Kania

cerita pendek persahabatan

Kania adalah cerita pendek persahabatan tentang dilema yang dialami dua gadis bersahabat karena harus menerima kenyataan salah satu dari mereka harus pergi dan berpisah. Bagaimana kisah cerpen persahabatan mereka ? silahkan simak pada cerita sahabat berikut.

Cerita Pendek Persahabatan – Kania

Sekolah sudah mulai sepi. Sebagian siswa sudah kembali ke rumah masing-masing. Sementara aku masih disini bersama Kania. Duduk di kantin, berhadap-hadapan. Aku memandang wajahnya tapi dia hanya  menunduk, memandang gelas es kelapa sambil memutar-mutar sedotan mengitari sendok di tengahnya. Terlihat jelas kegalauan dalam hatinya. Kegalauan yang menurutku tidak biasa dan bukan seharusnya.

“Jadi aku harus gimana nih Dania ?” tanyanya tetap menunduk dan memutar-mutar sedotan plastik. Ini adalah yang ke tujuh kalinya dia menanyakan hal yang sama kepadaku. Sebenarnya aku kesal juga ditanya yang itu-itu saja dan memberi jawaban berputar-putar yang intinya sama.  Tapi Kania adalah sahabat sejatiku. Bagiku dia melebihi saudaraku sendiri. Dia selalu ada saat aku membutuhkan dan aku juga selalu begitu.

“Kalau menurut aku kamu terima saja Nia.”

“Tapi aku gak bisa. Aku belum siap” jawabnya mulai terisak.

“Kamu pasti bisa Nia. Kamu kan selalu bilang sudah lama merindukan ibu kamu. Kamu juga selalu bilang kangen sama ibu kamu. Sekarang kamu sendiri yang bingung ketika ibu kamu meminta kamu tinggal sama dia” kataku. Sejujurnya aku ingin mengatakan supaya dia tidak usah menerima tawaran ibunya. Kalau dia mengikuti ibunya, dia pasti akan pindah rumah dan jauh dariku. Padahal hanya dia satu-satunya sahabat yang aku miliki. Mungkin bisa saja sekali-sekali aku atau dia datang untuk bertemu. Tapi suasananya tentu tidak akan pernah sama seperti sekarang. Aku belum mengenal ibunya, aku belum mengenal keluarga ibunya. Belum tentu mereka akan memperlakukan aku sama seperti keluarga Kania sekarang. Segala kebiasaan aku belum tentu bisa mereka terima dengan baik, sama seperti keluarga Kania sekarang.

Aku dan Kania adalah sahabat sejak kecil. Kami tinggal berdekatan. Keluarga Kania dan keluarga kami bertetangga dan berhubungan baik. Entah kenapa sejak bertemu Kania aku menyukainya dan dia menyukaiku. Mungkin karena nama kami kebetulan hampir sama, umur yang sama hanya selisih beberapa minggu, sama-sama suka baca novel, sama-sama suka ngebakso, dan masih banyak kesamaan lain. Kami sering berdua meski kami tidak mirip sebagai kakak-adik. Kania berkulit putih sementara kulit aku kecoklatan seperti rata-rata perempuan Indonesia. Rambut Kania lurus, sementara rambut aku agak bergelombang meski belum bisa disebut keriting. Kalau Kania kurus langsing, sedangkan aku lebih berisi.  Selama ini aku hanya tahu bahwa Kania adalah anak satu-satunya yang tinggal bersama ayah dan neneknya. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan ibu Kania meskipun Kania kerap bercerita tentang ibunya. Betapa dia merindukan ibunya dan ingin tinggal bersama mereka.

Menurut Kania, ayah dan ibu Kania sebenarnya saling mencinta. Mereka bercerai bukan karena adanya perselisihan melainkan karena ibu Kania pindah agama memeluk Islam saat Kania berumur 5 tahun. Perbedaan agama inilah yang kemudian menyebabkan mereka harus berpisah. Ayah Kania belum menikah lagi hingga meninggal, sedangkan ibu Kania baru saja menikah dua tahun lalu.

Dua bulan lalu ayah Kania meninggal dunia. Dan sebulan lalu, Kania mengatakan bahwa dia diminta ibunya untuk tinggal bersama keluarga ibunya. Itulah yang membuat dia menjadi galau. Dia bimbang untuk memutuskan apakah akan ikut atau tetap tinggal dengan neneknya.

“Kalau aku ikut ibu, kita akan sulit bertemu. Dan aku pasti akan pindah sekolah karena terlalu jauh dari rumah ibu kesini.” katanya. Kini dia menatap mataku seakan meminta aku supaya mengatakan agar dia jangan ikut ibunya. Kalau boleh jujur pasti aku akan mengatakan kamu disini saja sayang, temani aku dan tetap menjadi sahabatku. Tapi aku tidak boleh seperti itu, sebagai sahabat aku harus mengatakan apa yang baik buat dia, bukan yang menguntungkan buat aku semata.

“Tapi kalau kamu menolak permintaan ibumu, kamu kelak akan menyesal karena dia sudah datang untuk kamu. Meminta kamu dengan tulus sebagai seorang ibu. Bukankah kamu yang bilang bahwa ibu tidak bisa membawa kamu karena selalu dicegah ayah”.

“Kalau aku tinggal bersama ibu, apakah kamu akan tetap menjadi sahabatku ?” Kini dia menggenggam tanganku erat seakan tidak ingin dilepaskan. Aku mengangguk. Hatiku teriris dan ingin mengatakan bahwa aku juga tidak yakin bisa berpisah dengan dia. Tapi sampai saat ini dia masih miliki keluarganya dan aku milik keluargaku. Jika sudah dewasa sekalipun, kelak kami akan berkeluarga dan dia menjadi milik suami dan anaknya, sementara aku akan menjadi milik suami dan anakku. Persahabatan adalah pernyataan dua hati yang memiliki kesamaan. Secara fisik dia tidak bisa disatukan. Karena ada tingkat hubungan lain yang lebih tinggi yang harus diutamakan.

“Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi sahabatmu. Kenangan aku dengan kamu tidak akan mudah dihapus sampai kapanpun. Begitu juga kamu, kamu tidak bisa begitu saja mengabaikan persahabatan kita sepanjang hidup kamu” jawabku begitu dewasa. Entah darimana aku mendapat kata-kata yang seharusnya belum mampu diucapkan oleh anak kelas 2 SMA sepertiku.

Kania terlihat lebih tenang. Dia berdiri dan mengajakku pulang bersama. Seperti biasa, seperti hari kemarin, dan kemarinnya lagi.  Berjalan menyusuri trotoar yang jaraknya cukup jauh menuju rumah meskipun sebenarnya kami bisa naik angkot. Tapi kami biasa melakukan itu. Kami senang melakukannya dan selalu melakukannya bersama-sama. Entah besok atau lusa apakah kami masih bisa bersama, kalau Kania jadi pindah mengikuti ibunya. Sepanjang perjalanan hari itu kami bergandengan tangan dalam diam. Benakku pesimis Kania tidak akan pindah mengikuti ibunya.

Hari ini adalah hari pembagian raport. Aku merasa ada beban yang berat menggelayut di kaki untuk menuju ke sekolah. Hari ini ibu akan datang ke sekolah mengambil raport sekaligus mengurus kepindahanku ke sekolah lain. Sampai hari ini aku belum mampu mengatakan pada Dania bahwa ini adalah hari terakhir aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Aku akan pindah mengikuti ibuku. Hatiku sudah mantap untuk tinggal bersama ibu. Benar yang dikatakan Dania bahwa persahabatan akan tetap abadi meski kita dimiliki oleh orang lain. Karena persahabatan itu muncul justru saat kita dikungkung oleh komunitas kecil, yang disebut keluarga. Persahabatan adalah jendela yang menyatukan orang.  Persahabatan bukan penyataan untuk saling memiliki. Ketika salah satu merasa memiliki sahabatnya, justru persahabatan itu sendiri akan menjadi rusak dan hilang, karena orang yang merasa dimiliki akan mencari jendela baru sebagai tempatnya melihat dunia luar.

Aku tahu Dania akan kecewa, akupun seperti itu. Aku tahu dia akan bersedih, akupun akan seperti itu. Aku tahu dia akan kehilangan, dan akupun akan seperti itu. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Hati kami akan tetap bersama dan kami juga akan menemukan jendela-jendela baru tempat kami berbagi dan melihat dunia. Sementara itu, maafkanlah aku Dania. Biarkan aku membahagiakan ibuku dan melipur sebelas tahun lara yang dideritanya. Maafkan aku yang ingin mengecap sebelas tahun cinta ibuku yang hilang. Selamat tinggal sahabatku, kelak pasti kita akan bertemu kembali, karena kamu adalah sahabatku.(EA)


Terima kasih telah mengunjungi laman Bisfren dan membaca cerita pendek persahabatan. Semoga cerpen sahabat sejati diatas bermanfaat dalam memberi inspirasi dan motivasi serta dapat menghibur sobat sekalian. Salam sukses

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait