He, Just About

cerita cinta gadis kembar

He just about, merupakan cerita cinta gadis kembar yang terpisah sejak kecil karena sang lelaki mencinta saudara kembarnya. Cerpen ini menceritakan bagaimana persaingan cinta dapat memutuskan tali persaudaraan. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak cerpen berikut.

Cerita Cinta Gadis Kembar – He, Just About

Tidak tahu kenapa diriku hanya memikirkan dia. Hanya tentangnya. Bahkan aku juga tiada memahami kenapa hatiku suka pada perasaan seperti ini. Selalu bimbang sendiri ketika memikirkan segala hal tentangnya; senyumnya jauh dari kata angkuh, begitu ramah juga baik.

Oh, hatiku juga rindu tatapan mata tegas dan tanang darinya. Dia juga sangat tampan. Selain itu… hidungnya mancung serta tinggi badannya ideal.

Ku tahu tiada ada manusia sempurna, tetapi dirinya tampak begitu sempurna di mataku. Hatiku menyukainya, sebelum maupun sesudah ku tahu satu kenyataan pahit. Meskipun perasaanku tetap sama.

Ku tidak mau semua orang tahu, tiada perlu kutunjukan lagi rasa sayang ini untuknya.

“Aku mau semua nampak baik-baik saja,” kataku pada diri sendiri.

Sangat ku sesali pertemuan pembuatku jatuh cinta padanya. Dan juga menyesal ketika takdir tiada mengijinkanku untuk menjaganya atau tetap berada disisinya saat ia sakit.

Cinta memang tak selamanya harus bersanding di tempat sama. Cinta tidak bisa menyakiti orang lain, Diriku tak mau saudara kembarku terluka hanya karena keegoisanku. Dan tak mau jadi orang bodoh merebut seorang laki-laki dari tangan saudaraku sendiri.

Diriku tetap sadar. Tetap menjadi Illa lugu lagi pendiam. Lalu kubiarkan rasa ini bicara pada diri sendiri. Namun cinta tetap ada, tetap hidup meskipun tiada akan pernah memilikinya.

***

Sejak awal hatiku tiada mengerti kenapa perasaan aneh terus muncul. Membuatku bingung sekaligus senang pada waktu sama. Kenapa, kenapa harus diriku berada diantara mereka? Dan kenapa hatiku harus menyukai orang sama dengan saudaraku ?

Sejujurnya cinta tidak pernah salah, mungkin diriku tiada bisa mengendalikan diri sehingga jatuh cinta pada Bian. Dan akibatnya ketika Ifa mengenalkanku padanya, hatiku jadi hancur. Entah jadi debu atau bercak hitam tanpa bisa hilang bekasnya. Pastinya hatiku terluka. Diriku menangis siang malam karena terlanjur mencintai Bian. Hanya ada satu kemungkinan; diriku harus terlihat baik-baik saja di mata semua orang.

Tak seharusnya semua ini terjadi, memikirkan dia, memikirkan Ifa, tetapi lupa memikirkan diriku juga bagaimana perasaanku saat ini. Yang pasti diriku seperti sudah terjun ke dalam jurang curam dan nyawaku sudah melayang. Tak tertolong lagi.

Namun di saat kehancuran itu datang aku malah teringat dia. Bian. Kenapa harus dia yang selalu muncul dalam ingatanku?

Begitu banyak laki-laki yang aku jumpai di sepanjang jalan, di kantor, di bioskop, pesta dan banyak lagi… tetapi kenapa harus dia?

Tidakkah bagiku dunia ini terlalu sempit? Dan hatiku masih mengeras untuk tetap mencintai dia. Walau aku tahu rasanya sesakit ini, aku tetap jatuh cinta padanya. Pada jurang curam yang mematikan.

Aku terlanjur terjun bebas memeluk rasa itu. Aku hanya bisa memejamkan mata sesaat sebelum tubuhku mendarat dan menghantam bebatuan tajam. Mendadak aku terbangun dari mimpi buruk ini, aku masih ingin hidup untuk melihat dia sekali lagi.

***

Sehari setelah pertunangan Ifa dengan Bian… ku datangi dengan senyum ramah namun terluka. Hanya diriku yang tahu bagaimana luka tersebut tumbuh, lalu bersanding bersama perasaan-perasaan lain hingga membuatku buta pada cinta. Mataku tak bisa memandang lainnya. Asa ku sudah mematri diri padanya, Bian.

Sejarah tak mungkin terulang namun tak mungkin dihapuskan. Akan ku buat semua orang tidak tahu tentang perasaanku maupun pada pertemuan pertamaku dengan Bian. Akan ku simpan sendiri rasa cukup dalam ini.

Namun saat hampir pergi dari kehidupan mereka, Bian justru menarikku lagi. Satu hari setelah pertunangan terjadi kami bertemu di pekarangan belakang. Dia membawaku kesana lalu memegang pundakku erat sembari berbisik.

“I know you love me…”

Hatiku sungguh terkejut. Sebelumnya tak pernah ku katakan pada siapapun bahwa hatiku menyukainya, lalu bagaimana dia tahu ?

Mataku masih terbuka lebar sambil menahan napas. Dadaku rasanya sesak.

“Jangan pergi dariku, La. I miss you everytime.”

Kali ini semua badanku terasa kaku. Tak bisa bergerak sama sekali. Rasanya seperti baru terangkat dari jurang curam, Bian menarikku ke dunia indahnya. Membuat hatiku merasa senang walau hanya sesaat.

Aku merasa senang sekali… sesaat sebelum Ifa mendadak muncul di depan kami lalu menampar Bian dengan sangat keras.

Sakit. Pasti rasanya sakit sekali.

Ifa tidak mengatakan sepatah katapun namun ku tahu jelas bahwa dia marah, kecewa, sedih juga entahlah… jelas dari tatapan matanya ia sangat membenciku.

Setelah kejadian tersebut baik aku, Ifa maupun Bian tidak pernah saling bertemu. Diriku tidak pernah menghubungi Bian, walaupun dia selalu berusaha menelponku setiap saat. Aku pernah datang sekali ke rumah Mama lalu bertemu Ifa. Sayangnya tidak sempat meminta maaf secara langsung padanya, dia sudah jelas-jelas marah sekaligus membenciku sehingga begitu diriku masuk ke dalam rumah dia langsung pergi.

Aku tidak menyalahkannya. Tetapi hatiku juga lelah karena terus menerus menyalahkan diri sendiri.

***

Harusnya diriku tidak disana. Harusnya tidak usah menonton pertunjukan teater pada Sabtu malam sehingga tidak harus bertemu dengan Bian lalu jatuh cinta padanya. Ya, semua memang terjadi begitu cepat.

Baru saja hatiku dihadapkan pada perasaan tak bisa ditahan karena meluap-luap sendiri. Saat dimana kebahagiaanku seperti bertambah banyak dan besar. Namun pada akhirnya harus ku buang lagi. Seorang diri ku coba mengubur semua rasa ini.

Beberapa hari belakangan diriku sudah tak mendapat kabar Bian lagi, aku juga jauh dari keluargaku, bahkan diriku serta saudara kembarku sudah tak saling mengenal. Sejak lahir kami memang terpisah, keluarga kami berpisah sejak Mama dan Papa bercerai. Hubungan tidak baik berlanjut seperti ini; perang dingin antara diriku dan Ifa.

Tak ada pembelaan tentang cinta yang pernah ada. Tak ada hal perlu ku ingat. Dan tidak ada hati lebih terluka selain diriku sendiri, karena setahun kemudian Ifa bersama Bian tetap bahagia atas pernikahan mereka.

Aku tidak datang. Tidak ingin menjadi duri dalam kebahagiaan mereka untuk kedua kalinya. Tetapi, hatiku masih tetap mencintainya. Sudah ku coba untuk melupakan, tetap tiada bisa.

-Selesai-


Terima kasih telah membaca cerita cinta gadis kembar. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat untuk menginspirasi dan memotivasi sobat muda Bisfren sekalian. Salam sukses selalu buat pemirsa semua.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait