Dan Kamu Tak Pernah Bertanya

curhatan patah hati

Dan kamu tak pernah bertanya adalah curhatan patah hati karena orang yang diharapkan justru memilih  untuk meninggalkan dirinya demi orang lain tanpa pernah bertanya seberapa besar cinta yang dipertaruhkan. Simak selengkapnya pada curhat berikut :

Curhatan Patah Hati – Dan Kamu Tak Pernah Bertanya

Entah mengapa hari ini terasa begitu aneh. Pagi ini aku melangkahkan kaki keluar rumah dalam terik matahari, dengan jiwa yang ceria luar biasa. Lantas, tiba-tiba saja hujan turun di sore hari, mengiringi ku yang pulang dengan dada sesak dan jemari yang harus ku genggam sendiri karena sesekali gemetar tak jelas. Saat ku telah siap untuk duduk diam berkontemplasi malam ini, hujan berhenti, tinggallah seulas mendung yang seolah memberi ruang bagi sunyi.

Aku membuka kembali buku bersampul turqoise karangan Falafu, “Memberi Jarak pada Cinta (dan Kehilangan-kehilangan yang Baik)”. Aku membuka kembali halaman-halaman yang telah bertanda warna-warni. Kamu tau, buku ini pernah satu kali menguatkan aku. Dan sepertinya ia akan menguatkan aku lagi saat ini.

“Aku tak pernah ingin membuatmu menjadi seseorang yang begitu menyakitkan untuk diingat. Aku tak pernah ingin membuatmu menjadi seseorang yang begitu sulit untuk dilupakan. Aku tak pernah ingin membuatmu menjadi seseorang yang terlalu kurindu hingga sesak dadaku. Aku tak pernah ingin membuatmu menjadi orang yang terlupa karena pada akhirnya aku lelah berdoa. Aku tak pernah ingin membencimu–karena aku tidak punya pilihan lain untuk mengakhiri segalanya.” [Setidaknya Aku]

Ada satu masa ketika terpikirkan olehku, “Kalau bukan denganmu, lantas akan dengan siapa lagi?”
Karena ada hal yang bisa kamu lakukan, dan orang lain tidak. Karena hal itu sebenarnya sudah cukup untuk membuatku menjawab, “I do”.

Namun, aku tau pasti kamu punya rencana dan target-targetmu sendiri. Kamu punya idealisme sendiri.
Saat itu aku merasa bahwa aku belum selesai dengan diriku. Masih ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Namun, kamu tak bertanya apa, dan mengapa aku belum mau menggenap. Pada akhirnya kamu pun tak pernah bertanya. Kamu hanya menepi lantas menghilang. Entah kamu sengaja, atau memang jarak dan waktu yang membuatmu menghilang.

Selama ini aku tak pernah berani untuk menunggu dan berharap untuk bisa denganmu. Karena aku tau, kamu pantas bersama orang lain. Saat aku sudah mulai membuka hati, saat aku mulai bisa memikirkan diriku dan hidupku sendiri, aku terlambat. Dan ternyata selama ini hanya aku yang merasa. Ternyata selama ini bukan aku. Iya, maaf, aku yang salah. Maafkan aku, dan segala pikiran bodohku ini. Kenyataan itu terkadang menyakitkan yaa.

“Aku tidak akan menjadi seseorang yang berbohong tentang patah hati yang aku rasakan. Karena bagiku, bila kamu benar-benar mencintainya–maka tentu saja kamu selalu memerlukan jeda untuk melupakannya. Tidak ada kesembuhan yang datang dari penyangkalan. Tidak ada cinta yang bisa pergi dari berpura-pura kuat. … ” [Bila Aku Tidak bisa Memilikimu, Aku akan Berhenti Menginginkannya]

Bila pernah terbesit dalam pikirmu aku sekuat itu untuk bisa melihatmu menggenggam tangan yang lain, kamu salah. Aku tidak sekuat itu. Maka jangan paksa aku. Aku butuh ruang untuk bisa menerima, karena aku tak punya pilihan lain selain merelakanmu pergi. Maka berilah aku ruang itu.

Sudah lewat tengah malam ketika ku selesai dengan serangkaian kata-kata tentang kamu–bukan, tentang aku yang patah hati karena mu. Lantunan “You” milik Ten2Five mengiringi malamku yang masih panjang. Sebagian karena mu, sebagian karena kopi yang kucicip petang tadi.

Terima kasih atas pilihanmu. I’m giving you up. Thanks. You’ve set me free.


Terima kasih telah membaca curhatan patah hati dan kamu tidak pernah bertanya. Semoga curhat sedih diatas dapat bermanfaat serta memberi inspirasi dan motivasi bagi sobat Bisfren sekalian dalam berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

ericha-up

Penulis :

Artikel terkait