Jawaban Atas Penantianku

cerita cinta romantis

Cerita cinta romantis pendek tentang cewek suka daun muda. Maksudnya wanita menyukai lelaki yang umurnya lebih muda namun tidak menyadari bahwa idamannya itu hanya menganggap biasa saja. Cerita pendek ini dikirim oleh Thika Sun dan dipublikasikan melalui komunitas cerita pendek pada tanggal 10 Pebruari 2013. Cerita cinta romantis ini menarik dan bisa memberi inspirasi.

Cerita Cinta Romantis Jawaban Atas Penantianku

Disela do’a ku, tidak pernah lupa kuselipkan namamu agar bisa sekali lagi bertemu denganmu. Apakah kau tahu, dulu begitu menyesalnya diriku mengambil keputusan tak ingin melihatmu lagi, namun tak dapat kupungkiri kenyataan kalau semua telah terjadi, sekarang tak ada lagi gunanya penyesalan. Dan harus ku ingat sekarang adalah menjalani hari–hari dengan secercah harapan kalau suatu hari nanti bisa bertemu dengannya disaat kalimat ‘bertemu secara kebetulan’ menghampiriku.

Ternyata kalimat itupun tak kunjung datang. Dengan membuang semua rasa malu dihatiku, diriku hanya bisa menitipkan harapan dengan cara terakhir untuk mengetahui seperti apa sekarang rasa dihatiku tentangnya, apakah masih seperti dulu, atau setelah melihatnya lagi diriku akan tersadar untuk mulai mengikhlaskan kalau dirinya bukan jodohku. Akupun sibuk memikirkan apa ingin kuberikan untuknya sebagai alasan bagiku untuk bisa berkomunikasi lagi dengannya.

Saat kulihat miniatur gitar–gitaran, hatiku sedikit tertarik melihatnya. Terlintas diotakku cocok untuk diberikan kepadanya. “Wah keren banget nih mianiaturnya,” gumamku sendiri karena tidak tahu ada seseorang disampingku. Mungkin karena mendengarku berbicara sendiri, dia malah membalas ucapanku.

“Memang keren, apa lagi kalau diberikan kepada orang teristimewa. Pasti menjadi kado terindah juga”, ucapnya. Mendengar seseorang berbicara padaku, wajahku menoleh kesamping.

“Terimakasi atas sarannya”, jawabku datar sambil berlalu. Sebelum berjalan jauh darinya sempat kudengar omongannya samar–samar.

“Cewek sok cuek”, ucapnya. Tetapi aku tak berniat membalas omongannya.

Akhirnya kubeli juga miniatur gitar tersebut lalu mengirimkannya melalui jasa kurir. Sengaja kuletakkan nomor handphone baruku pada alamat pengirim dengan harapan agar dirinya menghubungiku. Nomor lamaku telah hilang sementara diriku tak pernah mengingat nomor handphonenya, hanya alamat rumahnya saja kuingat.

Akhirnya paket hadiah dariku diterima juga

Sudah hampir 2 minggu menunggu panggilan atau pesan masuk pada smartphone. Padahal kata orang jasa pengiriman, waktu pengiriman hanya sekitar 4 hari. Tetapi kenapa sampai sekarang tak ada kabar dari Rei ?.

Hingga suatu hari usai makan siang kuterima telpon dari pihak pengiriman jasa kurir. “Selamat siang dengan mbak Kazu ?”. Ucapnya sopan, karena nama tertulis pada resi pengiriman adalah namaku.

“Iya benar, saya sendiri. Dari mana ?”, tanyaku heran.

“Kami dari ekspedisi, hanya ingin bertanya apakah ada nomor telpon penerima bisa kami hubungi ?, karena kami sedikit kesulitan mencari alamatnya”, ucapnya.

“Maaf saya tidak punya. Jadi gimana ya mbak, kalau seandainya tidak ketemu alamat rumahnya, apa kiriman barang saya bisa kembali mbak ?”, tanyaku lagi.

“Bisa mbak, kami tetap berusaha kok untuk mencari alamatnya. Kalau memang tidak ketemu juga kami akan menghubungi mbak lagi”, jelasnya.

“Ok, kalau begitu saya tunggu informasinya”, balasku.

Hatiku sedikit merasa kecewa karena sepertinya pihak ekspedisi pun tak berpihak padaku. Namun hatiku hanya bisa pasrah dengan apa kan terjadi hari esok.

Sudah hampir memasuki minggu ke 3, masih juga belum ada kabar. Sempat ku berniat menghubungi pihak ekspedisi lagi, namun tiba-tiba hatiku dikejutkan pada sebuah SMS tertera di layar handphoneku. Belum sempat kubuka isi SMS tersebut bahkan tidak pernah mengenal nomornya, namun dalam hatiku benar-benar yakin bahwa nomor tersebut adalah nomor ponsel Rei. Padahal bisa saja kan nomor tersebut adalah nomor teman lamaku. He… he… itulah kehebatan sebuah kata ‘filing’. Akhirnya kubuka SMS dengan penuh harapan kalau pengirimnya adalah Rei. Ternyata benar, SMS dari Rei.

Owh .. tapi dia tetap saja memanggilku kakak

“Kak apa kabar ?, makasi ya atas paketnya. Keren banget hadiah bentuk gitar–gitarannya”, ucapnya dalam SMS.

“Sama – sama, maaf ya sudah gangguin kamu lagi”.

“Nggak apa–apa kok kak, Rei malah senang bisa menghubungi kakak lagi”, ucapnya. Melihat SMS – SMS nya masih memanggil namaku dengan sebutan kakak, ada rasa sedih karena merasa tak sekalipun dirinya menganggapku sebagai seorang cewek dalam kehidupannya.

“Makasi juga karena Rei masih mengingat kakak”, balasku mencoba kembali terbiasa dengan sebutan kakak darinya.

Akhirnya harapanku untuk bisa menghubunginya terkabulkan, makasi Ya Allah masih memberikanku kesempatan. Tapi walaupun sudah sering SMSan dengannya, tetap tak lupa disela do’a ku, masih mengharapkan untuk bisa bertemu dengannya.

Pagi ini hatiku sedikit malas bekerja karena hujan. Tapi sayangnya tiada mungkin bolos karena beberapa hari lalu diriku sudah meminta libur. Jadi mau gak mau harus tetap pergi bekerja. Disaat jam makan siang, Rei sempat mengirimkanku SMS.

Janjian ketemuan

“Kak hari ini aku berada di Medan, kira–kira bisa gak kita ketemuan ?.” Membaca SMSnya, rasa dalam hatiku campur aduk, diantara senang, tiada percaya dengan apa yang kulihat. Rasa bersyukur, rasanya jantungku hampir meledak, gembira karena usaha serta doaku tidak sia-sia. He…he… kayak bom aja meledak.

“Emang di Medan ketempat siapa ?,” tanyaku ingin tahu. Hatiku takut dirinya ke Medan untuk kerumah cewekya. Aduh… kalau benar–benar begitu, pasti bakal ketimpa kalimat galau lagi, gagal move on lagi deh.

“Aku ketempat saudaraku disana”, balasnya.

“Oh… ya sudah, nanti kalau kakak sudah pulang dari kerjaan, kakak kabari kamu lagi”.

“Ok”, jawabnya. Rasanya waktu kerjaku lama banget hari ini, pada hal sama saja seperti kemarin, cuma karena lagi menunggu waktu bertemu kembali, terasanya jadi lama sekali. Akhirnya tiba juga jam pulang. Dalam perjalanan menuju ke tempatnya, sempat kukirimkan pesan kepadanya.

“Rei kakak sudah jalan ketempatmu”, pesanku dalam SMS. Mungkin diriku terlalu bodoh, atau mungkin terlalu agresif untuk seorang cewek. Pasti tak ada cewek sepertiku, berlaku seperti orang bodoh hanya untuk bisa melihatnya lagi sedangkan dirinya tak begitu antusias untuk bertemu denganku. Tapi pikiran tersebut kuhilangkan, rasa malu dalam hatiku juga sudah kubuang karena diriku hanya menginginkan jawaban atas perasaan hampir membuatku gila karena memikirkannya, merindukannya tanpa pernah tahu apakah perasaannya sama sepertiku atau tidak.

“Ya sudah kak nanti kutunggu disimpang dekat rumah saudaraku, tapi kakak nanti sempat masuk ke sebuah jalan kecil”, balasnya.

“Iya, nanti kalau kakak sudah dekat kakak telpon ya”. Tak lama sampailah diriku dipersimpangan pertama seperti dikatakannya. Akupun menelponnya.

“Rei kakak sudah sampai di simpang pertama, naik angkot apa lagi dari sini ?”, tanyaku.

“Nggak ada angkot kak, dari sana naik becak saja,” ucapnya enteng. Mendengar ucapannya hatiku sedikit kesal. Sudah lelah banget, jauh, kenapa hanya diriku berusaha untuk bisa melihatnya sedangkan dirinya tak sedikitpun menampakkan kesungguhan.

Kalau kamu yang cinta, kamu harus lebih banyak berkorban.

“Kalau begitu rei aja yang kemari , biar kakak tunggu rei disini”, ucapku yang bernegosiasi, tapi sayangnya dia tetap gak mau.

“Kakak aja yang kemari, kalau dari sini jauh banget”, ucapnya lagi. Dengan pasrah ku iyakan ucapannya.

“Ya sudah nanti kakak kesana”, rasanya hatiku ingin menangis karena susah banget untuk bisa bertemu serta melihatnya lagi, benakku bertengkar hebat. Melanjutkan usahaku atau menyerah saja lalu pulang kerumah dengan membawa kesedihan dihati lagi.

Otakku terus berfikir tanpa melihat sekelilingku. Mungkin mereka merasa aneh melihat wajahku seperti orang kebingungan. Tiba–tiba ada sebuah sepeda motor berhenti dihadapanku. Melihat wajahnya mataku merasa tidak asing, dan saat kuperhatikan lagi sepertinya dirinya baru pulang dari kerja karena masih memakai baju seragam kerja. Wajahnya tersenyum padaku.

“Hai ketemu lagi, rumah kamu disekitar sini juga ?”, tanyanya.

“Tidak, rumahku jauh dari sini”, balasku.

“Tapi kenapa ada disini ?, emang mau ketempat siapa ?,” tanyanya seperti menginterogasi.

“Apa harus kujawab semua pertanyaanmu ?”, diriku malah balik bertanya padanya.

“Tidak juga sih, cuma tadi heran aja lihat cewek seperti anak itik kehilangan induknya, makanya kutanya, mana tahu kamu membutuhkan pertolongan. Tapi kalau memang tidak membutuhkan pertolongan ya sudah gak apa apa. Maaf karena telah mengganggumu, aku pergi dulu. Hati–hati dijalan, semoga ketemu yang dicari”, ucapnya seperti kalimat sindiran kepadaku. Kufikir mungkin kalau bertanya padanya, dirinya tahu alamat ingin kutuju.

Akhirnya diantar sama cowok gak kenal

“Mohon maaf, kalau tadi kata-kataku sedikit kasar. Tapi sebenarnya lagi bingung mencari alamat ini”, akupun menunjukkan alamat kudapat dari SMS Rei tadi.

“Aku tahu tempatnya karena alamatnya sejalur dengan rumahku, kalau kamu tidak takut padaku, akan kuantar. Tapi kalau kamu tak ingin bersamaku ya kamu tanya saja sama orang-orang sekitar sini”. Tadinya kurasa sedikit aneh melihatnya, tapi kenapa dirinya begitu baik padaku padahal kami tidak saling kenal. Dengan ragu akhirnya kutanya.

“Kenapa kau baik banget padaku, padahal kita tak saling kenal”, tanyaku. Tapi jawabannya membuatku kaget. “Kalau begitu kita kenalan dulu, namaku Hirosi, kamu sendiri ?”, tanyanya balik.

“Namaku Kazu, maksudku bukan itu, tapi kenapa kau baik padaku ?”.

“Kan tadi sudah kukatakan, diriku ingin menolong cewek berwajah seperti itik kehilangan induknya”, ucapnya lagi. Mendengar jawabnya hatiku sedikit kesal karena disamakan dengan anak itik.

“Terserah deh mau kamu katakan apa untuk menjulukiku”.

“Ya sudah naik gih !”, serunya. Diperjalanan mulutku hanya diam saja. Padahal dalam hati sedikit takut. Takut dia membawaku entah kemana. Tapi mulutku seakan terkunci, tidak berniat untuk bertanya padanya.

“Apa benar ini jalannya ?”, ucapnya mulai mengajakku mengobrol.

“Nggak tahu karena baru kali ini kesini”, ucapku polos.

“Untung aku cowok baik-baik, kalau jahat, mendengar jawabanmu tidak pernah kesini, pasti akan membawamu pergi entah kemana. Kau harus bersyukur bertemu denganku”, ucapnya begitu percaya diri. Tapi kata-katanyaa ada benarnya.

“Jadi harus jawab apa ?, memang diriku belum pernah kesini”, tapi dia tidak lagi menjawab ucapanku. Entah kenapa motornya berhenti mendadak.

“Beberapa langkah lagi kamu sampai pada alamat itu, jadi sampai disini saja aku mengantarmu”, ucapnya.

“Ya sudah kalau gitu. Terima kasih ya”.

Bertemu dengannya idaman hati

“Sama-sama”, diapun melanjutkan perjalanannya mendahuluiku. Tak beberapa jauh kulihat Rei sedang menungguku, rasanya do’a serta pengharapanku selama ini tidak sia-sia. Mataku benar-benar bisa melihatnya lagi. Dengan seulas senyum ku menyapanya.

“Kakak apa kabar ?”, tanyanya sambil mengulurkan tangannya kearahku. Akupun menyambut tangannya, dalam hatiku bergumam “ini jabatan tangan pertama kalinya bagiku denganmu karena dari dulu tidak pernah sekalipun menjabat tanganmu”.

“Baik, kamu sendiri, gimana kabarnya ?”.

“Baik kak”,  karena tadi sempat kesal karena mencari alamat akupun berkata, “Mau jumpa sama kamu susah banget, seperti mau jumpa artis saja”, sindirku. Bibirnya hanya tersenyum. Ternyata dugaanku benar, perasaannya tak sepertiku. Dirinya bersikap biasa saja. Hatiku benar-benar kecewa, tapi tidak kuperlihatkan dan benar-benar kusimpan didalam hati.

Cukup lama juga kami berbincang-bincang, tanpa menyadari ternyata Hirosi belum pergi meninggalkanku. Dirinya malah penasaran siapa ingin kujumpai. Dia terus memperhatikan kami berdua, dengan perlahan mulutnya bergumam “jadi itu kado teristimewamu”.

Eeeeh…. udah lama gak ketemu, lagi ngobrol malah matanya jelalatan

Disela pembicaraan sempat kami melihat seorang cewek melintas di hadapan kami mengendarai sepeda motor, walaupun pelan tapi dengan jarak seperti ini telingaku masih bisa mendengar apa diucapkannya.

“Wah… cantik banget tuh cewek ”, mendengarnya hatiku sedikit sedih. Kenapa dirinya tak menghargaiku disitu. Memang sih ucapannya wajar-wajar saja untuk seorang cowok, tapi terlintas dibenakku, apakah dirinya sudah mengetahu perasaanku padanya namun tetap tidak menghiraukan sehingga walaupun berada dihadapanku dirinya tak begitu perduli. Entah lah… hari ini otakku lelah berfikir menjawab pertanyaan hati terus menerus. Namun satu pertanyaan terakhir membuatku benar-benar tak sanggup lagi.

“Jadi kapan kakak meritnya ?, kalau merit jangan lupa undang aku ya”, pertanyaan polosnya membuatku merasa yakin, seyakin-yakinnya bahwa dirinya menginginkanku tak lagi mengganggu kehidupannya. Tapi benar juga. Kenapa selalu saja kuganggu kehidupannya tanpa bosan ?. Setelah menjawab pertanyaannya berbasa-basi, hatiku mantap untuk segera pulang.

“Jangan takut kalau nanti merit pasti akan ku undang kamu. Aku pulang dulu ya Rei”, sebelum pergi sempat kuberikan dia sebatang coklat.

“Makasih ya kakak”, ucapnya.

“Hemmm…”, akupun berniat untuk pulang dengan wajah sedikit sedih. Melihatku bergerak untuk pulang, dengan cepat Hirosi menuju ketempatku berdiri bersama Rei sehingga kami berduapun sempat terkejut akan kehadirannya.

Lagi-lagi ada Hiroshi, cowok kenalan baru

“Sudah mau pulang ?, Ya sudah naik. Sebentar lagi mau hujan”, ucapnya. Diriku benar-benar tidak tahu apakah ini bala bantuan karena perasaanku tidak karuan atau akan memperburuk keadaanku nantinya. Tapi kuikuti saja apa disuruh cowok baru saja kukenal tadi.

“Kalau gitu hati-hati ya kak”, ucap Rei begitu cueknya.

“Iya, kakak pulang dulu ya Rei”. Dalam perjalanan mulutku hanya terdiam karena tidak tahu kenapa muncul hal-hal tak terduga.

“Aku tak tahu rumahmu, kalau kau berniat diam saja jangan salahkan nanti kubawa entah kemana”, ucapnya menakut-nakuti.

“Turun disini saja deh, nanti diriku bisa naik angkutan umum”, ucapku.

“Apa kamu tadi tidak mendengar ucapanku, kalau sebentar lagi akan turun hujan”. Ya, ucapannya benar, akhirnya akupun menunjukkan arah jalan rumahku. Setelah sampai didepan rumahku, sempat kutawarkan padanya untuk singgah. “Mau singgah sebentar tidak kerumahku ”, tanyaku berniat untuk membalas semua kebaikannya.

“Gak usah, tapi kalau diperbolehkan juga gak ada yang marah, kira-kira boleh gak main-main kemari lagi ?”. Tadinya sempat sedikit bingung maksud serta tujuan ucapannya, tapi mengingat jasanya, akupun berusaha menjadi orang yang menyenangkan dengan berbuat baik juga padanya.

“Boleh aja”, kataku.

“Tapi gimana caraku tahu kalau kamu ada dirumah atau tidak ?”. Aku mulai paham dengan ujung pembicaraan, tapi kuanggap sebagai hal biasa saja. Kuberikan nomor handphone ku kepadanya.

“Hubungi aja nomor itu”, kataku.

“Tapi nomor siapa ?”, tanyanya berusaha memastikan.

“Itu nomorku, tapi boleh kutanya sekali lagi, kenapa kau berbuat begini ?. Padahal kau tidak sedikitpun mengenalku. Kumohon jawab dengan jujur ”.

“Kamu benar ingin mengetahui jawabanku, tapi kalau kamu sudah mendengar jawabanku, kuharap kau tidak marah padaku”.

“Hem”, kujawab dengan anggukkan.

“Waktu bertemu denganmu di swalayan kukira kau tipe cewek sedikit cuek namun penuh perhatian. Tapi saat melihatmu sedang kebingungan mencari sebuah alamat, hatiku jadi sedikit penasaran, sebenarnya siapa ingin sekali kau temui. Saat kutahu kalau kamu begitu berusahanya melihat seorang cowok yang tidak begitu perduli pada kehadiranmu, disanalah kulihat dirimu sebagai cewek agresif. Kalau boleh kuberikan saran untukmu dan kamu mau menerima saranku, jangan pernah kau lupakan bahwa kamu perempuan tidak seharusnya bersusah payah untuk semua itu. Biarkan dia menghargai perasaanmu, bukan kamu terus berusaha untuknya. Kalau memang kalian jodoh pasti jalan kalian akan dimudahkan. Sekali lagi maaf kalau ucapanku terlalu menggurui. Aku pulang dulu”, ucapnya panjang lebar. Mendengar semua ucapannya, hatiku tersentak sadar kalau diriku telah melupakan jati diriku sebagai seorang perempuan.

Quotes kata bijak : Wanita tidak seharusnya bersusah payah untuk mengejar pria. Biarkan pria menghargai perasaan wanita.

“Terimakasih atas ucapan serta saran-saranmu, hati-hati dijalan”.

Malam itu entah mengapa air mata seakan tak dapat kuhentikan. Dia terus saja mengalir membuat hatiku terasa sakit sekali. Rasanya pintu hati serta fikiranku mulai terbuka bahwa selama ini pengharapanku tentang Rei terlalu berlebihan, sampai-sampai kulupakan segalanya. Terkadang dihati terasa sakit tapi terkadang saat memikirkan semua kata-kata Hirosi tentang kejadian tadi pikiranku merasa inilah jawaban yang selalu ku tunggu dan kucari. Tersadarnya diriku atas pengharapan tak berujung sedari dulu. Kutarik nafasku dalam-dalam kemudian saat kuhembuskan, terasa kelegaan dalam hati serta fikiran.

Beberapa hai kemudian kudengar Rei sudah balik ke kotanya, tapi sebelum pergi sempat dia bertanya padaku.

“Kak boleh Rei tanya, kenapa kakak baik banget sama Rei ?”, bagiku pertanyaan tersebut adalah pertanyaan bodoh terucap dari mulut seorang cowok. Tapi malah kujawab dengan bercanda.

“Kakak baik karena tidak sakit he… he… ”, jawabku bercanda.

“Kakak ada-da aja, tapi kakak berubah ya makin cerah saja wajahnya”, ucapannya sekarang sudah seperti hal biasa bagiku. Mungkin kalau dulu mendengarnya berkata seperti itu, pasti hatiku klepek klepek merasa gembira tapi sekarang tidak lagi. Mungkin inilah jawaban yang kucari, tiada ingin lagi mengganggapnya istimewa dalam hidupku.

Beberapa hari kemudian Hirosi sempat SMS kepadaku, menanyakan keadaanku, lalu ku jawab sopan terhadapnya. Tanpa terasa kami jadi sering SMSan ataupun telpon-telponan, dan berbicara dengannya kadang menyenangkan, kadang membuatku kesal, dan kadang membuatku tertawa. Pokoknya dirinya cowok teraneh pernah kutemui.

Kami sempat beberapa kali jalan bareng. Kadang diriku berusaha menegaskan pada Hirosi serta menegaskan pada diriku sendiri bahwa hubungan kami tidak istimewa, tapi berulang kali juga dirinya membuatku memberinya harapan atas perasaannya untukku. Suatu kali setelah jalan-jalan kami berniat pulang. Saat Hirosi ingin menuju kearah sepeda motornya kuikuti langkahnya dari belakang. Namun tiba-tiba tubuhnya berbalik membuatku kaget.

“Kenapa berbalik tiba-tiba sih, emang ada yang lupa ?”, tanyaku.

“Boleh kuminta sesuatu darimu Kazu ”, tanyanya.

“Mau minta apa”, tanyaku cepat.

“Lupakan anak itu, kumohon jangan pernah mengingatnya lagi. Gantikan ingatan tentangnya menjadi mengingatku. Bisa tidak ?”, pertanyaannya membuatku heran, kenapa dirinya bisa berfikiran begitu.

“Kenapa Hirosi bisa berpikiran begitu ?”.

“Siapa tak tahu kalau ada seorang cewek hanya karena membaca SMS doang, sampai-sampai mengabaikan orang lain dihadapannya. Aku tahu tidak berhak atas perasaanmu tapi cobalah untuk menggantikannya dengan kehadiranku”, pintanya. Aku baru teringat beberapa hari lalu mendapat SMS dari Rei mengatakan bahwa dirinya ada di Medan, namun akhirnya terlupa SMS tersebut karena sedang bersama Hiroshi.

“Maaf untuk hari itu, tapi berulang kali kutegaskan padamu….”, kalimatku terputus.

“Aku tahu tapi diriku cuma tak ingin lagi melihat sesosok cewek yang merasa tersiksa menahan perasaannya sendiri”.

“Terimakasih atas pengertianmu padaku, hati-hati dijalan”.

“Apa hanya sebatas ini hubungan kita”, dia terus bertanya.

“Diriku hanya takut, suatu saat nanti Hirosi akan merasa lelah atas perasaanku yang sulit untuk melupakannya”, kucoba untuk tidak memberikan harapan kepada Hirosi.

“Aku juga tahu, mungkin terlalu sulit bagimu untuk bisa melupakannya. Diriku juga tidak pernah memintamu untuk melupakannya. Kuminta kau berusaha untuk menggantikannya denganku”,ucapannya aneh atau pun dia slah mengucapkan.

“Apa bedanya kalau begitu ?, kan sama saja dengan Hirosi menyuruhku untuk melupakannya”.

“Benar juga ya, kenapa jadi begini ?, Ini gara-gara Kazu membuatku jadi sulit untuk berfikir. Kau tahu hatiku hampir putus asa karena kau selalu mendorongku untuk tidak berharap padamu”, ucapan juga ekspresi wajahnya benar-benar merasa berharap banget. Sebenarnya sudah kusadari sejak mendengarkan ucapannya dulu tentangku. Hatiku sudah mulai menyukainya, tapi berusaha untuk kutepis meski tidak pernah bisa. Mungkin inilah waktunya untuk memberikan hati kepada seseorang yang mencintaiku dan hatiku juga mencintainya.

“Kalau diriku memintamu, jangan pernah putus asa, ataupun jangan pernah lelah untuk membuatku lupa padanya, apa Hirosi bisa menunggu serta mencoba berusaha ? karena diriku juga selalu berusaha untuk menjauhkannya dari kehidupanku”, pintaku penuh harapan.

“Aku akan berusaha serta menunggumu, hatiku benar-benar yakin pasti bisa membuatmu lupa padanya, siapa sih dia ?, kenapa harus mengalah kepadanya. Hati Kazu akan menjadi untukku seorang”, ucapnya mantap.

“Makasi ya Hirosi”, ucapku. Hirosi tersenyum hangat padaku, tangannya mengacak-acak rambutku dengan lembut.

“Tidak ada kalimat terima kasih, hanya ada kalimat Kazu menyukaiku. Pulang ya zu”, ucapnya sambil menjauh.

Hatiku bersyukur serta berusaha untuk membuka cerita baru lagi atas nama kami berdua bukan lagi atas namaku yang terselip ditumpukkan perasaan tak pernah dilihat oleh Rei.

*Tanpamu ceritaku tak pernah ada, terima kasih sekaligus maaf karena telah membuatmu menjadi tokoh utama dalam imajinasi cerita pendek romantis ku, menjadi motivasi sekaligus sumber inspirasi bagiku.


Terima kasih telah membaca cerita cinta romantis pendek jawaban atas penantianku. Semoga cerpen cinta diatas bermanfaat dan menghibur. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait