Penyesalan

cerita cinta romantis tragis

Penyesalan adalah cerita cinta romantis tragis tentang Jasmine yang menyesal telah melakukan balas dendam pada mertuanya serta penyesalan Rava atas keserakahan pada harta dan kekuasaan yang membuatnya mengambil keputusan salah. Bagaimana akhir cerita penyesalan mereka ? silahkan simak pada cerpen berikut :

Cerita Cinta Romantis Tragis – Penyesalan

Rava membalikkan kursinya hingga tubuhnya kini duduk menghadap dinding kaca gedung kantornya, dia bisa melihat langit biru dengan sedikit awan putih terhias. Matanya juga melihat lalu lalang mobil dibawah sana. Hari ini cuaca sedang cerah-cerahnya tak terlihat mendung menggayut. Bumi sepertinya sedang gembira tapi kenapa tidak dengan hatinya. Beberapa hari terakhir ini mendung seolah menjadi nuansa hatinya. Rasa penasarannya selama ini disimpannya dan menjadi kekalutan didalam pikirannya terjawab sudah anting itu milik Carmen.

Yah anting berlian yang pernah ditemukannya diapartemen Jasmine adalah anting Carmen. Kenapa dia begitu bodoh menyangkah anting itu milik pembantunya. Seharusnya dia tahu kalau barang itu terlalu berharga untuk dimiliki seorang pembantu. Apa dilakukan Carmen pada apartemen Jasmine? pertanyaan itu sekarang memenuhi batok kepalanya.  Tapi keberadaan Carmen di apartemen Jasmine tak bisa dibuktikan. Kamera ditiap sudut gedung itu dari lobi sampai lorong apartemen tidak menunjukkan kalau wanita itu pernah berada di apartemen Jasmine.

Tapi anting berlian itu ? Walaupun modelnya sangat sederhana tapi anting berlian itu adalah anting pesanan khusus yang disediakan rumah perhiasan Cartier, lewat akses tak terbatasnya dia bisa mengetahui kalau anting berlian 1 krat itu memang dipesan khusus atas nama Carmenita. Apakah perubahan sikap Carmen kepadanya akhir-akhir ini karena dia sudah tahu tentang Jasmine bahkan sudah keapartemen Jasmine.

Ah, Rava menghembuskan nafasnya kuat, atau ini kesalahannya karena tak pernah menceritakan kisah tentang Jasmine pada Carmenita ? jika iya kenapa Carmen tak bertanya dan diam saja? jika dia ingin protes tentang masa lalunya bersama Jasmine kenapa tidak bertanya dan meminta pengakuannya. Kalau memang Carmen bertanya sudah tentu dia akan menjawab semuanya bahkan akan diceritakan kisahnya dengan jujur. Tapi kenapa wanita itu bungkam saja ? Apa dia sengaja diam untuk menghukumnya ? beribu pertanyaan memenuhi benak Rava membuat laki-laki itu begitu gelisah. Apa caranya selama ini salah ? tapi Carmenita seolah terasa jauh darinya, dia seperti merasa Carmenita wanita asing yang sama sekali tak dikenalnya. Bahkan dia terlanjur mencap Carmenita iblis berwajah malaikat. Wanita itu membuat dia ketakutan, ada sesuatu yang tersembunyi pada wanita itu. Entah apa itu ? sebuah ambisi ataukah misi ? Rava menyandarkan kepalanya dikursi mencoba memejamkan mata dan berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran buruk datang dalam berbagai bentuk dikepalanya.

Kemana rasa cinta waktu itu ? kemana gairah dan semangatnya pergi ? ataukah cinta dirasakannya dulu hanya gairah sesaat, nafsu mempermainkan kelakiannya. Akhir-akhir ini para investor dan pemegang saham mulai gelisah, sepak terjang Carmenita mulai menggelitik ketenangan mereka. Wanita baru bergabung dikeluarga Clements tersebut sepertinya mulai terlihat berkuasa dengan segala aktifitas bisnisnya. Bahkan sepertinya membuat media tak bosan-bosannya memberitakannya.

Lalu semua dilakukan wanita itu sepertinya sangat berhasil hal ini memang menjadi keuntungan besar untuk perusahan baik dari segi income maupun promosi produk perusahan didalam dan luar negeri. Tapi kekuasaan wanita itu dalam segi pemegang saham meresahkan tapi juga melegakan ada pro dan kontra disitu.

Bahkan mereka menilai Rava mulai lunak dalam menjalankan perusahan. Hal biasa terjadi didalam perusahan besar, posisi Rava sebagai presiden direktur dinilai beberapa pihak mulai melemah dengan adanya Carmenita, dilain pihak juga Carmenita memiliki 40 persen saham mulai digoda dengan godaan kudeta dari setiap undangan terselubung para investor karena jelas-jelas menginginkan Carmenita mengganti posisi Rava.

Rava mengetahui hal itu dengan sangat jelas, karena itulah dia menjadi ketakutan dengan Carmenita. Apakah hal menimpa ayahnya akan menimpa dirinya juga, tapi ibunya memiliki dia sebagai penerus bagaimana dengan Carmenita ? apa  dalam hati wanita itu ? Rava ingin mengetahuinya. Dia ingin sekali menanyakan masalah anting itu pada Carmenita tapi dia tidak memiliki bukti cukup untuk pegangan jika Carmenita berbohong. Dia juga tidak ingin Carmenita mengetahui dirinya selalu memata-matai gerak geriknya.

Ah apa sedang terjadi dengannya ? kenapa tiba-tibanya semua  menjadi begitu rumit, saat dia tahu semua akan jadi mudah saat dia bersama Carmenita.

Jasmine termenung di depan meja riasnya, didepan cermin itu ada wujud wajah lain, wajah murung Carmenita.  Wajah cantik terlihat pucat tanpa polesan blash on pink atau merah biasa dipakainya setiap hari. Wajah dicermin polos tanpa make up, wajah letih terkadang ingin menjerit serta berhenti dari semua aktifitas padatnya setiap hari. Wajah yang ingin direngutnya jika memang cuma topeng kulit menutupi rautnya.

Seandainya bisa ! dirinya tak ingin wajahnya berubah begini, karena perasaan dihatinyapun mulai berubah. Dirinya mulai meragukan perasaannya, mulai merasa dirinya bukan Jasmine tapi Carmenita. Tidak, dia Jasmine, bukan Carmenita !.

Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya. Diuraikannya rambutnya lalu melangkah ketempat tidur tapi niatnya berubah, suasana begitu hening. Entah kenapa hatinya ingin pergi kekamar Rava. Pelan-pelan tanpa mengenakan alas kaki melangkah menuju kamar Rava.

Malam begitu larut, dentang jam didinding ruang utama menyadarkan Jasmine kalau ini sudah pukul satu dini hari. Saat melewati kamar Ibu Rava langkah Jasmine terhenti, ada suara rintihan terdengar, membuat tangannya bergerak membuka pintu. Agak heran Jasmine melihat kamar ibu Rava terang benderang. Dia mendekati ranjang Ibu Rava dan menatap sosok sedang merintih itu. Wanita itu sedang bermimpi, terlihat sekali mimik wajahnya ketakutan, pandangan Jasmine beralih kemeja disamping ranjang, beberapa botol obat penenang tergeletak diatas meja. Rintihan wanita itu menjadi jeritan keras ketika akhirnya dia terbangun dan kaget saat melihat Carmenita ada disampingnya.

“A apa yang kamu lakukan disini Carmen ?” tanya wanita itu gugup dan beranjak duduk dari tidurnya, terlihat keringat memenuhi wajahnya.

“Aku ingin ke dapur membuat jus ketika kudengar ibu mengigau, ternyata ibu bermimpi. Pasti mimpi buruk. Ada bisa kuambilkan minum supaya membuat ibu baikkan ? ”

Wanita tua itu menatap Carmen sedikit tak percaya, hampir beberapa bulan ini Carmen mengacuhkannya tapi kenapa malam ini berubah lembut.

“Tidak, ibu tak membutuhkan apa-apa.” Ibu Rava menggeleng.  Jasmine menatap ibu mertuanya dengan tatapan iba dia seperti melihat wujud ibunya pada ibu Rava. Ada apa dengannya ? seharusnya dia senang wanita ini dihukum dengan cara begitu.

Mimpi buruk! Yah lihat saja botol-botol obat memenuhi mejanya, terlihat sekali wanita ini sudah sangat bergantung pada obat tidur. Ini hukuman pantas untuknya, Seperti ibunya dulu akhirnya tidak bisa bertahan. Dan… Jasmine memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.

“Jika ibu besok punya waktu aku akan temani ibu kedokter.” ujar Jasmine pelan. Ibu Rava menatap Jasmine tak percaya, tumben sekali jika menantunya menawarkan mengantarnya kedokter. Kebiasaan sudah tak dipedulikannya beberapa bulan terakhir ini. Apa telah terjadi ? apa Carmen sudah kembali menjadi lembut dan perhatian?

“Kamu mau mengantarkan Ibu, Carmen ? ”

“Tentu saja Ibu, sudah lama kita tidak bersama. Selesai ke dokter kita akan makan siang bersama.  Aku akan mengosongkan jadwalku besok khusus untuk ibu.” Ujar Jasmine lagi. Terlihat sekali senyum gembira diwajah wanita tua itu. Jasmine beranjak, menaikkan selimut ibu mertuanya lalu mengecup dahinya lembut.

“Ibu tidurlah. Berdoalah sebelum tidur. Terkadang doa adalah obat paling ampuh untuk membuat kita tenang.” Ujar Jasmine lalu melangkah keluar dari kamar. Wanita tua itu terhentak dalam keharuan, tiba-tiba saja tanpa disadari bulir airmata telah membasahi pipinya. Pikirannya tiba-tiba teringat dosa masa lalunya, teringat akan sang Pencipta, lalu teringat pada seraut wajah, wajah Jasmine.

Dan tangis wanita itupun pecah. Tangis penyesalan… Jasmine masih berdiri didepan pintu kamar Ibu Rava ketika sayup-sayup mendengar tangisan ibu mertuanya. Walaupun dia tahu itu tangisan penyesalan tetap saja tak akan bisa mengubah kehidupannya yang sudah terlanjur seperti ini. Perlahan Jasmine melangkah kekamar Rava, tapi kamar itu kosong. Hatinya tiba-tiba diselimuti kesedihan, dimana Rava ? apa sengaja menghindarinya lagi ? belum puaskah menghukumnya ?.

Jasmine lewati waktunya bersama dengan Ibu Rava, wanita tersebut terlihat gembira sekaligus senang. Setelah kedokter mereka lanjutkan dengan makan siang bersama, kemudian keduanya menghabiskan waktu jalan-jalan di mall milik keluarga mereka. Walaupun agak kecapean tapi hari itu ibu Rava terlihat bahagia.

“Setelah ini mungkin aku akan jarang punya waktu untuk ibu. ” ujar Jasmine saat mereka sudah berada didalam mobil menuju pulang.

“Tidak apa-apa sayang, ibu tahu kesibukkanmu. ”

“Aku akan mengantar ibu pulang lalu mungkin akan ada dikantor seharian. Mungkin tak akan pulang.” Ujar Jasmine lagi.

“Ibu, kunci brankas sudah kuletakkan dikamar ibu, jika ibu butuh sesuatu ibu tinggal ambil.”

“Carmen apa yang kamu lakukan bukankah kamu yang memegangnya. Lagipula ibu tak butuh apa-apa”

“Besok aku harus keluar negeri, mungkin sekitar dua hari. Takutnya jika ada apa-apa dan ibu butuh uang. ”

“Keluar negeri, kemana ?”

“Ada urusan bisnis bu, Ke Paris. Secepatnya akan kembali. “ucap Jasmine lagi. Kali ini suaranya keluh, mencoba menahan perasaannya.

Mobil yang dikemudikan Fabian menepi Ibu Rava keluar dengan raut wajah puas dan terlihat ceria. Dia melambaikan tangannya pada Jasmine saat mobil itu kembali membawa Jasmine. Didalam mobil Jasmine menekan tombol pembatas, memisahkannya dari Fabian.

Tangisnya tumpah, air mata tergenang dipelupuk matanya tak sanggup dibendung. Isaknya tumpah ruah, sementara Fabian hanya bisa menatap Jasmine giris lewat kaca didepannya. Baru kali ini matanya melihat Jasmine menangis sejadi-jadinya.

Apa telah terjadi dengan wanita tersebut ? kesedihan macam apa dideritanya hingga mata indah itu penuh air mata. Jasmine masih terus menangis, menangisi hatinya hingga akhirnya mengalah pada cintanya. Dendam begitu menggelora dihati, ambisi untuk membuat ibu Rava menderita tak bisa lagi diteruskannya.

Rava yang terus menghindarinya, serta musuh-musuh dalam selimut menantikan kejatuhan Rava dan keluarganya. Dia akhirnya mengerti dunia macam apa dibalik kemegahan perusahan Clements. Godaan-godaan para pesaing bisnis Keluarga Clements tak berhenti datang bahkan keluarga dekat sekalipun memiliki ambisi terselubung untuk menjatuhkannya.

Apakah dirinya juga akan menambah beban dengan menjadi musuhnya dalam misi balas dendam pada ibunya. Seharusnya sebagai istri dirinya membantu untuk mengokohkan kedudukan suaminya, bukan malah mengancamnya untuk menjatuhkannya.

Dalam wujud Carmen ataupun Jasmine dirinya tidak boleh membiarkan posisi Rava terancam. Karena itulah dirinya sudah memutuskan semuanya. Obsesinya akan balas dendamnya pada Ibu Rava sirna. Jasmine sadar wanita tersebut sudah sangat menderita.

Apakah dia akan membiarkannya mengalami nasib sama dengan ibunya. Berakhir dirumah sakit jiwa kemudian mati bunuh diri. Tidak, dirinya tak akan sekejam itu. Jika cintanya terikat pada Rava bagaimana bisa menghukum mertuanya, ibu dari laki-laki sangat dicintainya. Meski memberi begitu banyak penderitaan padanya tapi dia tak sanggup membalasnya.

Apakah karena cintanya pada Rava ? hatinya begitu lemah. Dirinya gagal. Yah hatinya merasa gagal, kenapa bisa berubah begini ? apa ini sikap manusia yang berubah-ubah dan tidak konsisten? Tapi bagaimana dengan akhir cerita cintanya? Apakah akan berakhir dengan manis ataukah hanya akan berakhir dengan tragis.

******

Jasmine melangkah keluar dari kantor pengacara perusahannya, hari ini diputuskan untuk menyerahkan semua sahamnya pada suaminya, sehingga secara otomatis Rava menjadi penguasa tunggal saham terbesar perusahan Clements. Hal tersebut akan membuat kedudukannya menjadi mutlak dengan kekuasaan tak terbatas. Dirinya juga mengembalikan semua aset serta kepemimpinan yayasan kepada ibu mertuanya serta kakak-kakak Rava.

Tak ada sedikitpun diambil dari harta keluarga Rava padanya. Hanya tertinggal sebuah cincin pernikahan dijari manis sebentar lagi akan dilepaskannya. Butik-butiknya dibeberapa kota besar sudah dia serahkan pada beberapa orang yang dipercayainya.

Dirinya sudah lelah bermain-main, saat ini diinginkannya adalah ketenangan. Dirinya juga sudah mengirimkan gugatan perceraian pada Rava. Mengingat sikap Rava belakangan ini, hatinya yakin tanpa berpikir suaminya pasti akan langsung menandatangani surat cerai tersbeut. Imej dibentuknya beberapa bulan belakangan sepertinya berhasil. Rava mungkin sudah menyadari kalau dirinya wanita berhati iblis.

Entahlah Jasmine tak peduli lagi. Seharusnya dulu dirinya mengiyakan tawaran Keanu untuk pergi bersama kesuatu tempat tak ada orang tahu. Ternyata semua dijalaninya hanyalah kesia-siaan. Betapa keras kepalanya hingga tidak memperdulikan semua kata-kata Keanu.

Jasmine melangkah pelan menuruni tangga, matahari bersinar terik. Gaun warna putihnya terlihat begitu elegan serta pas pada tubuh tinggi semampai. Rambutnya terikat menjadi satu. Kilauan kecantikan serta keanggunan terpancar jelas diwajahnya. Dengan sepatu berhak rendah dijejakkan kakinyan ringan selangkah demi selangkah dianak tangga.

Di depannya sebuah mobil sedang menunggu, sudah kebiasaannya untuk selalu membuka pintu pada Jasmine. Balon warna warni dipegang seseorang terlepas dan terbang, mengalikan perhatian Carmen yang langsung menatap balon-balon yang terbang diatas kepalanya dia menatapnya tersenyum. Balon-balon berwarna-warni itu seolah menjadi pelengkap ucapan selamat tinggalnya untuk kota ini.

Sesosok tubuh menabraknya cepat, Jasmine tersentak, terpaku ditempatnya matanya menatap Fabian nanar. Fabian seolah tersentak dengan situasi sama sekali tak disangkanya. Tersadar dengan apa telah terjadi. Jasmine berada tak jauh didepannya menatap kosong masih dengan senyuman tadi. Gaun putih yang membalut tubuhnya berubah warna dibagian perut. Warna merah darah, Fabian memburu tubuh Jasmine sebelum tubuh Jasmine terjatuh di jalanan. Suasana di depan kantor itu seketika riuh.

“Bawa aku pergi dari sini Fabian.” Hanya itu yang terdengar dari bibir Jasmine, dan wanita itu langsung terkulai.

Rava baru menutup gagang telponnya ketika sekertarisnya masuk membawa beberapa amplop berkas yang langsung diperiksanya satu demi satu. Sebuah amplop besar menarik perhatiannya perlahan dibukanya. Alangkah kagetnya dia saat mengetahui isi dari berkas-berkas ditangannya. Berkas surat-surat yang berisi pelimpahan kekuasaan kepemilikkan saham dari Carmen untuknya.  Ada sebuah surat lagi pada amplop berbeda.

Rava aku yang melihatmu dari dekat memiliki seutuhnya dirimu, menyentuhmu dengan hasrat menggelora tidak sadarkah kamu sudah memberikan aku banyak kesedihan dan air mata. Kenyataannya aku tidak bisa mengatakan siapa diriku sebenarnya. Carmenita ataukah Jasmine. Walaupun wajah ini berubah apakah kamu tidak mengenalku ? ingin rasanya mengatakan semuanya padamu, tapi apakah cintamu masih utuh untukku. Ingin mulutku berteriak di depanmu saat kamu mengacuhkanku, aku, aku Jasminemu tersayang. Aku merindukanmu … aku ingin menghukummu ? menghukum takdirku, tapi aku sudah lelah Rava. Jangan menyalahkan Keanu jika dia mengubahku seperti ini. Dialah yang menyelamatkan nyawaku saat aku ditabrak oleh ibumu 6 tahun lalu. Tapi aku tidak bisa menghukum ibumu. Dia adalah ibumu, wanita yang melahirkanmu dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Jika dia melakukan semua hal bertentangan denganmu itu karena ingin melindungimu. Maafkan Aku Rava, harus mengucapkan selamat tinggal seperti ini. Ravaku tersayang tidakkah kau tahu aku sangat merindukanmu.

Tidak mungkin, tidak mungkin, Jasmine oh tidak. Bergetar tangan Rava memegang selembar surat ditangannya. Seolah ingat akan sesuatu hal penting, Rava bergegas mengangkat telpon tapi telponnya berdering lebih dulu. Dia buru-buru meraihnya.

“Sudah dikerjakan bos.” Hanya itu suara yang terdengar ketika gagang telpon ditangan Rava terlepas. Kemudian surat ditangannya. Laki-laki itu mendekap wajahnya, dan setelah itu memporak-porandakan seisi mejanya seperti orang gila. Dia mengamuk penuh penyesalan dan akhirnya jatuh berlutut dengan pipinya yang basah dengan airmata.

“Tidakkkkkkkkkkkkkkk….” Hanya itu bisa diucapkan. Dan selanjutnya hanyalah keheningan.

Yang tertinggal hanyalah sebuah kenangan, sebuah tangan halus yang membantunya berdiri dengan senyum yang merekah.” Anak cowok gak boleh cengeng.” Kata-kata Jasmine yang lembut dengan tatapan matanya meneduhkan. Belaian yang lembut dikepalanya….  Putri Jasmine kesayangannya, bidadari hatinya. Dan penyesalanpun kian dalam menghantar Rava pada kehancuran hati. Keserakahan akan kekuasaan serta harta telah menutupi mata hatinya.

Nuraninya yang sudah memberitahukan semua pertanda dari awal ditepisnya jauh-jauh. Hatinya sudah mengenal Jasmine tapi dirinya membantahnya. Jika sekarang dihukum seperti ini apakah cukup menanggung penyesalan seumur hidupnya. Tidak akan cukup ! dan Ravapun semakin tenggelam dalam tangis penyesalannya (PW).


Terima kasih telah mengunjungi situs Bisfren dan membaca cerita cinta romantis tragis. Semoga cerpen diatas bermanfaat sekaligus menghibur hati pemirsa sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait