Jangan Pernah Pergi

cerita pendek sedih jangan pernah pergi

Cerita pendek tentang seorang gadis yang begitu mencintai kekasihnya dan tidak pernah membayangkan harus berpisah, namun hal itu tidak mungkin karena dirinya sudah dimiliki lelaki lain. Simak cerpen berikut.

Cerita Pendek Jangan Pernah Pergi

Dia kembali….

Orang yang pernah pergi meninggalkanku kini kembali lagi. Menawarkan cinta. Berkata dia hanya milikku. Memberikan alasan kenapa dulu dia meninggalkanku.

“Mantanku mengancam bunuh diri. Aku kalut. Aku terpaksa meninggalkanmu.” Kata-kata itu meluncur dari bibirnya seiring air mata mengucur dari mataku.

Kenapa baru sekarang dia memberitahuku ? Kami bertemu hampir setiap hari sejak kejadian satu tahun yang lalu itu. Kenapa baru sekarang, setelah aku bersusah payah berusaha melupakannya walaupun kami satu kelas? Kenapa tidak dulu saat aku menangis di depannya, meminta penjelasan atas berakhirnya hubungan kami ?

Dia menghapus air mata yang mengalir di pipiku, lalu mencium keningku dengan lembut. Mataku terpejam, menikmati sentuhan kami yang pertama sejak kami putus satu tahun yang lalu. Dia menciumku berkali-kali, dari kening, pipi, hingga akhirnya bibirku. Aku terdiam, tak berani bergerak, tak berani membuka mata, tak berani balas menciumnya.

Aku takut kalau ini hanya halusinasiku, hanya imajinasi yang diciptakan otak gilaku.

“Aku masih sangat menyayangimu.” Dia berbisik di telingaku, nafasnya yang hangat menimbulkan sensasi aneh dalam diriku.

“Maaf aku telah menyakitimu.” Suaranya terdengar serak. Aku yakin dia sedang berjuang untuk tidak menangis, “Maafkan aku.” Dia terduduk di lantai di depanku, sementara aku duduk di pinggir ranjangku, “Aku benar-benar menyesal.”

Aku menundukkan kepalaku dan menutupi wajahku dengan tangan. Kenapa baru sekarang ? Hanya itu yang otakku bisa katakan, tapi bibirku tertutup rapat; pita suaraku tak mampu memproduksi kata-kata.

“I love you.” Dia bangkit lalu duduk di sampingku. Rambutku yang tergerai menutupi pelipisku, disibakkannya lalu kurasakan bibir hangatnya menciumiku lagi., “Aku sangat mencintaimu.” Dia melingkarkan tangannya di pundakku, sementara aku hanya bisa semakin menunduk. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

“Lihat aku.” Dia menarik tanganku dengan sedikit paksa, “Tolong berhenti menangis. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini.”

“Kalau begitu, jangan lihat aku.” Akhirnya pita suaraku berfungsi lagi, walaupun suara yang dihasilkannya sangat serak. Aku bahkan tak bisa mengenali kalau suara berat itu adalah suaraku sendiri.

Dia malah memelukku lagi, kali ini sangat erat membuatku agak kesusahan bernafas. Dia mencium rambutku berkali-kali, “Aku masih sangat menyayangimu.”

Kali ini pertahananku runtuh. Aku tak bisa lagi bersikap biasa-biasa saja. Hatiku bersorak. Dia sudah kembali. Pria yang selama ini kusebut dalam doaku sudah ada di sampingku lagi! Aku balas memeluknya, dia lebih kurus dibandingkan dulu saat terakhir kali dia ada dalam pelukanku.

Dia merenggangkan pelukannya, menatap mataku dengan sayu, aku melihat matanya merah dan berkaca-kaca, “Kamu cantik.” Dia tersenyum lalu mencium bibirku lagi, “Aku merindukanmu.”

“Aku juga. Kamu tak tahu betapa aku merindukanmu.” Aku mempererat pelukanku. Aku memang sangat merindukannya.

“Maaf kalau aku masih mencintaimu. Kamu harus bahagia bersama dia.” Kata-katanya seakan menyentakkanku, membangunkanku dari mimpi indahku.

Aku melepas pelukanku dan kembali menangis. Aku sudah punya pacar. Ada sebuah cincin kecil bertuliskan nama pacarku melingkar di jari manis tangan kiriku. Tangisku semakin deras. Ada rasa sakit yang menyesakkan di dadaku.

Pria di sampingku itu kini menggenggam kedua tanganku, “Aku akan selalu memperhatikanmu walaupun kamu sudah milik orang lain. Aku akan selalu mencintaimu.” Dia mencium keningku sebelum akhirnya keluar dari kamarku dan menutup pintunya dengan pelan.

Malam itu aku sakit. Tiba-tiba saja badanku panas dan kepalaku pusing.

“Kamu kenapa?” dia duduk di pinggir ranjangku sambil dengan cekatan menggerakkan jari jemarinya memijat dahiku.

Badanku menggigil kedinginan. Dia menarik selimutku sampai menutupi leherku, “Kamu harus tidur sekarang.”

“Jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon.” Aku berkata sambil menatap langit-langit putih kamarku. Aku tak kuasa menatap wajah pria yang sangat kucintai itu, terlebih saat mengingat kalau sekarang aku suda terikat.

“Kasihan pacarmu. Dia adalah pria yang sangat baik. Aku yakin dia bisa membahagiakan kamu.” Dia tersenyum, aku tak melihatnya, tapi aku bisa merasakannya, “Aku harus pulang sekarang, cepat sembuh ya.” Dia mengecup bibirku dengan cepat lalu beranjak meninggalkanku lagi.

Air mata tak berhenti mengalir dari mataku, dadaku sesak. Hatiku terasa sakit, sangat sakit, seakan ada pisau tajam yang menusuknya.

Aku mengambil ponselku yang kuletakkan di samping bantal. Aku menelepon pria yang namanya terukir indah di cincinku. Suara gaduh terdengar begitu dia menjawab panggilanku, “Halo.” Katanya.

“Hei, sayang lagi ngapain?”

“Aku lagi main dom sama temen-temen. Sms an aja ya.”

“Aku sakit, aku perlu kamu.”

“Sakit apa? Udah minum obat? Ntar aku sms ya.”

cerita pendek jangan pernah pergi bermain kartu
Bermain kartu (@ Wikia)

Dia menutup teleponnya begitu saja. Hatiku yang sudah sakit semakin sakit karena perlakuan pacarku yang seperti itu. Aku sedang sakit, tapi dia malah sibuk bermain domino bersama teman-temannya. Ternyata aku tidaklah sepenting permainan sialan itu.

Aku duduk dengan bersandarkan bantal di tembok, lalu menghubungi pria yang baru saja memijat kepalaku, “Hei. Kenapa?” suaranya di ujung sana membuat hatiku sedikit lebih tenang.

“Dia jahat. Dia tak peduli sama aku. Kenapa dia tak pernah mengerti aku? Aku sakit. Aku perlu seseorang, tapi dia malah sibuk main dom sama teman-temannya. Dia jahat! Kenapa aku punya pacar sejahat itu?”

“Tenang, tenang, aku ke sana sekarang ya?”

Aku menggeleng lemah, “Tidak usah.”

“Lima belas menit lagi aku sampai sana.” Dia mematikan teleponnya.

Terdengar ketukan tiga kali di pintuku, “Masuk saja.”

Pintu berwarna coklat itu terbuka dan aku melihatnya. Aku sudah sangat sering melihatnya, tapi malam itu dia terlihat sangat tampan. Dia memakai baju hitam dan celana jeans panjang yang menurutku sangat cocok dengannya.

“Kamu harus makan sekarang.” Dia menaruh sebungkus nasi dan segelas air mineral di mejaku.

Aku menggeleng pelan.

“Kamu harus makan. Apa perlu aku menyuapimu?” dia tersenyum dan membantuku bangun dari tempat tidurku.

“Aku tidak lapar.”

“Aku sudah jauh-jauh ke sini membawa nasi untukmu dan sekarang kamu tidak mau makan. Kamu tega ya?”

“Siapa yang lebih tega? Aku apa kamu?” aku menatap matanya dengan tajam, “Dulu kamu pergi meninggalkan aku tanpa sepatah katapun. Kita selalau bertemu di kelas, tapi kamu diam saja, berusaha menghindariku, seolah-olah kita orang asing yang tidak pernah kenal. Kamu nge-hack akun facebookku, kamu membiarkan anjing itu menghinaku, meng-upload fotoku dan mengatakan kalau aku ini cewek perusak hubungan orang ! Siapa yang lebih tega ?”

“Sudah ? Sudah puas teriak ?”

“Sudah.” Aku mengalihkan pandangan ke sudut lain kamarku.

Dia menarik kepalaku agar menatap wajahnya, “Dia ada di kos ku saat itu, memintaku kembali padanya. Aku tidak mau. Tapi dia mengancam bunuh diri. Dia makan detergen yang ada di kamar mandiku.”

“Kenapa tidak kamu biarkan saja dia mati?” aku berteriak, tak peduli kalau teriakanku akan mengganggu penghuni kamar kos yang lain.

“Kamu tidak mengerti situasinya saat itu! Kalau dia mati aku tidak akan ada di sini, mungkin aku ada di penjara.” Dia balas berteriak, tapi sedetik kemudian dia memelukku, “Aku sekarang di sini, bersamamu.” Bisiknya.

Aku balas memeluknya, “Aku tidak mau kehilangan kamu lagi.”

“Kamu sudah punya dia.”

“Aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu.”

Aku merasakan kecupan di rambutku, “Sekarang kamu makan ya.”

Aku mengambil nasi kuning yang dibawa pria tadi dan memakannya perlahan.

Cincin itu terlepas dari jariku. Aku sudah bebas sekarang, tapi entah kenapa hatiku masih sakit. Ini pasti sangat tidak adil untuk pacarku. Selama ini dia sudah sangat baik padaku. Selain kegemarannya bermain domino, dia tidak punya kesalahan lain.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa kukatakan setalah aku menjelaskan keadaanku padanya.

“Tidak apa-apa. Setidaknya aku mendengarnya dari kamu, bukan dari orang lain. Semoga kamu bahagia bersama dia.”

Aku menghindarinya sejak hari itu, diapun begitu.

Aku memeluk tubuh pria yang berbaring di sampingku dengan sangat erat. Aku tak mau kehilangan dia lagi dan aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia pergi.

“Do you love me?” bisikku.

“Always.” Dia memiringkan badannya menghadapku dan mencium bibirku. Aku membalas ciumannya. Tangan kanannya mencari tangan kiriku lalu meremasnya cukup keras. Kami sama-sama hanyut dalam ciuman itu.

Malam itu, dia tidur di kamarku.

Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.

Dia menemuiku setiap hari dan menginap di kamarku beberapa kali, tapi tentu saja kami tidak berani melakukan hal – hal beresiko yang bisa merusak masa depan kami.

“Apa kamu bahagia?”

Dia menatapku, “Perlu aku jawab?”

Aku tersenyum dan menggeleng, “Tidak.” Lalu aku menciumnya. Dia memeluk pinggangku dan aku melingkarkan tanganku di pundaknya, “Aku sangat sayang sama kamu.”

“Aku juga.”

Tak ada tiga minggu, semuanya berakhir…

cerita pendek jangan pernah pergi dan kembali
Jangan pergi (@ AttractTheOne)

“I wanna be free. Kamu terlalu mengekangku. Aku tidak suka diatur-atur. Sebaiknya kita berteman biasa saja mulai sekarang.”

Air mata menitik perlahan, tapi aku menghapusnya dengan cepat, “Terimakasih.” Kata itu dengan bodohnya meluncur begitu saja dari mulutku.

Dia berbalik pergi, memperlihatkan punggungnya dan berjalan menjauh. Oh Tuhan, betapa aku ingin berlari dan membenamkan wajahku di punggung tegapnya itu. Betapa aku ingin memeluknya dan menyuruhnya tetap tinggal. Aku tidak sanggup hidup tanpa dia. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya.

Dia terus berjalan dengan mantap, selangkah demi selangkah, semakin jauh.

“Tunggu..” aku berteriak.

Dia berbalik, “Ada apa lagi?”

Aku berusaha menyunggingkan senyum di bibirku yang basah terkena air mata, “Kali ini, jangan pernah kembali.”


Terima kasih telah membaca cerita pendek jangan pergi. Semoga cerpen diatas bermanfaat sekaligus bisa menambah wawasan sobat muda sekalian untuk berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

You may also like