Janji Sang Preman Kampung

cerita cinta preman romantis

Janji Sang Preman Kampung adalah cerita cinta seorang preman yang mengubah perilaku sosialnya demi rasa cinta kepada seorang gadis. Cerita cinta sosial singkat “Janji sang preman kampung” mengalir menarik dari awal hingga akhir. Bagaimana jalan ceritanya ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Cinta Preman – Janji Sang Preman Kampung

Jacky laki laki berusia 26 Tahun itu melangkah pelan menyusuri jalan desa, pengaruh sedikit minuman keras yang dia teguk tadi sedikit membuat kepalanya agak pusing, ah sialan kalau saja hari ini bukan ulang tahunnya mana mungkinlah dia susah payah mencari minuman keras ditengah hari terik ini. Dasar teman-temannya saja mau ngerjain dia…. Tapi tak apa- apalah yang penting bisa kumpul-kumpul sama teman-teman kampung, dua ekor bebek curian semalam sudah dimasak akan jadi makanan teman minum pas banget.

Hehehe…. Jacky tertawa dalam hati, pokoknya hari ini niatnya mau mabuk sampai puas, inikan hari ulang tahunnya. Sudah tradisi dengan teman-teman dikampung siapa lagi ulang tahun, atau hajatan apa saja, wajib mentraktir minum. Jacky terus melangkah menyusuri jalan desa, sebuah tas plastik kresek hitam berisi 6 botol minuman keras merek Kasegar dan 2 botol cako ( minuman keras khas Sulawesi utara) siap untuk diminum. Hampir sebulan dirinya ngumpulin duit hanya untuk beli minuman.

Pekerjaannya hanya sebagai nelayan kadang tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Maklumlah ibarat anak muda masih bujangan yah kegiatannya abis kerja, kongkow-kongkow bareng teman-temannya diujung kampung atau dimana saja mereka suka. Kadangpun dirinya tidak bisa melaut gara-gara mabuk sama teman-temannya. Kebiasaan buruk, tapi mau gimana lagi namanya juga anak muda. Saat lewat di depan Bu Anna, wanita sudah hampir pensiun tersebut cuma geleng geleng kepala.

Jacky sang preman kampung

Siapa tidak kenal dengan Jacky preman kampung ini. Kerjanya kebanyakan cuma mabuk-mabukkan, malakin orang, mukulin orang atau paling parah tukang nyuri bebek tetangga, serta masih banyak lagi predikat jelek dia sandang. Padahal dibilang gak sekolah tuh anak lulusan SMA bahkan termasuk anak pinter dikelas. Peringkatnya gak pernah turun dari peringkat lima, pas lulus SMA pun nilai ijasahnya ranking 2 tertinggi.

Sayang sekali jika sekarang dirinya jadi nakal seperti itu. Ibu Anna mantan gurunya tak henti-hentinya geleng kepala. Tapi preman itu terus berjalan dengan cuek walau ada sedikit rasa segan juga saat tadi lewat didepan mantan ibu gurunya, tapi masa bodoh ah. Lagiankan mantan guru bukan mantan pacar, he..he..he lagi lagi dirinya tertawa dalam hati.

Saat berbelok masuk ke gang Jacky berpapasan dengan Liana, janda kawin cerai 3 kali itu langsung memasang senyum menggoda saat tahu berpapasan dengannya.

‘’Hallo Jacky ganteng mau kemana ?’’ Sapa Liana masih dengan gaya menggoda, maklum baru seminggu lalu dirinya ditinggal suami, ditambah lagi sudah lama hatinya naksir Jacky. Siapa sih yang tidak naksir ?, walaupun preman kampung tapi wajahnya ganteng, tubuhnya bagus, tinggi, rambutnya ikal, rambutnya gondrong. Walau berkulit agak hitam, tapi gayanya benar benar macho.

Liana suka banget pada laki laki yang memperlihatkan gaya benar-benar jantan. Pikirannya mulai kotor. Sayang preman itu gak membalas. Jacky menepis tangannya sinis saat Liana ingin menyentuh lengan kekarnya.

“Ajak dong Jack”.

“Sorry ini acara khusus laki laki” kepalanya melengos lalu meninggalkan Liana yang cemberut.

Sialan ! apa perempuan itu gak punya harga diri dan hati yah ? sudah jelas jelas dari dulu dia tidak suka, tapi masih saja mengejar-ngejar, dasar kegatelan, makinya dalam hati.

Eh siapa tuh cewek kece di rumah Ses Weni

Langkahnya baru mau memasuki jalan setapak menuju pinggiran pantai tempat teman-temannya ngumpul, ketika matanya menangkap bayangan seorang wanita berdiri dipintu masuk rumah Ses Weni. Ses Weni panggilan untuk perawat desa. Baru 2 tahun ini dia jadi warga didesanya. Sekilas Jacky penasaran dengan wujud wanita sekilas dilihatnya tadi. Iseng dia mampir kerumah Ses Weni yang sudah cukup akrab dikenalnya.

“Eh jacky ada apa ? ” sebuah sapaan akrab terdengar, dari suara khas Ses Weni menyambutnya ramah.

‘’Gak ada apa apa Ses cuma pengen mampir aja’’ jawabnya pura pura, padahal matanya jelalatan berkeliling mencari mahkluk dilihatnya tadi. Ups …!!! hati Jacky berdesir, sesosok tubuh tergolek di ruang tengah beralaskan tikar ditemani kipas angin. Busyeet… secara tuh paha putih banget, bisik hati Jacky. Jantungnya berdegub kencang. Belum pernah dia bertemu dengan wanita seputih wanita di depannya.

‘’ii itu siapa ses…’’ Tanya Jacky. Ses Weni tersenyum kecil.

“itu putri sulungku, kakaknya Ian kalo mau kenalan, kenalan aja’’

“ah yang bener Ses ?”

“kan cuma kenalan apa salahnya”

Jacky bersorak dalam hati, wanita sedang tidur membelakangi tersebut sepertinya mendengar pembicaraannya dengan Ses Weni, terbukti dia langsung duduk lalu menatap penuh tanda tanya. Jackypun semakin takjub, wanita didepannya begitu manis, rambutnya digunting cepak ala laki laki, kulit putih bersih, terlihat tomboy serta cuek, tapi itulah yang bikin Jacky kagum. Ah.. gak boleh kusi-siakan kesempatan ini. Aku harus berkenalan dengan cewek ini, bisiknya dalam hati.

Dan tanpa diduga atau karena pengaruh minuman keras, tak malu-malu didekatinya wanita tersebut lalu mengulurkan tangannya ’’hai boleh kenalan ?” katanya berusaha memulai pembicaraan. Wanita tesebut sepertinya terkejut. Tapi dengan sangat tenang atau malah terkesan cuek menyambut tangan Jacky lalu secepat kilat melepaskan jabatan tangannya.

“Pingkan “, katanya.

“Jacky ” uhuyyy… hatinya bersorak, duh tangannya lembut banget, dengan girang ia mendekati Ses Weni lagi.

“Ses…boleh gak kirim salam mah anaknya Ses ?”.

Ses Weni tertawa keras ’’Jacky Jacky ….kamu tuh umur berapa sih ?’’.

“memangnya kenapa dengan umur Ses ?”

“Anak Ses umurnya jauh diatas kamu, udah janda punya 3 anak, mang kamu mau mah janda ?”

Sedetik dia terdiam, agak terkejut mendengar Pingkan sudah janda, anak 3 lagi, tapi kok gak kelihatan kalau sudah pernah nikah apalagi punya anak 3. Malah terkesan masih cewek tulen.

“Umur kan ga jadi masalah Ses, kalo status gak jadi ukuran “. Entah darimana mulutnya menjawab. Ses Weni tertawa lagi ’’ Iya nanti Ses bilang mah anak Ses, tapi jangan berharap banyak yah’’.

Jacky bersorak lagi dalam hati lalu dengan wajah tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya, lalu pamit untuk kumpul-kumpul dengan teman-temannya. Tak sabar rasanya ingin menceritakan kejadian tersebut pada teman-temannya secara Jacky tidak pernah melupakan teman.

Tidak disangkanya bisa bertemu dengan Pingkan. Wanita tersebut telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Jauh dalam hatinya berniat menjadikan Pingkan miliknya.

Masa sih ma, preman kirim salam

Pingkan melongoh, entah kagum ataukah ngeri melihat tampang Jacky, yah ampun ganteng-ganteng kok preman kampung. Kaget juga mendengar mamanya mengatakan lelaki tersebut kirim salam, tanda kalau menyukainya. Idih amit-amit mana tadi waktu kenalan, aroma minuman keras tercium begitu menyengat, kalau tidak menghormati orang pasti sudah muntah dari tadi. Benar-benar sangat disayangkan, laki laki setampan begitu ternyata seorang preman kampung. Padahal dari gayanya tak bisa ditampik Pingkan, laki laki gondrong tersebut terlihat sangat menarik.

‘’Aduh mama bilangin deh, jaman sekarang gak ada kirim kirim salam adanya kirim duit’’ ujar Pingkan setengah becanda.

“Kamu ko jadi matrealistis gitu Ping.’’

“Ma, aku ini cari suami bukan pacar, masa suamiku preman kampung. Apa kata teman-temanku nanti. Gini gini putri mama ini PNS, pegawai pemerintahan.’’

Yang naksir mama kali ya

“Iya mama tahu, tapi liat kamu, udah 7 tahun belum juga nikah-nikah. Kamukan cerainya udah lama’’

“ma Pingkan cuma gak mau gagal lagi, makanya Pingkan selektif serta hati hati’’

‘’mamakan cuma menyampaikan kirim salam, terima apa gak terima, kan terserah kamu’’

‘’uh mama gak deh amit amit’’ Pingkan mengedikkan bahu ngeri, membayangkan punya suami preman, pemabuk, waduh apa kata dunia. Yang pertama aja kayak gitu trus mau yang kedua… gak deh mending jomblo seumur hidup daripada dapet suami seperti itu lagi.

‘’hati hati kalau bicara kamukan gak tahu esok mau jadi apa, esok esok kalau jodoh trus kamu jadian mah Jacky baru kamu ..’’.

‘’idih mama jahat deh masa ngomong kaya gitu sih, bukannya doain anaknya dapat jodoh yang baik’’

‘’makanya ngomong jgn pake amit-amit pamali tahu’’

‘’iya iya’’…suara ribut-ribut diluar rumah membuat Ses Weni serta Pingkan buru buru keluar, apa terlihat disana bikin Pingkan tambah tidak suka serta jengkel pada preman tadi. Liat saja dia sedang berantem seperti menunjukkan kalau dialah paling jagoan dikampung ini. Bahkan tanpa memandang sekeliling menghajar laki-laki tersebut tanpa ampun. Pingkan menepuk jidatnya, dasar preman.

Desember 2010 – Preman itu merasa kesepian

Jacky terbaring gelisah ditempat tidurnya, Hari ini dia off kerja, jarang jarang sih bisa libur kerja kayak gini. Udah hampir setahun bekerja di perusahan tambang tak jauh dari desa. Lumayan penghasilannya, untunglah ia lulusan SMA, jadi basic gajinya agak tinggi.

Sungguh benar-benar bisa membantu keluarganya serta mencukupi kebutuhannya, bahkan bisa menabung. Dalam hati, hatinya bersyukur kalau bukan karena Pak Lurah, mana bisa diterima bekerja. Untunglah desa ini memiliki Lurah sangat peduli dan peka pada warganya. Anak-anak muda dulu kerjaannya cuma kongkow di perempatan jalan, sekarang hampir semuanya sudah bekerja pada perusahan tambang.

Sudah jarang sekali melihat orang duduk-duduk atau kumpul minum-minuman keras. Sebenarnya kangen juga kumpul-kumpul seperti dulu lagi dengan teman-temannya. Tapi peraturan diperusahan tempatnya bekerja sangat ketat. Setiap masuk perusahan ada pemeriksaan test alkohol di pos. Dia tidak mau ambil resiko dengan minum-minuman keras mempertaruhkan pekerjaannya. Tidak, tidak akan. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah membantunya, Pak Lurah serta keluarganya. Lagian sudah lama dia tidak minum-minum, kalau dia minum lagi, takutnya akan keterusan atau paling parah bisa sakit.

Sudahlah lebih baik jalan-jalan saja siapa tahu ? Angannya terbang. Sudah dua tahun tapi sosok Pingkan begitu melekat dalam benaknya. Kenapa ya bayangan wanita tersbeut selalu ada diotaknya ? Padahal dia pernah pacaran sekali dengan seorang wanita, tapi ibunya tidak menyukai wanita itu. Apalagi saat tahu wanita tersebut ditemukannya di café club malam dikota. Woah itu bikin Ibunya marah besar. Ibunya memang benar, wanita itu tidak pantas dengannya karena memang bukan wanita baik-baik.

Hatinya mantap ingin bertemu kembali dengan Pingkan

Ah kalau saja bisa bertemu dengan Pingkan lagi, sungguh ia tak akan menyia nyiakan kesempatan untuk mengungkapkan perasaan, urusan diterima apa ditolak urusan belakangan yang penting bicara dulu.Tapi kapan bisa bertemu, wanita itu terlalu baik untuk dia mungkin. Apalagi dengar-dengar ia seorang PNS. Wanita itu bekerja dan punya penghasilan sendiri. Pantas saja waktu berkenalan terlihat begitu percaya diri. Oh Tuhan kalau saja aku bisa berjodoh dengannya. Ahh…pikiran apa ini ? Bermimpi dalam tidurpun tak berani apalagi membayangkan wajah dalam angannya. Dia beranjak dari tempat tidur. Entah kenapa sore ini ingin berkunjung kerumah Ses Weni.

‘’selamat sore ses’’ sapanya saat melihat Ses Weni diruang tamu.

‘’Eh Jack, kamu gak kerja yah ?’’.

‘’gak ses lagi off oh yah Ian mana ‘’ tanyanya tentang anak bungsu Ses Weni. Ian bekerja satu perusahan dengannya.

‘’Ada tuh di belakang’’

‘’Hei jack..’’ teguran Ian dari belakang, sedikit mengagetkannya. Tapi lebih kaget lagi saat matanya melihat mahkluk di belakang Ian. Pingkan…….! Ya Tuhan, lihat wajahnya tidak berubah, masih sama seperti dilihatnya dua tahun lalu. Rambutnya masih pendek, kulitnya masih Putih, bedanya, kali ini wajahya begitu bersahabat serta ramah. Ada senyum kecil terukir di bibir Pingkan saat melihatnya. Alamak pertanda apa ini ? ini baru bilang pucuk dicinta ulam pun tiba.

‘’Hai Pingkan’’ sapanya.

‘’Lagi gak mabuk kan sekarang? ’’

Ups… Jacky tertunduk malu, walau samar-samar, waktu itu dalam keadaan mabuk berat masih diingatnya dengan jelas kejadian terakhir saat bertemu Pingkan, aduh malu bener dah.

‘’Jangan salah Ping, sudah insaf neh’’ Ian adik bungsunya nyeletuk.

Jacky menarik nafas lega mendengar celetukan Ian menyelamatkannya.

‘’Wah bagus tu….’’ Ujar Pingkan lagi. Sebenarnya juga tak menyangka kalau Jacky masih ada dikampung ini. Soalnya setiap kali datang ia tak pernah bertemu lagi. Tapi saat mendengar ucapan Ian adiknya bahwa preman tersebut sudah berubah, entah benar atau tidak, tapi hatinya merasa lega.

Harus diakuinya juga bahwa sang preman memang sudah terlihat berubah. Penampilannya tidak lagi slengean lagi awut-awutan. Sekarang lebih terawat, walau rambutnya semakin gondrong. Tapi itulah daya tariknya sebenarnya sehingga membuat Pingkan suka. Suka ! dia merasa aneh sendiri, bisa-bisanya berpikir hal gila itu. Sudah seputus asa itukah dirinya sampai menyukai preman kampung ? cowok kampung yang mungkin belum pernah keluar dari kampungnya ini. Wele…wele…apa gak ada cowok lain.

Jacky dan Ian pamit keluar sebentar tinggalah Pingkan menatap keluar jendela dengan diam.

‘’gak nyangka kan?’’

‘’gak nyangka napa ma?’’

‘’gak nyangka kalau preman kampung suka mukul orang sekarang sudah berubah’’ lanjut Ses Weni.

‘’Tahu dari mana kalau sudah berubah mah, mama sok tau deh’’

‘’Yah setidaknya selama setahun ini gak ada lagi ribut-ribut dikampung, pencurian bebek, dan pemukulan’’

‘’itu gak menjaminkan.. ? liat aja tuh dua orang jangan-jangan pergi mabuk lagi’’

‘’eh jangan berprasangka buruk ma orang, gak mungkinlah mereka mabuk-mabukan. Perusahan tambang tempat mereka bekerja peraturannya sangat ketat tiap masuk kerja mereka harus di periksa’’.

‘’Standar perusahan tambang memang seperti itu ma, cuma gak jadi jaminankan mereka berhenti minum-minum’’.

‘’Iya sih, tapi apa kamu gak liat penampilannya berubah’’

‘’Dikit sih.Tapi heran deh mah mama, mama tu kayanya suka banget aku jadian sama tuh anak’’ ditatapnya mamanya menyelidik. Ses Weni tertawa kecil.

‘’Mama juga heran sendiri Ping, mungkin karena anaknya baik kali, walau dia preman kampung tapi pertama kali mama pindah ke kampung ini anak itu sudah banyak menolong’’.

‘’ya elaaa mama….lagian gak mungkinlah. Akukan janda sedangkan dia cowok perjaka tulen’’

‘’Tapi jacky masih suka lho mah kamu Ping ,liat aja tadi gayanya….’’

Pingkan menggeleng pelan,apa yang dikatakan mamanya benar, masih jelas sekali rasa suka terpancar dari gaya dan tingkah Jacky, laki-laki itu sepertinya tidak bisa menutupi rasa sukanya dan itu membuatnya tersenyum geli.

September 2013

Jacky melap keringat didahi Pingkan, sudah hari ketiga mereka nginap di Rumah sakit, Pingkan yang kini sudah sah menjadi istrinya baru saja dioperasi Cesar. Sayang sang bayi tidak bisa bertahan karena mengidap kelainan usus, penyakit bawaan yang kata dokter akibat penyakit yang diidap Pingkan. Ini sudah kedua kalinya Pingkan melahirkan anak untuknya dan meninggal, yang pertama cowok dan yang kedua ini cewek. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana? dia lebih memilih Pingkan daripada bayinya….terkadang diperhadapkan pada sebuah pilihan sangatlah sulit tapi inilah hidup. Banyak hal yang dipelajari dari Pingkan, usia mereka yang terpaut 5 Tahun karena Pingkan lebih Tua memang janggal. Tapi tidak baginya, bagi jacky bisa menikah dengan wanita yang dia cintai itu sudah lebih dari cukup. Wanita yang dulu cuma ada dalam khayalan dan mimpi-mimpinya kini sudah menjadi istrinya, dan sudah dua kali hampir kehilangan nyawanya karena ingin memberikan keturunan padanya. Dan bagi jacky ini adalah pengorbanan dan perjuangan sangat besar yang tak bisa tergantikan.

Kalaupun sekarang dokter mengatakan mereka tidak bisa punya anak lagi, tidak apa apa Jacky sudah ihklas. Kebersamaan yang dijalaninya bersama Pingkan selama hampir 3 Tahun ini begitu berarti. Mungkin kalau tidak ada Pingkan dalam hidupnya apa jadinya dia. Pingkan begitu dewasa, pengertian dan sangat memahaminya.Wanita itu dengan sabar membimbingnya, dari seorang mantan preman kampung yang begitu dibenci dan diremehkan orang-orang, kini menjelma menjadi figur disegani. Dan itu tidak lepas dari peran Pingkan.

Orang bisa berubah dan kadang perubahan itu mengubah seluruh hidupnya. Dan itulah yang dia alami, yang paling penting dalam hidupnya dia sangat mencintai istrinya. Ah….Jacky kembali melap keringat di dahi dan leher Pingkan yang sedang terlelap, sentuhannya sedikit membuat Pingkan menggeliat dan terbangun. Mata Pingkan masih sembab tanda menangis, yah dia sangat memahami hati Pingkan, siapa wanita tidak sedih kehilangan anak yang dikandung selama 9 Bulan dan ini sudah yang kedua kalinya. Dia yang begitu sedih apalagi Pingkan sang ibu.

‘’Maafkan aku yah sayang’’bisik Pingkan pelan.

‘’sssttt….sudah aku bilang jangan terlalu bicara dan berpikir’’

‘’aku tidak bisa memberikan keturunan lagi utkmu ‘’mata Pingkan berkaca-kaca.

Jacky meraih tangan Pingkan dan menggenggamnya erat.

Rasa saling memiliki akan memupus kesedihan

‘’Aku dan kamu itu sudah cukup, kita bahagia dan saling memiliki itu sudah cukup, aku tidak ingin berjanji tapi akan kubuktikan padamu, kalau aku akan selalu ada disampingmu seperti janji dan sumpah kita pada Tuhan. Bukan cuma karena kehadiran seorang anak kita bisa bahagia Sayang’’ ucap Jacky membelai lembut rambut Pingkan. Yah yang dibutuhkan mereka cuma saling memiliki, yang diperlukan mereka cuma kekuatan untuk bertahan dari kehilangan yang menyakitkan ini. Dengan rasa saling memiliki pasti akan memupus kesedihan seiring dengan jalannya waktu. Dan akan dia buktikan juga pada Pingkan kalau kesetiaannya akan terus bertahan sampai akhir, ini bukan janji gombal seorang mantan preman tapi ini adalah janji tulus seorang laki laki sejati.(PW)


Terima kasih telah berkunjung dan membaca cerita cinta preman, mohon berikan jempol dan bagikan melalui Facebook, Google+, Pinterest, dan Twitter untuk mengapresiasi penulis cerita cinta sosial singkat romantis ini. Jangan lupa untuk membaca cerita pendek kami lainnya.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait