Kamu Cinta Pertamaku

cerita romantis pendek cinta pertama

Kamu Cinta Pertamaku adalah cerita romantis pendek tentang cewek naksir cowok tapi gak berani nunjukin karena dia gak yakin cowok itu belum punya pacar, dan si cowok juga gak nunjukin kalau dia suka. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen romantis berikut.

Cerita Romantis Pendek Kamu Cinta Pertamaku

Ku dengar derit pintu gerbang, aku terbangun. Kulihat jam dinding, sudah jm 2 malam. Suara mobil terdengar masuk ke dalam garasi. Ya itu suara mobil Andi, teman satu kos aku. Sudah biasa pulang jam segini, makhlum dia polisi di bagian reserse jadi pantas pulangnya nggak teratur.

Sebulan sudah aku kos di tempat ini, di rumah pensiunan guru yang sudah tua. Tinggal di kota kecil ini, hanya beberapa rumah yang menyediakan kamarnya untuk tempat kos.

Setelah muter-muter seharian, tanya sana-sini akhirnya aku temukan juga tempat kos ini dan ada satu kamar yang kosong. Pemilik kos adalah seeorang kakek tua yang sangat ramah. Hari pertama, aku tinggal di kos, Kakek Haji begitu pemilik kos biasa dipanggil begitu ramah dan tampak gembira sekali aku kos di situ. Sementara sampai beberapa hari, kamar di sebelahku tampak masih kosong dan tak tampak penghuninya. Menurut Kakek Haji penghuni kos itu seorang cowok, dia seorang polisi tapi jarang tinggal di kos.

Hingga suatu sore, ada suara mobil berhenti di depan rumah. Aku mengintip dari gorden kamarku. Kulihat sosok cowok tinggi besar, ganteng. Ketika cowok itu berjalan masuk ke garasi depan kamarku, aku buru-buru menutup gordenku, takut ketahuan. Entah mengapa hatiku begitu kencang berdetak. Ah…cowok itu ganteng banget, tak tahu mengapa keringatku begitu deras mengucur hingga dahi dan mukaku basah. Belum selesai aku mengusap keringat, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.

Segera aku membuka pintu. Uuupppsss ternyata cowok ganteng penghuni kamar sebelah. ” Hai…kenalin namaku Andi. Mbaknya penghuni baru ya..” Ucapnya ramah sambil menyodorkan tangannya.

“Ehh iya, kenalkan namaku Asti.” Ucapku sambil membalas uluran tangannya. Entah mengapa tanganku jadi gemetar ketika berjabat tangan dengannya.

“Boleh kita ngobrol ?” Ajaknya. Aku hanya mengangguk, dan akhirnya kami duduk di kursi depan kamar kami dan mengobrol panjang. Tak terasa kami asyik terlibat dalam obrolan yang cukup seru. Asyik juga cowok ini, sebagai seorang polisi dia nggak sombong, juga nggak angker. Sosoknya yang ramah dan humoris kayaknya dia lebih cocok jadi pekerja kantoran sih.

Dan hari demi hari berlalu, kami melalui hari-hari kami bersama. Kami masak bersama, bersih-bersih bersama. Kami yang masih muda, dianggap Kakek Haji seperti cucunya sendiri. Bahkan kami sering menemani Kakek Haji pergi keluar. Tak terasa kami seperti keluarga kecil.

“Hai As…kamu kok nggak pulang ?” Sapa dia suatu sore. Hari ini hari sabtu, pantas saja dia tanya begitu karena biasanya aku pulang seminggu sekali tiap hari sabtu.

“Enggak, besok aku lembur. Kamu nggak pulang ?”

“Nggak, aku ntar malem piket.” Ucapnya sambil makan kacang melihat aku yang lagi menyirami taman Kakek Haji.

“Kamu nggak malam mingguan As ?” Deg, kenapa dia bertanya begitu. Aku hanya diam saja, karena memang aku nggak punya pacar, jadi ya nggak pernah malam mingguan.

“Pacar kamu ntar nyariin kamu lagi.” Kok dia bilangnya gitu sih. Ingin rasanya aku bilang kalo aku nggak punya pacar, terus aku suka sama dia. Tapi mulutku seperti terkunci. Dan rupanya Andi juga tidak begitu peduli dengan jawabanku. Karena dia langsung ambil handuk dan masuk ke kamarnya. Mungkin dia mau mandi.

Begitu selesai siram-siram, aku juga buru-buru masuk kamar lalu menonton televisi. Tak berapa lama, ada yang mengetuk pintu kamarku. “As, aku keluar dulu ya, mau malam mingguan, kasihan cewek aku ntar. Oh ya, cowok kamu suruh kesini aja.”

Tak kuasa rasanya aku mendengar kata-katanya. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan, lalu buru-buru aku tutup pintu kamarku. Entah mengapa tak terasa mataku telah basah. Aku menangis, hatiku seketika hancur ketika tahu kalau dia sudah punya pacar. Tak berapa lama, pintu kamarku ada yang mengetuk lagi.

“As, nanti aku nggak pulang kos. Maaf makanan yang kamu masak tadi dimakan aja.” Ucap Andi dari luar, karena aku nggak membukakan pintu kamarku. Semakin hancur saja hatiku.

Hari-hari berikutnya sikapku dingin terhadap Andi, bahkan aku bersikap cuek terhadapnya. Aku nggak mau lagi masak buat dimakan bersama. Setiap kali pulang kerja, aku langsung masuk ke kamar dan malas keluar. Mungkin Andi merasakan perubahan sikapku.

Suatu malam dia ketuk pintu kamarku. ” Hai As, kamu sakit ya…kok lama nggak kelihatan ?” Tanya dia polos, sepertinya dia tidak menyadari kalo dia telah menyakiti hatiku. ” Nggak kok, aku capek.” Ucapku berbohong. ” Ya udah, aku kira kamu sakit. Mau ngobrol nggak?” Tanya dia. Aku menggeleng. “Nggak, aku capek.” Lalu aku menutup pintu kamarku. Ya Allah, aku nggak sanggup menghadapi semua, dia begitu baik tapi sayang dia bukan milikku.

Suatu malam, terdengar suara mobil di depan kos, lalu ada yang mengetuk pintu kamarku. Setelah aku buka, ternyata bukan Andi, dari postur tubuhnya yang tegap, aku kira dia polisi juga, mungkin teman Andi.

“Maaf Mbak, ini tadi Pak Andi jatuh, kakinya keseleo.”

Lalu kulihat Andi keluar dari mobil dan dipapah temannya yang lain. Aku segera membantu membukakan pintu kamar Andi. Lalu tubuh Andi dibaringkan di tempat tidur. Kemudian mereka berpamitan, kini hanya tinggal aku dan Andi di kamar ini.

“Maaf aku balik kamar dulu ya. ” Ucapku buru-buru, karena aku tak mau terbawa perasaan, aku tahu aku nggak boleh jatuh hati pada Andi.

“As…kamu marah ya padaku ?” Tanya dia.

“Nggak…” Jawabku sambil berlalu, tapi tangan Andi menahanku. “Kok sikap kamu berubah sih ?” Tanya Andi. Aku menghela nafas, tak terasa airmataku menetes. Aku nggak bisa menahan rasa ini. Aku memalingkan mukaku menghindar agar Andi nggak melihat airmataku. Tapi airmataku ikut menetes di tangannya.

“Kamu menangis ya ?” Tanya dia. Aku masih saja terdiam sementara tangan Andi masih memegang tanganku.

“Maaf Andi aku nggak bisa lama-lama disini.” Ucapku sambil melepaskan pegangannya.

“Kenapa ?”

“Nggak kenapa-kenapa.” Aku langsung beranjak dan tak kupedulikan panggilan dari Andi. Sampai di kamar aku melampiaskan tangisanku. Sementara hujan di luar, ikut menjadi saksi betapa sakitnya hatiku. Kenapa kamu harus datang di kehidupanku, kenapa kamu begitu baik padaku sehingga aku jatuh cinta padamu. Aku benci dengan keadaan ini, seandainya waktu berputar kembali, aku nggak ingin kenal denganmu. Aku ingin menjalani hari-hariku seperti kemarin saat aku belum kenal kamu, tanpa cinta di hatiku. Tapi kini, disaat rasa cinta itu hadir, justru aku harus kecewa. Tahu nggak sih kamu Ndi, baru kali ini aku merasakan cinta, walaupun umurku sudah 25, tapi hanya kamu cinta pertamaku.

Kulihat HP ku berbunyi, rupanya sms dari Andi. “Boleh minta tolong nggak As ? Tolong ambilkan minyak di lemariku.” Aku segera mengusap airmataku, walaupun lama terdiam tapi akhirnya aku berangkat juga ke kamar Andi.

Kulihat Andi tersenyum padaku, sementara mataku masih sembab. “Kamu nangis ya As?” Aku tak peduli dengan pertanyaan Andi. Harusnya kamu tahu Ndi, aku tuh menangis karena kamu. “Minyaknya dimana?” Tanyaku kemudian. “Di lemari.” Lalu aku mengambil dan menyodorkan pada Andi. ” Boleh minta tolong lagi nggak? Tolong oleskan di kakiku yang sakit ya.” “Aku nggak mau.” ” Kenapa?” Tanya dia heran. “Karena aku bukan pacarmu.” Ucapku sambil berlalu pergi dan tak peduli dengan Andi yang bengong dengan sikapku.

Sebentar kemudian HP ku berbunyi, telepon dari Andi. Tapi aku nggak mengangkatnya. Sebentar kemudian dia sms. “Kamu marah ya As ? Kamu kecewa karena aku sudah punya pacar?” Benci sekali aku dengan pertanyaan darinya. “Maafkan aku ya As, aku cuma bisa jadi teman kosmu, nggak lebih.” Aku langsung merebahkan badanku ke kasur, kubenamkan wajahku di balik bantal. Dan kuluapkan tangisanku.

Pagi harinya ada SMS dari Andi. ” Maaf As, bisa minta tolong nggak? Tolong ambilkan aku minum ya As.” Sebenarnya aku sangat enggan, tapi akhirnya aku kasihan juga. Aku bawakan air putih dari kamarku. “Ini minumnya, kalo mau sarapan aku bawakan roti.” Ucapku sambil menaruh roti dan air putih di meja kecil dekat tempat tidur. “Makasih ya. Ehm aku mau ke kamar mandi, bisa minta tolong aku dibantu ya.” Aku sejenak terdiam “Untuk yang ini kayaknya aku nggak bisa deh.” Aku nggak mau dia rangkul aku. “Sebaiknya Kakek Haji saja.” Ucapku. “Nggak mungkin, Kakek kan udah tua, mana mungkin dia mampu memapahku.” Iya ya, tapi aku nggak mungkin melakukan ini. “Cepat As, kamu mau aku pipis di sini.” Akhirnya aku bantu memapah Andi ke kamar mandi. Lalu setelah selesai membantunya ke kasur lagi.

Dan hubunganku dengan Andi selanjutnya aku begitu cuek dengan Andi, bahkan aku selalu menghindarinya. Walaupun jujur aku rasa cinta ini masih saja ada di hatiku. Walaupun tiap hari aku berusaha menepisnya.

Suatu hari badanku demam, lemas, untuk berjalan terasa sempoyongan. Untuk minta tolong Andi aku gengsi, akhirnya seharian aku hanya terbaring di tempat tidur. Hingga Andi mengetuk pintu kamarku.

“As, kamu di dalam? ”

“Iya…buka saja.”

Andi tampak terkejut ketika melihat aku terbaring lemah di tempat tidur.

“Kamu sakit ya As ? Kenapa kamu nggak bilang?” Akhirnya aku pasrah ketika Andi membawaku ke dokter. Dan ternyata aku harus opname ke rumah sakit, karena ternyata aku sakit tipus. Dan saat aku di rumah sakit, Andi selalu setia menemaniku. Karena orangtuaku ada di luar kota, dan aku sengaja nggak ngabari karena takut mereka repot dan kepikiran.

“Kamu nggak malam mingguan Ndi ? Kasihan pacarmu loh.” Sekarang lama kelamaan aku sudah bisa mulai menerima kenyataan kalau Andi memang sudah punya pacar. Dia tersenyum lalu menghela nafas panjang. ” Nggak punya pacar.” Jawabnya sambil menatapku.

“Ah bohong…kamu kasihan sama aku kan makanya bilang begitu.” Candaku.

“Beneran As…nggak.” Kali ini dia serius. Aku tak peduli karena kayaknya aku sudah nggak cinta lagi deh sama Andi, aku nggak mau sakit hati lagi. Lalu aku berbaring miring membelakanginya.

“As, kok kamu hadap sana sih ?” Andi protes. “Aku mau kentut tahu.” Dan saat itu juga terdengar bunyi kentutku yang lumayan besar. Seketika tawa kami pun pecah dan dia cubiti aku sampai aku teriak kegelian.

“Sudah ah…”

“As, aku mau ngomong sama kamu.”

“Ngomong apaan?” Dia menatapku lalu menggenggam tanganku.

“Apa-apaan nih?” Tanyaku heran.

“Kamu harus jadi pacar aku.”

“Nggak mau.” Ucapku sambil mencoba melepaskan genggamannya. Tapi Andi begitu kuat menggenggam tanganku. “Kenapa kamu nggak mau ?”

“Karena kamu sudah ada pacar, dan aku nggak mau.”

“As, aku baru sadar kamulah yang tulus mencintaiku. Aku sadar cintamu begitu besar padaku, aku tahu itu. Aku sudah putus, kamulah cinta aku. Kamu mau kan jadi pacar aku ?” Kali ini Andi sangat serius mengatakannya. Bahkan dia berlutut memintaku.

“Sudah ah, bangun…”.

“Terus jawaban kamu ?”.

“Ya iya aja lah.”

“Haaaaa…makasih sayang.” Dia langsung memelukku. Aku juga bahagia, karena sekarang dia jadi milikku. Terima kasih Tuhan


Terima kasih telah membaca cerita romantis pendek cinta pertama kami. Semoga cerpen romatis diatas dapat menghibur dan menjadi inspirasi bagi sobat untuk menulis cerita serta pengalaman pribadi. Salam sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait