Jimmy @ Cerita Pendek Kehidupan

cerita keluarga pendek wanita jadi ibu angkat anaknya sendiri

Jimmy adalah cerita keluarga pendek yang ditulis oleh Dina Suciati. Berkisah tentang seorang wanita, petugas kesehatan, yang akrab dengan seorang anak. Kedekatannya dengan anak tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda bagi dirinya. Apakah itu ? simak dalam cerita keluarga ini.

Cerita Keluarga Pendek “Jimmy”

Dapur sudah kutata dengan rapi, di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam makanan,halaman depan rumahku pun sudah dari pagi-pagi tadi ku sapu menghilangkan bekas daun-daun kering yang berjatuhan dari pohon mangga di depan rumah yang baru saja kubeli ini, rumah mungil yang harganya cukup murah ku beli dari tabunganku selama aku praktek di beberapa rumah sakit besar sebelum aku memutuskan pindah ke kota yang kecil ini dan menjadi pegawai negeri sipil di sebuah rumah sakit umum di kota yang sangat sejuk ini.

Kota ini adalah tempat tinggal Mila sahabat terdekatku dari kecil hingga kini kami sangat dekat,meskipun selama ini hubungan kami hanya melalui telpon dan chatting lewat email, suaminya bertugas disini.

Aku tak ingin tamu istimewaku yang akan datang sebentar lagi menganggapku pemalas dan tidak suka bersih-bersih,walaupun terkadang aku memang suka lupa membersihkan rumahku jika sedang sibuk berkutat di depan komputer dan lukisanku.

Sekali lagi ku lihat seantero rumah mungilku ini rasanya semuanya sudah rapi,tinggal badanku yang belum tersentuh air dari pagi tadi karena sibuk membersihkan rumah,ku cium baju tidur ku baunya tak sedap !!

Aku harus segera mandi,waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 pagi,waktu yang di sebutkan Mila sahabatku malam tadi kalau tamu istimewaku hari ini akan datang mengunjungiku. Baca : cerita keluarga perempuan lentera.

“Aku tak kuasa menolak permintaannya untuk kerumahmu lagi Lia,dia sangat menyukai rumahmu terutama di pojok tamanmu yang penuh lukisan itu,sepertinya dia sama sepertimu, sangat suka dengan lukisan”terang Mila di telpon malam tadi.

Aku harus bersiap-siap menyambut tamu istimewa ku itu,ku pakai baju yang paling bagus setidaknya bagus di mataku,karena aku tak suka belanja baju,rasanya aku sudah cukup rapi setelah sekian lama mematut diriku di depan cermin,terdengar bunyi klakson mobil di depan rumahku,tamu istimewaku telah datang, tak sabar ku sambut dia,ini kali ke dua dia berkunjung kerumahku,minggu lalu dia hanya sebentar di rumahku ini.

“Hallo tante Lia” suaranya begitu merdu di telingaku

“Hallo Jimmy” aku meraihnya dalam pelukanku, aroma tubuh nya ku cium dalam-dalam sangat harum,aku mencium pipi gembulnya dia meringis.

“Iiihh tante….. Jimmy udah gede” ujarnya sambil tersenyum malu-malu.

Mila tertawa melihat tingkah Jimmy dan melambaikan tangannya tanpa berniat turun dari mobilnya.

“Nanti sore ku jemput” katanya masih dari dalam mobilnya dan melambaikan tangan ke arah kami,aku hanya mangangguk.

Jimmy berlari masuk ke dalam rumahku aku sudah tau kemana arah jimmy dia pasti ke sudut taman di belakang rumahku yg di penuhi kanvas lukisanku,dia memainkan kuas yang ada di atas meja di dekat kanvas lukisan yang belum kuselesaikan. Baca : cerita cinta segitiga pacar rahasia.

“Jimmy mau melukis….?” tanyaku dia mengangguk “kalau menggambar dulu di buku gambar ini gimana?” ujarku sambil menyodorkan sebuah buku gambar berukuran agak besar dan sekotak pencil berwarna.

“Nanti kalau Jimmy sudah pintar menggambar di buku gambar,baru deh melukis di kanvas itu” kataku sambil menunjuk ke arah lukisanku yang belum selesai itu,aku tak mau bajunya kotor kena cat minyak jika dia mulai melukis di kanvas sepertiku.

“Oh begitu ya tante,Jimmy kira anak kecil boleh melukis seperti tante”katanya lugu bibirnya sedikit dimonyongkannya tanda dia tidak begitu suka,bola matanya begitu teduh dan jernih ingin rasanya kupeluk dan ku cium dia sekali lagi tapi niatku kuurungkan ketika ku ingat dia tak mau di cium tadi.

“Bukan tidak boleh Jimmy, nanti baju Jimmy kotor kena cat itu,dan bekasnya akan susah hilang biarpun sudah di cuci” jawabku sambil mencubit pelan pipi yang berwarna merah muda itu,dia melihat ke arah baju yang di pakainya, sebuah t-shirt berwarna putih dengan paduan jeans membuatnya tambah tampan dengan kulit putihnya.

“Iya deh Jimmy menggambar di buku ini saja” ujarnya sambil meraih buku gambar di tanganku,dia sudah mulai menggambar tangan mungilnya bergerak pelan membentuk sebuah gambar gunung, aku pun mulai melanjutkan lukisanku,hening tanpa suara,moment yang selalu ku impikan selama ini. Baca : cerita cinta sedih saat aku ternodai.

“Tante…, jadi seorang dokter itu apakah menyenangkan ?”tanya nya sambil mewarnai gambarnya.

“Iya…. jadi dokter sangat menyenangkan”jawabku sambil menoleh kearahnya.

“Tante sering menyuntik orang…?”tanyanya lagi kali ini dia menghentikan gerakan tangannya.

“Tante tidak menyuntik orang, sayang….,tante hanya memeriksa dan menuliskan resep obat,jika orang yang tante periksa butuh di suntik nanti akan ada yang menyuntiknya,dan itu bukan tante” jawabku sambil tersenyum,mulutnya membulat membentuk huruf O,sangat lucu.

“Kenapa…. Jimmy mau jadi dokter seperti tante?”ujarku

“Tidak tante,Jimmy mau jadi polisi seperti papa!!”jawabnya lugas,Bram suami Mila memang polisi dan mungkin hampir semua anak seusia jimmy ingin menjadi polisi, dia meneruskan mewarnai gambarnya lagi, gambarnya bagus untuk ukuran anak umur 5 tahun sepertinya, benar kata Mila dia sepertiku bakat melukisnya sudah mulai kelihatan, aku selalu melukis bila sedang tidak ada kegiatan di sela-sela tugasku sebagai dokter.

“Jimmy…, Jimmy mau makan ?” tanyaku ketika kulihat jam sudah menunjukan pukul 12

“Nanti tante, Jimmy belum lapar”jawabnya aku hanya mengangguk,Mila berpesan Jimmy akan meminta makan hanya jika dia sedang lapar jika belum dia tak akan menyentuh makanan yang di berikan,aku harus membiasakan diri dengan kebiasaan Jimmy yang satu ini.

Jimmy sangat rapi itu kulihat dari caranya yang selalu memasukkan kembali pencil berwarna itu ke dalam kotaknya setiap dia selesai mewarnai,Mila sangat mendidiknya dengan baik,Jimmy juga sangat sopan selalu menanyakan boleh atau tidak jika ingin menggunakan sesuatu.

Jimmy mulai menyelesaikan gambarnya sebuah gambar pemandangan gunung dan pantai yang di warnainya dengan apik.

“Tante…. Jimmy mau makan”ucapnya sambil merapikan kotak pencil berwarnanya,kami menuju dapur,aku sedikit was-was kalau saja Jimmy tak suka dengan masakanku, aku jarang masak,di rumah sakit tempat tugasku terkadang di sediakan makan siang atau makan malam jika aku dapat shif jaga malam,tapi aku dapat bocoran dari Mila kalau Jimmy suka ayam goreng,jadi sudah ku siapkan ayam goreng mudah-mudahan dia suka.

“Tante… Tante tidak takut dirumah sendirian?” katanya sambil mulai makan ayam goreng buatanku,dia sangat banyak tanya pikirku,lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan aku senang dengan pertanyaannya.

“Kadang-kadang tante takut, Jimmy mau menemani tante disini ?” tanyaku balik.

“Jimmy tidak bisa tante, adek Difa nanti siapa yang nemenin ? kasian kalo adek Difa nanti tidak ada teman” jawabnya sambil memainkan kakinya yang mengantung di kursi makan itu, Difa anak Mila yang baru berusia 2 tahun. Baca : cerita keluarga selamat tinggal anakku.

“Jimmy suka di sini… tapi Jimmy kasian ninggalin adek Difa,Jimmy akan main kesini setiap hari minggu,boleh kan tante….?” ujarnya kali ini dia memasang wajah memelas, ingin rasanya ku peluk begitu mendengar permintaannya

“Boleh Jimmy…. tante sangat senang kalau ada Jimmy di sini, tante jadi tidak kesepian” ujarku sambil menyentuh lembut rambut ikalnya, rambut yang mengingatkanku pada seseorang.

Kami sudah selesai makan,Jimmy dengan tekun membantuku membersihkan meja makan dan merapikan kursi kembali ke posisi semula sebelum kami makan,sangat rapi lagi-lagi aku terpesona dengan sikapnya yang sangat mandiri.

“Jimmy suka main PS ?” tanyaku, takut kalau dia sudah mulai merasa bosan di rumahku,PS itu sengaja baru ku beli,anak seusianya rata-rata sangat suka memainkan PS,jadi ku pikir jimmy juga akan menyukainya.

“Boleh…, tapi sebentar aja ya tante, mama bilang jangan lama-lama main PS nanti jadi nggak suka belajar, maunya main PS terus” jawabnya yang juga membuatku tersenyum,Mila memang benar-benar seorang ibu yang baik kataku dalam hati. Baca : cerita cinta remaja ceritaku.

Hanya setengah jam Jimmy memainkan game PS itu, dia ingin tidur siang,mungkin ini satu lagi kebiasaan baik yang di ajarkan Mila pada Jimmy,dia tidur sangat nyenyak,aku memandang wajah polosnya yang sangat tampan ketika dia lelap dalam tidurnya perlahan ku cium keningnya,tak sadar air mataku menetes,seandainya Mila tak mencegahku ketika ingin mengugurkan kandunganku 5 tahun yang lalu tak akan pernah bisa kupandangi seraut wajah mungil yang sedang di hadapanku ini,Mila selalu menyemangati aku yang sedang kalut hamil di luar nikah dan Bryan pacarku,lelaki berambut ikal yang saat itu sama sekali tak mau bertanggung jawab,aku ingin menggugurkan kandunganku karena ketika itu aku sedang kuliah kedokteran di tahun akhir,Mila berjanji akan merawat anakku bersama Bram,entah apa yang akan terjadi bila tak ada Mila dan Bram di dalam hidupku.

“Kamu harus menyelesaikan pendidikanmu, aku akan merawat anakmu, kamu bisa kembali mengambilnya kembali ketika kamu sudah berhasil, Lia…” kata-kata Mila selalu terngiang di telingaku.

Aku tertidur sambil memeluk Jimmy ketika terdengar suara klakson,pasti mobil Mila,Jimmy juga terbangun dan langsung turun dari tempat tidur,dia menemui Bram yang menunggu di mobil bersama Difa.

“Jimmy tidak merepotkanmu kan?” tanya Mila padaku,aku menggeleng lemah dan mulai menangis,Mila memelukku.

“Jika kamu sudah siap menerimanya aku akan menyerahkan Jimmy padamu” ujarnya sambil menghapus airmataku yang mengalir tanpa bisa ku hentikan. Baca : cerita pendek cinta.

“Tidak Mil, aku tak ingin hatinya terluka, dia sangat menyayangimu dan Bram, biarlah dia tetap bersamamu, kasih sayang yang kau dan Bram berikan mungkin tak akan pernah bisa dia dapatkan dariku” kataku masih dengan air mata yang membanjiri pipiku.

“Baiklah jika itu keputusanmu Lia,aku dan Bram pun sangat menyayanginya dia telah memberi warna di dalam rumah kami, tapi satu yang harus kau ingat Lia, dia darah dagingmu jika suatu saat dia mengerti dengan semua keadaannya kamu harus menerimanya dengan tangan terbuka” ujar Mila lagi, aku mengangguk keras, biarlah waktu yang akan membawa sampai kemana akhir dari penantianku agar bisa bersama Jimmy selamanya.

“Tante… bolehkah Jimmy menunjukkan gambar ini sama papa ?” suara Jimmy yang sedang memegang buku gambar mengejutkanku, tiba-tiba aku teringat dengan Bram yang masih menunggu di dalam mobil.

“Ya Jimmy… Jimmy boleh menunjukkan sama papa,tapi gambar Jimmy itu boleh untuk tante kan?” tanyaku hati-hati.

Dia mengangguk dan berlari keluar menemui Bram,keakraban yang sangat natural antara Bram dan Jimmy aku tak ingin merusak itu,Jimmy telah menemukan orang tua yang sangat pantas di milikinya bukan sepertiku dan Bryan yang pernah sama sekali tak mengharapkan kehadirannya di dunia ini,biarkan kebahagiaan itu selalu hadir di dalam kehidupan Jimmy…..

Jimmy menyerahkan lagi buku gambar itu padaku setelah menunjukkan pada Bram dan kemudian bersama Mila dia berpamitan ingin pulang,aku mencium pipi merah mudanya lagi,dan sama seperti pagi tadi dia meringis risih tak mau kucium. Baca : cerita cinta romantis seperti itu ku mencintamu sampai mati.

“Daah tante minggu depan Jimmy ke sini lagi yaaa” suara mungil itu terdengar dari kejauhan setelah dia masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan mungilnya.

Aku hanya tersenyum dan juga melambaikan tanganku…

“Ibu selalu menantimu nak….ibu sangat mencintaimu…” Bisikku dalam hati.


Terima kasih telah membaca cerpen cerita keluarga pendek kami, baca juga cerita pendek kami lainnya dan berikan jempol serta bagikan melalui facebook, google+, twitter, pinterest dengang mengklik ikon dibawah.

Dibagikan

Dina Suciati

Penulis :

Artikel terkait