Kamar Kosong

cerita misteri pendek

Kamar kosong adalah cerita misteri pendek tentang keluarga yang baru pindah rumah dengan banyak kamar. Pada kamar yang dibiarkan kosong itulah kejadian misterius terjadi. Mari kita simak cerpen seram berikut.

Cerita Misteri Pendek – Kamar Kosong

“Dani, barang-barang ini coba kamu simpan di kamar sebelah yang kosong itu ya. Siapa tahu nanti diperlukan lagi” perintah ibuku sore itu.

Tanpa berkata apa-apa, aku pun langsung membawa barang-barang yang sudah ditumpuk itu ke kamar kosong yang letakya tepat di sebelah kamarku. Barang-barang itu sebenarnya sebagian masih layak pakai, tapi karena kami baru pindah rumah, ibu membeli banyak perabotan baru untuk mengganti perabotan lama yang sudah terlihat kusam. Meskipun letaknya terpencil dan di pinggiran kota dekat hutan lindung, rumah baru kami cukup besar.

Bangunannya dua lantai dengan lima kamar tidur serta satu kamar pembantu. Aku tidak mengerti mengapa ayah membeli rumah sebesar ini sementara kami hanya tinggal berempat, aku, kakakku dan kedua orang tuaku. Yang aku dengar, ayah membeli rumah ini dengan harga sangat murah karena pemiliknya sudah lama pindah dan menetap di kota lain.

Saat memasuki kamar di sebelah kamarku, aku melihat jendela besar terpampang berhaadapan dengan pintu. Sama seperti kamarku, aku dapat melihat hijaunya hutan dengan sangat jelas.  Pucuk dedaunan yang tertiup angin terlihat indah gemulai seakan mengajak untuk pergi ke sana. Aku memang suka sekali keindahan alam. Makanya sekalipun jauh dari keramaian, aku suka sekali rumah ini. Sekali-sekali aku akan berkemah sendiri atau mengundang teman di hutan itu, kataku dalam hati.

Hari terus berlanjut. Aku dan kakakku, Dina, sepertinya tidak merasa lelah membantu membereskan barang hingga sore datang. Setelah makan makanan yang dibeli siang tadi, kami menutup semua jendela dengan gorden, membersihkan diri lalu mandi. Pekerjaan belum semuanya selesai, tapi kami butuh istirahat.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Selain terpengaruh suasana kamar baru, hentakan musik di kamar kakakku yang letaknya sama-sama di lantai dua cukup mengganggu telingaku. Tapi aku tidak ingin komplain, karena memang biasanya pada jam segini kami belum tidur. Lagipula biarlah dia menikmati kamar baru. Besok kalau semua barang sudah ditata, suara itu tidak akan terlalu keras terdengar karena teredam oleh perabotan.

Jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, mataku sudah mulai redup dan mulai masuk alam tidur, ketika tiba-tiba terdengar suara gaduh yang datang dari arah kamar di sebelah kamarku yang dipakai untuk menyimpan barang tak terpakai. Suaranya cukup keras untuk membuat aku kembali sadar dan membuat dinding dan lantai kamarku sedikit bergetar. Aku memasang telinga mencoba mendengarnya lagi, dan … bruk …!!! lagi-lagi suara itu terdengar. Aku memastikan itu suara pintu atau jendela yang dibanting. Saat itu juga hentakan musik di kamar kakakku berhenti. Suasana jadi senyap. Dia pasti juga mendengar suara itu.

Tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki melewati kamarku dan masuk ke kamar sebelah. Aku menyangka itu suara Kak Dina yang berlari masuk dan memeriksa kamar sebelah karena setelah itu aku tidak mendengar suara apapun lagi. Karena penasaran, akupun keluar  kamar. Kulihat pintu kamar sebelah tertutup. Aku mencoba membukanya tapi ternyata terkunci. Kuketuk perlahan “Kak … kak Dina … Kakak di dalam ?” tanyaku. Tapi tak ada jawaban.  Ku coba memutar kembali pegangan pintu dan ternyata kali ini bisa terbuka, aneh padahal tadi aku yakin sekali pintu itu terkunci saat aku putar.

Perlahan aku memasuki kamar itu, tapi tidak kulihat ada orang disana. Hanya tumpukan barang tidak terpakai dan daun jendela yang terbuka. Padahal aku yakin sekali jendela itu sudah aku kunci sore tadi. Kucoba menekan tombol saklar lampu yang ada di samping pintu, namun tidak bisa menyala.  Aku semakin penasaran. Mataku mencoba melihat lebih jelas sekeliling ruangan tetap tidak menemukan apapun hingga tiba-tiba terdengar suara anak perempuan lirih “Tolong aku …”. Aku benar-benar kaget. Tapi aku bukanlah orang penakut, aku sudah terbiasa berkemah di gunung dan hutan yang sepi. “Siapa itu !?” ucapku setengah keras takut membangunkan ayah dan ibu. Jujur saja, meskipun pemberani, bulu kudukku tetap sedikit meremang.

“Tolong aku … “ lagi-lagi suara itu terdengar.  Aku masuk dan berkeliling kamar yang gelap itu, perlahan, meneliti setiap langkah kaki. Tapi tidak juga dapat menemukan satu orangpun. Kini keberanianku mulai surut. Perlahan aku melangkah mundur menuju pintu keluar, lalu kututup kembali pintu itu.

Aku menunggu sejenak untuk memastikan tidak ada suara orang minta tolong lagi. Setelah beberapa jenak aku tetap tidak memdengarnya, aku pun masuk ke dalam kamarku dan berusaha tidur dengan suara yang tetap terbayang-bayang dibenakku.

Pagi hari, hari ini hari Jum’at. Aku dan kak Dina tidak kuliah karena kami memang sepakat untuk libur hingga hari Senin agar bisa menyelesaikan urusan membereskan rumah. Saat aku menanyakan perihal semalam kepada Kak Dina, dia terkejut. “Masa sih ?  aku kan stel musik sudah diprogram sampai jam 12 malam.” katanya.

“Benar kak, aku mendengar suara jendela dibanting itu jam 10 an,  tepat saat itu juga musik kakak mati. Terus aku mendengar suara langkah kaki. Aku pikir kakak. Ternyata tidak ada orang” jelasku meyakinkan.

“Ada apa Ndi ?” tanya ibuku yang baru masuk. Lalu kuceritakanlah peristiwa semalam kepada ayah, ibu dan kakakku. Mendengar cerita itu kakakku jadi ketakukan. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya dan caranya menjauhi kami.

“Mungkin kamu cuma mimpi Andi” kata ayahku usai mendengarkan ceritaku. “Kamu terlalu lelah secara fisik sementara mental kamu masih berusaha menyesuaikan dengan suasana baru sehingga otak kamu bekerja saat tertidur”. Ayah memang seorang yang mengerti masalah psikologi. Dan pekerjaannya sebagai psikolog membuat dia mengerti masalah kejiwaan orang.

“Tapi rasanya ngak mungkin yah. Aku sadar kok saat itu” jawabku sedikit ragu. Bisa jadi penjelasan Ayah benar. Dan kalau aku ingat-ingat kembali, saat kejadian itu aku sudah mulai masuk ke alam tidur.  Jadi mungkin saja sebenarnya kejadian itu ada di alam tidurku namun aku merasakannya seperti kejadian nyata.

“Kamu belum terbiasa dengan rumah ini. Aura dan energi rumah ini belum menyatu denganmu sehingga halusinasi bisa tercipta dan mengganggu. Kalau nanti sudah terbiasa hal itu akan hilang dengan sendirinya” jelas Ayah dengan senyumnya yang khas, yang selalu saja bisa menenangkan anak-anaknya, aku dan kakakku.

“Oh ya Ndi, nanti malam, pamanmu akan menginap disini bersama adik sepupu kamu Erin sampai hari Minggu. Biarlah mereka tidur di kamar bawah, sebelah kamar Ayah dan Ibu. Kamu dan kak Dina tolong bereskan kamarnya ya” kata ibuku menutup pembicaraan masalah kejadian semalam. Kamipun kembali melanjutkan kegiatan membersihkan rumah.

Sore itu paman datang bersama sepupuku yang cantik, Erin. Gadis itu hampir sebaya denganku. Hanya berbeda usia 2 tahun. Dia masih sekolah kelas 2 di SMA tempat aku dulu juga bersekolah disana. Erin terkenal luwes dan mudah bergaul. Saat kelas 1, kecantikan dan kepintarannya sudah populer dan menjadi bahan pembicaraan di sekolah sehingga membuat aku menjadi bangga kepadanya.

“Oh ya Dani, sebenarnya rumah ini Ayah beli sebagian menggunakan uang paman kamu. Dia yang sebenarnya tertarik untuk membeli rumah ini, tetapi karena dia sudah memiliki rumah dan Erin masih sekolah di kota, jadi tidak bisa tinggal terlalu jauh dari sekolah Erin. Jadi akhirnya dia menawarkan Ayah untuk membeli rumah ini dengan bantuan dia meskipun sebenarnya Ayah bisa saja meminjam uang dari Bank dan menyicil rumah ini” begitu kata ayahku sore itu sebelum paman datang. Aku hanya mengiyakan saja, karena tidak mengerti.

Menjelang malam, pamanku benar-benar datang bersama anaknya. Seperti dikatakan ayahku, mereka akan menginap hingga hari Minggu. Tidak masalah buatku. Semakin banyak oang yang tinggal di rumah sebesar ini semakin baik, kataku dalam hati.

Malam itu aku tidur tanpa mematikan lampu, meskipun aku pemberani, tapi aku juga punya rasa takut. Sekiranya tadi siang Kak Dina mengatakan dia mematikan musiknya pada jam 10, aku pasti tidak akan setakut sekarang. Masalahnya adalah, dia mengatakan menyalakan musiknya hingga jam 12 malam dan tidak mendengar suara yang aku dengar.

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Tapi tidak ada juga kejadian yang aku takutkan. Tanpa sadar mataku kian redup dan perlahan tertutup. Aku mulai tertidur ketika tiba-tiba selimut yang kupakai seperti disentak orang. Aku terjaga dan sekelilingku gelap padahal aku tidak mematikan lampu. Jantungku berdegup keras, mataku memicing mencoba menyesuaikan dengan lingkungan.  Aku baru saja akan bangkit menuju saklar lampu ketika tiba-tiba lampu menyala dengan cahaya redup. Aku tersentak. Pintu kamarku masih tertutup dan tidak ada satu orangpun disini. Nafasku memburu. Tanpa sadar aku berteriak “Toloooong… Toloooong…” berkali-kali tapi tidak ada satu orangpun yang mendengar.  Aku semakin panik.  Tanpa berfikir panjang segera melompat menuju pintu. Seketika aku membuka pintu, kulihat kelebat tubuh seorang gadis masuk ke kamar sebelah dan langsung menutup pintu. Aku yang tadinya hendak berlari turun jadi membatalkan niat. Segera saja aku mencoba membuka pintu kamar sebelah. Tapi terkunci dari dalam. Aku menggedor-gedor keras pintu itu dengan keras sambil berteriak “Buka … buka … !!!” teriakku. Kali ini kakakku terbangung. “Andi … !! ada apa ? ” tanyanya dengan mata masih mengantuk.

“Lampu kamarku tiba-tiba mati. Lalu aku melihat perempuan masuk kamar ini. Tapi pintu ini terkunci..  buka … !!!  buka ..!!!” jelasku dengan nafas memburu sambil terus berusaha membuka pintu. Kini ayah, ibu dan paman ikut naik ke atas. Mereka berusaha memegangi tanganku yang terus menggedor-gedor pintu sambil berteriak.

“Andi … ada apa Andi… sadar nak !!!” kata ibuku ketakutan dan hampir menangis. Tanganku dipegangi dua orang, ayah dan paman. Aku tidak bisa lagi menggedor pintu. Tenagaku pun mulai lemas. Tapi aku masih punya kaki. Ku tendang pintu itu sekuat sisa tenaga yang aku miliki. Dan … pintu itu pun terbuka. Di hadapan kami, jendela itu terlihat menganga, terbuka lebar dimana seorang gadis terjuntai tidak bernyawa dengan seutas tali terbelit di lehernya. Dan raungan pamanku, meruntuhkan tubuhku “Eriiiiiiinnnn……!!!”(DA)


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita misteri pendek kamar kosong. Semoga cerpen seram diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat untuk terus berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait