Kalau bertemu lagi

cerpen cinta romantis

Kalau bertemu lagi adalah cerpen cinta romantis remaja tentang perpisahan berakhir kebahagiaan dua mahasiswa. Mereka berpisah setelah wisuda sarjana lalu bertemu lagi dan sang lelaki siap untuk melamar. Sebuah cerpen penuh kejutan yang menarik, mungkin bisa disebut sebagai Taaruf Lalu Menikah. Mari simak selengkapnya pada cerita pendek berikut.

Cerpen Cinta Romantis – Kalau bertemu lagi

“Nanti pasti bisa ketemu lagi kok”. Aku masih ingat kata-katamu hari itu. Hari dimana kita mengawali perpisahan ini : kamu dengan urusanmu, aku dengan urusanku. Hari dimana kita melangkah untuk mengambil jarak sejauh-jauhnya. Kamu entah dimana, diriku entah dimana. Hari wisuda perguruan tinggi adalah hari yang memiliki dua sisi seperti uang logam. Satu sisi adalah kebahagiaan dan satunya adalah kesedihan. Setidaknya begitu bagiku.

Mungkin kamu tidak pernah tahu, aku begitu takut dengan hari wisuda. Takut, karena setelah hari itu datang, tidak akan ada lagi hari-hari dimana aku bisa berpapasan tidak sengaja denganmu. Tidak akan ada lagi hari-hari yang penuh dengan namamu. Pada akhirnya, setelah hari kita berwisuda, disitulah semua cerita ini akan berakhir. Dan aku sungguh-sungguh tidak menginginkannya.

Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu, apakah kamu juga merasa sedih sepertiku ? Apakah ada segumpal perasaan sesak maha hebat memenuhi rongga dadamu ? Apakah matamu terasa panas bahkan hanya untuk sekadar membayangkan sebuah hari tanpa kita ? Rasanya tidak tahu. Empat tahun mengenalmu pun masih tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam hatimu. Karena seperti yang pernah kamu katakan, apa yang tersembunyi di dalam sana hanya Allah dan kamu-lah yang tahu.

Tanpa bisa ku cegah, hari itu akhirnya datang. Kamu terlihat bahagia, tersenyum sepanjang hari. Berfoto dengan banyak orang. Bersalaman dengan banyak teman. Menerima banyak bunga dan hadiah. Sampai akhirnya, ada saat dimana aku dan kamu, juga teman-teman kita lainnya berfoto bersama. Aku berdiri di sampingmu. Berusaha keras untuk tidak melihat ke arahmu, meski hatiku sangat ingin. Tidak, tidak boleh. Karena bisa saja air mataku jatuh tanpa diminta. Aku bisa saja beralasan, hari ini begitu mengharukan, misalnya. Tapi aku takut tidak sanggup untuk sekadar berkata-kata, hatiku takut kamu membaca makna yang tersembunyi di dalam mataku.

Wisuda sarjana yang membahagiakan sekaligus menyedihkan

“Selamat ya, akhirnya jadi sarjana juga.” Katamu.

Aku cuma mengangguk kecil. “Kamu juga.”

Kemudian hening lagi, tidak ada yang membuka suara. Keramaian masih membungkus kita. Orang-orang maish sibuk berfoto disana-sini. Tertawa bahagia. Saling bertukar kalimat “Jangan lupakan aku ya.”. Tidak ada yang memperhatikan dua pasang manusia yang saling berdiam diri di antara semua keramaian itu.

“Habis ini…”Akhirnya aku bersuara tanpa melihat ke arahnya. Suaraku sangat pelan, hampir terkalahkan dengan keramaian yang ada. “Habis ini kita, mmm kita semua, bakal sibuk dengan urusan masing-masing ya ?” Aku mengangkat kepalaku dan menemukannya sedang menatapku. “Rasanya sedih.” Kataku lagi dengan suara yang hampir tercekat. Andai kamu tahu, aku berusaha sangat keras menahan air mata untuk tidak terjatuh dengan seenaknya.

Kamu diam, kemudian menatap ke arah keramaian. Entah apa atau siapa yang kamu tatap. Kemudian kamu membuka mulut. “Nanti pasti bisa ketemu lagi kok.”

Bibirku tersenyum kecil, dengan rasa sedih masih tersisa. “Iya, kayak kalau kamu nyebar undangan misalnya.”
Dan kamu tertawa. “Iya, atau kamu yang ngasih undangan.”

Kalau kamu memperhatikan, tawaku di akhir pembicaraan kita itu sama sekali tidak menyenangkan. Tapi kamu, kamu tidak memperhatikan sama sekali. Ah, mungkin memang empat tahun ini hanya tentang aku saja bukan? Aku yang terlalu melebih-lebihkan semua sikapmu yang sebernarnya biasa-biasa saja. Dan pada akhirnya, sakit hati itu memang kita sendiri yang menciptakannya.

Dua tahun setelah berpisah

Sekarang, setelah dua tahun perpisahan kita, aku kembali ke kota ini. Kota yang telah berjasa menciptakan kenangan-kenangan tentang kita. Kota yang begitu jahilnya mempertemukan kita.

Kota ini masih sama. Sepanjang jalan masih dipadati oleh kendaraan. Macet disana-sini. Kampus tempat kita belajar dulu pun masih sama seperti yang terakhir aku ingat. Ah, kembali ke kota ini seperti diajak untuk kembali menjadi mahasiswa. Saat kita masih sama-sama saling mengandalkan. Sekarang, apa kabar dirimu ?

Kabarku baik-baik saja. Bahkan semakin baik setelah hari perpisahan yang dulu begitu aku ratapi. Ternyata, semua kesedihan obatnya hanyalah waktu. Dan semua perasaan pegal-pegal yang pernah menghinggapi hati ini bisa terobati dengan ikhlas. Awalnya berat sekali, berat sekali untuk mengikhlaskanmu. Tapi, itu satu-satunya cara untuk aku bisa melangkah ke depan. Setelah hari perpisahan itu aku menyadari, bisa jadi semua perasaan sesak itu adalah cara Allah menegurku. Mungkin Dia cemburu melihatku sangat mengharapkan seseorang lebih dari padaNya.

Bukankah hanya kepadaNya-lah manusia bisa berharap tanpa menuai kecewa ? Maka, aku menata hatiku kembali. Mengelolanya dengan lebih baik lagi.

Hari ini, aku kembali ke Kota ini bukan hanya untuk mengingat kenangan. Kita berjanji untuk bertemu, ada sebuah undangan harus ku berikan kepadamu.

Janjian ketemu di rumah makan Jepang

Pukul empat sore, di Kota yang membawa nostalgia, di sebuah tempat makan bernuansa Jepang kita bertemu kembali. Kamu sudah duduk dengan pakaian rapih di salah satu bangkunya. Sebuah kemeja berwarna biru yang dipadu dengan jeans hitam. Kalau dulu, kamu lebih sering menggunakan kaus dan jaket. Aku tersenyum mengingat aku masih bisa mengingat sesuatu yang kecil tentangmu. Ah, jangan-jangan aku belum seikhlas itu ?

“Nunggu lama?” Kataku sambil menarik sebuah bangku di depannya. “Mana temanmu ? Kita ngga cuma berdua ‘kan ?”

“Eh udah dateng. Mm, dia agak telat. Sori.”

Aku mengangguk. “Oke, ngga apa-apa. Udah pesen ?”

Kamu mengangguk. “Mau pesen juga?”

“Boleh deh. Aku mau pesen…”

“Ramen chicken teriyaki kuahnya kare.” Katamu memotong kalimatku. Aku menatapnya dan tertawa kecil. “Dih, masih inget aja.”

“Iyalah. Kalau makan kesini pasti pesennya itu. Gimana ngga hafal coba?”

Aku hanya tertawa menanggapinya. “Aku pesenin minuman aja.” Kamu beranjak dari kursi dan memesankan sebuah minuman untukku.

“Sebenernya aku ngga bakal lama kok.”

Minuman kami datang bersamaan. Aku menarik strawberry milkshake-ku dan mengaduk-aduknya. “Cuma mau ngasih sesuatu kok.”

“Ngasih apaan ?”

Aku mengeluarkan sesuatu dari tasku. Sebuah undangan. Meletakkannya di atas meja dan menggesernya ke arahnya. Kamu menatap undangan itu sebelum menatapku. “Kamu mau nikah ?”

Aku tertawa. “Iyalah, mau. Siapa yang ngga mau nikah ?” Aku menatapnya lagi sebelum meneruskan kalimatku.

“Tapi itu bukan undanganku. Itu undangan temanku. Dia titip buat dikasihkan ke kamu.”

“Ohh.” Ada sebuah kelegaan yang tidak berusaha kamu tutupi. Mataku menatap raut wajahmu sekilas, kemudian menunduk lagi menatap strawberry milkshake-ku. Apa itu ? Kenapa kamu harus menunjukkan kelegaan seperti itu ? Ah, aku tidak ingin terjebak dalam dugaan yang berujung pada kekecewaan lagi. Biarlah, biar aku tidak perlu tahu saja.

“Kalau kamu, kapan ?”

Setelah keheningan sesaat, kamu melontarkan pertanyaan lagi. Aku mengangkat bahu. “Belum tahu. Belum ada yang berani ketemu ayahku. Hehehe.”

“Hm.”

Loh kok … dia mau nikah tergantung aku. Berarti ….

“Kalau kamu sendiri ?” Tanyaku. Jujur saja, ada takut yang menyergap saat aku melontarkan pertanyaan itu.

“Tergantung.” Katamu tanpa menatapku, sibuk mengaduk-aduk minuman sendiri.

“Tergantung? Apa?”

Kamu mengangkat wajah dan menatapku. “Tergantung kamu siapnya kapan.”

Demi mendengar kalimat itu, aku merasa waktu seakan berhenti. Rasanya bahkan jantungku berhenti berdetak. Apa ? Apa katanya tadi ? Tergantung aku ?

“Ngga lucu ih.” Kataku akhirnya.

“Lah ? Yang bilang lucu siapa ?” Kamu menatapku sekali lagi, kemudian kembali pada minumanmu. “Yang tadi itu serius.”

Aku diam, kamu diam. Sama-sama diam seperti ABG pacaran di cerpen cerita romantis.

Ternyata waktu acara wisuda itu dia juga sedih

“Inget waktu hari wisuda kita ?” Katamu. Aku mengangguk. “Bukan cuma kamu yang ngerasa sedih, saya juga.”

Aku tetap diam. Kamu melanjutkan kalimatmu. “Tapi saya ngga mau sedih lama-lama. Saya berjanji, kalau kita ketemu lagi, saya akan siap untuk mengganti kesedihan itu dengan kebahagiaan.”

Kamu menarik nafas panjang. “Kalau kamu ngga keberatan, boleh minta kontak ayahmu? Saya mau membicarakan soal undangan atas nama kita.”

Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Kamu membiarkanku menangis. Tidak lama kemudian, teman yang kamu maksud datang. Ternyata temanmu itu adalah temanku juga, seorang wanita berjilbab biru muda yang katanya menitipkan undangannya untukmu, tetapi sebenarnya dia merencanakan pertemuan kita. Aku menangis dipelukannya, kamu diam saja di bangkumu. Setelah berhenti menangis, kamu bilang “Tuh kan, pasti nanti bakal ketemu lagi.”

Ah, rencanaNya sungguh-sungguh diluar rencana kita. Begitu indah. Begitu romantis dengan segala kerahasiaanNya.


Terima kasih telah membaca cerpen cinta romantis Kalau Bertemu Lagi. Semoga cerita ini bisa menghibur dan memberi manfaat dalam kehidupan. Jangan lupa baca cerita cinta Bisfren lainnya.

Dibagikan

Alvi Moona

Penulis :

Artikel terkait