Karma

cerita pendek sedih remaja

Karma adalah cerita pendek sedih remaja tentang seorang gadis yang meninggalkan cintanya gonta-ganti pacar sehingga akhirnya sadar namun semua telah terlambat. Silahkan simak cerpen berikut.

Cerita Pendek Sedih Remaja – Karma

Tak banyak berubah dari desa kecil tempatku dilahirkan. Hampir semuanya masih sama seperti ketika terakhir kali aku berada disini, sepuluh tahun lalu. Kuhirup udara segar pedesaan sudah sangat kurindukan. Hamparan sawah serta bukit menghijau memanjakan mataku yang muak dengan tinggi juga padatnya gedung pencakar langit Jakarta.

Mobil dikemudikan supir pribadiku melaju perlahan karena memang jalan kami lalui sangat kecil lagipula kondisinya sudah rusak parah. Kusandarkan daguku pada jendela mobil sengaja kubuka lebar. Kurasakan hembusan angin membelai wajahku, meniup rambut tergeraiku. Kupejamkan kedua mataku, membiarkan pikiranku melayang ke masa lalu, masa dimana diriku masih bersama seseorang disini, seseorang yang membuatku kembali ke desa kecil ini.

Namanya Ardi, teman dekatku sejak kecil. Kami seumuran, kebetulan pula tinggal bersebelahan. Kami selalu pergi maupun pulang sekolah bersama. Karena kami sekelas, kamipun sering belajar serta membuat PR bersama. Kami begitu dekat, saking dekatnya sehingga tiada menyadari persahabatan berubah menjadi lebih indah.

Entah kapan perasaan mulai tumbuh. Mungkin saat kami mulai memasuki masa remaja, atau mungkin jauh sebelumnya, entahlah. Jelasnya diriku mulai memperhatikan penampilanku setiap bertemu dengannya, merasa gugup apabila matanya menatap mataku, merasakan berdebar setiap kulit kami bersentuhan secara tak sengaja, menikmati getaran aneh kurasakan setiap berada di sampingnya. Kuhabiskan siangku bersamanya bahkan malamku memimpikannya.

Tiada kata-kata terucap, namun kami sudah semakin dekat. Dia mulai berani memegang tanganku juga mencium keningku, akupun beberapa kali memberikan kecupan mesra di pipinya. Teman-teman mulai menggoda, mengatakan kalau kami berpacaran, tapi tak mengiayakan, namun juga tak menyangkal. Bahagia rasanya dengan semua kami jalani, status tidaklah penting.

Kedekatan terus berlanjut sampai menginjak bangku SMA kelas satu. Saat itu, hubungan kami sudah lebih serius. Kami sudah biasa memanggil sayang saat tiada orang lain disekitar. Bahkan pernah tak sengaja memanggilku sayang dihadapan beberapa teman perempuanku. Mereka semua tertawa lalu menggodaku habis-habisan.

Hari-hari terlalui begitu indah sampai akhirnya suatu ketika sebuah musibah terjadi. Orang tuaku bercerai karena bapakku ketahuan selingkuh. Ibuku langsung mengajukan gugatan cerai lalu setelah semuanya selesai, ibuku mengajakku pergi ke Jakarta. Kutolak ajakannya, tapi ibu tidak memedulikan penolakanku. Ibu mengurus kepindahanku dari sekolah tanpa sepengetahuanku, kemudian dengan terpaksa diriku pergi bersamanya. Semua terjadi begitu cepat, tanpa bisa kulakukan sesuatu untuk menghentikan semua kekacauan.

Malam itu kucurahkan air mata dalam pelukan Ardi. Tak ingin hatiku berpisah dengannya, tak  ingin jauh darinya. Kupeluk tubuhnya sangat erat, kubenamkan wajahku pada dada bidangnya.

Ardi membelai rambutku dengan lembut, “Naya, udah ya jangan nangis lagi. Kita cuma pisah untuk sementara kok”, bisiknya.

Mendengar kata-katanya, tangisku malah semakin keras.

“Aku sayang kamu”.

Kudongakkan kepalaku, menatap mata beningnya. Dia mencium keningku.

Diriku bersama ibu berangkat ke Jakarta keesokan paginya sekitar jam enam. Ardi tidak mengantarku sampai stasiun karena memang tiada mengetahui kalau diriku akan berangkat sepagi itu. Hatiku takut tiada sanggup pergi kalau melihatnya sekali lagi.

Kukuatkan hati menaiki kereta bersama ibu. Kuhempaskan tubuhku pada tempat duduk disamping  jendela. Kereta mulai bergerak perlahan. Diantara deru mesin, sayu-sayup kudengar seseorang memanggilku. Kepalaku menengok keluar jendela lalu kulihat Ardi berlari disampingku, “Naya… Aku akan menunggumu….”

Air mata meleleh dari kedua mataku, namun bibirku menyunggingkan sebuah senyuman. Kulambaikan tangan kananku ke arahnya hingga beberapa saat kemudian tubuhnya menghilang dari pandangan.

Kuusap tetesan air bening membasahi pipiku, “Ardi..” bisikku lirih.

Bulan-bulan pertama merupakan sata-saat terberat dalam hidupku. Ibuku mengontrak sebuah rumah kecil pada perumahan pinggir kota. Meskipun berada dipinggiran, perumahan tersebut sangat ramai. Diriku berkenalan dengan beberapa tetangga baru, namun entah kenapa hatiku tidak merasa nyaman pada mereka. Mereka sangat berbeda denganku, cara berpakaian, cara bicara, semuanya sangat berbeda. Tak hanya dirumah, akupun merasa kesulitan beradaptasi pada teman-teman disekolah baruku. Sekolahku memang bukan sekolah elit, namun penampilan siswa-siswa disana sangat jauh bila dibandingkan dengan penampilan siswa sekolahku dulu.

Satu-satunya hal membuatku senang adalah kedatangan pak pos membawa surat dari kekasihku nun jauh disana. Ardi memang sudah berjanji akan mengirim surat setiap minggu. Surat-surat dikirimkannya sangat panjang, bahkan sampai lima halaman. Diceritakannya setiap detil terjadi dalam hidupnya; makanan apa dimakan untuk sarapan, baju dikenakan saat menulis surat, jam berapa bangun pada hari Minggu, bahkan berapa kali memimpikanku selama seminggu. Selain menceritakan tentang dirinya sendiri, dirinya juga menceritakan tentang teman-teman kami, sekolah, guru-guru, serta masih banyak lainnya. Terkadang diselipkan fotonya, langsung kucium, kudekap, kubelai, lalu kupajang diatas meja samping tempat tidur.

Tak hanya Ardi, dirikupun rajin membalas suratnya. Kuceritakan semua kesedihanku karena belum mampu menyesuaikan diri pada lingkungan baru, kukatakan juga betapa hatiku sangat merindukan dirinya. Meski cinta terpisah jarak, cinta dihati kami masih sama besarnya, bahkan kerinduan dalam hati, membuat rasa cinta semakin dalam.

Setelah hampir setengah tahun pindah ke Jakarta, kusadari sesuatu terjadi pada ibuku. Ibu bekerja sebagai seorang wartawan pada sebuah penerbit majalah tak begitu terkenal. Biasanya ibu tiada peduli akan penampilannya, bahkan tak punya keperluan make up memadai untuk menunjang penampilannya sebagai pemburu warta. Setiap pagi, ibu berdandan ala kadarnya, hanya bedak tipis ditambah lipstick cokelat muda favoritnya, rambutnya dikuncir kuda. Namun pagi itu, dia duduk sedikit lebih lama di depan meja rias.

Kulangkahkan kakiku perlahan ke arahnya, lalu kusentuh pundaknya dari belakang, “Bu..” ucapku pelan.

Ibuku menatap bayangan dicermin, “Iya, Sayang.” jawabnya sambil tersenyum.

“Kelihatan beda banget, ada apa ?”.

Ibu membalikkan badannya, wajahnya terlihat sangat cerah, jauh berbeda dari biasanya. Kulihat matanya, kedua matanya menyiratkan kebahagiaan, “Ngga ada apa-apa kok, Nay. Kamu ga siap-siap ke sekolah ?”.

Sebenarnya hatiku sangat penasaran dengan apa terjadi padanya, namun kuputuskan  untuk tidak memaksanya bercerita. Melihatnya tersenyum begitu saja sudah sangat membuatku senang, “Naya libur, Bu. Anak-anak kelas 3 pemantapan UN.”

“Wah kebetulan sekali, kamu bersih-bersih rumah, ya.” Ibu berdiri lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, “Beli bahan makanan terus masak ya, ibu pulang agak malam”.

“Okay, Bu.” kataku sambil mengambil uang itu.

Ibu melihat ke arah cermin sekali lagi, membenarkan kerah kemejanya, lalu mengecup keningku, “Jaga rumah ya, Sayang. Ibu berangkat.”

Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengetahui apa telah terjadi padanya. Sekitar tiga minggu kemudian, ibuku pulang ke rumah bersama dua orang; seorang pria yang sepertinya sedikit lebih tua darinya serta seorang gadis remaja kurasa seumuran denganku. Ibu terlihat sedikit gugup saat mau berbicara padaku, namun tanpa mengucapkan sepatah katapun hatiku sudah bisa menebak apa sedang terjadi. Ternyata pria inilah penyebab ibuku berubah drastis.

“Naya..”

Kusunggingkan senyum termanisku, “Naya ngerti kok, Bu.” Kutoleh kearah dua tamu kami lalu mempersilahkan mereka duduk. Awalnya terasa seidkit kaku, namun lama kelamaan mulai akrab. Pria tersebut bernama Om Ahmad, seorang pengusaha tekstil di Jakarta Timur, sedangkan putrinya bernama Karina, seperti dugaanku, dia juga berumur 16 tahun.

Setelah mengobrol sekitar dua jam, mereka berduapun pamit pulang, kami mengantar sampai didepan gerbang. Mataku sedikit melongo melihat mobil mereka, karena setahuku mobil tersbeut adalah mobil keluaran terbaru dengan harga sangat fantastis, “Sampai ketemu lagi, Naya.” kata Karina sambil melambaikan tangan.

“Sampai ketemu lagi.” balasku sambil ikut melambaikan tangan.

Begitu mobil mereka menghilang ditikungan jalan, ibu menatapku lalu bertanya, “Bagaimana ?”

Sengaja kupasang wajah murung untuk menggodanya, “Naya bahagia kalau ibu bahagia.” kata-kata datar mengalir dari bibirku.

Ibuku terlihat sedikit terkejut, “Kamu tidak suka mereka.” Kupalingkan wajahku untuk menghindar dari tatapan ibu.

“Naya ?”

Aku tertawa kecil melihat kepanikan pada wajahnya, “Naya cuma bercanda Bu, Naya suka banget sama mereka. Kapan mereka main lagi ?”.

Ibu menarik napas lega, “Kamu ini ya… Bikin ibu khawatir aja. Lain kali, kita akan ke rumah mereka”.

Seperti kata ibu, minggu berikutnya, Om Ahmad berserta Karina datang menjemput kami untuk diajak ke rumah mereka. Sungguh tak bisa kusembunyikan rasa takjubku saat sampai didepan rumah – bukan, lebih tepat kukatakan istana – mereka. Bangunan berlantai dua sangat megah. Ada dua pilar besar berwarna putih menopang balkon lantai atas. Halamannya pun cukup luas serta tertata dengan rapi. Sebuah kolam ikan dengan air mancur ditengahnya terletak pada bagian kiri rumah.

“Masuk yuk.” Karina menggandeng tanganku lalu menuntunku masuk. Kami duduk bercengkrama dalam ruang tamu layaknya sebuah keluarga. Beberapa saat kemudian Karina mengajakku ke kamar mirip seperti kamar putri raja. Kelambu berwarna pink mengelilingi tempat tidurnya, seprai juga bedcovernya semua bercorak pink. Selain itu, ada beberapa boneka besar diatas kasur spring bednya.

Kami duduk diatas sofa dekat jendela sambil mengobrol. Karina bercerita kalau ibunya meninggal saat dirinya masih bayi. Sejak itu dirinya hanya tinggal bersama om Ahmad serta beberapa orang pembantu. Dari dulu dia ingin punya saudara, tapi ayahnya sepertinya tidak berniat untuk menikah lagi. Begitu tahu tentang hubungan ayahnya dengan ibuku, dia merasa sangat senang. Apalagi saat mengetahui kalau ibuku punya putri seusianya. Selain bercerita tentangnya, Karina juga menanyakan beberapa pertanyan tentangku, “Kamu sudah punya pacar belum, Nay ?” Kurasakan pipiku bersemu merah karena malu lalu kuanggukkan kepalaku. Dia memaksaku untuk memberitahunya lebih jauh. Akupun bercerita tentang Ardi, ada kerinduan menggebu dalam dadaku, setiap kata tentang cinta pertama membuatku semakin merindukannya.

Waktu berlalu, intensitas kedatangan pak Pos mulai berkurang, karena Ardi mulai sibuk membantu ayahnya dibengkel. Akupun mulai sibuk menyiapkan acara pernikahan ibuku dengan om Ahmad. Meskipun sudah jarang berkirim surat, kami berdua masih memiliki ikatan kuat. Jantungku masih berdebar tiap kali membaca surat darinya.

Beberapa bulan sejak kedatangan om Ahmad ke rumah kami untuk pertama kalinya,  ibuku akhirnya menikahinya kemudian kamipun pindah ke rumah megahnya. Tidak seperti sinetron atau dongeng, keluarga tiriku sangat baik. Om Ahmad menganggapku sebagai anak kandungnya, begitu pula Karina menyayangiku layaknya saudara sendiri. Diriku pindah ke sekolah Karina berada pada kelas yang sama. Inilah awal mula keretakan hubunganku dengan Ardi.

Kuterima sebuah surat darinya suatu hari, tak ada spesial dalamsuratnya. Akupun membalasnya seperti biasa. Kuceritakan tentang kepindahanku ke sekolah baru serta bagaimana Karina melakukan make over padaku, bukan hanya pada penampilanku, tapi juga pada sifatku. Sedikit demi sedikit, lidahku sudah mulai bisa menggunakan bahasa lo-gue. Mulai bisa bergaul dengan teman-teman disana, baik pria maupun wanita.

Sebelumnya malam dan hari minggu kuhabiskan dengan berdiam diri dirumah, namun kini aku bersama Karina selalu punya acara bersama teman-teman lain. Terkadang pergi nonton film dibioskop, atau belanja dimall, pergi renang, bahkan juga pernah menyewa sebuah villa dipuncak. Villa tersebut milik kerabat salah seorang temanku, jadi kami mendapatkan harga sangat murah. Di villa itulah seseorang masuk dalam hidupku kemudian menjadi orang ketiga dalam hubunganku dengan Ardi.

Aku tak pernah menduga akan sanggup mendua. Awalnya diriku berusaha menghindarinya, berusaha menjaga hatiku hanya untuk Ardi seorang. Namun lama-kelamaan, tak bisa menghindar lagi, mulai kuterima kenyataan kalau hatiku memiliki perasaan lebih dari sekedar teman kepada Hendri, nama pria itu. Apalagi Karina sangat mendukung kedekatan kami.

Hendri adalah seorang anak kuliahan. Berpacaran dengannya sedikit menaikkan popularitasku, maklum, tak banyak anak SMA punya pacar seorang mahasiswa. Semakin lama, diriku semakin tak mepedulikan surat datang dari Ardi. Yeah, aku masih membaca surat-surat tersebut, masih membalasnya, namun balasan suratku sangat singkat dan dingin.

Tiga bulan berlalu, hubunganku dan Hendri kandas di tengah jalan karena hatinya mendua. Hatiku terasa sangat sakit. Akupun kembali mencurahkan perhatianku pada Ardi. Kutulis surat-surat panjang untuknya, kukirimkan foto-foto terbaruku padanya; “Kamu kelihatan tambah cantik sekarang, Nay.” katanya dalam salah satu suratnya. Kami kembali merasakan kehangatan cinta seperti dulu. Namun kehangatan hubunganku bersama Ardi tak berlangsung lama karena bulan berikutnya kembali kutemukan cinta lain. Seperti sebelumnya, hubunganku itupun tak berlangsung lama.

Berganti-ganti kekasih namun tetap mempertahankan Ardi kulakoni selama beberapa tahun. Sampai suatu hari aku merasa menemukan cinta sejati, cinta berbeda dari lainnya. Saat itu aku sudah bekerja diperusahaan ayah tiriku. Ya, om Ahmad mempekerjakanku pada perusahaannya begitu tamatS1 dari sebuah perguruan tinggi swasta. Nama pria tersebut adalah Andika, teman sekantorku. Dalam dirinya, kutemukan sesuatu yang tak pernah ada pada mantan-mantanku, dan saat itu pula kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Ardi. Kukatakan padanya bahwa kisah kami sudah tidak bisa diteruskan. Terus terang saja sangat berat bagiku untuk mengatakan hal itu, namun tak mungkin juga selamanya kumendua darinya.

Ardi tidak menerima keputusanku begitu saja, dia nekat mendatangiku ke Jakarta. Ada sedikit rasa senang karena hatiku memang merindukannya, namun mengingat kini diriku sudah menjadi milik orang lain, kuputuskan untuk menghindarinya. Sengaja kuminta om Ahmad untuk menugaskanku ke luar kota selama beberapa hari agar tak bertemu dengannya. Kuakui, hal tersebut adalah salah satu hal terjahat pernah kulakukan seumur hidupku, tapi mau bagaimana lagi ?.

Walaupun sudah terang-terangan kujauhi, Ardi masih terus mengirimkanku surat sebulan sekali. Surat-suratnya tetap kubaca, namun tak pernah kubalas. Kata-katanya menyayat hatiku, membuatku merasakan sakit yang mungkin hampir sama besarnya dengan dirasakannya.

“Aku masih mencintaimu, Naya. Aku masih menunggumu.” Kulipat kembali surat yang dikirim oleh Ardi lalu kutaruh dalam sebuah kotak besar yang sudah hampir penuh dengan suratnya. Kutatap deretan foto di atas meja kamarku, sudah tak ada lagi foto pria desa itu, yang ada hanya fotoku bersama Andika.

Hubunganku dan Andika mulai menginjak ke arah yang lebih serius. Sudah beberapa kali kuajak dia main ke rumah. Om Ahmad dan ibu tampaknya menyukainya, “Apa kalian sudah berencana akan menikah ?” tanya ibu saat Andika bertandang ke rumah kami.

“Gimana ?” desak om Ahmad karena kami berdua diam membisu.

Kupandang kekasihku, raut wajahnya terlihat berubah. “Kenapa ?” tanyaku melalui isyarat mata.

“Kami masih ingin fokus pada karir, Om, Tante.” jawabnya.

Orang tuaku tampak kecewa mendengar jawaban Andika, begitu pula diriku.

Keesokan harinya saat makan siang, aku menanyakan hal itu padanya, “Kamu serius kan tentang kita ?” tanyaku.

Sendok dan garpu ditangannya berhenti bergerak.

“Sayang ?”

“I don’t wanna talk about it.”

“Kenapa ?”

Andika menghentikan aktivitas makannya, dia menatap mataku, “I love you.” ucapnya lirih.

“Terus kenapa ?”

“Aku belum siap.”

“Belum siap ? Apa lagi sih yang kamu tunggu ? Umur kita sudah cukup untuk menikah. Masalah finansial ? Karir kita sudah cukup bagus.”

Andika menghela napas dalam, “Ada sesuatu yang kamu tidak tahu tentangku.”

“Apa ?”

Pria itu menggeleng.

“Please.”

Andika tampak sedikit ragu namun akhirnya dia berkata, “Sebenarnya, orang tuaku sudah menjodohkanku dengan seorang gadis pilihan mereka. Naya, maaf tidak memberitahukan ini sebelumnya, diriku sudah bertunangan”.

Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata apa yang kurasakan saat itu. Mulutku sedikit terbuka, namun tak sepatah katapun yang terucap.

“Maaf.”

Pita suraku masih belum bisa berfungsi.

“Please say something.” Andika menggenggam tanganku. “Naya, please… I really love you.”

“Terus dia ?”

Andika menunduk dan terdiam.

“I need time.” Aku berdiri dan berjalan cepat ke ruanganku. Kuambil tas tanganku, “Shin, bilang sama Pak Reza, aku ijin pulang duluan ya.” kataku pada Shintia, teman satu ruangan denganku.

“Mba Naya kenapa ?”

“Ngga apa-apa kok.”

Kukendarai mobilku dengan perasaan tak menentu. Pikiranku kacau. Tak pernah terbayangkan hal begini akan terjadi. Bagaimana bisa Andika melakukannya padaku ? Seketika bayangan Ardi muncul dalam benakku, apakah ini karma atas perbuatanku padanya ?.

Andika berusaha menghubungiku berkali-kali, namun tak satupun teleponnya kuangkat atau SMSnya kubalas. Hatiku sudah terlanjur sakit. Orang tuaku nampaknya menyadari ada sesuatu pada diriku. Mau tak mau kuceritakan semuanya pada mereka. Om Ahmad terlihat sangat marah lalu tanpa sepengetahuanku, dipecatnya Andika. Tiada pernah lagi kulihat sosoknya, terakhir kudengar dari seorang teman kalau dirinya sudah kembali ke kampung halaman.

Ada luka menganga dalam hatiku, kurasa akan perlu waktu sangat lama untuk mengobatinya. Kuambil cuti selama satu bulan dari kantor. Alih-alih pergi berlibur, kuhabiskan cutiku dengan mengurung diri dalam kamar. Kubuka kemudian kubaca semua surat yang Ardi kirimkan untukku, dari surat yang datang pada minggu pertamaku ke Jakarta hingga surat terakhir dikirimkan dua bulan lalu. Kini saat hatiku patah lagi, aku kembali memikirkannya. Apakah dirinya masih mau menerimaku ?.

Antara sadar dan tidak kutulis sepucuk surat untuk Ardi

“Terkadang kita perlu kehilangan seseorang sebelum menyadari betapa berharganya seseorang itu dalam hidup kita. Terkadang sebuah hubungan diuji dengan berbagai macam cobaan, hanya untuk membuatnya lebih kuat. Kuakui salah telah menyia-nyiakanmu selama ini. Aku telah menyakitimu berkali-kali, namun kamu selalu ada untukku. Dan kini, kusadar tak ada yang lebih berharga di dunia ini dibandingkan cintamu. Ardi, maukah kau menerimaku kembali ?”.

Kubaca suratku berkali-kali sebelum akhirnya melipatnya lalu memasukkannya ke dalam sebuah amplop putih. Kuberjalan keluar rumah, begitu sampai di halaman depan, kulihat pak pos yang biasa mengantar surat ke tempatku. Sebuah senyum secara refleks muncul pada wajahku. Tak pernah sebelumnya hatiku sebahagia itu menerima surat darinya.

“Terima kasih Pak.” kataku sambil menerima sebuah amplop dari pak pos. Dengan tak sabar kurobek amplop itu, dunia terasa runtuh saat kutahu apa yang ada di dalam amplop itu.  Isi amplop itulah yang membuatku berada di sini sekarang, di desa kelahiranku, di mana cinta pertamaku berada.

Akhirnya tiba di kampung halaman

“Kita sudah sampai Non.” suara supirku membuyarkan lamunanku.

Aku mengeluarkan cermin dan merapikan riasanku yang sedikit pudar karena air mataku. Pintu mobil terbuka dan aku turun dengan perasaan hampa. Kakiku terasa sangat lunglai, namun kupaksakan untuk melangkah menuju sebuah rumah yang terlihat sedikit lebih besar dibanding terakhir kali kulihat.

Rumah bercat putih itu nampak sangat ramai, beberapa orang menoleh ke arahku, mungkin mereka bertanya-tanya siapakah diriku.  Kupaksakan bibirku tersenyum ke arah mereka. Kuteruskan langkahku menerobos keramaian, dan mataku menangkap sosoknya. Semakin dekat diriku dengan sosok itu, semakin kencang jantungku berdetak. Saat jaraknya hanya setengah meter dariku, kuhentikan langkahku. Mataku menatap ke arahnya, matanyapun begitu. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dadaku, membuatku sesak, membuatku sulit bernapas.

Kubiarkan air mata berjatuhan di pipiku, persetan bila make up-ku berantakan persetan dengan semua orang yang ada di sana. Pandanganku hanya tertuju padanya, begitu pula pikiranku. Hanya ada dia, Ardi.

Diapun tak jauh berbeda denganku, dia mematung

Waktu seakan berhenti saat pandangan kami bertemu. Ada sejuta kata ingin kukatakan padanya, namun kini saat ia berdiri tepat di depanku, rasanya tak ada satu katapun berguna. Kuangkat tangan kananku perlahan kemudian kuulurkan ke arahnya, tangannya menyambut tanganku. Ada perasaan seperti tersengat listrik saat kulit kami bersentuhan. Ingin kukatakan selamat kepadanya, namun bibirku tak mampu mengucapkan sepatah kata. Aku semakin terisak lalu kurasakan kakiku tak mampu lagi menopang berat badanku, tubuhkupun ambruk ke dalam dekapannya, ke dalam dekapan cinta pertamaku yang telah mengucap janji suci dengan wanita lain.


Terima kasih telah membaca cerita pendek sedih remaja tentang Karma. Semoga cerpen diatas dapat menghibur serta menginspirasi dan memotivasi sobat Bisfren sekalian dalam menjaga hubungan dan untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Salam sukses.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait