Janji Setia

cerita cinta segi tiga

Janji saling setia merupakan cerita cinta segi tiga antara dua wanita bersahabat pada satu pria dimana salah satu menderita kanker otak. Mereka bertiga tidak saling mengetahui hingga akhirnya salah satu wanita tersebut mengetahuinya kemudian memilih untuk mengalah. Bagaimana cerpen cinta segitiga ini berakhir ? silahkan simak pada cerita pendek sedih berikut.

Cerita Cinta Segi Tiga – Janji Setia

“Kenalin namaku Andri. nama kamu siapa ?”, tanyamu. “Namaku Indri”, jawabku. Perkenalan kami berawal dari perpustakaan dimana kita mencari buku sama lalu secara tidak sengaja kamu dan akupun menarik buku itu secara bersamaan. “Kamu butuh buku ini yah In ?”, tanya Andri. “Yah…  tapi kamu juga butuh kan ?”, jawabku. “Iya juga sih,  hmmm gimana kalau kita kerjain nya bareng-bareng In ?”. “Boleh juga tuh…”

Dari sanalah kemudian hari-hari kami semakin dekat. Mulai dari setiap hari bertemu buat ngerjain tugas sekolah sampai BBM-an.  Aku memang di kelas A sedangkan dia di kelas B tetapi kita memiliki tugas sama. HIngga akhirnya kedekatan kami membuatku mulai menyukainya, begitupun juga dengannya.

Akan tetapi kurasa ada sesuatu menganjal dari hubungan kami. Ada sesuatu disembunyikannya dariku. Entah apa. Disaat mempertanyakannya dia hanya bilang “kamulah matahariku saat ini, besok, dan seterusnya. Kujanjikan begituIn”. Hanya kata-kata itu mampu membuatku luluh  membisu. Setelahnya tiada kuragukan lagi cintanya lagi.

Aku mempunyai seorang sahabat. Pertama kali mengenalnya waktu bundaku sakit. Bunda sakit kanker otak. Aku menangis di depan pintu dokter. Saat itu hatiku sangat sedih mengetahui penyakit bunda. Indah datang menghampiriku, dia duduk di sampingku lalu memelukku padahal kami belum sempat berkenalan. Indah namanya sejak saat itupun kami menjadi dekat.  Indah selalu ada buat menyemangatiku sebelum diriku mengenal Andri. Hatiku bahagia memiliki sahabat sepertinya.  Indah bagiku bagaikan bintang menerangi malam gelapku. Indah bagaikan matahari selalu menghangatkanku. Dirinya tau semua tentangku. Tapi sedikit kutahu tentangnya.

Saat diriku bertanya untuk apa dirinya datang ke rumah sakit setiap hari, dia hanya menjawab ambil vitamin

Suatu hari kondisi bunda kritis hingga akhirnya bunda meninggalkanku. Indah selalu ada disisiku saat kehilangan bunda. Lima bulan diriku mengenal indah hingga akhirnya ku tahu bahwa Indah juga mempunyai penyakit kanker otak. Sama seperti penyakit bundaku dulu.

“Kenapa kamu tidak jujur padaku Dah ?”, tanyaku saat mengetahuinya. “Maafin In. Diriku hanya gak mau melihatmu sedih. Diriku hanya ingin menjadi matahari untukmu, gak mau menjadi mendung dalam hidupmu In”. “Tapi kita sahabat Dah. Kita udah seperti sodara kan ? Sekarang kau harus cerita semua. Ku tahu kamu ada banyak masalah”. “Makasih ya In, kamu memang  sahabatku. Baiklah, sejujurnya dulu waktu belum pindah sekolah, diriku mempunyai seorang kekasih. Dia adalah segalanya bagiku. Selalu ada buatku disaat hatiku sedih atau kesepian. Sehingga ketika ku tahu tentang penyakitku hatiku merasa gak nyaman pada hubungan dengannya. Akhirnya ku putuskan untuk menghindarinya. Hatiku tahu dia sangat marah dan sedih tas sikapku. Tapi harus bisa kulakukan demi masa depannya. Kemudian kuputuskan untuk pindah sekolah tanpa sepengetahuannya. Diriku menghilang dari hidupnya sampai saat sekarang. Hatiku sebenarnya tersiksa pada perasaanku karena masih sangat mencintai juga menyayanginya In. Seandainya masih diijinkan untuk bertemu dengannya untuk terakhir kali, tentu akan bahagia sekali. Tapi diriku takut dia mengetahui keadaanku sekarang.

“Dah, sampai kapan kamu menyembunyikan semua ini ? cepat atau lambat diapun akan mengetahuinya”. “Aku tahu In, tapi biarlah semua begini adanya”.

Setelah mengetahui keadaan Indah, aku ingin selalu ada buatnya. Hingga akhirnya benakku berpikir ingin mengenalkan Indah pada Andri. Kuputuskan sekarang akan ku kenalkan mereka. Tetapi sebaiknya ku telepon Indah dulu melalui ponsel setelahnya baru menelpon Andri.

“Dah dimana kamu sekarang ?”. “Habis check up In. Kenapa ?”. “Gak apa apa, aku ingin kenalin kamu dengan seseorang Dah !!”.  “Cie siapa tuh ?”. “Ada deh pokoknya nanti kita ketemu di kafe ya”. “Iya deh. beres !”.

Urusan Indah selesai, sekarang tinggal menelpon Andri. “Hallo An ada dimana sekarang ?”. “Di perpustakaan In. Kenapa ? kangen yah ?”. “hemz…. gak tuh cuman pingin kenalin kamu sama sahabat baikku An, ada waktu kan buatku ?”.  “Ada donk sayang,  apa sih yang gak buatmu”, katanya lagi. “Ya udah ketemu di kafe Mika yah nanti ku SMS in alamatnya !”. “OK sayang bye, I Love You”. “Iya bye, Love you too”. Telepon ku tutup. Dalam hatiku semoga saja kami bisa menyemangati Indah.

Hujan menghalangi perjalananku menuju kafe. Huhh… walaupun telat pasti akan tetap datang karena diriku yang punya acara. Akan tetapi setelah sampai disana. Kulihat Indah menangis di hadapan Andri. Kenapa ? Apakah mereka sudah saling kenal sebelumnya. Hati kecilku bertanya-tanya. Ku coba mendekati mereka tanpa diketahui. Lalu kudengar semuanya. Ternyata Andri adalah kekasih Indah. Bodohnya diriku karena tidak pernah menanyakan siapa nama kekasihnya Indah.

“Lupain diriku An”. “Kenapa Dah. Kenapa kamu pergi lalu menghilang begitu saja dariku ?”. “Sudahlah An semua hanya masa lalu”. “Jawab dulu kenapa Dah ?”. “Diriku dijodohin sama orang tuaku, puas kamu An ?”. Setelah mengatakan begitu, Indah pergi keluar berlalu dari kafe. Akupun pergi meninggalkan kafe tersebut. Entah hatiku sangat sakit melihat semua, berkali-kali Andri maupun Indah menghubungiku. Tapi hatiku bingung harus bagaimana. Akhirnya kuangkat telpon dari Andri.

“Hallo In, kemana kamu ? kenapa tadi gak dateng di kafe ?”. “Gak pa pa,  sepertinya aku perlu bicara padamu An”.”Ok, kesana sekarang ya”. “Iya” jawabku. Kemudian langsung kutelepon Indah. “Hallo Dah, maaf yah tadi kehujanan di jalan. jadi langsung pulang”. “Iya gak pa pa In, tapi kamu gak kenapa-napa kan ?”. “Iya Dah, jangan lupa makan yah”. “Iya In. Udah gede kali he he he Oh iya terus kapan mau kenalin ?”. “Kapan-kapan yah Dah”. “Iya deh sippp”. “Kamu cepat tidur yah, good night my sister..”, “OK good night too my sister..”.

Setelah telepon kututup tiba-tiba hatiku merasa sangat sedih. Sedih melihat Indah sehingga membuat air mata menetes. Saat itulah tiba-tiba Andri datang. “Hey … kenapa menangis sayang ?”. “Aku sayang banget sama kamu An. Takut kehilanganmu. Seluruh hatiku hanya untukmu. Dihatiku hanya tertulis namamu An, apakah kau juga begitu An ?”.  “Aku…??”. “Gak usah dijawab An. Sudah ku ketahui semuanya. Tadi diriku berada di kafe lalu melihatmu dengan nya”. Mulutku diam sebentar menanti reaksinya. Andri terkejut. “Maafkan diriku Indah..”. “Gak perlu minta maaf An. Boleh ku cerita sesuatu ?”. “Boleh In. cerita apa ?”.

“Cerita tentang sahabat baikku. Enam bulan lalu sebelum mengenalmu. Disaat kehilangan bundaku aku mengenalnya. Dia selalu ada buatku. Memberikanku motivasi semangat hidup ku. Dia bagaikan saudaraku sendiri An, hingga suatu hari ku ketahui bahwa dia mempunyai penyakit kanker otak. Penyakit yang memisahkanku dengan bundaku, dia menyembunyikannya dariku. Karena dia sayang padaku An. Dia pernah cerita padaku tentang kekasihnya yang ditinggalkan karena dak mau kekasihnya tahu tentang penyakitnya. Sampai akhirnya dia berbohong pada kekasihnya bahwa dia telah dijodohkan, Indah”

“Maksud kamu apa In ?”, tanya langsung. “Dia adalah Indah An. kekasihmu. Kembalilah padanya An. Buatlah hatinya bahagia. Berjanjilah An. Kau tidak akan mengatakan bahwa kita pernah kenal. Anggap kita gak pernah kenal di depan Indah”. “Tapi hatiku sayang kamu In”. “Tapi aku juga tahu kamu sayang Indah. Sementara diriku juga sayang pada Indah. Berjanjilah An demi cinta kita. Bertiga”. “Baiklah jika begitu kemauanmu. I Love You” katanya sambil mencium keningku untuk terakhir kali nya.

“Pergilah An.”. Dia pun berlalu dariku. Tiga hari diriku tanpa Andri. Ada pesan masuk dari Indah. “In aku mau ketemu”. “Boleh, kenapa Dah”. “Ada hal penting, Aku kerumahmu yah ?”. “Ok ku tunggu ya.. bye”. Dua puluh menit kemudian dia datang bersama Andri.

“Indah !. Aku mau kenalin dengan seorang yang dulu pernah ku cerita kan. Ini Andri”. Kujabat tangan Andri. “Indri”, ucapku. Dibalasnya cepat “Andri”.  Ya Allah hatiku, sakit sakit sekali rasanya. Air mata tanpa kusadari mengalir membasahi pipiku. Indah melihatnya. “In kenapa menangis ?”. “Gak pa pa, hatiku bahagia sekali kau bisa bertemu dengannya lagi”. “Iya semua juga berkat doa mu In”. Lalu kami berdua berpelukan.

“Oh ya.. kapan mau kenalin pacarmu In ? kemarin kan gagal waktu di kafe. Nanti bisa jalan berempat”. “Dia udah punya kekasih”. “Maksudmu dia selingkuh ?”. “Bukan Dah, maksudku kami sudah putus”. Indah sedikit kecewa, “Ooowh sabar yah In. Ku yakin suatu saat nanti pasti akan bertemu dengan lelaki baik seperti Andri”. “Iya Dah, makasih yah”.

Setelah pertemuan itu diriku selalu berusaha keras menghindari mereka. Hatiku sakit tapi lebih sakit lagi apabila Indah tahu semuanya. Hingga suatu ketika Andri menelponku. “In aku kangen”. “Aku titipin Indah ya An. Tolong jagain dia demi CINTA KITA BERTIGA”. “Aku sayang sama kamu In”. “Hapuslah nomorku dari HP mu An. Diriku juga akan menghapusnya. Biarlah jodoh mempertemukan kita kembali, biarlah jodoh mengungkapkan siapa matahari-mu, biarlah janjimu menjadi semu ditelan oleh waktu An. Assalamualaikum”. Ku tutup telepon nya. Kami sekarang menjadi orang asing saat di sekolah ataupun saat bersama Indah.

Empat bulan sudah akhirnya diriku lulus dari SMA. Kemudian kuputuskan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta . Tujuan utamaku hanya ingin melupakan Andri. Diriku berpamitan pada mereka. Hari esok adalah langkah baruku di Jakarta. Tubuhku juga hatiku lelah sekali. Kurebahkan tubuh di kasur berharap semua kelak akan baik-baik saja.

Dikirim oleh : Nenk Luzy


Terima kasih telah membaca cerita cinta segi tiga. Semoga cerpen diatas dapat mengibur sekaligus memberi motivasi dan inspirasi bagi sobat Bisfren semua. Jangan lupa untuk selalu menjadikan setiap peristiwa hidup sebagai sumber inspirasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment