Keluargaku

cerita pendek inspiratif keluargaku

Cerita pendek inspiratif “Keluargaku” adalah cerita pendek tentang sebuah keluarga yang nyaris terpecah karena dihantui rasa curiga serta cemburu akibat perubahan sikap juga perilaku suami. Simak kisahnya pada cerpen berikut :

Cerita Pendek Inspiratif Keluargaku

Sudah dua minggu perang dingin berlangsung, akupun mencoba untuk tak peduli walaupun tak bisa munafik hatiku sangat peduli. Bagaimana tak peduli, dia suamiku, laki-laki yang kucintai. Kami sudah 10 tahun bersama membina rumah tangga.

Bulan-bulan terakhir kurasakan ada hal salah pada hubungan kami. Biasanya selalu ada komunikasi pada pagi hari saat sarapan atau perbincangan pendek pada malam hari sekedar menceritakan hari-hari kami di kantor. Tapi hampir sebulan terakhir sudah tiada lagi. Apa telah terjadi pada hubungan kami ?. Kenapa tak semanis dulu ?. Kenapa tiba-tiba saja terasa hambar ?. Apakah karena kami berdua terlalu sibuk pada pekerjaan sehingga tiada waktu untuk kami berdua ?. Entahlah, hatiku sering bertanya-tanya sendiri.

Sebagai seorang wanita karir diriku sadar akan posisiku sebagai istri. Setiap pagi selalu kusempatkan diri membuat sarapan sebelum kekantor, mengurus putri tunggalku berumur 8 tahun, kemudian menyiapkan pakaian kantor suamiku. Tak pernah kulupa pada tugasku sebagai seorang istri. Walaupun dirumah ada pembantu rumah tangga. Tapi untuk hal-hal seperti sarapan pagi, serta menyiapkan kebutuhan suami juga anakku, tidak kuserahkan kepada Bi Anun. Bagiku semua adalah kewajiban harus kulakukan sebelum berangkat ke kantor. Sebagai seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga, terkadang diriku menelpon suamiku mengajaknya makan siang, atau makan malam keluarga diluar, mengajak Bella anakku ke restoran kesukaan kami.

Tapi keanehan tak biasa kurasakan sebulan belakangan. Banyak sekali alasan suamiku saat mengajaknya. Selalu pulang larut malam, semua hal-hal klise terjadi pada pasangan atau tanda–tanda pasangan selingkuh seperti kubaca di internet serta buku mulai terlihat.

Sebagai seorang manajer keuangan pada salah satu perusahan bonafide dikota ini, tentu diriku sangat memaklumi kesibukan suamiku. Tapi anehnya, biasanya dirinya akan menelponku memberitahukan akan pulang malam atau meeting diluar atau lain sebagainya. Namun sebulan belakangan tak ada sama sekali, alias no communication.

Apakah suamiku selingkuh ? Diriku hanya menggeleng-geleng sendiri, memikirkan apa ada kekuranganku melayani suami sebagai seorang istri ? Rasanya tidak ada, semua lancar-lancar saja bahkan bisa dibilang cukup mesra. Tapi mengapa ?.

Puncaknya 2 minggu lalu saat dirinya pulang larut malam. Tepatnya hampir jam 2 pagi dini hari. Saat kejadian diriku tidak bisa marah, kutekan amarahku hingga paginya saat dirinya bangun untuk ke kantor. Pertengkaranpun terjadi. Tiba-tiba saja dirinya mengamuk padahal diriku hanya bertanya dengan baik-baik. Pertengkaran tak bisa dihindari, kami saling berbantahan keras. Diriku tak bisa meredam kemarahan, begitu juga diirnya. Akibatnya seperti sekarang, terjadi perang dingin saling diam.

Perang dingin sebenarnya membuatku tak tahan. Hatiku begitu tersiksa sekaligus juga ketakutan kalau dirinya memanfaatkan untuk melampiaskannya diluar. Jangan-jangan perubahan perilaku suamiku karena selingkuh. Tapi hatiku yakin dia takkan selingkuh. Dirinya adalah lelaki berpendirian keras juga tak mudah jatuh cinta. Kalau tidak berpendirian mungkin sudah lama dirinya terjatuh. Sebagai manajer, dirinya memiliki segalanya. Uang sekaligus ketampanan. Semua bisa digunakan sejak dulu kalau memang dirinya tipe suka selingkuh. Diriku sangat mengenalnya, mengenalnya lebih dari diriku sendiri.

Hari ini kuputuskan untuk menyerahkan tugasku pada Arini. Kuajukan cuti seminggu dikantor untuk mengetahui apa telah terjadi padanya. Kenapa berubah juga kenapa terus menghindariku selama dua minggu terakhir. Hatiku sangat merindukan kebersamaan kami. Bella putri tunggalku juga selalu bertanya-tanya, kenapa ayahnya tak pernah lagi sarapan pagi bersama.

Hari ini akan kuikuti suamiku, bukannya ingin memata-matainya, tapi hanya inilah jalan satu-satunya untuk mengetahui apa telah terjadi pada rumah tangga kami. Kulihat mobilnya terparkir ditempat biasa, sebagai salah satu manajer, dirinya memang mendapat tempat istimewa parkir disamping wakil direktur. Jam 4 sore kulihat suamiku keluar dari kantor bersama sekertarisnya Eva. Eva masih muda lagi cantik. Eva juga ramah sekaligus pintar. Dia sudah terbiasa dengan keluargaku. Mereka berjalan beriringan. Terlihat sekali wajah suamiku kusut serta lelah. Merekapun masuk ke mobil, hei kenapa Eva tak pulang sendiri ? kenapa harus naik mobil suamiku ? Hatiku menjadi tidak enak, pikiranku mulai aneh-aneh. Sopir taksi yang sudah siap sedia dengan gesit langsung mengikuti mobil suamiku. Untunglah dia tidak ngebut jadi taksi tetap bisa mengikuti berada dijalurnya serta tak kehilangan jejak. Mobilnya berhenti pada sebuah restoran cepat saji. Mereka berdua turun. Kubayar sopir taksi untuk masuk serta memata-matai kegiatan mereka selama dalam restoran. Selang 20 menit, sopir taksi keluar disusul suamiku bersama Eva.

“Apa yang mereka lakukan ?” tanyaku tak sabaran.

“Gak ada Bu, yang saya dengar cuma ngobrol ngebahas uang gitu, perusahan, alaa Bu gak ngerti saya”, ucap sang sopir taksi mulai siap-siap mengikuti mereka lagi. Hatiku sedikit tenang. Mereka melaju pelan, jam sudah menunjukkan pukul 6 ketika mobilnya masuk ke pelataran parkir dokter Hermawan. Hei .. itukan dokter kandunganku sekaligus teman baiknya. Kulihat mereka turun bersama tanpa mengikuti antrian lalu langsung masuk ke dalam ruangan Dokter.

Hatiku kini bergejolak kembali. Apa dilakukan dalam ruangan Hermawan, jangan-jangan ? Sejuta pikiran jelek mulai memenuhi hatiku. Bagaimana kalau suamiku selingkuh dengan Eva sekertarisnya kemudian Eva hamil lalu mereka harus menggugurkan bayi dalam kandungan Eva. Tidak, tidak mungkin, dirinya tidaklah serendah itu, takkan mungkin menghianatiku apalagi sampai menyakitiku. Dirinya sangat menyayangi putri kami sehingga tak mungkin berbuat begitu. Setidaknya bukan untukku tapi untuk Bella.

Kucoba menenangkan hatiku. Tak lama kemudian mereka keluar. Saat sopir taksi hendak mengikuti mobil suamiku lagi, diriku melarangnya. Segera ku keluar dari taksi kemudian menemui Hermawan. Ada seorang pasien akan masuk ketika diriku mendahuluinya sambil menjelaskan kalau diriku memiliki urusan penting dengan dokter. Hermawan melihat kehadiranku yang tiba-tiba sangat kaget.

“Lusi…kamu”

“Kulihat suamiku bersama sekertarisnya keluar dari sini, apa telah terjadi Wan ? diriku butuh penjelasan masuk akal. Karena hampir sebulan terakhir mau gila rasanya pada perubahan sikap Rangga.”

Hermawan mendesah, terlihat sekali dia mencoba untuk tidak membuatku panik.

“Wan….”

“Diriku tak bisa menjelaskan sekarang Lusi, tapi kalau mau kamu bisa menungguku sampai selesai praktek, pasienku sedang menunggu.”

“Baik, baiklah akan kutunggu wan, dan kamu harus berjanji padaku untuk tidak menyembunyikan apa–apa dariku. Sama seperti hatiku percaya pada suamiku, diriku juga percaya padamu Wan”

“Aku janji” ucapan Hermawan membuatku sedikit tenang walaupun pikiran-pikiran buruk tadi masih menghiasi hatiku. Kulangkahkan kaki keluar ruangan, menuju tempat parkir, membayar sewa taksi, lalu kembali menunggu Hermawan. Tepat pukul sebelas tigapuluh, akhirnya diriku dipanggil masuk oleh asisten Hermawan keruangannya.

“Tidak usah berpikiran buruk pada Rangga, Lusi. Seperti kau katakan bahwa kau mempercayai suamimu, Kujamin 100 persen apa dalam pikiranmu tidak benar. Ada hal-hal tak terlihat takkan bisa dipahami jika hanya melihat dari luar saja.”

‘’Apa maksudmu Wan ?”, tanyaku tak mengerti.

“Apa yang akan kukatakan harus kau dengar juga cermati dengan baik. Kamu harus mempersiapkan hati juga diri kamu untuk mendengar perkataanku. Jujur saat ini diriku tidak punya pilihan lain selain menjelaskan padamu walaupun Rangga membuatku berjanji untuk tidak mengatakan padamu”

“Wan, jangan membuatku penasaran tolong katakan saja ada apa ?”desakku tidak sabar.

“Rangga mengidap kanker usus ganas. Kankernya sudah menyebar, jalan satu satunya adalah melalui operasi setelahnya harus diterapi. Terapi paling baik yaitu sistem terapi Imun. Tapi mengingat kanker Rangga sudah parah, diriku hanya menyarankan untuk operasi serta kemoterapi”.

Kudekap bibirku tak percaya. Suamiku mengidap kanker usus ganas. Bagaimana bisa hal sedemikain tidak diberitahukan padaku, hanya pada sekertarisnya serta Hermawan. Aku menggeleng-geleng keras.

“Maafkan Rangga Lusi, mungkin dirinya butuh waktu untuk memberitahukan padamu. Kamu tahu Lusi, kanker adalah penyakit paling mematikan belum ada obatnya sampai sekarang. Apalagi jika menyangkut organ-organ vital dalam tubuh. Usus adalah organ sangat vital, disana tempat segala macam makanan diproses. Jika ada gangguan pada usus terlebih kanker, maka otomatis cara hidup serta berpikir kita berubah. Dari hasil USG tadi, pembengkakan pada usus besar Rangga mulai meningkat. Kusarankan untuk segera diadakan pembedahan.”

Kuhapus sudut mataku yang tiba-tiba basah lalu mencoba tersenyum. Jauh dalam hati kecilku bersyukur karena hampir saja berbuat kecerobohan dengan menyangka suamiku berselingkuh tapi sekaligus juga bersedih mendengar kabar tentangnya. Untunglah diriku tidak dibutakan oleh rasa cemburu.

“Bersikaplah bijaksana Lusi, tunggulah sampai Rangga siap memberitahukan padamu apa dialaminya. Untuk sekarangdiriku hanya bisa memberikan jadwal pemeriksaan suamimu di RS. Ada temanku spesialis penyakit dalam selalu memonitor perkembangan kanker Rangga. Kamu bisa menemuinya sekaligus bertanya tentang penyakit Rangga tanpa diketahuinya”, ucap Hermawan lagi. Diriku hanya bisa menganguk ada rasa sedih teramat dalam. Bukan hanya penyakit Rangga membuatku sedih, tapi kejujurannya. Kenapa dirinya tidak jujur padaku. Apakah mungkin dia pernah mencoba bercerita namun tak kutanggapi serius ?. Diriku pernah membaca seseorang bisa lebih terbuka pada orang lain dibanding pasangannya kalau pasangannya tidak bisa memahami perasaan serta sering bersikap tidak terlalu peduli pada masalahnya.

