Kekhilafan Cinta

cerita puber kedua wanita

Kekhilafan cinta adalah cerita puber kedua seorang ibu yang sudah memiliki anak gadis remaja. Anaknya merasa sangat sedih dan berusaha mengingatkan mamanya namun tidak diindahkan. Bagaimana akhirnya ? simak pada cerpen keluarga berikut :

Cerita Puber Kedua – Kekhilafan Cinta

Siang bagiku sama saja seperti malam. Tapi bukan malam yang dihiasi cahaya bulan dan ribuan bintang, tetapi malam kelabu tanpa cahaya bintang satu pun. Mama sekarang berbeda, bukan seperti dulu yang perhatian, memberi nasihat, dan tempat aku curhat tentang keluh kesahku. Biasanya mama memeluk dan membelai halus rambut ikalku sebelum tidur lelap. Lalu mengecup keningku. Walaupun usiaku sudah 23 tahun, tapi aku masih manja kekanak-kanakan.  Wajar saja karena aku anak tunggal.

Sekarang mama berubah semenjak mengenal pemuda itu. Rasa perhatiannya padaku berkurang. Penampilan mama bermodis seperti anak muda, ditambah gaya bicara sedikit kecentilan. Sudah lama mama mengosongkan hatinya untuk laki-laki selain papa. Mungkin mama kesepian semenjak papa meninggal. Mama butuh bahu laki- laki untuk bersandar. Aku pun memaklumi perasaan mama. Tapi bukan berarti mama harus berubah penampilan 180 derajat, demi mencintai pemuda biadab itu.

Dan hal yang paling membuatku kesal, saat aku mengetahui bahwa laki-laki itu adalah mantanku. Ya….dia mantan pacar yang sudah mendustakan cintaku. Rendi mendekatiku hanya karena aku anak orang kaya, sehingga dia mudah memperoleh material dariku. ” Dasar laki-laki matre”. Memang, dulu waktu aku masih berpacaran dengan Rendi, aku tak pernah memperkenalkan pada mama. Itu salahku. Sehingga mama tak mengenal siapa sebenarnya Rendi.

Apa mama sudah gila? Kenapa mama terpicut pria yang seumuranku. Selisih 22 tahun, hal gila yang selama ini aku dengar. Aneh.

Aku tidak melarang mama menikah lagi. Aku mengerti mama butuh teman hidup, apalagi sekarang mama harus memegang semua  pekerjaan di perusahaan papa, pasti mama merasa penat berhadapan dengan berkas-berkas di kantor.

Sekali aku berfikir Rendi ada sesuatu yang ia rencanakan. Dan aku tak mengerti maksud Rendi mendekati mamaku. Apa ia ingin balas dendam karena aku sudah memutuskan hubungannya. Sebenarnya apa yang ia inginkan dibalik drama konyolnya.

Terkadang aku gersang dengan kedatangan Rendi saat menemui mama. Sorot matanya tak henti melirikku. ” Dasar pendusta”batinku kesal. Rendi seolah-olah tak mengenaliku. Tanganku mengepal, ingin rasanya kepalan tanganku mendarat dimukanya. Saat didepanku, mereka tak hentinya bergandengan tangan mesra layaknya remaja yang baru mengenal istilah cinta . Belum lagi pelukan mesra saat Rendi hendak pulang. Rasanya aku muak dengan kondisi mama yang mabok kepayang.

“Ma, Tiwi minta mama jauhin laki-laki itu” ujarku dengan nada halus.

“Apa maksudmu ? “.

“Laki-laki itu tidak baik buat mama, Tiwi gak melarang mama nikah lagi, tapi mohon jangan sama dia ma”.

“Mama lebih tau siapa Rendi, dia sifatnya dewasa dan penyayang”

“Tapi dia…”, mama memotong ucapanku “sudahlah, mama tau kamu gak suka dengannya karena dia masih muda, tapi mama akan tetap menjaga hubungan dengan dia karena mama nyaman dengannya,” jelas mama dengan nada ketus.

Namapaknya mama marah padaku.  Lalu bagaimana caraku menyadarkan mama agar dia tahu bahwa laki-laki tidak baik, dan bagaimana aku menjelaskan kalau laki-laki itu adalah mantanku. Mama sudah terlanjur cinta. Aku paham betul watak mama, dia sangat keras kepala. Aku biasanya mendiamkan saat amarah mama melonjak. Karena jika aku ikut bicara, malah membuat mama sangat marah.

“Apa ?! Mama mau menikah dengannya ? ” Aku terkejut mendengarnya.

“Ya, mama tau kau tak setuju, tapi mama akan tetap menikah” bersikap menghakimi.

Tuhan, pekikku. Aku tak kuat lagi dengan sikap mama. Apa aku harus bicara kasar padanya ? tapi beliau adalah orang yang sangat aku hormati. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Semakin aku mengutarakan tentang kejelekan Rendi, mama semakin marah dan benci padaku.

Sudah tiada kehangatan lagi di rumah ini. Kemurnian cinta mama padaku sudah lenyap oleh pengaruh laki-laki biadab itu. Aku merasa depresi dengan keadaan ini. Batinku tersiksa meladeni sikap mama yang kian lumpuh sosok keibuannya.

Pertentangan

Nilai mata kuliahku menurun drastis, bahkan sampai aku tak lulus semester enam. Aku terlalu sibuk memikirkan nasib mama yang sedang terpengaruh oleh pemuda keong racun itu.

“Ma, aku mohon mama jangan menikah dengannya, dia tidak baik ma”berulang-ulang kali aku membujuk mama.

“Mama lebih berpengalaman memilih sosok pria” bersikap keras.

“Tapi ma dia adalah man……”.

Lagi-lagi mama memotong ucapanku

“Sudahlah, seharusnya mama yang kecewa karena skarang prestasimu menurun”

Saat itu mama marah besar padaku. Pertengkaran sengit ini episode yang pertama aku alami. Sampai-sampai mama menghardiku tak boleh keluar kamar. Pada saat cara pernikahan mama dengan Rendi, mama mengurungku, aku dikunci di kamar. setelah mama membuka kamarku yang aku tahu mama sudah menjadi istri sah laki-laki biadab itu. Mama sengaja mengurungku agar aku tak membatalkan pernikahan mereka.

“Maafkan mama sayang, mama udah menguncimu di kamar, tapi ini demi kebaikan kita, mama malu jika pada saat acara penikahan kau akan membatalkan acara pernikahan mama ” mama memeluku

Aku menangis tanpa ada habisnya dalam pelukannya yang tak sehangat dulu. Lalu aku melepaskan pelukan mama dan tanpa kata sedikit pun aku pergi .

“sayang, kau mau kemana?? mama mengikuti langkahku

Aku mengabaikan teriakan mama dan berlari . Seperti biasa aku duduk di persawahan pinggir kota, dimana tempat itu adalah kenangan aku dan papa sebelum papa pergi. Ku pandangi langit dengan gumpalan awan putih. Aku harap papa bisa melihatnya disana.

“Pa, maafin aku karena aku tak bisa menjaga mama “. Air mata kembali mengalir.

Tiba-tiba ada pemuda pengembala budidaya kambing dibelakangku. Ia terkejut melihatku yang sedang menangis.

“kau kenapa menangis ?”

Aku kaget melihatnya. pemuda itu mengingatkanku pada papa. Yaahhh… aku ingat dia pengembala kambing yang sudah menolong papaku sewaktu kecelakaan.

“Bukannya kamu adalah orang yang sudah menolong papaku saat kecelakaan tiga tahu yang lalu” tanyaku sambil mengusap air mata

Dia terdiam . Aku rasa dia sedang mencoba mengingat memori itu.

“Owhhh ….” laki-laki yang mengendarai sedan putih.

“Ya…betul ” tanggapku. Kamu masih ingat ?? Pikirku senang

“Ooohhh…. kau anaknya Pak Hardi ”

Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Sekarang aku bisa bertemu dengan orang yang sudah menolong papa. Benar kata papa, pemuda pengembala itu orangnya polos. Tak seperti pemuda-pemuda yang ku kenal di Kampus, sebagian mereka menampakan kesombongannya.

“Kau beruntung sekali punya Ayah sebaik beliau”

Dari penjelasannya aku diam, dan tanpa sadar menetekan air mata.

“Kenapa kau menangis lagi ? ”

“Papaku sudah meningggal ” ucapku pelan

Sambil melempar senyum, ia mengajakku entah kemana. Yang penting aku tak melihat mama dan Rendi. Solat? Ia mengajaku solat. Aku sudah lama melupakan solat.

“Kalau kau sedih temui Tuhanmu dengan cara sholat ” Benar kata pemuda pengembala kambing itu, aku jauh lebih tenang seusai sholat. Tiba-tiba kepikiran kondisi mama, aku melangkahkan kakiku untuk pulang ke rumah. Walaupun mama marah padaku, tapi aku khawatir mama disakiti Rendi.

Aku mengetuk pintu rumah, namun tak kunjung dibuka juga. Aku mencoba mendorongnya, rupanya tak dikunci.

“Ahhhh tolol ” ucapku sambil mengernyitkan dahi

“Ma….Mama, aku pulang. ” melirik kekanan dan kekiri

“Sepi sekali ” batinku. Aku langsung menuju kamar, dan kurebahkan tubuhku diatas ranjang. Kupandangi langit-langit diatap, seolah- olah kehangatan rumah telah kembali. Suara ketukan pintu melenyapkan lamunanku. MAMA. Aku langsung beranjak mumbukanya, rasanya ingin sekali memeluk mama.

“Kau ” Aku kaget menatapnya, rupanya dia Rendi. Ia memberiku sebaris senyum. “Mau apa kau ?” Ia masih tetap tersenyum. Mencoba menyentuhku, tapi kuhentak tingkahnya. Lalu Ia mendorongku ke ranjang.

“Kebahagiaanmu akan sirna Tiwi ha.. ha.. ha..” tawa Rendi

Saat Ia akan menerkamku, aku menendangnya dan Ia pun terjatuh, kepalanya terbentur sudut lemari. Tapi, apa peduliku. Aku bahkan malah senang jika Ia mati sekali pun.  Aku lari terpontang panting, entah mau kemana aku akan pergi. Hampir saja kegadisanku hilang oleh laki-laki biadab itu. Aku tak bisa membayangkan nasibku jika kegadisanku hilang. Jantungku masih berdebar-debar lama tak kunjung henti.

Akhirnya aku menemui pemuda pengembala. Entah, pikiranku hanya tertuju pada dia. Faisal salah seorang yang bisa membantuku. Ia sedang asyik bersama kambing-kambingnya. Aku cerita apa yang terjadi padaku, dan Ia membolehkanku tinggal bersama keluarga kecilnya. Disini aku merasakan kehangatan keluarga, penuh kasih sayang. Kebahagiaan terlihat jelas dibalik senyum mereka untuk mencapai impian, walaupun hanya singgah di gubuk kecil. Aku merasa nyaman hidup bersama mereka, dari kesederhanaan mengajarkanku arti hidup.

Akhir cerita

Esok paginya, aku mendapatkan berita Ibuku kecelakaan. Ya Tuhan. Jantungku nyaris melompat keluar dari rongga dada. Aku memang salah telah meninggalkan mama, dan artinya sama saja aku membiarkan laki-laki biadab itu menyakti mama.

Aku langsung pergi menuju rumah sakit. Untungnya mama masih bisa diselamatkan,  dan ku lihat mama terbaring lemah di ranjang. Kata dokter mama kemungkinan buta dan lumpuh. Tapi aku sudah siap menerima semuanya, karena aku sudah belajar Ikhlas dari keluarga kecil pengembala itu. Aku memeluknya dengan penuh rindu . Aku sayang mama.


Terima kasih atas kunjungan sobat ke situs Bisfren dan membaca cerita puber kedua. Semoga cerpen keluarga diatas dapat memberi inspirasi serta motivasi untuk menghasilkan karya-karya terbaik. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait