Izinkan Aku Merebut Suamimu

bukan cerita selingkuh

Banyak suami mengaku mencintai sang istri, tapi bagiku hanya Yusuf yang mau menundukkan dirinya di depan Husna dalam suasana ramai hanya untuk mengikat tali sepatu istrinya. Seakan ia tak peduli pandangan orang-orang yang merendahkannya. Satu hal yang Yusuf tahu bahwa cinta tak akan pernah merendahkan siapapun. Melihat semua itu, untuk pertama kali ingin ku bisikkan maksudku pada Istri Yusuf bahwa “Maaf, aku telah jatuh cinta pada suamimu”. Simak bukan cerita selingkuh menyentuh hati berikut :

Bukan Cerita Selingkuh – Izinkan Aku Merebut Suamimu

Senja berselimut rindu. Teringat kenangan saat aku masih bisa melihat Yusuf memperlakukan istrinya bak ratu yang sangat mulia dari depan pintu kamarku. Meski tak bermaksud memanjakan Husna, kadang Yusuf tak segan-segan memasak hingga mencuci baju isterinya saat libur tiba. Rumah mereka tak mewah, hanya saja di penuhi dengan kemesraan. Quinta adalah nama putri tunggal mereka.

Wanita mana tak tersiksa kala melihat seorang pria yang mampu meluluhkan hatinya, malah mencintai wanita lain dengan begitu tulus. Bukan karena Yusuf pernah menolakku dan memilih Husna sebagai istrinya. Tapi karena aku yang tak terlahir sebagai pendamping hidupnya. Dan keresahan itulah yang harus ku alami setiap hari karena melihat perilaku mereka dengan mataku sendiri mau ataupun tidak.

Husna sering bercerita tentang Yusuf padaku. Mulai dari mereka bertemu sampai mengucap janji setia bersama. Berbeda dengan Husna, Yusuf berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil Yusuf tinggal berdua bersama sang Kakek. Kakek Yusuf berprofesi sebagai penjaga pintu palang kereta api. Mungkin karena profesi kakeknya yang sangat beresiko itulah Yusuf diajarkan banyak hal tentang pentingnya tanggung jawab sampai ia dewasa.

Suatu hari saat Yusuf sedang menjaga pos kendali, dia terkejut karena tuas yang ditariknya tak mau bergerak. Otomatis hanya suara sirine yang berbunyi sedang palang pintu tak bisa turun untuk menghalangi kendaraan yang hendak menyeberangi rel kereta. Dia telah mencoba semua upaya terbaiknya namun sia-sia.

Kereta semakin mendekat, sedang kendaran masih berlalu lalang. Yusuf semakin bingung harus berbuat apa. Beberapa saat kemudian, dari jauh tampak seorang wanita berkerudung panjang tengah mendorong sebuah motor yang mogok. Tak sempat berpikir panjang, Yusuf menghampiri wanita itu dan langsung merebut motornya. Wanita tersebut seketika terkejut, panik, bingung lalu berteriak mengejar Yusuf. Semua orang mengamati mereka berdua.

” Heeeiii, mau di bawa kemana motor saya ? Maling kok siang-siang sih, di tempat ramai lagi. Huh… “. Umpat Wanita itu sambil terengah-engah berlari.

Tanpa menjawab apa-apa Yusuf semakin cepat mendorong motor tersebut menuju ke arah palang pintu kereta. Kemudian di parkirnya motor itu di tengah jalan tepat di bawah palang. Akhirnya semua kendaraan pun berhenti dan Kereta api bisa terus melaju tanpa harus memakan korban. Wanita itu tertegun malu dan tersipu saat akhirnya tahu maksud tindakan dari Yusuf. Saat ingin meminta maaf karena telah mempermalukan Yusuf, si wanita terkejut karena mendengar ucapannya.

“Santai mbak, udah saya maafin kok. Oh iya, Nama mbak Husna kan ? “.

“Ahh, mas pede banget… Tapi, mas kok tahu nama saya Husna ? Fans Club saya ya mas… “.

“Hehe, helmnya di buka deh mbak. Itu di belakang ada tulisannya “. Jawab Yusuf sambil menyodorkan air putih.

Wajah Husna mulai memerah menahan rasa malu yang berlapis. Selang beberapa lama mereka bercerita di depan pos, Yusuf kemudian meminta izin untuk memperbaiki motor Husna. Terang saja Husna mengangguk tanda mengiyakan.

“Wah, motor ini sudah parah sekali rusaknya. Sepertinya sudah lama gak di servis yah mbak ? “.

“Emmm, iya sih mas. Tapi mas bisa kan bantuin saya benerin motornya ? “.

“Waduh kayaknya semua montir di bengkel pada angkat tangan nih mbak. Udah mau Maghrib lagi. Naik kereta aja deh pulangnya “.

“Yaahh, yang bener mas ? Haduuh, gimana ini teh. Mana saya gak bawa commuter card lagi. Gak bisa pulang dong saya… ? ”

Yusuf hanya tersenyum melihat wajah Husna yang semakin panik. Di bukanya busi motor tua itu lalu ia tiup beberapa kali kemudian di pasang lagi. Barulah Yusuf mencoba menghidupkan mesin motor. Motor akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya kembali.

“Alhamdulillahnya ternyata saya lebih jago dari montir mbak “.

“Arggh… Mas ngerjain saya yah ? Awas yah “. Dengan berwajah masam tanpa berpamitan, Husna beranjak pergi meninggalkan Yusuf yang masih menahan tawanya.

Husna ternyata lupa bahwa smartphone miliknya masih tertinggal di dalam pos kendali saat asik bercerita tadi. Singkat cerita mereka mulai dekat dan akhirnya menikah. Husna pun mengakhiri cerita.

Sungguh kisah yang bagiku terlalu pilu untuk didengar. Aku tak tahu harus ku sebut apakah perasaan kesal, benci, muak dan iri kepada Husna. Sampai suatu ketika, aku berhasil menamakan perasaanku itu dengan cemburu. Ya, aku cemburu karena Husnalah yang menjadi istri Yusuf dan bukan aku. Yusuf pria yang langka bahkan terancam punah. Maafkan aku telah cemburu padamu Husna.

Kepada anaknya Quinta, Yusuf mengajarkan tentang saling menghargai sesama dan mudah memberi maaf pada kesalahan orang lain. Jika Quinta merajuk dan tak mau bicara padanya, ia ajarkan Quinta untuk menulis pada lembaran kertas lalu akan diberikan padanya nanti. Sebagai ayah, Yusuf berhasil menginspirasi Quinta.

Yusuf terlalu baik sebagai seorang pria. Ia berjiwa sosial, menyayangi anak-anak dan binatang khususnya kucing serta rajin berjama’ah di Masjid pula. Kata tetangga dia sangat humoris dan pandai berbaur dengan warga. Kata Marbot Masjid dia iri dengan Yusuf karena selalu kalah duluan datang ke Masjid saat sholat subuh. Kata Husna, sedekah, qiyamullail, dhuha dan shaum sunnah selalu rutin di jalani suaminya. Jika aku bisa berubah menjadi seorang pria, aku bersumpah akan membunuh Yusuf atas nama semua wanita yang pernah ia buat jatuh cinta.

Satu-satunya hal yang mampu menghiburku adalah kebersamaanku dengannya waktu itu meski bukan sebagai istri keduanya. Aku rindu tenang dalam peluknya, nyaman bersama kecupan di keningku darinya serta belaian rambut penuh kasih dan cinta. Usianya memang terpaut jauh diatasku, tapi tubuhnya masih gagah dan senyumnya tetap saja manis semanis kenangan kita berdua.

Kini Yusuf telah pergi begitupun Husna. Kepergian mereka menyisakan luka mendalam di hati. Sesalku karena tak sempat memeluk dan mencium Yusuf selama mungkin untuk terakhir kali. Bukan. Aku sangat marah pada Yusuf bahkan sangat membencinya. Untuk itulah ku tuliskan semua kekesalanku ini dengan bahasa yang cukup santun dan akan ku berikan pada Yusuf dan Husna nanti sesampai di pembaringan terakhir mereka. Lalu dengan penuh keberanian, akan ku bisikan maksudku pada istrinya Husna yang tidur disampingnya.

***

Husna, maafkan aku telah cemburu padamu karena Yusuf. Dia suamimu, namun dia juga adalah cinta pertamaku. Aku hanya cemburu melihat cintanya padamu.

Husna ibuku… Jika saja aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin bersama Yusuf untuk menghabiskan masa tuanya tanpamu. Berterima kasih padanya karena telah mendidikku dengan cinta. Bahkan sampai kita berpisah dalam usianya yang renta, dia masih menyayangiku dengan cinta yang tersisa. Hanya dia yang mampu membuatku tetap bertahan melawan dunia.

Saat ini aku kembali, tapi harapku telah pergi. Harapan akan tetap hidup bersamamu dan dia yang sama-sama kita cintai. Meminta sebanyak-banyak waktunya untukku lebih darimu. Dan jika kau dengar aku saat ini ibu, aku ingin menyampaikan maksud yang belum sempat ku sampaikan dulu.

Bahwa izinkan aku merebut Yusuf darimu. Izinkan aku merebut kasih sayang ayahku, karena tak akan ada lagi pria yang mampu menaklukkan hariku seperti dia. Izinkan aku memeluk suamimu sebelum dia pergi untuk selama-lamanya.

Meski itu akan membuatmu cemburu tapi ku mohon, mengalahlah untuk anakmu ini. Katakan pada Yusuf, dia adalah ayah terbaik di antara yang paling baik. Senang sekali bisa menjadi anaknya. Semoga kalian bahagia disana. Oh iya, surat yang ku tinggalkan untuk ayah disini, tolong  di bacakan untuknya disana ya bu.

Ini aku putri ibu yang tak sanggup melihatmu dengannya berbaring disini.

Quinta.

– END.

Jum’at, 24 Februari 2017


Terima kasih, semoga anda dapat memahami apa yang disampaikan penulis bukan cerita selingkuh kami. Semoga pula cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian.  Salam sukses selalu.

Dibagikan

Rohany Achmad

Penulis :

Artikel terkait