“Terimakasih Wan, akan kuhadapi Rangga sesuai saranmu” kataku sambil beranjak.

“Yang sabar ya Lus, ini ujian untuk rumah tangga kalian. Ku yakin kalian bisa melewatinya”

‘’Iyah Wan itu pasti..” Ucapku lalu melangkah pergi. Yah ujian kali ini lebih berat dari pada biasanya. Dan aku dituntut sebijak mungkin untuk menyikapinya walau disatu sisi hatiku masih tidak menerima ketidak jujuran suamiku. Tapi aku mencoba berpikir bagaimana seandainya aku diposisi suamiku. Mungkin aku akan bersikap sama sepertinya, bahkan mungkin akan lebih tertutup darinya. Membayangkan penyakit menakutkan itu ada ditubuh kita seperti rasanya mau kiamat. Memang setiap orang pasti akan kembali ke Penciptanya. Tapi jika secepat ini dan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi, benar-benar akan membuat shock. Dan sepertinya suamiku berpikir seperti itu. Saat aku tiba dirumah kulihat mobil suamiku sudah terparkir digarasi. Sudah terlalu larut sebenarnya tapi mau bagaimana? Kalau tidak begini aku tidak akan mengetahui semua sikap aneh suamiku. Aku membuka pintu kamar, kulihat tubuh suamiku terbaring, mungkin dia sudah tidur. Aku menuju kamar mandi, seharian membuntuti suamiku membuat tubuhku gerah. Selesai mandi aku berganti baju tidur dan membaringkan tubuhku disamping suamiku. Hati-hati sekali kubaringkan tubuhku agar suamiku tidak terbangun. Aku baru menutup mata ketika kurasakan tubuh suamiku berbalik dan memelukku.

“Mah, maafkan Papa yah. ‘’

“Untuk apa Papa minta maaf, Papa salah apa?”

“Selama ini Papa tahu Mama pasti bertanya-tanya mengapa sikap Papa berubah, dan mengapa emosi Papa kadang meledak-ledak”.

“Iya sih Pah, tapi Mama mengerti mungkin Papa sedang pusing dengan pekerjaan yang menumpuk. Makanya Papa jadi setres”

“Iya Mah, mungkin karena Papa stres dengan pekerjaan”

“Yah sudah Papa jangan kayak gitu lagi yah. Kasian Bella nanyain Papa terus”

“Mah, makasih yah sudah mau menemani Papa dalam suka dan duka, sudah menjadi istri yang baik”

“Koq makasih Pah. Itukan sudah kewajiban Mama sebagai istri Papa” Ucapku mencoba menahan airmataku yang hampir luruh. Kurasakan tangan suamiku memeluk pinggangku.

“Papa sangat mencintai Mama, Papa..”.

“Ssssttt…Mama tahu. Sekarang Papa gak boleh mikir yang macam-macam yah. Apapun keadaannya Mama akan selalu mencintai Papa seumur hidup Mama” ucapku menguatkan hati suamiku. Aku tahu dia butuh dukungan moril untuk membantunya dalam mengatasi penyakit dan rasa stresnya. Sejenak kukesampingkan pemikiranku tentang ketidak jujuran suamiku, aku yakin perlahan namun pasti dia akan mengatakannya.

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan menyediakan sarapan pagi untuk suamiku dan anakku Bella. Hari ini suamiku bangun dengan senyum diwajahnya yang agak pucat. Walaupun begitu tetap saja dia terlihat tampan di mataku.

“Mah hari ini usai kerja kita makan di restoran faforit kita yah” cetus Rangga. Aku tersenyum sedangkan Bella bersorak gembira.

“Bella nanti sama-sama Papa yah” Ujar Rangga lagi.

“Tumben Papa mau nganterin Bella kesekolah biasanya juga Mamakan”Protes Bella.

“Sekali-kalikan boleh sayang” Ucapku. “Nanti siang Mama yang jemput sekalian kita nungguin Papa dikantor.”

“Asyik dah lama yah kita gak kumpul Pah” sela Bella lagi. Rangga cuma tersenyum tipis, tapi aku tahu dihatinya pasti merasa sedih dan ingin menebus waktu yang hilang itu.

“Papa janji mulai hari ini kita akan sering-sering kumpul iyakan Mah”

“Iya…asal Bella gak bosen aja”

“Berarti Papa akan hadir di konser piano Bella dong”

“Iya sayang, kali ini Papa yang akan hadir”

“Ih… Mama juga dong”

Suasana seperti inilah yang membuat rumah terasa hangat. Saat aku mengantarkan Rangga naik kemobil bersama Bella kulihat Rangga seperti menahan sakit.

“Papa gak apa-apakan? kalau sakit Mama aja yang nganterin Bella”

“Gak usah Mah, biasa perut kadang suka ngambek kalo abis sarapan” Canda Rangga. Aku menarik nafas berat.” Baiklah tapi kalau Papa ngerasa gak enak badan telpon Mama yah”

“Iya pasti. Mama jangan kuatir”

Yah Tuhan, kenapa Rangga masih saja berbohong menyembunyikan keadaannya. Jelas-jelas dia mengidap kanker kenapa masih terus membohongiku.

Bella baru saja masuk kedalam mobil ketika aku menerima telpon dari Eva menyampaikan kalau Rangga pingsan dikantor dan sekarang sedang dirumah sakit. Sepertinya harus menginap dirumah sakit. Aku cepat-cepat menuju rumah sakit.

“Papa kenapa Mah?”

“Katanya Eva pingsan di kantor”

“Iya mah tadi juga waktu nganter Bella Papa sempat ngeluh sakit perut gitu”

“Kita kerumah sakit liat Papa yah”

Hatiku benar-benar merasa cemas dengan keadaan Rangga, kali ini Rangga tidak mungkin menyembunyikan penyakitnya karena Eva sudah menghubungiku. Sesampai aku dirumah sakit Dokter Anton teman Hermawan yang menangani Rangga langsung memanggilku keruangannya. Bella kutugaskan untuk menemani Papanya.

“Bu Lusi, sepertinya kita harus mengadakan operasi secepatnya, dari hasil lab dan biopsi sepertinya kanker sudah menyebar keusus besar, takutnya jika semakin lama ditunda akan semakin membahayakan jiwa Pak Rangga”.

“Lakukan yang terbaik dokter”

“Baiklah, kalau begitu saya akan menyiapkan berkas operasinya”

Usai bicara dengan dokter aku segera keruangan suamiku. Aku menyuruh Eva sekertaris Rangga untuk membawa Bella keluar. Tinggalah aku dengan suamiku yang terbaring lemah diranjang rumah sakit.Kugenggam tangan Rangga erat, dia membuka matanya dan menatapku dengan rasa bersalah.

“Maafkan Papa Mah, selama ini Papa tidak jujur sama Mama”

“Sudahlah Pah, Papa jangan banyak bicara dan berpikir dulu. Papa harus istirahat.Mama tidak akan mempermasalahkan hal itu. Cukuplah dengan Papa bisa sehat dan pulih itu sudah cukup buat Mama.”

“Jadi Mama tidak marah sama Papa”

“Huss..Papa ini gimana sih. Mana mungkin Mama marah sama Papa”selaku. Yah bagaimana aku bisa marah melihat keadaan suamiku seperti ini begitu lemah dan pucat, menahan rasa sakit yang terkadang datang menyerang. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya dengan keadaan seperti itu.

“Mah kalau Papa tidak bisa melewati…”

“Papa tidak boleh ngomong kaya gitu, Papa akan sembuh dan pulih. Jangan ngomong kayak gitu lagi. Mama gak akan pernah maafin Papa jika Papa ngomong kayak gitu. Kalau didengar Bella gimana? Apa Papa gak kasihan sama Bella?” Sentakku. Rangga tertekun dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Suamiku yang kuat dan tegar kini terlihat begitu tidak berdaya didepanku. Sungguh membuatku sedih.

Tepat jam 10 pagi Suamiku dibawa ke ruang operasi, susah payah kubujuk Bella untuk pulang dan ditemani Eva tapi Bella ngotot ingin menemani, bahkan dia hampir histeris saat aku bersikeras menyuruhnya pulang. Akhirnya aku terpaksa membiarkan dia tinggal. Yah aku juga tidak bisa menampik rasa cemas dihatiku dan ketakutanku jika aku kehilangan Rangga. Bella berhak ada disini, di ruang operasi itu ada ayahnya yang sedang melawan maut.Aku tidak boleh egois …

“Mah, Papa pasti sembuhkan? Bella takut kalo sampe Papa kenapa-napa Mah”

“Bella berdoa yah, yakin Tuhan pasti akan menolong Papa” Kubelai rambut Bella yang sedang tidur dipangkuanku. Mencoba menghibur hati putriku sementara hati kecilku juga tidak bisa menampik betapa aku sangat mengkuatirkan suamiku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa Rangga, terlalu banyak kenangan yang kulewati bersamanya, banyak ujian dan cobaan yang kami lalui, suka dan duka. ,Cinta kami bisa bertahan dan melewati semuanya, jika ini juga cobaan untuk menguji cinta kami, aku akan berusah tegar. Tidak mudah diperhadapkan pada kenyataan buruk yang tiba-tiba saja datang dan menghancurkan impian yang kami bangun bersama. Cinta kamu sudah teruji kalaupun belum cukup aku tetap akan menghadapinya. Hampir 5 jam ketika akhirnya Dokter Anton bersama Timnya keluar diiringi dengan tubuh suamiku yang dibawah keruang recovery.

“Operasinya berjalan sukses, Pak Rangga sudah bisa menjalani terapi imun, saya yakin Pak Rangga akan kembali pulih dalam beberapa minggu kedepan. Sel kankernya sudah diangkat walaupun kemungkinan selnya kankernya muncul lagi tapi kami yakin jika langsung diterapi itu tidak akan terjadi”

Aku tersenyum lebar kupeluk Bella erat “Terimakasih dokter, terimakasih”

“Operasinya berhasil sayang, Papa akan sembuh” Ucapku. Terimakasih Tuhan terimakasih .. aku berbisik dalam hati mengucapkan syukur pada Tuhan atas keberhasilan operasi Rangga.

Rangga sudah dipindahkan keruangannya, diapun sudah sadar sepenuhnya dari bius total. Walaupun masih sepenuhnya harus istirahat total tapi melihatnya bisa tersenyum hatiku merasa sangat tenang. Yah terkadang setiap rumah tangga tidak luput dari masalah. Terkadang ujian dan cobaan datang menghantam seperti ombak yang menerjang bahtera. Dan kita dituntut untuk bisa menghadapi segala situasi rumah tangga dengan sebijaksana mungkin. Hal-hal yang terkadang begitu kompleks yang menuntut hati dan pikiran kita menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin. Yakinlah tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Dan selalu berpegang pada kekuatan dari Allah, pasti semua akan terlewati dan kita pasti akan mendapat hikmah dari setiap masalah yang datang menerpa rumah tangga kita. Setiap masalah yang datang akan selalu menjadikan pondasi rumah tangga kita semakin kuat dan semakin kokoh. Selalu belajar untuk mengambil pelajaran dalam setiap permasalahan dan jangan cepat mengambil keputusan dengan mengesampingkan rasa cinta yang ada dihati kita. Jika cinta yang menyatukan kita kenapa pula harus berpisah dan kehilangan makna cinta. Ingatlah bukan cinta yang menyatukan tapi rasa memiliki yang tumbuh disetiap detik kebersamaaan yang kita lewati bersama dengan orang-orang yang kita cintai.(PW)


Terima kasih telah membaca cerita pendek inspiratif Keluargaku karya Putry Wahyuningsih. Semoga cerpen diatas dapat bermanfaat serta memberi inspirasi bagi soat pemirsa sekalian untuk berkarya dan menjaga hubungan. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait