Pembalasan Menyedihkan

cerita cinta romantis balas dendam

Pembalasan menyedihkan merupakan cerita cinta romantis balas dendam gadis cantik Jasmine kepada mertua akibat percobaan pembunuhan atas dirinya. Silahkan simak pada cerpen berikut :

Cerita Cinta Romantis Balas Dendam – Pembalasan  Menyedihkan

Hari-hari dilewati Rava sungguh sangat berarti, senyum jarang hadir dibibirnya kini seolah menjadi teman setianya. Semua kegiatan dan aktifitas entah itu di kantor ataupun dalam kehidupannya sehari-hari sepertinya penuh makna. Tak ingin melewatkan sedikitpun waktu untuk bersama wanita dicintainya. Memilikinya dalam hidup baginya adalah sebuah berkah dari sang pencipta untuknya. Setiap waktu rasanya selalu ingin membahagiakan serta mencurahkan kasih sayangnya padanya.

Sebagai laki-laki, dirinya begitu bangga memilikinya dalam hidupnya. Baginya dia seperti pengganti Jasmine. Walaupun harus diakui Jasmine sudah memiliki sebagian dari hatinya. Tapi dirinya tak ingin membuka kenangan lama tentang Jasmine. Dia memilih untuk tidak menceritakan semua tentang Jasmine padanya. Di lain hati Jasmine menjalani hubungannya dengan Rava penuh penyiksaan. Rasa pedih mendera dihati saat bersamanya. Segala caranya berpura-pura menjadi sosok Carmenita membuat dunianya seperti terbalik.

Hatinya masih sangat mencintai Rava. Tapi harus mencintainya dengan cara Carmen, bukan Jasmine. Sehingga satu sisi hatinya memberontak. Ingin rasanya berteriak mengakui pada dunia dan kekasihnya kalau dirinya adalah Jasmine.

Media mendukungnya

Sementara media sosial serta TV begitu gencar memberitakan kedekatan mereka. Tak satupun di dunia memprotes kedekatan mereka. Bagi khalayak kedua pasangan memang sudah ditakdirkan bersatu. Mereka adalah pasangan serasi pada headline media utama serta berita-berita papan atas selebritis.

Seolah tak ada waktu baginya untuk sedikitpun beristirahat karena tawaran-tawaran wawancara selalu berdatangan. Asanya ingin menolak semua, tapi tak sanggup, karena jika menolak sama saja merusak citra dirinya dihadapan publik. Media sudah begitu menyanjungnya karena berhasil meluluhkan hati laki-laki terkenal dingin dan kaya raya.

Sementara Rava dengan bangga selalu menghadirkan dirinya di setiap waktu dan kesempatan. Bahkan kini mereka tak bisa bersama berdua secara pribadi. Selalu ada saja pengganggu waktu mereka berdua. Dengan jiwa bisnisnya, hubungan dengan Carmen sangat membantu mengembangkan bisnis. Kekasihnya seperti simbol dan citra perusahannya. Kehadirannya membuat segalanya menjadi mudah. Tetapi bagi ibunya, Carmen adalah kado dari Tuhan untuk keluarganya.

Bagi ibunda Rava, Carmen adalah kado terindah dari Tuhan

Wanita muda ini diketahui ibunya Rava berasal dari keluarga konglomerat di New York. Sangat tepat untuk menjadi pendamping hidup anaknya. Ditambah lagi dia tahu anaknya sangat mencintai wanita ini. Dan menjadi satu-satunya wanita pembuka pintu hati anaknya. Karena  itulah dia sangat mendukung hubungan putranya dengan kekasihnya.

Carmen juga seperti merupakan obat untuk tidur malamnya, kehadirannya membuatnya agak tenang. Sejak 6 tahun lalu, tanpa diketahui anaknya, dirinya mengidap insomnia akut. Ketakutan hebat membuat tidur malamnya selalu dihantui mimpi buruk. Bayang-bayang Jasmine selalu menghantui, bahkan selalu datang dalam mimpi mimpinya.

Sudah beberapa dokter dikunjungi untuk mengobati insomnia, tapi selalu berakhir dengan pemberian obat tidur. Sehingga lama-kelamaan tak mempan lagi baginya. Dirinya sudah melakukan kejahatan besar dengan membunuh Jasmine. Tapi Jasmine tak akan menjadi duri dalam dagingnya lagi.

Kecelakaan Jasmine sudah direncanakan

Jasmine sudah mati. Tabrakan malam itu benar-benar sudah diperhitungkan. Kalaupun hidup, hatinya yakin Jasmine akan cacat sehingga tak kan sanggup mengganggu kehidupannya juga anaknya. Jasmine memiliki harga diri tinggi serta sangat percaya diri. Dalam keadaan cacat tak mungkin bisa menemui putranya lagi. Buktinya setelah tabrakan, apartemen Jasmine selama setahun kosong tak tersentuh tangan manusia.

Dia memutuskan untuk tidak menyentuh apapun di  apartemen Jasmine serta membiarkan barang-barang Jasmine seperti apa adanya. Dirinya tak ingin putranya tahu menghilangnya Jasmine adalah karena kesengajaan serta campur tangannya.

Apartemen Jasmine memang masih sama sampai saat ini. Rava memutuskan tidak mengosongkannya karena hatinya berkata suatu saat Jasmine akan kembali. Biarlah tetap begitu untuk mengenang bunga dalam hidupnya. Cinta sejatinya.

Carmen menjalankan peluang usaha butik

Jasmine menjalani kehidupan mewahnya dengan hampa. Wirausaha butiknya semakin maju, bahkan dia sudah membuka cabang di beberapa kota besar. Butiknya memang diperuntukkan untuk wanita-wanita papan atas dengan daya beli tinggi. Semua karena pemilik butik adalah Carmen, wanita terkenal sorotan media karena pertunangannya dengan Rava, konglomerat muda sukses.

Dia memang bersyukur memiliki orang tua kaya-raya dari Carmenita. Ayahnya adalah pemilik salah satu perusahan asuransi bonafide di New York. Usahanyapun tak lepas dari peran sang ayah. Ibunya asli Indonesia. Dia adalah wanita setia lagi anggun sehingga sangat dicintai ayahnya.

Perasaan bersalah karena berbohong pada kedua orang tua Carmen selalu saja membayang-bayangi kehidupannya. Kalau mau jujur dirinya ingin segera mengakhiri semua misi balas dendam ini. Tapi masih harus bersabar lagi, sedikit lagi, lalu semua akan tercapai. Setelah semua selesai dia akan pergi mengasingkan dirinya di suatu tempat. Tempat dimana bisa melewati hari-harinya dengan tenang tanpa beban. Kata pepatah, buah kesabaran rasanya manis. Tapi tidak berlaku baginya. Buah kesabaran adalah kepahitan karena pada akhir cerita cinta tetap saja akan ada orang terluka.

Rava berkunjung ke apartemen Jasmine

Hari ini Rava sengaja datang keapartemen Jasmine. Entah kenapa tiba-tiba hatinya rindu dengan tempat ini. Tempat dimana selalu menjadi pelariannya saat gundah. Semuanya masih sama. Pembantu rumah tangga untuk membersihkan apartemen ini seminggu 3 kali tak mengecewakan. Barang-barang Jasmine masih ditempatnya. Ponsel Jasmine pun masih tersimpan rapi. Foto-fotonya masih menghiasi dinding, bahkan di kamar tidur Jasmine lukisan besar potretnya masih terpajang diatas tempat tidur dengan senyum khasnya. Senyumnya selalu mampu membuat hatinya merasa tenang dan damai.

Harus diakui hatinya masih terikat dengan Jasmine. Cerita tentang Jasmine merupakan cerita cinta abadi, tak mungkin hilang dari hatinya. Karena itulah tak ingin dirinya menceritakan tentang Jasmine pada Carmen. Tak ingin kekasihnya tahu kalau dihatinya masih ada sosok Jasmine. Sosok tak terlupakan, selalu hadir dalam mimpinya. Kenangannya masih begitu lekat dalam hati sanubari. Seberapa besar dirinya berusaha mengganti sosok Jasmine dengan Carmen tetap saja tidak bisa.

Tapi dia mengakui kekasihnya sudah mencuri hati dan perhatiannya. Senyumnya begitu menarik dan mempesona. Entah mengapa jika melihatnya tersenyum matanya seolah melihat senyum Jasmine disana. Sikap dan tatapannya selalu saja mengingatkan pada Jasmine. Sungguh bingung bagaimana dirinya bisa merasakan hal sama.

Mereka seperti memiliki banyak kesamaan walaupun tetap berbeda. Jasmine hanya menguasai bahasa Inggris tapi kekasih barunya menguasai beberapa bahasa dengan baik termasuk Jepang juga Korea. Wanita ini sangat berbeda dengan Jasmine wajahnya, caranya, gerak-geriknya, tapi rasanya seperti mencintai wanita yang sama.

Ingin sekali menceritakan semua padanya, tapi takut akan melukainya. Apalagi akhir-akhir ini dia seperti lebih pendiam juga murung. Sejak pertunangan mereka, dia terlihat berbeda. Entahlah, mungkin hatinya merasa salah.

Kerinduan Rava pada Jasmine

Itulah sebabnya dirinya datang keapartemen ini. Disini bisa merasakan betapa dirinya tak malu-malu bercerita banyak hal. Bersikap seperti kanak-kanak, menyadarkan kepalanya di pangkuan Jasmine, mengeluh akan hari-harinya. Betapa rindu hatinya untuk bergayut manja pada Jasmine. Merasakan belaian lembut dirambutnya kadang hingga tertidur.

“Apa harus kulakukan Jasmine ? kalau saja kamu ada disampingku ? hal ini tak akan terjadi. Apa diriku laki-laki pengecut Jasmine ?. Bagaimana bisa ku katakan padanya kalau dia seperti dirimu ? memiliki tatapanmu ?. Apa harus kulakukan Jasmine ?. Jawab aku Jasmine ?”. Suaranya menggema dalam ruangan apartemen luas itu.

“Kamu menghilang, pergi kemana Jasmine ?. Apa kamu menghukumku ? Kalau iya sudahi semua ini lalu kembalilah. Diriku membutuhkanmu, merindukanmu, mencintaimu Jasmine,” suaranya menggema lagi. “Alaaaa, sialan kau Jasmine. Kamu kejammmm”. Rava mendekap wajahnya lalu  menghembuskan nafas kuat-kuat.

Hatinya seperti merasa beban sangat berat. Apalagi ditunggu ? Desakan ibu dan keluarganya untuk segera menikahi kekasih barunya datang bertubi-tubi. Ini adalah keputusan penting dalam hidupnya. Bagaimana kalau salah ? Bagaimana jika Jasmine kembali ?. Tapi sudah 6 tahun usaha dikerahkan mencari Jasmine tanpa henti. Namun sampai kini semuanya sia-sia. Apa dirinya harus menghentikan pencarian ?. Kepalanya mendongak menatap langit-langit apartemen lalu tertunduk. Matanya tiba-tiba melihat sebuah kilau kecil dilantai. Di raihnya benda kecil berkilau berupa sebuah anting berlian itu. Dahinya berkernyit anting siapa ini ? apa ini milik pembantu pembersih tempat ini ?. Tak berpikir lama, diletakkan anting itu diatas meja lalu beranjak keluar. Hatinya memutuskan akan melamarnya nanti malam.

Jasmine mendengar semuanya

Setelah kepergian Rava, perlahan-lahan pintu lemari besar dalam kamar Jasmine terbuka. Jasmine keluar dengan hati-hati. Menatap wajahnya dicermin lalu mengusap pipinya. Dia mendengar suara Rava. Itulah hati Rava. Ada rasa senang namun sedih dalam hati Jasmine. Disangkanya Rava sudah move on dan melupakannya. Ternyata tidak, dia masih sangat mencintainya. Tapi bagaimana mungkin mengakui kalau dirinya adalah Jasmine. Lihat saja wajahnya begitu berbeda dengan wajah Jasmine. Akankah Rava mempercayainya ?. Akankah dia memaafkan segala kebohongannya ? Apa harus dirinya lakukan ? kenapa jadi seperti ini ? Airmata Jasmine kembali membasahi pipi.

Walaupun memiliki wajah Carmen tapi Rava masih tetap mengingat bahkan sangat mencintainya. Apa salahnya memanfaatkan keadaan ini ? Tidak, ini bukan tentang perasaan cinta, perasaan cinta masih bisa ditahan walaupun sakit. Tapi rasa sakit karena kebencian mendalam menghasilkan dendam untuk dibalas. Walaupun akan kehilangan segalanya, itu tidak berarti. Sakit hatinya sudah terlalu hebat, bahkan cinta nya tak akan bisa mengobati.

Cinta telah membuat dia kehilangan diri yang sesungguhnya. Bahkan wajahnyapun bukan wajahnya lagi. Hidup bukan hidupnya lagi. Semua pada dirinya sudah hilang tak tersisa. Kini hanya tersisa kebencian akibat cinta. Merasukinya hebat, sehingga memikirkannya seperti akan mati.

Jasmine menatap wajahnya dicermin dengan muak. Baru disadari kalau anting di telinganya hilang satu. Syukurlah ditemukannya anting itu diatas meja lalu langsung dipakainya kembali. Bunyi pesan masuk diponselnya membuatnya tersentak sadar lalu keluar dari apartemennya. Syukurlah tidak ada orang mengganti kata sandi apartemennya. Ini pasti perintah Rava. Lelaki itu benar-benar berharap dirinya kembali. Dan memang sudah kembali. Tapi bukan sebagai Jasmine, tapi sebagai Carmen. Pesan masuk di smartphone berasal dari Rava mengajaknya bertemu di cafe. Cafe kesukaannya bersama Rava dulu, sekaligus kesukaan Carmen.

Rava melamar Carmen

Seandainya malam itu malam biasa seperti sering dilewati bersama Rava, mungkin momen saat itu menjadi saat paling membahagiakan dalam hidupnya. Momen yang dinanti Jasmine disepanjang hidupnya, yaitu saat Rava melamarnya. Bukan keindahan cincin berlian berkilau indah atau suasana romantis café malam lamaran. Tapi bagi Jasmine semua momen saat itu adalah salah satu saat yang ditunggu dalam misi balas dendamnya. Dia sadar ini sangat menyakitkan dan jika Rava tahu mungkin dia juga akan sangat terluka.

Didalam hatinya dendam serta kebencian seperti api menggelora membakar habis semua cinta. Tak ada lagi kepedulian tentang cinta pada Rava walau dirinya tahu Rava masih sangat cinta. Kepedihan tentang penderitaan karena cinta terlalu hebat hingga hatinya tertutup kebencian. Dia tidak mampu melihat cinta dengan mata hatinya lagi. Yang dilihat saat ini hanya kebencian.

Ibu Rava memang telah membunuhnya. Membunuh hati Jasmine. Membunuh cinta dalam hatinya untuk memaafkan semua perbuatan wanita itu. Saat ini dirinya tak mampu memaafkan wanita itu. Wanita itu sudah merebut satu-satunya hak untuk hidup sebagai Jasmine. Dirinya merasa wanita tua itu akan memotong-motongnya bila tahu ia masih hidup. Tapi apa bisa dilakukan dengan hidupnya ? Sejak kecil penderitaan tak pernah beranjak darinya. Jika akhirnya harus melakukan hal ini apakah itu salah ?.

Malam lamaran itu bagi Jasmine menjadi gerbang menuju pembalasan dendamnya. Sekaligus jalan neraka harus ditapakinya. Tapi bagi Rava itu adalah momen manis untuk dirasakan bersama Jasmine. Tapi tak mengapa, dia yakin kehadiran Carmenita dalam hidupnya merupakan kebahagiaannya tersendiri. Apalagi kabar ini sudah disampaikan pada ibu serta keluarganya. Mereka terdengar sangat gembira menyambut bahagia keputusannya.

Menuju pernikahan

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari persiapan pernikahan. Itu dirancang sedemikian rupa, karena mempelainya adalah Rava, sosok sangat dikenal publik. Tentu saja acara pernikahan dirancang sesuai dengan tradisi Clements, megah, mewah. Mungkin akan menjadi pernikahan terbesar saat itu. Pihak keluarga Carmenita pun menyambut bahagia. Semuanya sudah dipersiapkan sangat detail serta teliti.

Kemeriahan pesta sudah terpancar dari kediaman Rava. Undangan tersebarpun tak tanggung-tanggung. Semua kerabat, kenalan, teman-teman kalangan jet-set diundang. Tak ada satupun terlewati. Pernikahan megah akan dilaksanakan pada sebuah hotel mewah diluar kota. Semua akomodasi, transportasi, biaya menginap dibeberapa hotel mewah dibiayai oleh keluarga Rava.

Begitu juga keluarga Carmenita, mereka disediakan tempat khusus di hotel mewah itu, sebuah penthouse mewah. Sesuai pesan Carmenita, dari pihak keluarganya orang tua, adik ayahnya bersama istri dan serta dua orang anaknya akan hadir. Carmen adalah anak tunggal, karena itulah orang tuanya sangat menyayanginya.

Semua kegembiraan terpancar tulus dari keluarga masing-masing pihak mempelai. Mungkin cuma Jasmine yang tidak gembira. Bahkan susah payah ia tersenyum tertawa di depan mereka. Bahkan kedua orang tuanya tak menyadari kalau Carmen palsu mereka tidak gembira dengan pernikahan itu. Satu-satunya yang mengerti dan memahami semua kepedihan dihatinya cuma Keanu.

Keanu hadir sebelum pernikahan

Keanu menyempatkan datang dua hari sebelum pesta pernikahan. Saat ini dalam kamar Keanu, Jasmine terduduk lesu. Wajahnya menyiratkan kelelahan amat sangat. Keanu menatap Jasmine dengan tatapan iba. Keanu begitu memahami hati wanita itu. Dia menyempatkan datang meski pernikahan Jasmine atau Carmen ini membuat hatinya terluka  karena sangat mencintai wanita itu.

Beberapa bulan terakhir dicobanya melupakannya namun gagal. Hingga akhirnya menyerah untuk tetap mencintainya walaupun tak diberi kesempatan mencintai dirinya. Keanu sadar tak mampu melupakan wanita itu. Jika saat ini  Keanu hadir disini bukan untuk merayakan pernikahan mereka melainkan hadir untuk memberi kekuatan pada Jasmine. Jasmine membutuhkannya lebih dari yang dipikirkan. Itu benar, Jasmine memang sangat membutuhkannya sebagai teman tempat bersandar. Yah walaupun cuma sebatas teman, itu sudah sangat menghibur hatinya karena setidaknya masih memiliki tempat dihati Jasmine.

Lihatlah mempelai wanita ini. Wajah Jasmine begitu murung padahal seharusnya menjadi hari-hari membahagiakan. Tapi kenapa mempelai wanita ini wajahnya begitu sedih. Ingin rasanya Keanu memeluk erat tubuh Jasmine lalu membenamkan kepala Jasmine dalam dadanya. Tapi dia hanya mampu menatap Jasmine. Mencoba merasakan perasaan Jasmine. Membiarkan wanita itu menikmati keheningan yang mungkin akhir-akhir ini tak dirasakannya.

Kembalilah Carmen

“Belum terlambat untuk kembali. Ayo kembali ke New York. Atau pergi kemanapun kamu inginkan. Keluargamu pasti akan mengerti, Rava juga, seiring berjalannya waktu dia akan bisa melupakanmu. Ini bukan hidupmu, ini hidup Jasmine.”

“Aku melakukan ini karena aku Jasmine bukan Carmen.”

“Katakan itu padanya dan keluarganya. Dendammu pasti akan terbalaskan jika kamu menikah dengannya. Tapi sesudah itu apa akan kamu rasakan ? jika semua dendam terbalas sesuai keinginan, lalu apa ?”.

“Aku tidak peduli dengan apa akan terjadi selanjutnya.”

“Lalu kenapa kamu disini ?”.

“Kenapa kamu datang Keanu ? seharusnya kamu tidak datang”.

“Karena kamu membutuhkanku”.

“Karena kamu masih mencintaiku Keanu,” sela Jasmine cepat. Keanu menatap Jasmine dengan tatapan teduh lalu menganguk tenang. “Yah aku masih mencintaimu apapun kamu, siapapun kamu sekarang, Carmen ataukah Jasmine aku tetap mencintaimu.”

“Karena itulah tetaplah disisiku Keanu, bantu melewati semua ini.” ujar Jasmine beranjak lalu memeluk Keanu erat. Dipejamkannya mata sesaat, mencoba merasakan hangat pelukan Keanu lalu akhirnya menghembuskan nafas berat.

“Aku mohon, ayo kita pergi ke suatu tempat dimana hanya kita berdua disana. Ini belum terlambat,” bisik Keanu. Tapi Jasmine mengeleng, menepuk bahu Keanu lembut lalu beranjak meninggalkan Keanu tertekun ditempatnya.

Lalu pernikahan itupun berlangsung

Janji pernikahan sudah terucap. banyak tamu menitikkan airmata. Keharuan meliputi suasana saat itu. Menemani dalam suka dan duka sebuah janji terucap beralas kepalsuan. Bahkan Ibu Rava pun meneteskan air mata penuh rasa haru. Tapi Jasmine tahu airmata itu adalah air mata kelegaan. Karena seorang Jasmine tak kan lagi mengganggu kehidupan putranya.

Ha ha ha … ingin rasanya Jasmine tertawa kuat-kuat. Bisa dibayangkan raut wajah ibunya Rava bila tahu ternyata dirinya adalah Jasmine, bukan Carmen. Ya, Jasmine yang pernah dibunuhnya. Jasmine yang disangkanya sudah mati. Jasmine yang jadi duri dalam dagingnya. Rasanya tak sabar menunggu hal itu terjadi. Tapi otaknya berencana membuat hidup mertua tersayangnya tersiksa secara perlahan. Jadi harus sabar, sesabar-sabarnya.

Hari itu Rava terlihat begitu tampan dengan stelan jas putih sama dengan Jasmine dalam gaun putih berenda. Tak ada gaun pengantin mewah, gaun itu adalah gaun dirancangnya sendiri. Gaun putih mirip kebaya modern dengan bentuk tidak terlalu rumit tapi terlihat begitu anggun serta bersahaja. Mereka terlihat serasi, begitu cocok. Siapa menyangka diantara mereka terdapat kisah pilu. Kisah tak pernah terbayangkan oleh semua orang di pernikahan megah itu. Hanya Keanu mengerti tentang cerita cinta pilu itu. Kalau saja diijinkan untuk menceritakan semua hal tentang Jasmine pada Rava. Tapi dirinya sudah berjanji. Kalau diingkari maka itu akan menghancurkan hati Jasmine. Tidak, Jasmine sudah melewati banyak hal menyakitkan. Tak akan dibiarkan siapapun menyakiti Jasmine lagi.

Lalu semua dijalankan sesuai rencana

Sebulan setelah pernikahan, sesuai tradisi keluarga, Jasmine mendapatkan haknya sebagai istri Rava. Saham sebesar 25 persen pada perusahan milik keluarga mereka. Sebenarnya sesuai tradisi Jasmine hanya akan mendapatkan 15 persen. Tapi Rava memberikan 5 persen miliknya lalu ibunya memberikan juga 5 persen saham miliknya. Itu merupakan berkah bagi Jasmine walau hatinya tidak senang.

Kehidupan rumah tangga mereka pun berjalan seperti pasangan lainnya. Mereka berbulan madu di Venice selama seminggu lalu kembali ke indonesia. Tugas Jasmine bertambah karena diangkat menjadi kepala yayasan sebuah sekolah elite di kota itu. Sekolah swasta milik yayasan penerima sponsori dari perusahan Clements. Dirinya juga dihadiahkan sebuah galeri lukisan dengan banyak lukisan-lukisan berharga milik keluarga Clements semua diatas namakan namanya. Sebelumnya semua milik Ibu mertuanya tapi wanita itu menyerahkan semua padanya.

Hari demi hari berjalan tanpa terasa bulanpun berganti. Dalam rentang waktu hanya setahun Jasmine sudah menjadi nyonya Rava disadari oleh keluarganya. Semakin hari semakin besar kekuasaannya bahkan turut hadir dalam pengambilan keputusan perusahan. Perusahan tumbuh semakin maju. Namun tanpa disadari suaminya, Jasmine kini menguasai 40 persen saham perusahan. Saham kedua kakak perempuannya sudah dijual kepadanya. Entah karena alasan apa mereka menjual saham mereka untuk Jasmine. Rava sadar istrinya begitu peduli dengan keluarganya. Bahkan ibu serta kedua kakak-kakaknya sangat menyayangi istrinya. Istrinya memang sangat dekat dengan mereka. Kelembutan serta perhatian membuat keluarganya juga jatuh cinta padanya.

Sikap Carmen mulai berubah

Tapi setelah itu perlahan–lahan perubahan mulai terlihat pada dirinya. Dia mulai tak selembut dulu. mulai tak seperhatian dulu. Kadang menemui mertuanya hanya basa-basi. Biasanya dia sering menemani mertuanya memeriksakan kesehatan, menghadiri arisan, atau sekedar shoping di Mall milik mereka. Kini wanita itu mulai bersikap tak peduli dan itu memang disengaja. Mertuanya sekarang kebanyakan tinggal di rumah karena semua kegiatan sudah diserahkan padanya.

Perubahan sikap terlihat jelas dan Ravapun merasakannya. Sungguh perubahan ini tidak disangkanya. Dia sekarang begitu sibuk dengan semua kegiatan hingga tak ada waktu untuk suaminya walaupun sekedar makan siang. Jasmine pun menyadari karena ini berkaitan dengan pembalasan dendamnya. Sudah saatnya untuk membuka mata mereka kalau dirinya bukan Carmen.

Tak ada belas kasih

“Carmen bisakah ibu meminta uang belanja padamu ?, kartu kredit ibu limitnya sudah habis sementara kamu belum mentranfer uang bulan ini. Lagipula sudah lama ibu tidak belanja. Ada beberapa gaun ibu lihat kemarin di butik Sonya. Ibu ingin membelinya,” ucap mertuanya saat mereka sedang menikmati sarapan pagi. Jasmine mengerling tak senang.

“Aku akan mentrasfernya nanti. Mulai sekarang ibu harus membiasakan diri hidup hemat. Tidak mudah mencari uang ibu” ujar Jasmine datar. Mertuanya tertunduk kecewa. Dia mengamati kuku tangannya tak terawat. Bahkan untuk melakukan perawatan dirinya harus meminta ijin menantunya. Mantunya benar-benar menguasai rumah ini. Bahkan belanja bulananpun sudah diatur kepada kepala pelayan. Semua pelayan lebih takut pada menantunya dari pada dirinya. Apakah salah memilih Carmen untuk menikah dengan anaknya ? Kenapa menantunya begitu berubah ?

“Kuharap Ibu tidak meminta pada Rava. Kalau sampai itu terjadi, aku tak akan bertanggung jawab dengan keuangan ibu lagi.” Ucap Carmen dan beranjak pergi.

“Tapi nak,”  ibu Rava ingin memprotes namun menantunya sudah pergi meninggalkannya kebingungan.

Tak ada rasa kasihan dalam hati Jasmine untuk wanita itu. Baginya semua hanya awal dari penderitaan wanita tua itu. Wanita itu harus membayar semua perlakukannya dalam hidup. Dirinya tak kan pernah berhenti sampai semua terbalaskan. Kisah hidupnya, ingatan tentang ibunya, pernikahan paksaan, dia tak memiliki kekuasaan untuk menolak semua itu. Saat ini dirinya memiliki segalanya, kekuasaan ada dalam genggamannya. Bahkan hati suaminya ada dalam genggamannya. Suaminya tanpa sadar terus memberi akses baginya untuk semakin menguasai keluarga ini. Dan memang diinginkannya. Hati kecilnya sebenarnya membenci tindakan ini. Tapi dia sudah terlanjur.

Kepalsuan harus terus ditutupi

Carmen tidak kaget dengan uang ataupun kekayaan milik keluarga Rava. Selama 6 tahun menyandang identitas palsu, dirinya merasakan kenyamanan hidup mewah lewat orang tua Carmen. Bahkan usaha hasil keringatnya sendiri cukup lumayan untuk hidup bergaya sosialita. Hasil rancangannya memiliki pelanggan tetap, kebanyakan berasal dari orang-orang kaya. Karena itulah dirinya bisa membuka butik di Indonesia dengan koneksi dari kenalan juga teman-teman kalangan atas Keanu.

Lantas apalagi yang dicari jika semuanya sudah terpenuhi ? Mungkin hidupnya akan dijalani dengan normal jika ingatannya tak kembali. Mungkin juga tak kan dendam. Tapi sudahlah, kebohongan terlanjur digelar. Seperti sebuah pesta, suatu saat semuanya akan terkuak. Dan tak lama lagi Jasmine akan membuatnya terkuak.

Rava merasa hampa. Carmen ada didepannya tapi sibuk dengan tablet ditangannya. Istrinya seolah tidak menganggapnya. Padahal hatinya ingin menghabiskan waktu seharian bersama istrinya. Mengajak jalan-jalan diawali sarapan pagi di restoran langganan mereka. Lalu dilanjutkan dengan pergi ketempat-tempat favorit mereka, atau sekedar menikmati senja di hotel milik mereka di luar kota. Tapi rencana tinggal rencana, Rava benci diabaikan.

Mulai menentang suaminya

“Kamu berubah Carmen,” cetus Rava tiba-tiba. Wajahnya menyiratkan kejengkelan sama sekali tak bisa disembunyikan. Cetusan Rava membuat Jasmine mendongak dari tabletnya.

“Apa maksudmu Rava ?”

“Kita jarang menikmati waktu berdua belakangan ini, apa kamu tidak merasakan sesuatu Carmen ?”

“Kita  pasangan menikah Rava.”

“Ya tapi kamu tidak menjalani kewajibanmu sebagai seorang istri pada suamin, tidak pantaskah protes ?” ada tekanan pada suara Rava. Jasmine meletakkan tabletnya diatas meja lalu menatap Rava tajam.

“Apa kita hanya akan mempertengkarkan hal sepele ini Rava ?”

“Ini bukan hal sepele, ini tentang kita, rumah tangga kita.”

“Ini juga bukan keinginanku. Setelah menikah denganmu, keluargamu memberikan banyak tanggung jawab sehingga hampir-hampir tidak bisa bernafas. Kamu pikir keadaan ini kusuka ?. Jauh sebelum menikahpun kamu sudah tahu keadaanku. Bukankan kamu turut andil menjadi penyebabku sibuk hingga tidak punya waktu untukmu ?”, sela Carmen keras.

Rava tersandar ditempat duduknya. Kata-kata Carmen menohoknya. Dia tersadar akan sesuatu hingga akhirnya mengakui kata-kata Jasmine.

“Jika kamu protes dengan kesibukanku, bisa apa ? Apakah harus melepaskan semua beban dari keluargamu padaku ?. Sekalian saja melepaskan gelar sebagai istri.” ketus suara Jasmine membuat Rava kaget.

“Jangan sekali-kali mengucapkan kata itu Carmen.”

“Kenapa ? apa karena aku memiliki 40 persen dari sebagian saham perusahan hingga kamu takut menceraikanku. Dan tentu saja suamiku sayang, semua tidak akan terjadi selama kamu bersikap baik padaku.”

Bahkan pergi meninggalkan suaminya

Dingin suara Carmen. Rava termangu dalam kejutnya. Inikah wanita yang saat ini di harapkan untuk mencintainya ?. Diharapkan untuk bersama selamanya sesuai janji pernikahan mereka. Inikah karakter asli wanita yang dinikahinya ? Kenapa begitu berbeda dengan Carmen saat dikenal dulu ? Tatapan itupun tak seindah juga seteduh dulu. Dalam tatapan Carmen ditemukan kemarahan, kebencian, dan pemberontakan. Kalimat terakhir Carmen membuat hatinya was-was. Kenapa sama sekali tak disadarinya kalau kekuasaan Carmen semakin besar. 40 persen saham. Jika di jual Carmen kepada investor lain, kedudukannya sebagai presiden direktur akan terancam. Lalu perusahan keluarganya akan ada dalam genggaman orang lain. Ini gila.

“Sepertinya pertemuan ini cuma sia-sia. Ada klien harus ditemui hari ini” Carmen beranjak dengan cuek tanpa rasa berdosa meninggalkan Rava termangu. Masih tak percaya ditinggalkan begitu saja. Kisah manis tentang cinta pada Carmen berakhir disini. Diraihnya ponselnya dengan rasa marah melesak didada lalu menekan beberapa angka.

Rava tersadar, Carmen sudah menjadi rival berbahaya

“Yah bos…”

“Apapun dikerjakan istriku semuanya menjadi tanggung jawabmu. Kamu harus melaporkan kegiatannya selama 24 jam, bahkan kalau perlu sampai tertidur.”

“Siap bos.”

“Dan satu lagi, cari tahu semua aktivitas dan kegiatannya selama menetap di New York.”

“Baik bos !”

“Dananya akan kutranfer setelah kita selesai bicara.”

Ponsel ditutup. Rava menarik nafas berat. Diyakini harus melakukan hal ini karena dirasanya Carmen telah menjadi ancaman terbesar dalam hidupnya. Istrinya dalam sekejab telah menjadi musuh terselubung. Ratu cantik sudah berubah menjadi iblis. Carmen telah mengusik harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Bahkan telah mengusik pikirannya tentang masalah perusahan. Jika bicara tentang perusahan dirinya tak akan tinggal diam. Ini menyangkut nasib banyak orang. Tak seorangpun boleh mengusik perusahan yang beberapa tahun terakhir ini begitu berkembang. Sialan kamu Carmen ! Kutuk Rava dalam hati.

Kekawatiran memenuhi pikirannya atas perubahan sikap Carmen. Dalam keadaan seperti ini penyesalan tak berguna lagi. Hanya sebuah nama dapat dibisikan dalam benaknya, Jasmine. Lalu kerinduannya pun menyergap. Dikepalkan tangannya lalu beranjak pergi dari situ. Tempat favorit tiba-tiba menjadi sangat dibencinya. Seketika cinta hilang tertiup angin. Saat menyangkut harta dan kuasa, cinta akan berpaling entah kemana.

Jasmine butuh pengawal

Jasmine sadar semua miliknya sekarang bukanlah berkah, tapi bisa menjadi ancaman sehingga membuatnya harus waspada dalam setiap langkah. Sebagai pemegang 40 persen saham perusahan dirinya harus benar-benar terjaga, karena itulah dia selalu ditemani sang bodyguard, Fabian.

Laki-laki tinggi kekar itu adalah salah satu orang kepercayaan Keanu. Fabian sengaja ditugaskan Keanu khusus untuk menjaga Carmen. Sebenarnya tidak terlintas untuk menugaskan seorang penjaga bagi Carmen karena dia tahu Rava akan selalu menjadi pelindung Carmen. Tapi pikirannya berubah saat dia tahu bahwa Jasmine berusaha dibunuh ibunya Rava. Apalagi saat ini Carmen sedang menjalankan misi balas dendam. Walaupun tidak setuju dengan apa dilakukannya, tapi Keanu tidak ingin Carmen mengalami kejadian sama seperti Jasmine.

Wanita penyandang dua identitas ini tetaplah cintanya. Dialah pengubah Jasmine menjadi sosok sempurna Carmen. Dia tak ingin sesuatu menimpa wanita itu apalagi sampai membahayakan jiwa wanitanya. Tidak ada seseorangpun dipercaya Carmen selain dirinya. Karena itulah Keanu menugaskan Fabian untuk menjaga Carmen.

Diantara orang-orang kepercayaan Keanu, Fabian adalah salah satu orang terdekat. Keanu pernah menyelamatkan nyawanya, karena itulah Fabian berhutang nyawa pada Keanu lalu memutuskan untuk mengabdi pada Keanu. Fabian adalah mantan marinir yang disersi.

Fabian menjalankan tugasnya dengan baik. Dia menjadi sopir pribadi sekaligus bodyguard untuk Carmen. Seperti berada di samping Keanu, Carmen merasa tenang jika ada Fabian disampingnya. Fabian tahu dengan jelas tugasnya sebagai bodyguard. Dirinya tahu Fabian banyak mengalami hal tidak menyenangkan, karena itulah Carmen mengerti kenapa Fabian tidak banyak bicara.

Mimpi Ibu Rava

Ibu Rava terbangun, keringat dingin mengucur deras dari wajahnya. Dinyalakannya lampu di samping tempat tidur. Meraih botol obat dari dalam lacinya lalu mengambil beberapa tablet kemudian langsung ditelan dengan segelas air dimeja nakas. Tubuhnya tersandar lemas ditempat tidurnya. Mimpi itu datang lagi. Padahal mimpi itu sudah berhenti beberapa waktu lalu, tapi kenapa datang lagi ? Wajah Jasmine datang menertawakannya. Seperti kenyataan, Jasmine datang sambil menunjukan telunjuknya, “tante sekarang kamu sudah tak seperti dulu. Sekarang kamu miskin tak punya apa-apa. Kamu sudah menjadi sama seperti ibuku. Begitu menyedihkan”.

Itu kata-kata Jasmine padanya. “tunggu saja tante, aku akan datang membalas semua perbuatanmu dulu padaku. Apa tante tak pernah merasa kalau perlahan hidup tante akan berakhir menyedihkan ?”.  Aaaahhh…. Ibu Rava menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak, tidak wanita sialan itu sudah mati. Tak mungkin kembali. Mungkin tubuhnya sudah menjadi rangka.

Ha ha ha ha, tanpa sadar wanita itu tertawa keras lalu kepalanya kembali menggeleng-geleng keras. Mencoba menepis mimpi buruk dalam tidurnya tadi. Bukankah ada Carmen sekarang ? lagipula putranya sangat mencintai Carmen. Dirinya sangat yakin tak ada lagi perasaan dihati Rava untuk Jasmine. Yah bukankah sudah ada Carmen. Diraihnya ponsel lalu memeriksa rekening banknya. Saldo masih seperti kemarin, bukankah Carmen berjanji akan menstranfernya hari ini ?. Apa ia lupa lagi ? ah mantunya akhir-akhir ini sering lupa. Ibu Carmen mencoba menghibur dirinya. 3 tablet obat tidur yang diminumnya perlahan membawanya kembali ke alam tidur.

Kepergok

“Apa yang ibu lakukan dikamarku ?” sebuah suara mengagetkan ibu Rava saat sedang memeriksa laci mencari kunci brankas. Wanita itu berbalik kaget. “Eh ibu mencari kunci brankas, Carmen”.

“Untuk apa ? apa ibu mencoba mencuri dariku ?”.

“Tidak Carmen, bukan itu maksud ibu”.

“Kunci sudah ibu serahkan padaku kenapa ibu tidak memintanya ? malah ingin mengambilnya diam-diam”.

“Ibu minta maaf Carmen ibu tidak bermaksud mengambilnya diam-diam. Ibu benar-benar membutuhkan uang, obat-obat ibu sudah habis ibu harus kedokter dan”.

“Kalau begitu kenapa tidak minta pada Karina atau Larasati.”

“Mereka juga sedang kekurangan uang, bisnis mereka sedang tidak baik, ibu tidak ingin menyusahkan mereka. ”

“Oh ibu, hidup ini tidak mudah. Butuh kerja keras untuk bisa memiliki uang. Oh yah ibu masih memiliki banyak perhiasan dan barang-barang mewah. Bagaimana kalau itu dijual saja ?,” tawar Carmen sinis. Mertuanya terpaku menatap Carmen tidak percaya. Dia benar-benar tidak percaya jika menantunya menawarkan hal begitu padanya.

“Kenapa harus menjual barang Carmen bukankah kita masih memiliki uang ?”.

“Ibu bisnis akhir-akhir ini sedang tidak baik, kita tidak boleh boros. Kita juga harus membayar pajak pada pemerintah. Semua tidak sedikit. Bagaimana jika vila diluar kota dengan restoran ibu serahkan padaku.”

“Maksud kamu apa Carmen ?”.

“Aku akan mengelola vila dan restoran menjadi lebih maju. Keuntungannya kita bagi dua. Jika ibu membutuhkan uang sekarang akan kuberikan, tapi ibu harus menandatangani surat ini. Bagaimana ?”.

“Ibu harus membicarakannya dulu dengan Rava juga kakak-kakaknya”.

“Tapi ibu pemiliknya kan ? Apa ibu tak percaya padaku ?” Carmen mendekati ibu Rava lalu memeluknya.

“Tidak Carmen ibu percaya padamu”.

Lalu bisnis restoran serta villa pun berpindah tangan

“Kalau begitu serahkan padaku maka akan kuberikan kunci brankas ini untuk ibu. Ibu bisa mengambil berapapun kalau ibu mau dari brankas bagaimana ?” Carmen mengeluarkan kunci brankas dan meletakkannya dimeja. Sejenak ibu Rava berpikir ragu menatap Carmen. Wajah Carmen terlihat begitu ramah lagi tulus. Lihatlah wajahnya begitu cantik juga lembut. Tak tega rasanya untuk menolak permintaannya. Walaupun hatinya ragu dengan perubahan Carmen, tapi saat ini dirasakan sikap Carmen lembut. Hati ibu Rava tersentuh.

“Baiklah mana surat-surat itu ibu akan menanda tanganinya”.

Carmen mengeluarkan sebuah amplop besar dari dalam laci lalu menyerahkannya pada ibunya Rava. Tanpa membaca langsung ditandatanganinya.

“Ibu tidak membacanya dulu ?”.

“Tidak perlu kami percaya padamu Carmen. Lagipula kamu tidak mungkin mencelakakanku. Iyakan Carmen ?”.

“Tentu saja ibuku sayang, terimakasih. Pasti akan ku kelola semua pemberian ibu dengan baik. Aku tak kan mengecewakan ibu”. ucap Carmen meraih surat-surat setelah ditandatangani ibunya Rava, lalu kembali memasukkannya dalam laci. Wanita tua itu segera meraih kunci brankas lalu membukanya. Didalamnya ada beberapa tumpukan uang rupiah serta dolar. Diraihnya beberapa ikatan, menaruhnya dalam pelukan.

Senang sekali hari ini dirinya bisa melakukan perawatan pada tubuhnya. Membeli baju-baju baru. Makan direstoran kesayangan serta melakukan semua hal menyenangkan yang hampir beberapa minggu ini tidak bisa dilakukannya. Hanya itulah dipikiran wanita tua itu. Semua kelakuannya membuat Jasmine tertawa dalam hati. Entah bodoh atau pura-pura bodoh, sepertinya ibu Rava sama sekali tidak memperhitungkan apa akan terjadi nanti. Wanita itu hanya memikirkan kesenangan sesaat, hingga semakin membuat Jasmine tertawa lebar. Segera semuanya akan terwujud, mungkin ini pembalasan dendam paling sempurna yang pernah ada.

Mereka pisah ranjang, Jasmine selalu dikuntit kemanapun

Sejak bertengkar, Rava memutuskan untuk pisah ranjang, tidur dikamar tamu. Jasmine menyadari hal itu, jauh dilubuk hatinya terselip sesal telah melibatkan Rava dalam perang pribadinya melawan ibu Rava. Betapa ingin dirinya menunjukkan semua kenyataan.Namun semua kebohongannya, permainannya semakin lama semakin dinikmati. Satu sisi hatinya memberontak, sisi lainnya menikmati perbuatannya. Carmen hanya bisa mengutuki dirinya yang kini tidak lebih baik dari ibunya Rava.

Jika melihat wujudnya pada cermin dengan seluruh keanggunannya, matanya seperti melihat wujud ibunya Rava disitu. Perasaan itu semakin menyiksanya, namun diyakini dirinya tak boleh terlihat lemah. Jika lemah maka terpuruk oleh permainan ciptaannya sendiri. Itu tak boleh terjadi.

Fabian tahu tapi tak bisa bertindak

Sementara Rava hanya bisa menikmati perasaan marahnya sendirian. Orang suruhannya masih mengawasi serta selalu melaporkan semua aktifitas Jasmine setiap hari. Fabian sebenarnya ingin bertindak karena tak nyaman dengan laki-laki penguntit kemanapun mereka pergi. Tetapi Jasmine menahannya sehingga Fabianpun mengalah. Tugasnya hanyalah melindungi Carmen. Tak boleh mencampuri urusan pribadi nyonyanya walaupun dirinya tahu wanita itu menyimpan banyak rahasia.

Wajah cantiknya menyiratkan begitu banyak kepedihan. Sorot matanya kadang bersinar, kadang hampa, kadang penuh kebencian. Fabian tidak tahu rahasia terpendam dihati Carmen. Sering dilihatnya mata wanita cantik itu berkaca-kaca. Namun wanita itu selalu berusaha terlihat kuat di depannya.

Kadang hatinya iba pada wanita itu. Dengan seluruh kecantikan serta kekayaannya, wanita itu terlihat tidak bahagia. Berbeda jika bersama tuannya Keanu, Carmen sering terlihat tertawa dan tersenyum. Bahkan kadang menyapanya, mengajaknya bicara bahkan bercanda. Tapi sekarang ? Semua tidak di temukannya lagi pada Carmen.

Dia bahkan heran Carmen bisa berubah jauh dari sosok dikenalnya dulu. Apakah jika sudah memiliki segalanya seseorang akan berubah ? Tapi Carmen sudah memiliki segalanya sejak dulu. Jadi mustahil wanita itu berubah karena kekayaan. Walaupun Fabian sering merasa heran, toh dirinya hanya bisa diam menikmati perannya sebagai bodyguard Carmen.

Dimana anting-anting itu ?

“Apa tidak ada lagi harus dikerjakan tuan ?” tanya wanita tua petugas untuk membersihkan apartemen Jasmine.

“Tidak, tak ada. Oh ya Bi, apakah antingmu sudah ditemukan ? kemarin saya letakkan disini.” Rava menunjuk meja didepannya. Wanita tua itu menggeleng sambil meraba telinganya yang memakai giwang emas sederhana.

“Anting apa tuan, anting saya ya cuma ini. gak ada lagi, apalagi jatuh”.

Rava mengeryitkan dahinya heran. Matanya beralih pada telinga wanita didepannya.  Memang terpasang giwang emas sederhana disitu, tapi tidak sama dengan anting berlian dilantai waktu itu.

“Kalau gak ada lagi saya permisi tuan”. Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Rava termangu dengan hati penuh tanya. Dimasukinya kamar Jasmine lalu membuka meja rias. Terdapat kotak perhiasan disana, tapi anting itu tak ada. Hmm… aneh, ingatannya masih jelas akan anting berlian itu. Bahkan modelnyapun masih dihafal. Apa ada orang masuk kesini tanpa diketahuinya. Siapa ? Jasmine ? atau ? Rava menggeleng keras lalu beranjak pergi dengan hati penasaran.

Petunjuk itupun terungkap

Jasmine ingin menyapa Rava saat baru saja tiba dirumah ketika laki-laki itu melengos seolah tidak melihat kehadirannya disitu. Jasmine menarik nafas panjang. Perlahan kakinya beranjak mengikuti langkah Rava ke kamar tamu. Kamar dibiarkan terbuka itu langsung dimasuki Jasmine. Rava sedang membuka dasinya, menoleh tanpa ekspresi.

“Apa yang kamu lakukan disini Carmen ?”.

“Apakah kamu masih marah padaku karena kejadian itu Rava ?”.

Rava tersenyum sinis mendekati Carmen. Ingin direngkuhnya wanita dihadapannya dengan kerinduan. Tapi saat benaknya kembali mengingat kejadian dicafe itu, dicobanya menahan diri.

“Seharusnya kamu tanyakan itu pada dirimu Carmen !”. Rava melewati Carmen menuju kamar mandi tapi matanya tiba-tiba melihat sesuatu ditelinga wanita didepannya. Hatinya berdesir. Hei bukankah itu anting yang ditemukannya di lantai apartemen Jasmine ?.

Jantung Rava berdetak cepat. Aura marah mulai menghiasi hatinya. Apakah Carmen sudah tahu tentang Jasmine ? apa sudah datang ke apartemen Jasmine tanpa sepengetahuannya ? Jangan-jangan selama ini gerak-geriknya diawasi oleh Carmen. Gila ! Rava tiba-tiba merasa ketakutan. Takut pada wajah cantik nan lembut yang menatapnya dengan tatapan cinta.

Tiba-tiba hatinya merasa cintanya telah salah berlabuh. Tiba-tiba dirinya merasa Carmen adalah ancaman untuknya. Anting itu, anting itu pasti anting di lantai apartemen waktu itu.

“Maafkan diriku Rava, waktu itu,”

“Pergilah tak ada waktu untuk omong kosong ini. Berhentilah berpura-pura Carmen. Aku sangat lelah berbicara padamu !”. Ucap Rava lalu masuk ke dalam kamar mandi. meninggalkan Jasmine terpaku dengan sudut mata basah. Wanita itu melangkah pelan dengan hati tersayat. Rava mengusirnya tanpa memberikan kesempatan untuk bicara.

Akankah semua kebohongan berakhir ?

Ingin rasanya saat itu memeluk tubuh Rava lalu mengatakan dirinya sangat merindukannya. Sikap laki-laki yang begitu dicintainya berubah, tapi dirinya tak bisa menyalahkan Rava. Ini adalah konsekwensi awal dari misi balas dendamnya. Jasmine hanya bisa mengangkat dagunya dengan tegar. Mencoba menguatkan hati terus mencoba menahan airmata yang hampir jatuh berderai dipipinya. Ini pembalasan dendam sangat menyedihkan baginya. (pw)

<< Baca lanjutannya, Jasmine bagian 4 >>


Terima kasih telah mengunjungi laman Bisfren dan membaca cerita cinta romantis balas dendam. Semoga cerpen diatas bermanfaat sekaligus menghibur serta menjadi inspirasi serta motivasi bagi sobat sekalian.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait