Janjiku Untuk Pelangi

cerita cinta pandangan pertama

Janjiku untuk pelangi adalah cerita cinta pandangan pertama dua remaja yang terpisah karena harus sekolah ke luar negeri. Berbagai kejadian membuat keduanya tidak bisa bertemu hingga masing-masing akan menikahi orang lain. Bagaimana kisah romantis ini ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Cerita Cinta Pandangan Pertama – Janjiku Untuk Pelangi

Sore begitu indah dengan terpaan sinar matahari tak lama lagi akan bersembunyi  menyambut malam. Hamparan rumput hijau serta bunga-bunga kecil menambah suasana  pemandangan indah di tepi danau. Aku berhenti menggesek biolaku lalu mulai menatap Pelangi sibuk memainkan kuasnya. Kerudung hijau muda, baju kaos putih serta rok senada dengan warna kerudungnya, sesekali diterpa angin membuat keanggunan Pelangi tampak semakin bertambah dalam hatiku. Entah bagaimana menjelaskannya, setiap mataku menatapnya ada desiran lembut dalam hati lebih lembut dari angin di danau sore itu, dan perasaan tersebut semakin hari semakin menjadi-jadi.

Pelangi adalah sahabat kecilku yang baik, cantik juga sangat suka melukis. Diriku sudah mengenalnya lebih dari 10 tahun lalu semenjak pindah dari kota kelahiranku dan menjadi tetangganya. Saat itu dia masih gadis kecil berumur 6 tahun sementara diriku berusia 7 tahun.  Kami begitu dekat serta sering menghabiskan sore di danau ini.

Pelangi pandai sekali melukis, dia suka melukis alam, manusia atau apa saja. Seperti sekarang, tangannya sibuk melukis suasana pinggir danau ditambah imajinasinya membuat lukisannya sangat enak dipandang. Sedangkan aku, diriku sangat suka bermain biola walau nadanya menurut Pelangi membuat burung-burung bertengger lari ketakukan atau bahkan pingsan. Tapi anehnya dia tk pernah mencelanya ketika diriku sedang memainkannya, tetapi ketika berhenti memainkan biolaku baru dia akan mengatakannya. Bagiku itu bukan celaan tapi semacam komentar spontan apa adanya namun sering kali pedas.

Tapi hari itu beda. “kok berhenti Yan ?”, tanyanya beberapa menit kemudian sementara tangannya masih mengerak-gerakkan kuas. “Malas” jawabku singkat. “Lo, kenapa ? Nadanya bagus, aku suka, kayanya sudah ada perkembangan dibanding beberapa minggu terakhir ini ya ?”, lanjut Pelangi sambil menghentikan tangannya dari menggerak-gerakkan kuas lalu memberikan senyuman manisnya. Bibirku tersenyum senang, akhirnya Pelangi mau mengakui keahlianku dan ini merupakan hari pertama Pelangi protes diriku berhenti memainkan biolaku, biasanya dirinya akan berujar senang bila menghentikan permainanku yang menurutnya tidak enak didengar.

Tapi senyumanku tidak bertahan lama ketika menyadari bahwa hari ini adalah hari terakhirku disini bersamanya. Diriku telah lulus SMA lalu akan melanjutkan kuliahku ke Inggris pada universitas favoritku. Besok sore akan berangkat untuk waktu belum bisa kupastikan. Ditambah lagi keluargaku juga akan kembali ke daerah tempatku tinggal dulu.

Perasaanku mulai redup seperti langit sore yang tiba-tiba berawan. Pada satu sisi hatiku begitu ingin kuliah ke Inggris, sementara sisi lainnya hatiku merasa berat meninggalkan Pelangi. Hatiku berat meninggalkan senyuman manisnya, berat meninggalkan nasehat-masehat keagamaan darinya, begitu berat berpisah pada kenangan-kenangan bersamanya, juga begitu takut dirinya menemukan pengganti lain selain diriku. Meski Pelangi bilang tidak menyukai hubungan pacaran tapi ku yakini banyak orang di sekolah juga diluar sana akan begitu mudah terpikat pada Pelangi, gadis bersahaja juga sederhana, yang begitu menyukai alam serta warna hijau. Selama ini ku tau ada banyak cowok ingin mendekatinya namun mereka perlahan mundur sendiri karena melihat kedekatanku dengannya.

Mataku menatap kosong kearah danau, mengetahui perubahan ekspresi mendadak pada wajahku, Pelangi menjadi sedih.

“heii.. ada apa ?”, tanyanya.

“Pelangi.. besok aku akan pergi, kamu tau itu kan ?”, ku jawab pertanyaannya dengan nada sendu. Ku lihat tiba-tiba perubahan mimik muka Pelangi menjadi lebih sendu, tapi ia seolah mengabaikannya.

“Ya, itu kan bagus, berarti akan semakin cepat kamu melihat impianmu serta negara favoritmu, kamu harus bersyukur untuk itu”  katanya dengan senyum manisnya lalu melanjutkan melukis lagi.

Mulutku bungkam, tidak bisa menjawab apa-apa, bagaimna Pelangi tak tau bahwa diriku telah memberi warna lain nama Pelangi dalam hatiku dan itu bukan warna persahabatan.  Diriku ingin jujur saat ini, tentang perasaanku terhadapnya, biarpun  Pelangi marah, diriku tak peduli, yang ku pikirkan sekarang bagaimana dirinya bisa tau bagaimana perasaanku kepadanya selain juga karena penasaran pada perasaanya. Apakah hatinya juga sama terhadapku, tak ingin ku bawa pergi perasaan begini sendirian.

Akupun mulai memberanikan diriku dengan membenarkan letak posisi kacamataku. “Pelangi..” panggilku ingin mengubah perhatian Pelangi sambil juga menyiapkan keberanianku.

“iya,apa lagi ?”, jawabnya tidak menghiraukanku.

“Pelangi..”

“iya apa Ryan, ngomong aja..”.

“Pelangi lihat kearahku sebentar kenapa ?” Kali ini nada suaraku sedikit lebih tinggi.

“Apaan sih ? pake lihat kesitu segala ? Ngomong aja lagi, aku lagi sibuk ni” katanya masih juga tak menghiraukanku.

“Pelangi.. pleasee tolong lihat sini sebentar” lalu kali ini nadaku lebih lemah.

“Iya ada apa Riyan, ada apa ?” katanya dengan wajah jengkel semakin parah meski kali ini wajahnya melihat kearahku. Bibirku bersiap mengatakan sesuatu walau tanpa ku sadari lama sekali persiapan itu ketika Pelangi sudah ada di depanku hingga akhirnya dirinya kembali lagi pada posisinya semula. Awan hitam semakin mengumpul bersama seluruh kekuatanku pun terkumpulkan. Mulutku sudah siap ingin bersuara walau Pelangi tak menatap kearahku “Pelangi aku su….”.

Hujan turun tiba-tiba seperti ingin menghentikan kata-kataku hingga akhirnya membuat ku urung menyatakan perasaanku. Pelangi menikmati hujan, dirinya tak berkemas untuk pulang atau mengamankan peralatan lukisnya dari air hujan, ku tau dirinya suka hujan dan gerimis.

“Hujan..” serunya tiba-tiba. Wajahnya tersenyum menatapku tapi diriku tanpa ekpresi dalam hujan membasahiku. Melihat keadaan tersebut Pelangi melempari mukaku menggunakan cat airnya sebelum akhirnya berlari, hingga diriku tersadar mencoba membalasnya pakai tanah becek karena basah oleh hujan.

Lemparan mukaku tepat mengenai muka serta kepalanya sehingga membuat kerudung hijaunya bercap lumpur, tapi Pelangi tidak tinggal diam tangannya membalas lagi. Lalu perang lumpur seperti masa kecilku dulu terjadi. Pada hari ini kami mengenang kembali masa kecil dulu lagi.

Pelangi tak tahu bagaimana perasaanku, Diriku pun tidak tahu bagaimna perasaannya, Dirinya amat pandai mengontrol perasaan walau ku lihat ada air mata menetes ketika pagi hari dirinya mengantar sebuah kado berbentuk lukisan ke rumahku sebelum berangkat ke sekolah. Dia melarangku untuk membukanya disini, sambil berpesan kado tersebut baru boleh dibuka ketika sudah sampai ke negri Elizabeth sehingga diriku pun mematuhi aturannya meski sangat penasaran akan isinya.

Beberapa tahun kemudian

Sudah hampir lima tahun diriku berada di negeri Big Ben. Padahal rasanya baru kemarin bermain biola bersama Pelangi di tepi danau sambil memandanginya melukis, baru kemarin pulang sekolah bareng Pelangi serta kejar-kejaran di tengah hujan lebat pada senja sebelum pelangi diatas langit muncul memperlihatkan warna-warninya.

Sekarang hatiku begitu merindukannya, merindukan senyumannya. Sekarang diriku pulang karena sudah menyelesaikan kuliahku disana, hampir dua tahun diriku tidak menginjak tanah air setelah terakhir kembali tapi tak mendapati Pelangi di daerahnya. Hatiku begitu terpukul ketika mendengar kisah Pelangi kehilangan orang tuanya pada kecelakaan lalu lintas lantas hidup sebatang kara kemudian di adopsi oleh sepasang suami istri paruh baya. Tapi sayangnya tiada seorangpun tahu keberadaan Pelangi.

Malam ini ku tatap lukisan hadiah dari Pelangi berupa sketsa gambar kami berdua. Aku sedang memainkan biolaku sementara dirinya disampingku sementara kedua tangannya memegang bunga dipadu latar belakang warna Pelangi menambah nuansa indah ketika memandangnya juga nada rindu tak dapat diuraikan. Angin malam berhembus seolah semakin membuat rinduku semakin lirih.

“Pelangi dimana kamu ?” hatiku bertanya-tanya tentang keberadaan Pelangi sekarang. Apakah dirinya punya rindu sama sepertiku ? atau apakah sama sekali tidak mengingatku, bahkan telah melupakanku ? Apakah dirinya tidak ingat dengan janji-janji ku tulis dalam surat yang kutitipkan kepada ibunya.

Beribu tanya memenuhi otakku. Dalam kesibukan menyusun pertanyaan dan semua kenangan tentang Pelangi tiba-tiba pintu kamarku diketuk,

“Ryan..Ryan,

“Ia ada apa bunda..”

“Sarah sama papa mamanya udah datang tu..” kata mama mengingatkan ku tentang adanya janji makan malam keluarga besar di rumahku malam ini. Hatiku agak berat mengikutinya karena sudah bisa membaca tujuan makan malam ini, apalagi kalau bukan perjodohanku dengan anaknya dokter Rendra, salah satu pemilik rumah sakit swasta di kotaku sekaligus sahabat karib ayah. Akan tetapi kakiku terpaksa melangkah menuju ruang makan demi menghormati bunda juga ayah. Pada ruang makan keluarga ku lihat Sarah mengenakan gaun merah tersenyum manis kepadaku seolah memamerkan keanggunannya. Dirinya memang terlihat anggun jika tak mengenal Pelangi. Apalagi Sarah juga seorang dokter muda berbakat sama seperti ayahnya.

“Ciee..ciee… ada yang terpesona sama kak Sarah” celetuk Rara adik kecilku yang masih SMP sangat bawel dan suka usil.

“Apaan sih, anak kecil sok tau.. habisin aja tuh makanan di depan mejanya dulu..” kataku sambil berjalan pura-pura ingin menjitak kepalanya. Sementara ayah sama bunda juga tante sama om Rendra hanya tertawa, ku lihat Sarah seperti tersipu.

Kami memang sudah mengenal lama tapi tidak begitu akrab, dia terlihat hampir mendekati sempurna dengan kecantikan serta kepintarannya. Sarah juga dikenal sangat lembut tapi bagiku tak seorang pun gadis mampu mengalahkan pesona Pelangi di hatiku. Sekalipun tujuh bidadari dari kayangan berada dihadapanku, Pelangi lah akan tetap menang.

“Jadi gimana Riyan menurutmu ?” tanya Sarah menghentikan lamunanku entah apa dibicarakannya tadi sehingga membuatku ingin bertanya lagi dengan nada agak canggung.

“eumm..emm..gimana Pelangi ?” tanpa sadar ku sebut nama itu.

“Pelangi, siapa Pelangi ?”, tanya Sarah dengan wajah kekecewaannya sehingga seketika meyadarkanku bahwa diriku sedang bersama Sarah bukan Pelangi.

“ehmm.. tidak aku, diriku masih bisa belum ‘Move On’ dengan Pelangi tadi sore Sar, begitu indah bukan ?”, kataku mencoba memutar balikkan fakta demi meyakinkan Sarah hingga akhirnya kepalanya mengangguk dengan nada Ooo.. Panjang membuatku sedikit kurangnya bisa lega.

Harus ku akui Sarah tipikal wanita menyenangkan, ada kesamaan antara dirinya dengan Pelangi, yaitu sama-sama punya rasa sosial tinggi. Sarah suka kepada anak-anak juga peduli pada anak-anak telantar. Pelangi pun begitu, hanya bedanya Sarah wanita dewasa, matang merancang semuanya dengan jelas. Sedangkan Pelangi hanya mengajar kepada anak-anak miskin di kotanya tentang apa saja yang dia tau, cara-cara melukis, menulis, membaca, mengaji bahkan diriku juga sering menemaninya.

Sarah juga mengetahui diriku sudah dikenal sebagai pemain biola untuk mengajarkan anak-anak kurang mampu pada sebuah perkampungan nelayan lengkap dengan rumah baca yang dia dirikan. Karena itulah diriku terlihat sering bersama Sarah. Dan bunda melihat kedekatan kami sebagai pertanda lampu hijau tentang perjodohan kami, hingga akhirnya bunda memintaku untuk bertunangan dengan Sarah secepatnya.

Aku mencoba mengelak tapi bunda masih saja ngotot dengan alasan kami memang ditakdirkan untuk bersama. Akhirnya demi menghormati bunda, diriku pun mengiyakannya. Kemudian bunda ingin mempercepat acara pertunangan kami. Lagi-lagi waktu begitu cepat, entah apa telah terjadi padaku sehingga menyematkan sebuah cincin kepada seorang wanita bak malaikat tapi tidak bisa ku cintai meski sudah berusaha untuk mencintainya.

Tapi tetap tidak ahh..semua bagian perasaan ini rasanya telah dikuasai oleh Pelangi, Pelangi dan Pelangi saja hingga ada perasaan berdosa ketika harus menyaksikan senyuman kebahagiaannya pada hari pertunangan ini. “Maafkan aku Sarah”, suaraku lirih dalam hati.

Bertemu kembali

Petang begitu indah dengan langit biru serta burung-burung kecil beterbangan. Suara riuh ombak mengelegar membuatku begitu menikmati suasana ini. Mungkin, sudah kedua kali diriku kesini, ke salah satu rumah baca didirikan Sarah bersama dengan temannya yang belum ku kenal. Akan teapi hari ini seolah ada suatu perasaan lain, terasa begitu indah, diriku begitu menikmati untuk menjemput Sarah saat disuruh bunda meski awalnya agak berat. Tiba-tiba keengganan hilang ketika tubuhku menyentuh suasana pantai ini. Ku pakirkan mobil di depan rumah baca masih terlihat sepi. Kemana Sarah juga anak-anak nelayan ? katanya setiap minggu mereka ada kegiatan. “Ahh..entahlah” diriku cuek saja, masih berdiri disamping mobilku.

Rumah baca tersebut terlihat indah, apalagi letaknya hanya beberapa meter dari laut,  pikirku mengagumi hasil karya Sarah. Kulihat ke depan, beberapa ratus meter dari tempat ku berdiri, banyak sosok bocah-bocah sedang sibuk bermain di pantai sebagiannya sibuk memainkan kuas.

Langkahku berjalan mendekat, ada rasa getaran misterius hebat ketika semakin mendekat menuju pantai. Awalnya, tidak tau kenapa tapi semakin mendekat, ku lihat sosok tubuh seorang gadis memakai kerudung sedang mengamati anak-anak sibuk memainkan kuas. Semakin dekat semakin jelas.

“Kak Riyan,  kak Sarahnya lagi ke rumah Mulki,.” kata seoarang bocah berumur sekitar tujuh tahun ketika melihatku, gadis berkerudung tersebut pun menoleh.

“Pelangi…”

“Riyan…..”

Ya Allah, dirinya masih seperti dulu bahkan lebih cantik dari dulu. Ku buka kacamata minusku tanpa sadar karena kekonyolanku, sangking hatiku tak percaya dengan apa ku lihat. Mungkin saja kacamata minusku salah, tapi ketika ku buka malah semakin buram saja, lalu ku putuskan untuk memakainya kembali. Diriku semakin mendekat lalu Pelangi beranjak dari duduknya.

“Heiii…apa kabar ?”, sapanya dengan senyuman manis milikinya seorang.

“Ia baik, kamu ?”

“Aku juga baik “, ada nada canggung diantara kami berdua, tapi diriku masih saja mengaguminya seperti dulu. Hatiku sungguh tidak berhenti bedebar dengan perasaan meluap-luap begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan gadis setiap malam kurindui.

“Kamu tinggal disini ?”, tanyaku.

“Ia, tapi bukan disini tepatnya, di jalan utama sebelum masuk perkampungan ini” ucapnya masih dengan senyumannya.

Tapi tiba-tiba Sarah datang dengan senyuman bahagianya sambil berkata kepada seorang anak bernama mulki  “Selamat Mulki, kamu udah punya adik cowok sama gantengnya seperti kamu”.

Anak tersebut berseru riang. Dan Sarah sadar kalau diriku berada disitu.

“Ehh.. ada Riyan ternyata, oh ya kenalin Pelangi ini Riyan calon suamiku, Riyan ini Pelangi sahabatku dia mau menikah juga lo…” kata Sarah masih dengan perasaan senangnya karena baru saja menolong seorang ibu melahirkan. Tapi Sarah keliru mengenalkanku pada Pelangi, karena kami sudah saling kenal bahkan sebelum Sarah mengenal Pelangi.

Hari ini rasa senangku tiba-tiba hilang ketika sadar bahwa diriku akan menikahi Sarah, sementara Pelangi, Pelangi juga akan menikah. Benarlah dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku, sekalipun telah membaca surat berisi janji-janjiku untuk menikahinya setelah kembali dari Inggris.

Semenjak pertemuan tersebut, diriku sering melamun sekalipun sedang bersama Sarah. Hatiku seolah tak peduli bahkan parahnya lagi mulutku sering memanggil namanya dengan nama Pelangi karena memang semakin memenuhi otakku. Dan hal tersebut sering membuat Sarah kesal lalu mulai curiga. Sementara hari pernikahanku semakin dekat, diriku semakin merasa ganjil pada semua ini. Meski sudah beberapa kali mengunjungi rumah baca, tapi hanya sekali saja menemukan Pelangi ada disana yaitu ketika hari pertemuan pertama kami.

Hari itu, seminggu sebelum pernikahan kami, Sarah bersama keluargaku sibuk mengurus tentang pesta pernikahan kami sementara diriku sibuk mencari Pelangi. Akhirnya sore itu ku dapati Pelangi di pantai kemarin tempatku menemukannya lagi. Dia sedang berdiri sendiri menatap ombak lalu aku mendekat berjalan kearahnya. “Pelangi..” dia menoleh kepadaku sambil menyapu sisa air matanya.

“kau menangis Pelangi ?. Kenapa sayangku menangis ?”. Namun kalimat kedua hanya tersimpan di hatiku saja.

“tidak…” katanya sibuk menyapu matanya lalu mencoba tersenyum.

“Bohong.. kamu bohong Pelangi, kamu kenapa ? jujur Pelangi…!”.

“Aku hanya merindukan Abah sama Umi bebek bawel..” katanya dengan panggilan khasnya dulu untukku bila sibuk memprotes lukisannya.

“hanya abah dan umimu saja, kamu tidak merindukan aku Pelangi? ” Tanyaku lirih.

“Rindu, rindu banget yan..”, kali ini aku tak mengerti kenapa dirinya menangis lagi. “Rindu melemparmu dengan cat air dan lumpur”, lanjutnya dengan mata masih basah kemudian memaksakan dirinya tersenyum.

“Lebih dari itu Pelangi, hatiku suka sama kamu Pelangi..” kataku benar-benar ingin mengungkapkan perasaanku.

“Iya Riyan, kita sama-sama saling suka kan ?  kita ini teman, kalau kita tidak saling suka mana mungkin kita bisa sahabatan, ya kan..?”, dia juga masih berbicara dengan air mata serta tawa dipaksakan.

“Aku sayang sama kamu, cinta sama kamu Pelangi, seperti pada surat ku tulis itu Pelangi, hatiku cinta sama kamu, ingin menikah dengan kamu Pelangi”. Nada bicaraku semakin tinggi dengan siuara ombak bergemuruh.

“Kita hanya sahabat Riyan, dan lupakan isi surat tersebut. Diriku tak menganggapnya serius Yan, lagian kita juga akan menikah dengan orang yang sama-sama kita cintai bukan ?”, kata Pelangi dengan terisak semakin membuatku tak yakin dirinya berkata jujur.

“Tapi hatiku mencintaimu Pelangi, mengertilah..” sekarang diriku mulai terisak. “Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang, kamu telah memegang alih hatiku ini..”

“Aku tak mencintaimu Riyan, kita hanya sahabat”, kata Pelangi masih terisak sehingga membuatku tak mengerti kenapa.

“Bohong”, suara itu muncul tiba-tiba mengagetkan kami.

“Sarah…”

“Angga..”

“Aku tahu Pelangi juga mencintai kamu Riyan, dia menerima lamaran Angga karena merasa berhutang budi pada Om juga tantenya Angga, dan Pelangi juga sering cerita tentang sahabat kecilnya yang kuliah ke Inggris. Bodohnya aku tidak tau kalau itu kamu”.

“Sarah hentikan, itu tidak benar..” kata Pelangi keras.

“Pelangi, tega ya kamu, tega mempermainkan perasaanku…” ujar lelaki bernama Angga.

“Kak, semua tidak seperti kamu bayangkan..” Pelangi masih besikeras meyakinkan.

“Iya Pelangi, benar tidak seperti ku bayangkan, semula ku bayangkan kamu hanya milikku. Hanya diriku bisa membahagiakan kamu, ternyata salah, dan ini buktinya”. Angga menyodorkan sebuah buku harian, diriku mengenalnya. Itu buku harian pemberian dariku pada hari ulang tahunnya ke tujuh belas, ternyata masih disimpannya. Mataku menatap Pelangi, dirinya seperti kehilangan kata-kata.

“Maafkan diriku kak Angga”.

“Tidak Pelangi, ini terlalu sakit bagiku, juga bagi Sarah”.

“Dan kamu Riyan, kenapa tidak jujur saja Padaku ?”, ya Tuhan kali ini Sarah menangis karenaku.

“Maaf Sarah”, hanya itu kata-kata mampu ku ucapkan dengan kepala tertunduk.

“Maaf, semudah itu ? setelah kalian mencabik -cabik perasaan kami dengan kebohongan kalian ?”, lanjut Sarah semakin terisak.

“Kalian kami maaafkan asalkan dengan satu syarat”.

“Apa itu ?”, tanya Pelangi antusias.

“Kalian berdua harus menikah besok”, lanjut Agga karena menahan rasa sakit hatinya.

“Tapi kak ?”, bantah Pelangi keberatan.

“Udah ya Pelangi, diriku tau dari ceritamu bahwa hatimu sangat rindu pada sahabat mu itu, dan kamu cintakan dia kan ? kami hanya penghambat cinta kalian. Jadi kami  minta maaf juga”, kata Sarah sambil pergi meninggalkan kami kemudian disusul Angga.

“Kak Angga tunggu…!”, Pelangi mencoba mengejar Angga yang memang terlihat sangat terluka.

Melihat kepiluan dihati Sarah si gadis malaikat itu, akupun juga ikut pergi mengejarnya.

“Kak maafkan aku”, Pelangi tertunduk dihadapan Angga.

“Untuk apa Pelangi, dirimu tidak salah malah seharusnya diriku minta maaf karena terlalu memaksakan perasaanku terhadapmu sedangkan diriku tau hatimu bukan untukku”, lelaki tersebut berkata begitu tulus.

“Aku tau dia cinta pertamamu dan akan jadi yang terakhir, kalian memang ditakdirkan bersama”.

“Sarah maafkan diriku, kamu bagai malaikat, kamu berhak mendapat lelaki lebih baik dariku”, kataku sambil memeluk Sarah yang masih menangis, tapi pelukanku buru-buru dilepaskannya.

“Udah, kamu gak salah Riyan, bahagiakan Pelangi, dia sahabatku juga, tepati janjimu pada Pelangi, Pelangi selalu menunggumu untuk menepati janjimu, menjadikannya ratu terbahagia di dunia”, katanya sambil mengusap air matanya.

Ku tatap Angga, lalu dia memelukku sambil menepuk-nepuk pundakku tanpa kata-kata kemudian mereka berlalu dari pandanganku. Dua manusia berhati emas yang benar paham arti cinta.

Aku kembali kepada Pelangi. Kini diriku bisa menepati janji-janjiku kepada Pelangi, dan ku tahu dia juga selalu merindukanku seperti hatiku meerindukannya. Dia begitu cantik hari ini. Sambil menyapu matanya yang haru, aku tersenyum memeluknya.

Dia tampak bak putri pada hari pernikahan kami, selalu ada Pelangi dimatanya katika mataku menatapnya. Tak akan kutemukan diamanapun selain pada matanya dan karena itulah tidak ada gadis lain dalam hatiku selain dirinya. Aku akan selalu berusaha menepati janjiku kepadanya untuk menjadikannya ratu paling bahagia di dunia.(RD)


Terima kasih telah membaca cerita cinta pandangan pertama romantis. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat dalam menginspirasi serta memotivasi sobat Bisfren semua untuk terus berkarya dan mengejar citac-cita. Salam sukses selalu untuk semua.

Dibagikan

DianRa Ilyas

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment

  1. Pelangi … pelangi alangkah indahmu. Ceritanya asyik mbak cuma bacanya lidah agak pegel. Tapi so sewet lah he he he