuang imajinasinya. Seketika perutku seperti berisi ribuan kupu-kupu yang memaksa untuk keluar.

Tahukah dia, aku selalu menikmati keadaan ini. Menatapnya diam-diam dari jauh. Melihatnya dari samping merupakan sudut favoritku. Tuhan sepertinya sedang tersenyum saat menciptakannya. Dengan lekukan rahang yang menawan. Hidung yang kokoh. Mata yang teduh. Alis burung camar yang membingkai wajah. Aku mencintainya, sangat.

Siapa dia ? Wanita bergaun putih itu? Angin begitu leluasa mengibarkan rambut dan bajunya. Seperti peri. Dia menatap Jo tanpa berkedip. Seketika tubuhku seperti keluar dari freezer. Dingin dan keras. Aku ingin keluar dari persembunyianku. Ingin mendamprat wanita itu. Begitu lancangnya dia, menatap Jo ku dengan pandangan…. ah, aku tak bisa mengartikannya.

Tapi wanita itu melangkah ke pondok Jo. Melangkah ke tangga. Lalu… Seperti adegan slow motion, Jo menoleh tak percaya. Berdiri dan menatap wanita itu lama. Mata mereka berbicara. Yah, berbicara.

Hatiku terlempar…

Seperti kepingan puzzle terakhir, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Dialah wanita yang berada dalam hati Jo. Dialah wanita yang menyebabkan aku hanya bisa berdiri di teras hati Jo. Dialah wanita itu. Wanita yang berhak menerima pelangi dari jo.

Sakit rasanya Tuhan, aku meremas rambutku. Rambut. Yah, rambut. Itukah sebabnya ?

“Jangan dipotong ya , rambutmu indah. ” Kalimat itu, sempat membuatku terlempar ke awan. Kini kalimat itu pula yang membuatku jatuh ke bumi. Sakit. Wanita itu berambut panjang yang sama denganku. Apakah Jo melihat bayangan wanita itu dalam diriku.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Sampai terasa asin. Aku tak peduli, sakit hatiku bahkan melampaui ini.

Farrel. “Benarkah…kita akan pulang ?” Bintang di matamu berpijar. Istriku, kau cantik sekali.

“Tentu saja, kita sudah lama tidak pulang. Cuti kali ini, aku ingin kembali ke kampung. Merasakan hawa pantai dan kesegaran udara yang beda. Berkemaslah.”

Kita sering bepergian keluar negeri. Tapi reaksimu tidak sedramatis ini. Kau begitu bahagia, sangat bahagia. Tiba-tiba saja perasaan bersalah muncul dihatiku. Setelah 4 tahun menikah, baru kali ini aku mengajakmu pulang. Maafkan aku istriku.

Tapi disini, dipantai ini. Saat aku mengikutimu diam-diam ke pondok itu. Barulah aku tahu inilah jawaban atas pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengapung di kepalaku, saat melihatmu sering setengah melamun, menatap lukisan dirimu di pantai. Atau diam-diam menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

“Apakah kau bahagia menikah denganku ?”. Kau hanya tersenyum. Wajahmu biasa saja. Matamu kosong. Tidak ada bintang di sana.  Kini, bukan hanya satu bintang di matamu, seperti ada ribuan. Akupun tahu jawaban pertanyaanku itu. Sesak rasanya.

Adilla. Seperti mimpi, akhirnya aku kembali. Menatap wajah kokoh yang menatapku setengah tak percaya. Tak perlu aksara, tak perlu. Mata kami telah berbicara.Apakah kau rindu padaku ? Apakah cinta itu tetap untukku?

Ya. Jawab matanya. Mata kita sudah menjawab, dan itu sudah cukup. “Anakmu…?” Dia, memegang tangan mungil itu. Aku mengangguk. Seperti kembali ke lima tahun silam. Merasakan angin, pasir dan aroma pantai.

“Menikahlah dengan Farrel, jangan kau rusak hubungan pertunanganmu hanya karena pelukis itu”. Aku memegang tangan ibu, berusaha meminta restu tapi ibu menepisnya. Aku sudah berusaha untuk hubungan ini. Tapi aku gagal saat ibu bilang dia hanya mau dioperasi jika aku menikah dengan Farrel.

Kini, aku kembali melihat luka yang sama saat aku mengangsurkan bungkusan itu. Lukisan yang pernah diberikan olehnya, aku kembalikan lagi ke pemiliknya.

Johan. Setelah berpuluh perjalanan matahari. Tiba-tiba dia hadir disini. Memberikan lukisan yang pernah kuberikan kepadanya. Aku menerima dengan luka.

Aku pernah menaruhmu dengan sangat spesial dan hati-hati meletakkannya di dalam sini. Aku selalu menjagamu agar tidak retak. Hingga suatu hari, kamu menciptakan hujan yang melunturkan segala warna. Mengapa dulu engkau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kamu sudah tunangan? Tak tahukah dirimu, betapa besar artimu buatku? Di manakah engkau letakkan aku?

“Kamu adalah awan yang selalu memberi keteduhan bagi pelangi. Kamu percayakan kalau awan dan pelangi selalu berdekatan di manapun mereka berada.” Bisikmu saat itu sambil menangis.

Aku menatapmu yang berlalu, mendo’akanmu dalam hati. Kamu berhak mendapatkan laki-laki itu. Laki-laki sempurna versi klasik mertua. Yang mempunyai wajah, harta dan masa depan yang sempurna. Kini kau berkata dengan tegar, “Keluarkan aku dari hatimu, dan mulailah mencintai wanita lain. Jangan biarkan ia menghapus air matanya sendiri.”

Lalu, seperti 4 tahun yang lalu kau meninggalkanku tanpa menoleh lagi.

Adilla. Melihatmu terpekur dalam pekat seperti saat ini, membuatku ingin berhenti sejenak menoleh ke arahmu. Bangun awanku, pelangi itu akan selalu ada untukmu. Terima kasih telah menjadi aku satu-satunya warna di tengah goresan kanvasmu. Maafkan, jika ini menyakitkan. Tapi inilah jalan yang takdir pilihkan untuk kita.

Ada orang-orang yang harus kita jaga perasaannya. Biarkan hati kita retak, tapi jangan sampai kita melukai mereka. Orang-orang yang sangat mencintai kita. (Aqila Rayhana)


Terima kasih telah membaca cerpen cinta pendek. Semoga cerita cinta segi empat diatas dapat bermanfaat dan menghibur hati sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis, jangan terus menerus merenungi orang yang kamu rasa kamu cintai. Hidup terus berjalan dengan ataupun tanpa dirinya. Jadikan semua pengalaman sebagai sumber inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait